Selasa, 06 Juni 2023

MENGUBAH YANG TAK NYAMAN MENJADI NYAMAN

 

Suatu hari hujan lebat mengguyur wilayah keuskupan. Saat itu saya sedang jogging mengitari kompleks wisma. Spontan mata saya tertuju pada kolong gorong antara ruang TV dan kapel. Biasanya di kolong itu ada anak anjing menikmati istirahat siangnya. Sekedar informasi, anak anjing ini memiliki trauma dengan saya. Melihat saya ia selalu ketakutan. Dan sebagai ungkapan ketakutan ia selalu menggonggong. Segera gagasan untuk melakukan eksperimen kecil muncul di benakku.

Awalnya anak anjing ini sama sekali tidak terganggu dengan turunnya hujan. Ia merasa nyaman di kolong itu. Namun ketika hujan kian deras, dan air hujan mulai membasahi kolong, anjing ini mulai terasa tidak nyaman. Hal ini sudah kuduga. Dan seperti biasa, secara naluri, siapa dan apapun, akan berusaha meninggalkan ketidak-nyamanan dan mencari situasi nyaman. Demikian halnya dengan anak anjing itu.

Anak anjing itu mulai meninggalkan kolong. Akan tetapi, saya berdiri sekitar 3 langkah dari mulut kolong. Melihat saya, anak anjing langsung menggonggong. Saat kepalanya mau keluar, saya maju satu langkah. Anak anjing itu menggonggong sambil mundur ke dalam kolong. Ketika ia mundur, saya kembali ke posisi semula. Begitulah situasinya. Ketika anak anjing itu hendak keluar, saya maju satu langkah, dan ia mundur kembali sambil menggonggong. Sementara hujan terus mengguyur, hanya tingkat intensitasnya mulai menurun.

Dari dalam kolong anak anjing itu terus menggonggong. Situasi ini berlangsung kurang lebih sekitar 25 menit. Setelah itu, tak terdengar lagi bunyi gonggongan anak anjing itu. Hujan tinggal rintik-rintik saja. Dari kejauhan saya melihat anak anjing itu mengambil posisi tidur.

Dari sini dapat dilihat beberapa kesimpulan. Ketika menghadapi situasi tak nyaman (daerah kolong basah), anak anjing, secara naluri, berusaha untuk keluar dari situasi tidak nyaman itu. Namun ia menemukan penghalang (dalam hal ini diri saya). Karena tidak dapat mengatasi penghalang ini, anak anjing ini akhirnya memutuskan untuk bertahan di bawah kolong, meski situasinya tidak nyaman. Dengan kata lain, anak anjing ini menikmati ketidak-nyamanan sampai akhirnya merasa nyaman.

Namun, masih ada satu dua pertanyaan yang belum bisa terjawab. Kesimpulan di atas terjadi karena nilai ketidak-nyamanan lebih rendah daripada penghalangnya. Bagaimana jika seandainya nilai ketidak-nyamanan itu sama atau lebih besar dari penghalang, apakah anak anjing itu tetap menikmati ketidak-nyamanannya? Dalam kasus di atas, daerah kolong hanya sekedar basah. Bagaimana kalau air menggenangi kolong sehingga situasi benar-benar sangat tidak nyaman? Mungkin suatu saat saya akan mencobanya.

Dari eksperimen anak anjing ini, saya tertarik untuk menariknya ke dalam situasi manusia. Saya jadi teringat akan suatu situasi di sebuah keuskupan yang mengalami takhta lowong. Ketika takhta lowong, Vatikan mengangkat seorang uskup sufragan menjadi administrator apostolik. Kebetulan uskup satu ini memiliki sikap yang agak tegas. Hal ini terlihat dari kebijakan awalnya setelah terpilih jadi administrator apostolik: ada beberapa imam didepak. Imam-imam ini sebelumnya selalu menikmati hak-hak istimewa.

Berhadapan dengan administrator apostolik ini imam-imam itu benar-benar merasa tidak nyaman. Mereka, yang pada masa uskup sebelumnya benar-benar nyaman, kini mengalami situasi ketidak-nyamanan. Mau keluar dari situasi tidak nyaman ini, ada penghalang, yaitu janji imamat, yang setiap tahun selalu diucapkan di hadapan uskup dan umat. Jadi, situasi mereka saat ini kurang lebih sama seperti anak anjing dalam kasus di atas. Tapi, apakah para imam ini akan bertahan menikmati ketidak-nyamannya?

Sama seperti dalam kasus di atas masih meninggalkan pertanyaan, dalam kasus imam ini pun masih ada pertanyaan. Pertanyaan itu seputar kadar ketidak-nyamanan. Tentulah tak selamanya uskup tadi menjadi administrator apostolik. Pastilah suatu saat akan terpilih uskup baru. Nah, bagaimana jika uskup baru nanti memiliki karakter jauh lebih tegas dari administrator apostolik saat ini? Kadar ketegasan ini tentulah berdampak pada ketidak-nyamanan para imam itu. Jadi, mereka sungguh-sungguh merasa tidak nyaman. Apakah berhadapan dengan ketidak-nyamanan yang besar ini akan membuat mereka berani mengalahkan penghalang untuk keluar dari situasi tidak nyaman ini?

Kita lihat saja.

diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu

Kamis, 01 Juni 2023

DIALOG IMAGINATIF PART 1


 Dialog imaginatif merupakan suatu bentuk rekayasa dialog. Dapat dipastikan dialog ini tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Akan tetapi, dalam dialog ini terkandung makna dan pesan penting bagi kehidupan.

Senin, 29 Mei 2023

JANGAN KOTORI HATIMU

 

Semua orang tentu paham dengan satu kata ini: HATI. Kata ini memiliki multi makna. Secara fisik-biologis, hati merujuk pada salah satu organ dalam tubuh manusia; terletak  di bawah jantung dan paru-paru. Namun hati juga disering diidentikkan dengan ungkapan emosi. Misalnya, sakit hati, yang bermakna perasaannya tersinggung. Atau hati sebagai ungkapan cinta/kasih sayang. Karena itu, ungkapan kasih sayang selalu dilambangkan dengan gambar hati (LOVE).

Selain itu, hati juga memiliki makna spiritual. Hati sering dilihat sebagai totalitas kemanusiaan seseorang. Jika dikatakan mencintai dengan hati (bdk. Perintah kasih Yesus Kristus dalam Markus 12: 30), ini berarti mencintai dengan totalitas diri. Atau seseorang yang bekerja sepenuh hati, seluruh dirinya: jiwa dan raganya, ada dalam pekerjaan itu.

Hati, baik yang bersifat biologis, psikis maupun spiritualitas, pada awalnya bersifat positif. Hal ini mungkin sesuai dengan rencana awal penciptaan Allah (lih. Kej 1: 31).

Secara medis-biologis, hati berfungsi sebagai sensor kenyang. Hati merupakan organ pertama yang menerima nutrisi yang berasal dari sistem pencernaan. Jika kadar nutrisi sudah mencukupi, hati akan mengirim informasi ke otak, dan otak memerintahkan orang untuk berhenti makan. Dengan kata lain, hati yang baik berguna untuk mengatasi sifat rakus manusia.

Namun jika fungsi hati ini rusak, maka orang kesulitan untuk mengontrol pola makannya. Ia akan terus makan dan makan. Dan ini berdampak pada kerusakan hati secara fisik. Jika hal ini terjadi, maka orang akan mudah terserang berbagai penyakit; dan bukan tidak mungkin nyawa menjadi taruhannya.

Demikian pula dalam dunia sosial-spiritualitas. Hati dapat menjadi sensor puas. Orang yang merasa diri puas, tidak akan berusaha mencari-cari sesuatu demi memuaskan hasrat diri. Rasa puas membuat orang merasa cukup. Dia tidak akan menjadi serakah. Serakah merupakan aktivitas menumpukkan segala-galanya untuk diri sendiri. Orang yang baik hati pastilah tidak serakah; ia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pergerakan hidupnya justru terarah kepada orang lain, karena untuk dirinya sudah cukup. Perhatikan hidup Yesus Kristus. Selalu diberitakan bahwa pelayanan-Nya berawal dari hati-Nya yang tergerak oleh belas kasihan (Mat 9: 36; 14: 14; 20: 34).

Akan tetapi, jika hati ini rusak, maka muncullah keserakahan. Orang selalu mencari dan mencari apa saja demi kepentingan dirinya. Keserakahan itu tampak dalam penumpukan kekayaan, jabatan dan kekuasaan, yang berpusat pada diri sendiri atau kelompoknya. Orang tidak puas dengan kekayaan yang ada sehingga terus mencari dan tak mau berbagi. Demikian pula dengan jabatan. Sekalipun banyak pekerjaan terbengkelai akibat menumpuknya pekerjaan, namun karena matinya sensor keserakahan tadi, membuat orang tak mau berbagi peran dan jabatan. Ini semua karena hati yang rusak, sehingga fungsi sensornya tak berjalan.

Salah satu bentuk keserakahan yang popular dewasa kini adalah korupsi. Yang seharusnya cukup dengan gaji yang sudah ada, namun karena hatinya sudah busuk, maka yang bukan jatahnya pun diambil. Norma moral dan aturan pun dilanggar demi terpenuhinya hasrat.

Ternyata, hati yang rusak bukan hanya menimbulkan keserakahan dalam hidup, melainkan segala jenis kejahatan lainnya. Tuhan Yesus pernah berkata, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Mat 15: 19). Di sini terlihat kalau hati berfungsi juga sebagai sensor kejahatan, atau dalam bahasa agama dikenal sebagai sensor dosa. Hati yang baik membuat orang tidak mudah jatuh ke dalam dosa.

Oleh karena itu, adalah tugas manusia untuk menjaga kesehatan hatinya supaya berfungsi sebagai mana semestinya. Seperti yang dikatakan di atas, pada awalnya hati berfungsi positif: sebagai sensor kenyang, sensor keserakahan dan sensor kejahatan. Manusia harus menjaga hatinya tetap sehat. Jangan merusak atau membusukan hati, karena pengrusakan hati berdampak, bukan saja pada orang lain, melainkan pada diri sendiri.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu