Minggu, 07 Agustus 2016

Orang Kudus 7 Agustus: St. Agathangelus

BEATO AGATHANGELUS, MARTIR
Agathangelus Fransiskus Noury lahir pada 31 Juli 1598 di Vendrome, Perancis. Ia adalah putera dari Francois Noury dan Marguerite Beon. Menjawab panggilan Tuhan Agathangelus bergabung dengan Ordo Kapusin di Le Mans pada tahun 1619. Pada tahun 1624 ia belajar teologi di Rennes, dan pada tahun 1625 ia ditahbiskan menjadi imam.
Agathangelus kemudian berkarya melawan protestanisme sampai dengan tahun 1628. Oleh ordonya Agathangelus dikirim untuk misi ke Arab. Selain tujuan misi, Agathangelus  diminta untuk mengembalikan Gereja-gereja Timur yang telah melakukan skisma. Agathangelus berkarya di Lebanon sebelum akhirnya pergi ke Alexandria, Mesir pada tahun 1633 untuk memimpin misi membangun hubungan antara Koptik dengan Gereja Roma. Di sini ia bertemu dengan Beato Kasianus yang dikirim dari Perancis.
Misi Agathangelus dan Kasianus berjalan cukup baik. Mereka kemudian memutuskan untuk melanjutan misi menuju Abyssina, Ethiopia. Akan tetapi mereka ditangkap karena hasutan seorang Lutheran bernama Pier Leone, kepada pihak Koptik. Pada 7 Agustus 1638 Agathangelus dan Kasianus diadili dan mereka membela iman katolik. Mereka akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung, namun pelaksanaannya berubah dengan cara dirazam.
Agathangelus Fransiskus Noury meninggal dunia pada 7 Agustus 1638 di Gondar, Ethiopia. Pada 1 Januari 1905 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius X bersama dengan Kasianus.
Baca juga orang kudus hari ini:

Jumat, 05 Agustus 2016

MENCERMATI LAWAN-LAWAN POLITIK DI PILKADA DKI 2017

Agustus ini merupakan masa pendaftaran bagi calon gubernur dan wakil gubernur dari jalur independen sementara September nanti baru dibuka calon dari partai. Pertengahan Juli lalu Ahok, yang mencalonkan kembali menjadi petahana, sudah final menempuh jalur partai, tanpa mengabaikan usaha dan perjuangan Teman Ahok, yang telah mengumpulkan KTP lebih dari 1 juta. Jika Februari lalu, ketika tulisan di atas diturunkan, calon lawan Ahok ada begitu banyak, kini nama-nama itu mulai mengerucut.
Partai Gerindra, yang didukung oleh PKS menjagokan Sandiaga Uno. Menjadi persoalannya adalah siapa wakilnya. Suara dukungan untuk Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, semakin kuat, sekalipun PDIP masih menunjukkan wajah dirinya: malu-malu kucing. Di Jakarta sendiri sudah terbentuk relawan untuk ibu Risma, bernama Jaklovers, yang diketuai oleh Neno Warisman. Ketua Umum PAN, meski tidak menyebutkan calon atau arah dukungannya, sudah terang-terangan mengatakan asal bukan Ahok. Sementara Ketua Umum PPP, yang juga tidak akan mendukung Ahok, sama seperti Neno Warisman, hanya menyebut kriteria calon itu.
Dari suara-suara itu, alasan untuk melawan Ahok, tak jauh dari yang sudah diungkap dalam tulisan terdahulu. Kalau dulu ada empat alasan, kini ada dua alasan yang begitu kuat, yaitu asal bukan Ahok, dan alasan agama.
Memang, baik Neno Warisman maupun Muhammad Romahurmuziy, tidak terang-terangan mengatakan alasan keagamaan untuk menentang Ahok dan mendukung calon baru. Akan tetapi, di balik pernyataan mereka tampak bahwa alasan mereka tidak mendukung Ahok adalah karena Ahok itu islam. Dan kalau sudah begini, tentulah pendasarannya ada pada Al Quran yang melarang umat islam dipimpin oleh kafir.
Sekalipun akan ada tokoh islam menentang hal ini, tetap saja ajaran agama ini disodorkan sebagai pembenarannya. Dan lagi-lagi kita akan menyaksikan adanya agama dijadikan senjata politik.
Untuk mengetahui empat alasan lawan-lawan politik Ahok di Pilkada DKI 2017, langsung saja baca di: Budak Bangka: (Opiniku) Apa Motivasi Lawan-lawan Ahok di Pilgub 2017?

Kamis, 04 Agustus 2016

LOOK, AND STOP ABORTION


Aborsi merupakan tindakan pembunuhan terhadap janin, baik sengaja maupun tidak sengaja. Janin adalah makhluk terlemah yang tak berdaya dan tak berdosa. Ada banyak alasan kenapa  orang melakukan tindakan aborsi. Salah satunya, dan yang paling banyak sebagai penyebabnya, adalah aib atau malu, dan belum siap menerima tanggung jawab.
Anehnya, ketika “menciptakan” janin itu, kebanyakan orang tidak pernah berpikir soal tanggung jawab dan aib. Mereka melakukan saja, karena didorong nafsu kenikmatan. Ketika hamil, barulah bingung dan akhirnya memutuskan jalan pintas: aborsi.
Hampir semua pelaku aborsi, khususnya wanita yang menggugurkan janinnya, tidak melihat proses dan hasil aborsi itu. Mereka hanya tidur telentang dan menyerahkan semua proses kepada dokter atau bidan yang menanganinya. Setelah semuanya selesai, mereka sama sekali tidak melihat apa-apa selain dokter atau bidan, dan kemudian mengurus biaya administrasinya.
Cobalah menonton film ini. Seperti inilah hasil aborsi janin, darah daging sendiri. Masih tegakah kita melakukan aborsi?
by: adrian