Umat islam sering melihat perbedaan yang ada dalam Alkitab sebagai kontradiksi. Misalnya antara 2Raj 24: 8 dan 2Taw 36: 9. Dalam 2Raj dikatakan Yoyakhin memerintah selama 3 bulan, sedangkan 2Taw mengatakan 3 bulan 10 hari. Umat islam melihat ini sebagai kontradiksi karena mereka menggunakan cara mereka melihat alquran. Kalau melihat pakai cara melihat Alkitab pastilah akan tahu tak ada kontradiksi. Karena tiap-tiap penulis kitab dalam alkitab punya ciri khas dengan gaya penulisan. Dalam konteks di atas, terlihat bahwa penulis kitab Raja-raja tidak suka memperhatikan detail, tak seperti penulis Tawarikh. Karena itu, soal 10 hari dicatat dalam Tawarikh, sedangkan Raja-raja membulatkannya jadi 3 bulan saja.
budak bangka
Senin, 04 Mei 2026
Jumat, 01 Mei 2026
Ingat! Tak Semua Alquran Itu Adalah Kitabsuci
Semua agama mempunyai kitab sucinya sendiri. Agama Kristen, baik itu Katolik maupun Protestan, punya Alkitab, islam punya alquran, dan lain sebagainya. Masing-masing agama mempunyai konsep tentang kitab sucinya, yang berbeda dari satu agama ke agama lain. Orang Kristen, entah itu Katolik maupun Protestan, tidak mempermasalahkan bahasa yang digunakan dalam kitab sucinya itu. Sekalipun tertulis dalam bahasa Batak atau Minang atau Sunda, tetap saja itu dilihat sebagai kitab suci. Namun berbeda dengan islam. Yang dilihat sebagai kitab suci atau alquran hanyalah kitab dengan tulisan Arab. Jika ada terjemahan atau hanya berbahasa lain, itu bukanlah kitab suci.
Rabu, 29 April 2026
Membela Kemaksiatan dengan Mengecilkan Masalah
Sepanjang bulan Oktober 2005 pondok pesantren menjadi sorotan publik. Salah satu akarnya adalah skandal seksual yang melibatkan kyai dan pengurus pondok pesantren. Korbannya adalah para santriwati. Sekalipun jelas-jelas ada masalah, tetap saja orang melakukan pembelaan terhadap pondok pesantren. Salah satunya adalah mentri agama. Beliau mengatakan bahwa kasus seksual yang terjadi di pondok pesantren sebenarnya kasus kecil karena jumlahnya sedikit, namun dibesar-besarkan oleh media. Pak mentri tak sadar besarnya kasus ini bukan karena sedikitnya jumlah, melainkan karena pelakunya adalah seorang kyai yang paham ajaran agama. Tempatnya juga menentukan kasus ini menjadi besar. Kalau kasus pelecehan seksual terjadi di tempat umum, tentulah tidak akan menjadi besar.
Langganan:
Postingan (Atom)