Minggu, 30 Agustus 2026

Wajah Yesus dalam Injil Matius


Injil Adalah Kabar Baik

Injil artinya kabar baik. Diterjemahkan dari kata Yunani euaggelion (baca: euanggelion), pada mulanya kabar baik yang dimaksud bermakna umum, yakni semua berita gembira yang secara resmi disampaikan oleh pemerintah kepada rakyatnya. Naiknya seorang raja ke atas singgasana kerajaan, lahirnya putra raja, kemenangan di medan perang, penghapusan utang, keringanan pajak, dan pemberian amnesti merupakan beberapa contoh kabar baik yang dibawa, disebarkan, dan diumumkan oleh utusan-utusan raja, yang tentunya menghadirkan sukacita bagi seluruh rakyat.

Ketika Yesus hadir dan berkarya di dunia, Injil memperoleh makna baru, yakni kabar baik yang diwartakan-Nya tentang kedatangan Kerajaan Allah (Mat. 4:23; Mrk. 1:15). Yesus menggenapi apa yang disampaikan Nabi Yesaya tentang pemerintahan Allah yang menghadirkan damai sejahtera, kegembiraan, dan keselamatan bagi manusia (Yes. 52:7). Agar mengalami pengampunan dosa, pemulihan, keselamatan kekal, dan damai sejati, manusia diundang untuk bertobat, percaya, dan membuka diri pada kabar baik yang dibawa-Nya itu.

Setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, pewartaan Injil dilanjutkan oleh para rasul, dan di sini makna Injil kembali mengalami perkembangan. Injil kemudian dimengerti sebagai kabar baik yang diwartakan para rasul mengenai Yesus yang adalah Mesias (Kis. 5:42). Dari pembawa kabar baik, Yesus menjadi isi dari kabar baik itu sendiri. Injil yang diwartakan para rasul adalah kabar baik bahwa Allah mengerjakan karya keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus yang telah mati, dikuburkan, dan dibangkitkan untuk menebus dosa-dosa manusia. Keselamatan akan dialami oleh mereka yang mengimani Yesus, melakukan segala sesuatu yang diajarkan-Nya, serta dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:20; Mrk. 16:16).

Ketika sejumlah pihak kemudian menuliskan kesaksian mereka tentang hidup dan karya-karya Yesus, Injil pada akhirnya juga merujuk pada jenis sastra tertentu. Kesaksian tertulis ini dirasa perlu untuk dibuat demi menjaga keautentikan iman yang mau diwartakan dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, mengingat pada waktu itu para saksi mata mulai berpulang satu demi satu. Melalui kitab-kitab Injil, ditegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, Anak Allah, dan Juru Selamat dunia. Semua orang diundang untuk percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan Allah melalui Dia. Berbagai tulisan yang disebut Injil ditulis dalam kurun waktu abad pertama sampai abad kedua Masehi. Dari tulisan-tulisan tersebut, Gereja menetapkan empat Injil sebagai kanonik, yang berarti mengesahkan bahwa kitab-kitab tersebut memuat kisah hidup Yesus, beserta segala karya dan ajaran-ajaran-Nya, dengan benar dan dapat dipercaya. Keempat Injil tersebut adalah Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Jumat, 28 Agustus 2026

PERSOALAN DALAM QS 48 AYAT 29


Sudah jadi rahasia umum kalau umat islam hanya bisa baca alquran tanpa pernah tahu artinya. Hal ini dimaklumi karena alquran hanya untuk dibaca, bukan untuk dipahami. Seandainya umat islam bisa memahami alquran, tentulah mereka akan menemui aneka persoalan di dalamnya. Misalnya dalam QS 48: 29 

Rabu, 26 Agustus 2026

Lemah Literasi Berdampak Salah Memahami



Bukan islam namanya kalau tidak sibuk ngurusi agama lain. Hal ini sudah berakar dari aulohnya sendiri. Masalahnya mereka salah memahami sehingga kesimpulannya pun salah. Ini pun dilakukan auloh. Contohnya soal kutipan Kel. 2: 18, Bil 10: 29 dan Hak 4: 11. Seolah-olah ada kontradiksi di antara kutipan ini. Padahal sama sekali tidak ada masalah dalam kutipan tersebut, apalagi kontradiksi. Kesalahan terletak pada salah memahami Bil 10: 29. Kutipannya sebagai berikut: Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa ... Jika memahami Hobab sebagai mertua Musa, ini merupakan kesalahan memahami teks. Orang yang paham literasi tentulah melihat frasa mertua Musa dikaitkan dengan frasa sebelumnya, bukan lompat ke Hobab.