Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian Thn II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian Thn II. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2026

Renungan Hari Rabu Biasa XXVI, Thn II

Renungan Hari Rabu Biasa XXVI, Thn II

Bac I Ayb 9: 1 – 12, 14 – 16; Injil     Luk 9: 57 – 62;

Dalam Injil hari ini Yesus dengan terang memberikan syarat untuk mengikuti Dia. Syaratnya adalah harus siap hidup apa adanya, melepaskan keterikatan, melepaskan kenikmatan, berani berada di zona hidup yang tidak nyaman. Dengan perkataan lain, mengikuti Yesus berarti bukan mengedepankan keinginan pribadi, melainkan mengutamakan kehendak Dia yang diikuti. Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepalaNya.” (ay 58). Menjadi pengikut Yesus berarti harus mendahulukan kepentingan-Nya dari pada kepentingan pribadi (ay. 60).

Apa yang dikatakan Yesus dalam Injil adalah suatu tuntutan untuk berserah diri secara total kepada Allah. Sikap berserah diri inilah yang ditunjukkan Ayub dalam bacaan pertama hari ini. Ayub menyerahkan hidupnya ke dalam penyelenggaraan ilahi. Dia tidak mau membantah apalagi bersungut-sungut. Ayub berkata, “Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku.” (ay 15).

Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita akan jati diri kita sebagai pengikut Kristus. Sakramen baptis yang telah kita terima menjadi label diri kita adalah pengikut Kristus. Maka sebagai pengikut Kristus sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita akan syarat yang telah Yesus berikan. Dituntut sikap rendah hati agar kita bisa berserah diri kepada-Nya, sebagaimana Ayub yang berserah diri kepada Allah.

by. adrian

Senin, 28 September 2026

Renungan Hari Senin Biasa XXVI, Thn II

 Renungan Hari Senin Biasa XXVI, Thn II

Bac I Ayb 1: 6 – 22; Injil Luk 9: 46 – 50

Zaman dulu ada pandangan bahwa orang yang hidupnya mapan dan nyaman adalah tanda orang yang mendapat berkat dari Tuhan. Kesejahteraan hidup menjadi tolok ukur dari berkat Tuhan. Berkat itu selalu dikaitkan dengan hidup yang berkenan di hadirat Allah. Karena itu, ketika orang mendapatkan kemalangan dan penderitaan, itu dilihat sebagai kutukan. Dan kutukan itu dilihat bersumber dari Tuhan. Maka tak jarang orang marah kepada Tuhan di saat dirinya mendapat kutuk. Ayub, dalam bacaan pertama hari ini, mencoba membantah pandangan tersebut. Dalam bacaan itu secara implisit dikatakan bahwa Ayub adalah sosok yang hidupnya jauh dari kejahatan sehingga ia mendapatkan berkat dari Tuhan. Namun dia mendapatkan kemalangan (ay 13 – 19). Kemalangan itu bukan dari Tuhan melainkan dari iblis (ay 12). Nah, ketika mendapat kemalangan ini, Ayub tidak marah dan mengutuk Tuhan, melainkan memuji Allah (ay 21) sehingga terlihat jelas “Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” (ay 22). Sikap yang mau ditunjukkan Ayub di sini adalah sikap berserah diri kepada Tuhan.

Sikap seperti itu juga yang mau diajarkan Yesus. Dalam Injil hari ini dikisahkan para rasul bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (ay 46). Mungkin di antara mereka ada yang memakai pola pikir yang lama, bahwa yang terbesar adalah orang yang terhebat, terkaya, terdekat dengan Tuhan, dll. Menyelesaikan pertengkaran mereka itu Yesus mengambil sosok anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Yesus menjadi sosok anak kecil sebagai model beriman. Sikap anak kecil adalah sikap bergantung, berserah diri kepada orangtuanya. Demikian pula dalam hal beriman, para murid harus berserah diri kepada Tuhan. Itulah yang terbesar.

Sikap berserah diri kepada Tuhan merupakan salah satu indikasi beriman. Orang yang memiliki sikap berserah diri adalah orang yang menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam penyelenggaraan ilahi. “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” menjadi prinsip hidupnya. Yang terjadi bukan kehendakku, melainkan kehendak Allah. Ini sangat sulit, mengingat manusia mempunyai kecenderungan mengedepankan keinginannya. Maka ketika yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannyam dia akan kecewa, marah bahkan meninggalkan Tuhan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk seperti Ayub yang berserah diri kepada Tuhan sekalipun kemalangan melanda.

by: adrian

Selasa, 29 Oktober 2024

RENUNGAN HARI SELASA BIASA XXX, THN II

Renungan Hari Selasa Biasa XXX, Thn II

Bac I Ef 5: 21 – 33; Injil Luk 13: 18 – 21

Kedua bacaan liturgi hari ini sama-sama menampilkan perumpamaan. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus, Paulus membandingkan relasi suami istri dengan relasi Kristus dengan jemaat-Nya (Gereja). Bisa dikatakan Paulus membandingkan dengan penggambaran relasi suami istri dalam Perjanjian Lama, yang diibaratkan relasi Allah dan umat Israel. Di sini Paulus mau mengangkat tema perkawinan. Dalam penggambaran relasi Kristus dan Gereja terkandung nilai-nilai kasih, kesetiaan dan pengorbanan. Karena itu, bisa dikatakan bahwa Paulus mau supaya nilai-nilai itu dihidupi pasangan suami istri dalam membangun mahligai rumah tangga.

Dalam Injil Yesus juga memberikan perumpamaan. Tema yang mau dibahas Yesus adalah Kerajaan Allah. Perlu diketahui dahulu bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus tidak semata-mata Kerajaan Allah di akhir jaman. Beberapa kali Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir. Dengan kata lain, Kerajaan Allah itu ada juga di bumi. Yesus membandingkan Kerajaan Allah itu dengan biji sesawi. Perbandingan tidak berhenti pada biji sesawi saja, melainkan berlanjut dengan “ditaburkan di kebun …. tumbuh dan menjadi pohon” sehingga “burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.” (bdk. ay. 19). Perumpamaan ini mau mengatakan kepada kita bahwa Kerajaan Allah yang ada pada kita harus tumbuh dan berkembang sehingga orang-orang mendapatkan manfaatnya.

Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau ditujukan kepada pasangan suami istri agar menghayati nilai kasih, kesetiaan dan pengorbanan. Mereka disadari juga untuk menghadirkan Kerajaan Allah dalam keluarganya. Dengan penghayatan ketiga nilai tadi, bukan tidak mungkin Kerajaan Allah akan tumbuh dan berkembang sehingga anak-anak yang lahir dari perkawinan akan merasa nyaman di dalamnya.

by: adrian 

Kamis, 29 Agustus 2024

RENUNGAN HARI JUMAT BIASA XXI/II

Renungan Hari Jumat Biasa XXI, Thn II

Bac I 1Kor 1: 17 – 25; Injil      Mat 25: 1 – 13

Dalam bacaan pertama dan Injil terdapat satu kata yang sama yaitu bodoh dan/atau kebodohan. Meski sama, pesan yang mau disampaikan berbeda. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari surat Paulus yang pertama kepada umat di Korintus, kebodohan itu dipuji. Yang dimaksud “bodoh” di sini adalah orang yang menerima pemberitaan salib Kristus, dan menerima di sini berarti percaya. Bagi Paulus kebodohan itu merupakan “kekuatan Allah” (ay. 18) yang mendatangkan keselamatan (bdk. ay. 21). Jadi, menjadi orang bodoh karena pemberitaan salib Kristus (ay. 18) atau pemberitaan Injil (ay. 21) berarti menjadi orang yang diselamatkan.

Berbeda dengan perumpamaan Yesus dalam Injil hari ini. Dalam Injil Yesus memberikan perumpamaan tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijak. Dari cerita itu terlihat jelas bahwa lima gadis bodoh itu akhirnya tidak selamat. Di saat lima teman mereka berbahagia dalam pesta perjamuan kawin, lima gadis bodoh itu berada di luar. Mereka tidak bisa masuk ke dalam pesta. Bahkan tuan pesta berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” (ay. 12). Dengan perkataan lain, kebodohan lima gadis bodoh itu mendatangkan celaka bagi mereka. Kebodohan mereka dikecam Yesus. Tuhan Yesus menghendaki supaya pendengar-Nya tidak seperti mereka, melainkan harus menjadi bijak.

Sekalipun ada perbedaan penggambaran tentang kebodohan, yang pastinya Tuhan menghendaki kita selamat. Sumber keselamatan itu ada dalam pemberitaan salib Kristus, yang adalah juga warta Injil. Yesus sudah tahu bahwa kelak pemberitaan tentang diri-Nya menimbulkan perbantahan. Karena itulah, Dia mengajak para murid-Nya untuk bersikap bijak. Baik pada zaman Paulus maupun masa sekarang, berhadapan dengan pemberitaan salib dan Injil Kristus orang dihadapkan pada pilihan percaya atau tidak percaya yang berdampak pada keselamatan atau kebinasaan. Orang bijak tentulah memilih selamat, meski karena pilihan itu ia dinilai bodoh dan memalukan.

by: adrian

Jumat, 16 Agustus 2024

RENUNGAN HARI JUMAT BIASA XIX - II

Renungan Hari Jumat Biasa XIX, Thn II

Bac I Yeh16: 1 – 15, 60, 63; Injil      Mat 19: 3 – 20

Memperhatikan kedua bacaan hari ini, kita menemukan pola yang sama. Ketika terjadi penyimpangan, Allah mengajak umat-Nya untuk Kembali kepada prinsip kebenaran. Dalam bacaan pertama, bentuk penyimpangan umat Israel itu adalah meninggalkan Allah. Dari situ Allah, melalui mulut nabi Yehezkiel, mengingatkan bangsa itu akan kebaikan Allah selama ini dan akan perjanjian mereka dengan Allah. Dalam bacaan Injil, bentuk penyimpangan itu adalah perceraian. Dari sini Yesus mengingatkan mereka akan kisah penciptaan manusia pertama, yaitu akan prinsip tak terpisahkannya suami istri.

Jadi, dapatlah dikatakan bahwa sabda Tuhan hari ini hendak menyadarkan kita di saat hidup kita telah menyimpang. Penyadaran itu bisa saja terjadi dengan sendirinya, bisa juga atas bantuan pihak luar diri kita. Apabila kita menyadari hidup kita telah menyimpang, hendaklah kita kembali kepada prinsip kebenaran. Misalnya, sebagai suami saya tahu bahwa saya harus setia pada istri dalam suka dan duka. Karena itu, ketika di luar saya tertarik dengan gadis cantik dan tergoda untuk selingkuh, saya harus kembali ke prinsip kebenaran: seorang suami harus setia pada istri dalam suka dan duka. Contoh lain, sebagai seorang istri, untuk membatasi kelahiran saya menggunakan alat kontrasepsi. Tiba-tiba, dalam suatu seminar di paroki, romo menjelaskan bahwa Gereja melarang penggunaan alat kontrasepsi. Dengan kata lain, kontrasepsi merupakan bentuk pelanggaran atas ajaran Gereja. Di sini saya disadarkan untuk kembali kepada prinsip kebenaran.

Masih banyak contoh lain lagi. Pada intinya, sabda Tuhan tidak mau kita terus hidup dalam penyimpangan. Melalui sabda-Nya, Tuhan menghendaki supaya kita kembali kepada prinsip kebenaran saat kita menyadari diri kita atau hidup kita sudah menyimpang.

by: adrian 

Jumat, 28 Juni 2024

RENUNGAN HARI JUMAT BIASA XII - THN II

Renungan Hari Jumat Biasa XII, Thn II

Bac I 2Raj 25: 1-12; Injil         Mat 8: 1-4

Injil hari ini melanjutkan bacaan Injil kemarin. Dalam Injil kemarin dikatakan bahwa Yesus selesai dengan pengajarannya. Rangkaian pengajaran Yesus dalam bab 5 – 7 dikenal dengan Sabda di Bukit, karena Yesus menyampaikan pengajarannya di atas bukit. Hal itu terlihat dalam ayat 1 Injil hari ini: Setelah Yesus turun dari bukit,…..

Apa yang terjadi setelah Yesus turun dari bukit? Diceritakan bahwa Yesus berjumpa dengan seorang kusta yang menyembah Yesus dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (ay. 2) Dan selanjutnya penginjil Matius mengisahkan Yesus menjamah orang itu dan kemudian menyembuhkannya (ay. 3).

Apa yang menarik dari kisah ini? Di sini Yesus mau menunjukkan implementasi dari pengajaran-Nya. Yesus mempraktekkan apa yang disampaikan kepada orang banyak di bukit. Di bukit Yesus mengajarkan “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5: 4), setelah turun dia mendekati dan menjamah orang kusta dan menjamahnya. Jaman dulu orang kusta selalu disingkirkan. Menjamah berarti menjadi najis. Di sini Yesus sekaligus mewujudkan kasih yang disampaikan-Nya di bukit. Tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi-Nya (Mat 5: 46). Selain itu, Yesus mempraktekkan ajarannya tentang menghakimi (Mat 7: 1-5). Dulu orang Yahudi memvonis orang kusta adalah orang berdosa, dikutuk Allah, dan lain sebagainya. Namun Yesus tidak berpikiran seperi itu. dia malah mengasihi orang kusta itu. Di sini lewat sabda-Nya tuhan menghendaki supaya kita senantiasa mewujudkan apa yang kita ucapkan dalam Tindakan nyata.

by: adrian

Rabu, 12 Juni 2024

RENUNGAN HARI RABU BIASA X, THN II

Renungan Hari Rabu Biasa X, Thn II

Bac I 1Raj 18: 20-39      ; Injil Mat 5: 17-19

Kerap terdengar terkait dengan Tuhan Yesus muncul istilah atau gelar yang mengaitkan-Nya dengan sosok tokoh Perjanjian Lama. Misalnya, Yesus disebut sebagai Adam Baru, Musa Baru atau Elia Baru. Dan masih banyak contoh lainnya. Bacaan liturgi hari ini hendak memberitahu kita kenapa Yesus disebut sebagai Elia Baru.

Bacaan pertama hari ini menceritakan kisah tentang Nabi Elia yang membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman pengaruh Baal. Dari pernyataan Elia (ay. 21) terlihat jelas kalau umat Israel tidak setia lagi kepada Allah, yang telah membebaskan mereka dari penindasan Mesir. Mereka sudah “berlaku timpang dan bercabang hati.” Hati mereka sudah terpaut pada Baal. Karena itulah Elia tampil untuk mengembalikan mereka kepada Allah, diadakanlah “perang” antara Elia seorang dengan 450 imam/nabi Baal, dan kemenangan ada di pihak Elia sehingga umat Israel kembali kepada Allah. Mereka akhirnya berseru, “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!” Seperti Elia yang membebaskan umat Israel dari pengaruh Baal dan menghantar umat itu kembali kepada Allah, demikian halnya dengan Tuhan Yesus. Dia membebaskan umat manusia dari belenggu dosa yang telah merusak relasi manusia dengan Allah dan menghantar umat itu kembali kepada Allah.

Tidak hanya soal pembebasan saja identifikasi Yesus dengan Elia, melainkan soal penggenapan Hukum Taurat. Kata “penggenapan” ini tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan atau penyempurnaan, tetapi dalam konteks kita dipahami dengan membuat genap. Dengan frasa “membuat genap” berarti sebelumnya ada yang ganjil atau belum genap. Dengan kata lain, sebelumnya ada yang kurang, karena itulah perlu digenapi. Dan itulah yang dilakukan Elia dan juga Yesus, sehingga Dia disebut sebagai Elia Baru. Pada masa Elia yang kurang atau yang ganjil itu adalah ketidak-setiaan bangsa Israel, sedangkan pada masa Yesus keganjilan itu adalah penerapan Hukum Taurat itu sendiri. Ada banyak aturan dijalankan tidak sesuai lagi dengan Hukum Taurat, tetapi dikatakan itulah Hukum Taurat.

Apa pesan Tuhan kepada kita lewat sabda-Nya hari ini. Satu hal yang menarik untuk kita renungkan adalah pola identifikasi. Sebagaimana Yesus yang mengikuti Elia menjadi Elia baru, demikian pula halnya kita. Diharapkan agar kita, yang memang sebagai pengikut Yesus, harus menjadi Yesus yang baru. Jadi, seperti Yesus sebagai tokoh pembebas, demikian pula kita dapat membebaskan saudara-saudari kita dari belenggu dosa, penderitaan atau dukacita. Atau juga dengan berusaha dengan setia menerapkan perintah-Nya dan juga aturan Gereja, bukan dengan menawarkan aturan pribadi dengan mengatas-namakan aturan Gereja.

by: adrian

Jumat, 31 Mei 2024

Renungan Hari Rabu Biasa VIII, Thn II

Renungan Hari Rabu Biasa VIII, Thn II

Bac I 1Ptr 1: 18 – 25; Injil       Mrk 10: 32 – 45;

Dalam bacaan pertama, Rasul Petrus melihat bahwa darah Kristus yang tercurah di kayu salib merupakan wujud kasih Allah kepada kita umat manusia. Inilah yang dimaksud Yesus dalam Injil dengan Anak Manusia yang “melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay. 45). Karena itu, bagi Petrus buah dari penebusan itu adalah supaya umat dapat mengamalkan kasih persaudaraan dengan tulus Ikhlas. “Hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” (ay. 22).

Salah satu bentuk kasih itu adalah melayani. Kita diajak untuk mengikuti teladan Yesus sebagai Anak Manusia yang melayani, bukan dilayani dan mengasihi, bukan dikasihi. Frasa “memberikan nyawa-Nya” tidak harus dipahami dengan mengasihi dan melayani sampai mati. Yang mati tidak harus diri kita, melainkan ego kita. Dengan mematikan ego kita, maka kita dapat mengasihi dan melayani dengan tulus Ikhlas tanpa pamrih. Jadi, frasa “memberikan nyawa-Nya” bila dikenakan pada melayani dan mengasihi berarti kita mengasihi dan melayani bukan untuk mendapatkan imbalan atau pujian, bukan pula agar suatu saat dilayani dan dikasihi atau supaya masuk surga, bukan karena tugas atau kewajiban, melainkan karena kita mau menyalurkan kasih Allah yang telah kita terima lebih dahulu.

Oleh karena itu, sabda Tuhan hari ini pertama-tama menyadarkan kita bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita lewat curahan darah Putera-Nya di kayu salib. Dia telah mengangkat kita menjadi anak dan ahli waris. Untuk itu kita diajak untuk menyalurkan kasih-Nya kepada sesama kita.

by: adrian

Kamis, 30 Mei 2024

Renungan Hari Kamis Biasa VIII, Thn II

Renungan Hari Kamis Biasa VIII, Thn II

Bac I 1Ptr 2: 2-5, 9-12; Injil     Mrk 10: 46-52

Sangat menarik kalau kita memperhatikan proses penyembuhan Bartimeus dalam Injil hari ini. Pertama-tama dia berteriak memohon belas kasihan dari Yesus (ay. 47). Sekalipun banyak orang menegornya, ia tetap terus memohon. Di sini mau ditunjukkan keteguhan imannya bahwa pada Yesus dia bisa sembuh (baca: selamat). Setelah mendapat jawaban, pertama-tama Bartimeus menanggalkan jubahnya, berdiri dan mendapatkan Yesus (ay. 50). Tindakan menanggalkan jubah adalah simbol meninggalkan dosa dan masa lalunya. Dia mau menjadi manusia baru. Setelah mendapatkan keselamatan oleh imannya (ay. 52), Bartimeus mengikuti Yesus.

Dalam bacaan pertama, Rasul Petrus seakan mengaitkan peristiwa penyembuhan Bartimeus dengan kehidupan jemaat. Petrus mengatakan bahwa kita sekarang “telah beroleh belas kasihan.” (ay. 10). Seperti Bartimeus yang menanggalkan jubahnya, kita juga dipanggil “untuk keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (ay. 9). Oleh karena kita sudah diselamatkan oleh iman akan Yesus Kristus, Petrus menasehati agar kita senantiasa menjadi manusia baru (bdk. ay 2) dan “menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” (ay. 11) serta memiliki “cara hidup yang baik (ay. 12).

Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau menyadarkan kita bahwa saat ini kita sudah mendapatkan belas kasihan Allah, melalui Sakramen Baptis. Tuhan juga mengingatkan kita untuk hidup sepadan dengan baptisan yang telah kita terima, artinya kita harus benar-benar menanggalkan manusia lama kita dan menjadi manusia baru. Dengan kesadaran inilah kita akhirnya berani berjuang untuk menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging dan memberikan diri dipakai Allah “sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (ay. 5). Itu artinya kita diajak untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah sehingga bisa menghantar sesama kita kepada terang-Nya yang ajaib.

by: adrian

Sabtu, 21 Oktober 2017

Renungan Hari Sabtu Biasa XXIII - Thn II

Renungan Hari Sabtu Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    1Kor 10: 14 – 22a; Injil                    Luk 6: 43 – 49;

Injil hari ini memuat pengajaran Tuhan Yesus tentang penilaian seseorang. Bagi Yesus, orang baik akan terlihat dalam sikap dan perilaku hidupnya. Kebaikan itu akan memancar dalam hidupnya. Tuhan Yesus membandingkannya dengan pohon. Tak mungkin pohon yang tak baik menghasilkan buah yang baik. Hanya pohon yang baik saja yang menghasilkan buah yang baik. Demikianlah manusia. Karena orang baik akan mengeluarkan perbendaharaan yang baik dari dalam hatinya, sedangkan orang jahat mengeluarkan yang jahat. Jadi, untuk menilai apakah seseorang itu baik atau tidak, dapat dilihat dari buah yang dihasilkannya.

Apa yang diajarkan Tuhan Yesus, kembali ditekankan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, yang menjadi bacaan pertama hari ini, dengan cara yang sedikit berbeda. Paulus berangkat dari permenungannya atas ekaristi. Dalam perayaan ekaristi umat memakan roti yang satu dan minum dari cawan yang sama, yang semuanya melambangkan Kristus. Artinya, dengan merayakan ekaristi, dimana umat makan dan minum dari cawan yang sama, Kristus ada di dalam hidup umat. Karena Kristus ada di dalam dirinya, maka umat tidak layak lagi terlibat dalam aksi sembah berhala. Kristus yang ada dalam dirinya, menuntun umat untuk menyembah Allah semata. Hal ini akan terlihat dalam kehidupan nyata.

Tak jarang kita menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, entah itu dari cara berpakaian ataupun dari status dan jabatannya. Tak sedikit orang beranggapan bahwa uskup, imam atau suster itu otomatis baik. Padahal banyak dari mereka yang tidak menghasilkan buah yang baik dalam hidupnya. Banyak juga orang menilai bahwa mereka yang berpenampilan awut-awutan otomatis buruk, sedangkan yang necis dan rapi pasti baik. Mereka lupa bahwa banyak koruptor selalu berpakaian rapid an berpenampilan meyakinkan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyingkirkan cara pandang seperti itu. Kita diajak untuk menilai seseorang dari sikap dan perilaku hidupnya juga. Tuhan menghendaki juga supaya kita menghasilkan buah-buah kebaikan dalam hidup.

by: adrian

Senin, 30 Mei 2016

Renungan Hari Jumat Biasa XXIII - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    1Kor 9: 16 – 19, 22b – 27; Injil                   Luk 6: 39 – 42;

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya lewat perumpamaan yang singkat. “Dapatkah orang buta menuntun orang buat? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (ay. 39). Di sini Tuhan Yesus mau memberitahukan para murid-Nya bahwa untuk menyelamatkan orang lain, terlebih dahulu harus selamatkan diri sendiri. Jangan sibuk mengurus orang lain, sementara diri sendiri masih banyak yang harus diurus. Hal ini sejalan dengan pengajaran Yesus tentang selumbar dan balok (ay. 41 – 42). Yesus meminta untuk mengeluarkan terlebih dahulu balok yang ada di mata kita, baru kita dapat mengeluarkan selumbar di mata orang lain.

Senada dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus, Paulus kembali menekankannya dalam bacaan pertama. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajak umat untuk membenahi diri sendiri dahulu sebelum terjun ke tengah masyarakat. Paulus membandingkannya dengan pertandingan. Agar dapat memenangkan pertandingan, maka tiap-tiap orang harus melatih dirinya sendiri. Untuk maksud ini, Paulus mengambil contoh dirinya. Paulus terpanggil untuk memberitakan Injil agar semakin banyak orang diselamatkan. Untuk tugas inilah, Paulus mempersiapkan dirinya, sehingga wartanya dapat diterima oleh jemaat. Warta Paulus tidak hanya sebatas lisan saja, melainkan juga nyata dalam hidup.

Adalah kecenderungan kita mengatur orang lain tanpa terlebih dahulu mengatur diri sendiri. Kita lebih mudah menemukan kesalahan pada pihak lain, sementara kesalahan sendiri disembunyikan atau malah tak diakui. Gereja sering mengkritik korupsi yang terjadi di pemerintahan, sementara korupsi di Gereja sendiri dibiarkan. Seorang pimpinan Gereja lihat mengkritik kinerja karyawan sebuah yayasan, sementara kinerja anak buahnya yang amburadul dibiarkan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mawas diri, melihat diri sendiri dulu sebelum melihat orang lain. Tuhan menghendaki kita supaya membenahi diri sendiri baru tampil membenahi dunia.

by: adrian

Renungan Hari Kamis Biasa XXIII - Thn II

Renungan Hari Kamis Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    1Kor 8: 1b – 7, 11 – 13; Injil                       Luk 6: 27 – 38;

Bacaan Injil hari ini berisi pengajaran Tuhan Yesus yang menjadi ciri khas orang Kristen dewasa kini. Tuhan Yesus meminta para murid-Nya untuk hidup penuh kasih, bukan saja kepada sesama anggota kelompok, melainkan juga kepada orang yang memusuhinya. Bentuk-bentuk kasih itu terlihat dalam “berbuat baik kepada orang yang membenci kamu” (ay. 27), “mendoakan mereka yang mencaci kamu” (ay. 28), tidak membalas dendam atau kejahatan (ay. 29 – 30), murah hati (ay. 36), dan mengampuni (ay. 37). Dapat dikatakan bahwa Tuhan Yesus lebih menekankan kasih kepada musuh. Di sini Tuhan Yesus mau mengajak para murid-Nya untuk menjadi seperti Bapa yang tidak memandang bulu dalam berbuat kasih. Allah mengasihi umat manusia, entah itu yang baik ataupun yang jahat.

Dasar pertimbangan ini kembali diungkapkan Paulus dalam bacaan pertama. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajak umat untuk bersikap baik terhadap orang yang lemah. Orang lemah di sini tidak hanya merujuk pada orang secara sosial (tersingkir, minoritas atau diabaikan), melainkan juga secara moral (pendosa, musuh atau penjahat). Paulus tidak ingin ada umat bersikap kasar sehingga “melukai hati nurani mereka yang lemah” (ay. 12), karena bagi Paulus sikap seperti itu sama artinya melukai Kristus sendiri. Dasar pertimbangannya seperti yang diungkapkan Yesus dalam Injil, yaitu bahwa Yesus mati untuk keselamatan umat manusia, termasuk mereka yang lemah itu. Jadi, sama seperti Kristus yang berbaik hati kepada mereka yang lemah, hendaknya juga umat harus berbaik hati kepada mereka.

Kasih adalah ciri khas pengikut Kristus. Agama Kristen selalu diidentikkan dengan kasih. Karena itu, sekalipun orang Kristen ditindas, mereka tidak melawan. Sekalipun orang Kristen dihina, mereka tidak membalas. Banyak orang Kristen, yang karena Yesus Kristus dianiaya bahkan dibunuh, namun mereka hanya bisa berdoa dan memberkati. Sekalipun agama Kristen mendapat perlakukan tidak adil di negeri ini, umatnya hanya dapat berdoa dan mengampuni. Inilah terjadi karena ajaran Yesus. Melalui sabda-Nya hari ini, Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa ingat akan ajaran-Nya itu. Tuhan menghendaki agar kita tetap hidup dalam kasih, baik itu terhadap sesama murid Kristus, maupun terhadap orang-orang yang memusuhi kita.

by: adrian

Renungan Hari Rabu Biasa XXIII - Thn II

Renungan Hari Rabu Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    1Kor 7: 25 – 31; Injil                        Luk 6: 20 – 26;

Dalam Injil hari ini, sabda Tuhan Yesus dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu sabda bahagia dan sabda kecaman. Sabda kecaman merupakan kebalikan dari sabda bahagia. Tuhan Yesus menyebut orang-orang yang berbahagia, seperti: yang miskin, yang lapar, yang menangis (bersedih), dan yang menderita karena nama Yesus. Orang-orang seperti ini akan mendapat upah yang besar di sorga. Di sini Yesus mau mengatakan bahwa orang-orang yang berbahagia ini karena mereka tidak mengandalkan dunia, melainkan Allah. Karena itu, Tuhan Yesus mempertentangkan kelompok ini dengan kelompok orang yang dikecam karena mereka mengandalkan kekayaan, kepuasan dan kenikmatan duniawi tanpa peduli akan nasib orang lain.

Mempertentangkan dua hal kembali diungkapkan Paulus dalam bacaan pertama. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengungkapkan secara implisit ada umat yang hidup tergantung pada hal-hal duniawi. Mereka ini seakan terikat dan bergantung padanya. Sadar akan keterbatasan waktu, Paulus menghimbau mereka untuk bersikap bebas terhadap hal-hal duniawi itu dan lebih mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan. Paulus mengajak umat yang menggunakan barang duniawi seolah-olah tidak menggunakannya.

Kita hidup di dunia. Hal-hal yang duniawi tentulah ada di sekitar kita. Setiap kita pasti tak bisa lepas dari hal-hal duniawi itu. Namun perlu disadari bahwa tujuan akhir kita bukanlah dunia ini. Dunia hanyalah tempat dan sarana kita menuju perjalanan akhir hidup kita. Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita bahwa hal-hal duniawi itu hanya bersifat sementara. Karena itu, hendaknya kita jangan terikat atau tergantung padanya. Kita harus bersikap lepas bebas serta memanfaatkan hal-hal duniawi itu demi kebahagiaan bersama. Tuhan menghendaki supaya kita tidak hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli orang lain, melainkan agar kita, dengan segala yang kita miliki, mau berbagi pada sesama.

by: adrian

Renungan Hari Selasa Biasa XXIII - Thn II

Renungan Hari Selasa Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    1Kor 6: 1 – 11; Injil               Luk 6: 12 – 19;

Salah satu berita yang menarik dalam Injil hari ini adalah penetapan para rasul. Setelah berdoa semalam-malaman kepada Allah, diceritakan bahwa akhirnya Tuhan Yesus memilih 12 orang menjadi rasul-Nya. Dalam memilih 12 orang itu, Tuhan Yesus sekan tidak melakukan penelitian ataupun penyelidikan tentang latar belakang, baik sosial, ekonomi, kepribadian atau pendidikannya. Karena itu wajar bila di dalam keduabelas orang itu ada terdapat orang bodoh, pintar, biasa-biasa saja, kaya, miskin, bahkan ada juga orang jahat. Semua itu seakan tidak dipedulikan Tuhan Yesus, karena Dia berharap akan adanya perubahan.

Harapan akan perubahan inilah yang kembali diungkapkan Paulus dalam bacaan pertama. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan bahwa Allah tidak memandang status kita di awal, melainkan di akhir. Karena bagi Paulus, ketika Allah memanggil kita, Allah telah menguduskan kita. Allah telah membenarkan kita dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah. Jadi, sekalipun awalnya umat itu seorang pendosa, berkat panggilan Allah, ia disucikan dan dibenarkan. Namun, Paulus berharap agar umat tetap hidup dalam kebenaran. Jika hingga akhirnya umat tetap hidup dalam keberdosaan, maka ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia itu lemah. Kelemahan itu membuat manusia selalu jatuh ke dalam dosa. Seringkali manusia merasa tak layak menghadap Tuhan karena keberdosaannya. Manusia lupa kalau Allah selalu ingin manusia selamat. Allah memang membenci dosa, tapi bukan lantas berarti Dia benci orang berdosa. Allah senantiasa memanggil semua manusia, baik berdosa ataupun tidak, kepada keselamatan. Pintu tobat selalu terbuka. Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita bahwa Allah tidak memandang status atau latar belakang kita. Allah menghendaki perubahan dalam hidup kita. Perubahan akan mendatangkan selamat, sedangkan ketidakberubahan mendatangkan derita. Tuhan menghendaki agar kita yang sudah dibenarkan dalam nama Yesus Kristus senantiasa hidup dalam kebenaran.

by: adrian

Renungan Pesta Kelahiran Santa Maria

Renungan Hari Senin Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    Rom 8: 28 – 30; Injil                        Mat 1: 1 – 16, 18 – 23;

Hari ini Gereja Universal memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Bacaan-bacaan liturgi hari ini sama sekali tidak ada kaitan dengan kelahiran Bunda Maria. Bahkan tidak ada catatan sejarah tentang kapan dan dimana persisnya Ibunda Yesus ini dilahirkan. Gereja merasa perlu menetapkan momen ini, mengingat peran Maria dalam karya keselamatan Allah. Jadi, penetapan ini lebih pada penghormatan kepada Bunda Maria, serta ajakan untuk mengikuti teladan hidupnya. Pada poin terakhir inilah, sabda Tuhan mendapat gaungnya.

Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, Paulus menekankan bahwa Allah senantiasa bekerja untuk keselamatan umat manusia. Untuk maksud itu, Allah membutuhkan tangan manusia. Maria merupakan salah satu rancangan Allah untuk keselamatan umat manusia, melalui Tuhan Yesus. Hal ini terlihat dalam Injil hari ini. Diawali dengan silsilah Yesus Kristus, dimana nama Maria muncul di dalamnya, hingga bagaimana Allah “menggunakan” Maria sebagai alat-Nya. Maria mengandung dari Roh Kudus. Ini sesuai dengan janji Allah, yang telah dilontarkan para nabi Perjanjian Lama.

Hari ini sabda Tuhan mau menyadarkan kita bahwa untuk menyelamatkan umat manusia, Allah membutuhkan manusia. Salah satunya adalah Bunda Maria, yang melaluinya Allah menjadi manusia. Maria telah dipanggil Allah sedari awal, dibenarkan dan akhirnya dimuliakan. Semua itu karena teladan iman Maria, “Terjadilah padaku menurut kehendak-MU.” Teladan inilah yang hendak ditawarkan kepada kita. Melalui sabda-Nya dan juga lewat pesta Maria ini, Tuhan menghendaki supaya kita hidup berserah diri kepada Tuhan. Kita diajak untuk senantiasa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

by: adrian

Renungan Hari Senin Biasa XXIV - Thn II

Renungan Hari Senin Biasa XXIV, Thn A/II
Bac I    1Kor 12: 31 – 13: 13; Injil               Luk 2: 33 – 35;

Hari ini adalah peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita. Gereja Universal mengajak umatnya untuk bercermin pada dukacita Bunda Maria. Injil hari ini memuat ramalan Simeon akan dukacita Maria. “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (ay. 35) demikian ungkap Simeon tentang Maria. Pusat dukacita Maria ada pada Yesus, Puteranya. Dukacita Maria menampilkan sisi keibuannya atas perilaku tak adil terhadap Yesus, Puteranya. Perlakuan tak adil yang diterima Yesus terjadi sepanjang hidup-Nya dan berpuncak pada salib. Karena itu, peringatan ini masih berkaitan dengan pesta Salib Suci kemarin.

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, yang menjadi bacaan pertama ini, memang sama sekali tidak menyinggung secara eksplisit Maria yang berdukacita. Tema surat Paulus ini adalah kasih. Paulus mengajak jemaat untuk mewujudkan kasih di antara sesama. Salah satu ungkapan kasih adalah bersukacita akan kebenaran, bukan atas ketidak-adilan (ay. 6). Dengan kata lain, terhadap peristiwa ketidak-adilan, umat hendaknya tidak bersukacita, tetapi berdukacita. Di sini umat menunjukkan kasih solidaritas atas mereka yang menderita ketidak-adilan. Hal ini mirip seperti yang dialami oleh Bunda Maria.

Dewasa ini banyak orang tua tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik; mana yang benar dan salah, berkaitan dengan anaknya. Kasih orang tua akan anaknya sering ditampilkan dengan sikap membela sang anak, sekalipun anak berbuat salah. Bahkan ada orang tua yang bangga akan perilaku anak yang demikian. Hari ini kita diajak untuk berkaca pada Bunda Maria. Sabda Tuhan menghendaki supaya kita berdukacita pada ketidak-adilan dan bersukacita pada kebenaran. Artinya, kita bisa membedakan benar dan salah. Jika ada orang lain berbuat salah, entah itu anak atau siapa saja, hendaknya kita prihatin atas hal itu dan berusaha untuk membenahinya.

by: adrian

Renungan Hari Sabtu Biasa XXII - Thn II

Renungan Hari Sabtu Biasa XXII, Thn A/II
Bac I    1Kor 4: 6b – 15; Injil                        Luk 6: 1 – 5;

Dalam bacaan kedua, yang diambil dari surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus membeberkan kriteria murid Kristus. Kriteria itu bukan sebatas ungkapan teoretis belaka, melainkan nyata dalam diri Paulus sendiri dan juga Apolos. Artinya, jemaat dapat melihat kriteria murid Kristus dalam diri kedua rasul itu. Misalnya seperti mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi, sabar sekalipun dianiaya, memberkati meskipun dicaci maki, ramah walaupun difitnah. Melalui suratnya ini Paulus meminta jemaat untuk mengikuti teladan hidupnya dan juga Apolos, karena itulah ciri atau tanda murid Kristus.

Apa yang dihidupi Paulus dan Apolos, dan yang menjadi teladan bagi jemaat, sudah dilakukan Tuhan Yesus. Makanya wajar bila dalam perilaku Paulus dan Apolos, umat dapat melihat Kristus. Injil hari ini menampilkan kriteria yang dimaksud Paulus dalam suratnya itu. Menghadapi kritik pedas dari kaum Farisi berkaitan dengan kebiasaan hari sabat, Tuhan Yesus menghadapinya dengan sabar dan ramah. Tuhan Yesus tidak menggunakan rasionalisasi, melainkan menggunakan dasar Kitab Suci. Jadi, dasar Kitab Suci yang digunakan kaum Farisi dalam mengecam perbuatan para murid Yesus dilawan dengan Kitab Suci juga. Di sini bukan berarti Kitab Suci itu membingungkan karena berisi pertentangan. Yesus mau mengajak umat, terlebih kaum Farisi, untuk dapat melihat Kitab Suci secara utuh; bukan secara parsial saja. Lebih dari itu, Yesus mau meminta mereka untuk lebih melihat kehendak Allah dalam Kitab Suci, ketimbang menggunakan Kitab Suci untuk pembenaran diri.

Tak jarang dalam kehidupan, kita sering menghadapi kritikan, hinaan, fitnah juga aniaya. Kebanyakan dari kita, ketika menghadapi semuanya itu, menunjukkan reaksi membalas atau sekedar pembenaran diri. Sangat jarang kita menghadapi semua itu dengan sikap jernih dan reflektif. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyikapi semua itu dengan hati jernih dan lapang dada. Kita tak perlu membalas ataupun berasionaliasi. Tuhan menghendaki supaya kita menampilkan jati diri kita sebagai orang Kristen, murid Kristus, yang mengutamakan damai dan kasih persaudaraan.

by: adrian

Sabtu, 06 Februari 2016

Renungan Hari Sabtu Biasa IV - Thn II

Renungan Hari Sabtu Biasa IV, Thn C/II
Bac I  1Raj 3: 4 – 13; Injil         Mrk 6: 30 – 34;
Hari ini sabda Tuhan diambil dari Kitab Pertama Raja-raja. Di sini dikisahkan tentang komunikasi antara Allah dan Salomo, putra Daud. Komunikasi ini berawal dari tawaran Allah kepada Salomo mengenai apa yang dibutuhkannya. Allah yang memberikannya. (ay. 5). Yang menarik adalah Salomo tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuh. Ketiga hal ini semata-mata demi kepentingan pribadi; dan ini yang tidak diminta. Salomo lebih memilih meminta “Hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi … dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat.” (ay. 9). Memang permintaan itu untuk dirinya, namun penggunaannya untuk orang lain.
Sikap seperti Salomo ini dapat terlihat pada diri Tuhan Yesus dan para rasul-Nya. Dalam Injil hari ini dikisahkan para rasul berkumpul kembali bersama Tuhan Yesus setelah mereka melaksanakan tugas perutusan. Tuhan Yesus mengajak mereka untuk ke tempat sepi supaya bisa beristirahat. Alasannya adalah selama berkarya mereka benar-benar memberikan diri kepada umat “sehingga makanpun mereka tidak sempat.” (ay. 31). Di sini mau ditunjukkan nilai pengorbanan demi orang lain. Demi melayani orang lain, mereka sampai lupa akan dirinya sendiri. Sama seperti permintaan Salomo, mereka lebih berorientasi ke luar dari dirinya sendiri.
Sabda Tuhan hari ini mau berbicara soal dedikasi dan pengorbanan tanpa pamrih. Sikap ini rasanya semakin sulit dijumpai pada manusia dewasa ini, apalagi pada para imam yang memang terpanggil untuk melayani bukan dilayani. Banyak orang, ketika bekerja atau “melayani” masih mempertimbangkan uang atau kepentingan dirinya. Melalui sabda-Nya hari ini Tuhan mengajak kita untuk lebih berorientasi keluar dari diri sendiri. Kita diajak untuk lebih memperhatikan orang lain, umat yang dilayani. Tuhan menghendaki agar kita mau memberi diri demi orang lain dalam tugas dan peran kita.***
by: adrian

Jumat, 05 Februari 2016

Renungan Hari Jumat Biasa IV - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa IV, Thn C/II
Bac I  Sir 47: 2 – 11; Injil          Mrk 6: 14 – 29;
Sabda Tuhan hari ini mau berbicara tentang Raja Daud dan putranya, yaitu Yesus Kristus. Ada kemiripan di antara keduanya dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. kemiripan itu terletak pada apa yang telah mereka lakukan. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Putra Sirakh, penulis mengungkapkan pujian kepada Raja Daud. Penulis melukiskan apa saja yang telah dilakukan Daud, baik sebelum menjadi raja maupun setelah menjadi raja, sehingga layak mendapat pujian. Intinya, Daud telah melakukan hal-hal baik yang berkenan di hadirat Allah. Memang bukan berarti Daud tak luput dari dosa. Namun karena kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya “Tuhan mengampuni segala dosanya…” (ay. 11).
Pujian yang dialami Daud, terlihat juga pada diri Tuhan Yesus. Mungkin inilah makna ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Injil hari ini menceritakan tentang Raja Herodes yang menerima informasi tentang Tuhan Yesus. Dikatakan bahwa “Nama-Nya sudah terkenal.” (ay. 14), sehingga ada yang mengatakan Dia adalah representasi Yohanes Pembaptis, Nabi Elia atau nabi jaman dahulu. Yang membuat Tuhan Yesus terkenal adalah apa yang diwartakan dan dilakukan-Nya, yang semuanya berkenan di hadirat Allah.
Ada banyak orang ingin tampil popular. Tak sedikit yang mau menjadi orang terkenal. Menjadi terkenal setidaknya dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu melakukan hal-hal yang negatif dan melakukan hal-hal positif. Akan tetapi, orang yang terkenal akan hal-hal negatif bukan pujian yang didapat, melainkan kecaman. Lihatlah aksi para koruptor, teroris atau pelaku kejahatan lainnya. Memang mereka terkenal, tapi dikecam. Berbeda jika terkenal dalam hal-hal positif; orang akan mendapat pujian. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengikuti teladan Daud dan Tuhan Yesus. Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa melakukan hal-hal positif, yang berkenan di hadirat Allah.***
by: adrian

Sabtu, 29 November 2014

Renungan Hari Sabtu sesudah HR Kristus Raja - Thn II

Renungan Hari Sabtu Biasa XXXIV, Thn A/II
Bac I    Why 22: 1 – 7; Injil               Luk 21: 34 – 36;

Kalau kemarin Injil menutup rangkaian pewartaan Tuhan Yesus tentang akhir zaman dengan sebuah perumpamaan pohon ara atau pohon apa saja, hari ini Tuhan Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan memberikan nasehat. Ada dua nasehat pokok Tuhan Yesus yang saling melengkapi satu sama lain, yaitu berjaga-jaga dan berdoa. Dengan berjaga-jaga di sini, Tuhan Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk tidak larut dalam hal-hal duniawi. Tuhan Yesus mengindikasikan bahwa hal-hal duniawi itu dapat mencelakakan hidup kita. Dengan berdoa, kita akan mendapatkan kekuatan untuk menghadapi semuanya itu. Jika kita setia menghayati nasehati Tuhan Yesus ini maka kita akan berbahagia kelak.

Gambaran bahagia juga dinyatakan dalam Kitab Wahyu. Yohanes dalam bacaan pertama, seakan mau menegaskan apa yang diungkapkan Tuhan Yesus dalam Injil. Setelah melukiskan gambaran awal dan akhir dari pengadilan akhir zaman, Yohanes menegaskan bahwa mereka yang setia pada ajaran Tuhan akan mengalami kebahagiaan. Kebahagiaan itu bukan hanya karena diluputkan dari siksaan abadi, melainkan karena benar-benar menikmati kebahagiaan abadi bersama Bapa di surga.

Akhir zaman atau yang biasa disebut dengan hari kiamat merupakan perjalanan akhir hidup kita di dunia ini. Memang kita tidak tahu saatnya. Namun masing-masing kita bakal akan menghadapinya. Untuk itu diperlukan persiapan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir zaman itu. Ada dua persiapan penting, yaitu berjaga-jaga dan berdoa. Dengan berjaga-jaga, maka hidup kita akan tetap terarah pada kehendak Allah. Memang tantangan dan godaan sangat berat, dan kita pun punya kelemahan. Akan tetapi, kita perlu juga berdoa memohon kekuatan dari Tuhan.

by: adrian