Selasa, 28 Desember 2021

REMISI HUKUM, ANTARA HAK DAN RASA KEADILAN

 

Sebagaimana biasanya, menyambut hari raya keagamaan, pemerintah, melalui Kementerian Hukum dan HAM, memberikan remisi kepada para narapidana yang merayakan hari raya itu. Remisi adalah pengurangan masa hukuman yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bisa dikatakan bahwa remisi itu diberikan kepada narapidana yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku.

Remisi adalah HAK para narapidana yang sudah memenuhi ketentuan perundang-undangan. Hak itu didapat karena ia sudah memenuhi atau menjalani kewajibannya. Jadi, jika seorang terpidana telah menjalani kewajibannya, maka pihak yang bertanggung jawab atas remisi mutlak harus memberinya. Menahan remisi seseorang terpidana merupakan sebuah kejahatan dan pelanggaran.

Akan tetapi, di satu sisi pemberian remisi dinilai oleh sebagian orang sebagai tindakan yang melukai rasa keadilan publik. Hal inilah yang sedang hangat-hangatnya diberitakan. Menyambut hari raya Natal, Menteri Hukum dan HAM memberikan remisi kepada para narapidana. Di antaranya ada beberapa terpidana kasus korupsi. Sontak publik merasa gerah.

Sebenarnya tindakan memberi remisi ini, termasuk kepada terpidana korupsi, bukan baru kali ini saja. Awal Agustus lalu Kemenkum dan HAM juga memberi remisi kepada ratusan napi korupsi sebagai hadiah Idul Fitri.

Banyak orang melihat bahwa pemberian remisi tidak akan menimbulkan efek jera dalam melakukan tindak kejahatan, termasuk korupsi. Di samping itu, pengurangan masa hukuman telah melukai rasa keadilan masyarakat. Para terpidana telah melakukan kejahatannya dengan niat dan kesadaran, dan kejahatan mereka tentulah berdampak buruk bagi masyarakat. Semestinya mereka mendapat hukuman yang berat sehingga mereka bertobat.

Namun di sisi lain pemberian remisi adalah sebuah kewajiban karena remisi itu merupakan hak setiap narapidana yang dilindungi undang-undang. Tentu kemenkum dan HAM sadar akan hal ini. Sebagai orang hukum, ia musti taat pada ketentuan undang-undang. Adalah ironis jika ia menindak orang yang melanggar undang-undang sementara ia sendiri melanggar undang-undang.

Senin, 27 Desember 2021

PENGANTAR INJIL YOHANES

 

Sekilas ketiga Injil pertama membuat kita meremehkan karya dan keterampilan para penulisnya. Visi apa saja yang ingin mereka sampaikan tentang Penebus, disampaikannya secara sederhana dengan menggunakan kesaksian saksi-saksi mata sehingga kita sering merasa seolah-olah kita sendiri melihat dan mendengar Yesus secara langsung. Kalau kita membandingkan Injil Yohanes dengan Injil-injil sinoptik, maka Injil Yohanes sangat berbeda. Kitab ini telah menjalani proses pematangan dengan bertambahnya umur Yohanes. Pengalamannya sebagai rasul menggerakkan dia untuk terus-menerus menginterpretasikan kehadiran Yesus yang telah bangkit dalam Gereja.

Yohanes tidak membiarkan kita mengabaikan tujuannya. "Ini telah ditulis supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah" (Yoh 20:31). Iman Gereja mewartakan Yesus sebagai Putra Allah. Tetapi bagaimana kita mengartikan istilah ini? Sekalipun kebangkitan Yesus telah menampakkan bahwa Dia adalah pribadi ilahi, kita masih bisa bertanya bagaimana dan sejak kapan Yesus menjadi Putra Allah dan sejauh mana Ia diidentifikasikan dengan Allah. Injil Yohanes menegaskan dengan jelas bahwa Yesus selalu ada bersama Allah sejak keabadian. Penegasan tentang asal usul Yesus membantu kita untuk memahami keseluruhan karya Yohanes. Putra Allah yang abadi dan yang telah menjadi manusia tidak datang hanya untuk mengajar kita bagaimana kita dapat memperbaiki diri kita, tetapi juga untuk mentransformasikan seluruh ciptaan menjadi ciptaan baru.

Yohanes tidak menyusun Injilnya dari nol. Di sini kita menemukan lebih banyak saksi dan juga keterangan-keterangan yang telah dikonfirmasikan dibanding dengan Injil-Injil lain. Tetapi, Yohanes tidak membatasi diri pada ingatannya sendiri. Dengan berlalunya waktu, ia mengungkapkan dan mengembangkan sabda-sabda Yesus dengan mengarang wejangan-wejangan di mana Yesus "dengan bantuan Yohanes" berbicara kepada kita secara aktual.

Injil Yohanes itu kontroversial karena semakin murni suatu kebenaran, semakin sedikit pula orang yang bisa menerimanya. Oleh karena itu, Injil ini menimbulkan kontroversi-kontroversi di dalam Gereja sendiri tetapi kemudian Injil ini diakui sebagai sabda Allah dan sebagai kesaksian apostolik.

Maka InjiI Yohanes ditulis, lalu ditulis ulang dan sangat mungkin baru diterbitkan sesudah kematian penulisnya, sekitar tahun 95 sesudah Masehi, sebagaimana diisyaratkan oleh satu alinea kecil yang ditambahkan pada akhir Injil. Dalam karangan terakhir ini, tampaknya Yohanes mengorganisir Injilnya seputar tiga kali perayaan Paskah yang terjadi semasa hidup Yesus di depan umum.

Di sini kita menemukan suatu unsur penting untuk memahami pikiran Yohanes. Ia menyelesaikan Injilnya dua puluh tahun sesudah jatuhnya Yerusalem dan Bait Allah ke dalam tangan tentara-tentara Roma. Seperti Paulus, Yohanes mengetahui bahwa kebangkitan Yesus membuka suatu zaman baru. Wahyu kepada bangsa Yahudi dan Liturgi besar di dalam Bait Allah adalah bagian dari masa lampau, tetapi dalam perjanjian pertama, yang sekarang disebut Perjanjian Lama, ditemukan kunci-kunci untuk memahami prestasi Yesus. Oleh sebab itu, Yohanes mengingatkan kita akan pesta-pesta Yahudi dan simbol-simbol keagamaan seperti air, daun palma, anak domba ..., tetapi ia akan menunjukkan bagaimana simbol-simbol ini diberi arti baru dalam kehidupan dan liturgi Kristen.

Oleh karena itu, sesudah suatu pembukaan yang kita sebut pekan penemuan (sampai 2:16) kita bisa melihat tiga bagian:

- Dalam 2:17 Yesus pergi ke Bait Allah, untuk perayaan Paskah: bab 2-5 mengembangkan simbol Bait Allah.

- Dalam 6:4 perayaan Paskah disebut lagi dan Yohanes mengembangkan simbol roti.

- Dalam 13:1 kita menemukan lagi perayaan Paskah untuk ketiga kalinya, ketika Yesus disalibkan pada saat semua anak domba dikurbankan di Bait Allah. Anak domba adalah simbol ketiga.

Sabtu, 25 Desember 2021

MERAYAKAN NATAL, MERAYAKAN IMAN DAN SYUKUR

 

Natal sebagai Peristiwa Iman

Natal merupakan peristiwa iman. Pusat imannya adalah Yesus Kristus. Yesus, yang adalah Allah, turun ke dunia menjadi manusia. Yohanes, dalam Injilnya, berkata, “Firman telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” (Yoh 1: 14). Inilah yang dikenal dengan istilah inkarnasi. Jadi, inti iman dalam peristiwa natal adalah inkarnasi.

Kenapa peristiwa inkarnasi, bagi umat kristiani, disebut sebagai peristiwa iman? Orang Kristen percaya bahwa Allah itu mahakasih dan mahakuasa. Karena kasih-Nya, Allah ingin menyelamatkan manusia. Allah menyelamatkan manusia melalui cara Allah, yaitu menjadi manusia dan tinggal di antara manusia.

Banyak orang tidak bisa menerima fakta, yang bagi kaum nasrani dikenal sebagai kebenaran iman, bahwa Allah menjadi manusia. Fakta ini tidak bisa dimengerti oleh akal budi manusia. Bagaimana mungkin Allah yang mahakudus hadir dalam diri manusia yang lemah dan penuh cacat cela? Bagi mereka, yang ilahi tidak bisa bersatu dengan yang fana dan duniawi. Karena itulah, banyak orang menolak kebenaran iman ini. Malah mereka menilai bahwa hal tersebut – Allah menjadi manusia – adalah dosa (menyekutukan Allah). Terlihat jelas bahwa mereka menolak hanya karena otak mereka tidak sanggup memahaminya.

Berbeda dengan orang kristen. Para pengikut Kristus ini tidak melihat peristiwa inkarnasi sebagai peristiwa akali semata, melainkan lebih pada peristiwa iman. Bagi orang kristiani otak manusia itu sangatlah terbatas. Sehebat dan segenius apapun manusia, otaknya memiliki keterbatasan. Ia tidak mampu memahami segala-galanya, apalagi Allah yang mahakuasa. Keterbatasan otak inilah yang akhirnya diimbangi dengan iman. Maka, di saat budi tak mampu memahami, iman berperan. Dengan iman ini orang berkata, "Aku percaya sekalipun aku tidak tahu apa-apa."

Bagi umat nasrani, dalam peristiwa natal (kelahiran Yesus) terlihat bukan saja Allah mengasihi umat manusia, melainkan juga Allah yang mahakuasa. Karena Allah itu mahakuasa, ia dapat mengatur rencana penyelamatan-Nya sesuai kehendak-Nya. Karena kemahakuasaan-Nya, Allah bisa menjadi apa dan siapa saja menurut yang dimaui-Nya. Paulus, dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus, menulis, “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasehati Dia?” (ay. 16). Tidak ada satu manusia di dunia ini yang mengetahui jalan pikiran Allah sehingga bisa mengatur-atur rencana Allah.