Minggu, 31 Januari 2021

PAUS FRANSISKUS: PERSATUAN TERUTAMA ADALAH ANUGERAH


 

“Akar persekutuan dan kasih adalah Kristus yang membuat kita mengatasi prasangka guna melihat dalam diri orang lain seorang saudara atau saudari untuk selalu dicintai,” demikian ujar Paus Fransiskus dalam audensi umum mingguannya dari Perpustakaan Istana Apostolik, 20 Januari. Bapa Paus merenungkan tema Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen tahun ini, yaitu: ‘Tinggallah dalam kasih-Ku dan kamu akan berbuah banyak.’

Dengan mencari persatuan, tegas Paus Fransiskus dalam katekese saat umat kristen seluruh dunia memperingati pekan doa itu, kita menemukan bahwa umat kristen dengan pengakuan iman yang lain adalah karunia dari Allah. “Mari kita mulai berdoa untuk mereka dan, jika mungkin, bersama mereka,” ajak Paus Fransiskus. “Dengan demikian kita akan belajar untuk mencintai dan menghargai mereka.”

Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa Yesus tidak memerintahkan para murid-Nya untuk bersatu melainkan berdoa agar mereka bisa bersatu. Artinya, ketika merenungkan ajakan Yesus untuk mengatasi perselisihan dan menabur benih rekonsiliasi, “kita tidak bisa mencapai persatuan dengan kekuatan kita sendiri. Persatuan terutama adalah anugerah, rahmat yang harus diminta melalui doa.”

Sebagaimana rasul Paulus amati, setiap kita mengalami konflik menyakitkan di dalam diri kita sendiri saat kita menginginkan yang baik namun mendapati diri kita cenderung ke arah yang jahat. Konflik internal kita, papar Paus Fransiskus, adalah pengingat bahwa solusi yang sejati datang “dengan meminta perdamaian, rekonsiliasi dan persatuan kepada Allah.”

Jumat, 29 Januari 2021

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL FATIHAH AYAT 5

 

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah secara langsung yang disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dipahami seperti Allah berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad mendengarnya. Apa yang didengar Muhammad itulah yang kemudian ditulis dan menjadi sebuah kitab yang bernama Al-Qur’an. Dengan perkataan lain, umat islam percaya dan meyakini bahwa apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah SWT sendiri. Karena itu, umat islam menaruh hormat yang tinggi kepada Al-Qur’an. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya pelecehan kepada Allah SWT. Dan orang yang melakukan hal itu, berdasarkan perintah Allah dalam Al-Qur’an, wajib dibunuh.

Berangkat dari pemahaman ini, maka apa yang tertulis dalam surah al-Fatihah ayat 5 (dan juga ayat-ayat lainnya) merupakan perkataan langsung dan asli dari Allah SWT. Allah berbicara dan Muhammad mendengarnya. Apa yang tertulis di sana seperti itu juga yang didengar oleh nabi Muhammad SAW. Teksnya berbunyi, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Sepintas tidak ada yang aneh dari teks tersebut. Namun bila ditelaah secara kritis, maka pembaca yang masih mempunyai akal sehat akan tersenyum-senyum. Dalam surah al-Fatihah itu dapat dikatakan Allah SWT berkata kepada Muhammad, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” Cobalah sejenak membayangkannya! Aneh dan lucu kan.

Dalam kalimat itu terdapat dua keanehan. Pusat keanehan yang pertama ada pada kata ENGKAU. Kita bisa bertanya, siapa yang dimaksud dengan kata “engkau” dalam teks tersebut; apakah Muhammad atau Allah SWT yang berbicara. Di sini Allah yang sedang berbicara, dan Muhammad sebagai lawan/kawan bicaranya. Allah yang berbicara memakai kata “engkau”, yang tentunya perkataan-Nya itu ditujukan kepada Muhammad. Pertama-tama kita harus menyingkirkan penggunaan huruf “e” kapital, karena saat diucapkan tentulah tidak dapat diketahui pasti apakah huruf kecil atau huruf kapital. Jadi, kata “engkau” itu merujuk kepada Muhammad atau Allah SWT.

Dapat dipastikan kata itu tidak dimaksudkan dengan Muhammad. Kepastian ini diperkuat dengan kata “menyembah”. Tentulah tidak mungkin Muhammad yang disembah. Karena itu, pilihannya tinggal Allah SWT yang berbicara. Akan tetapi, pilihan ini bukan lantas menyelesaikan masalah, namun justru meninggalkan keanehan baru. Bagaimana mungkin Allah yang berbicara menyebut “engkau” untuk diri-Nya sendiri. Sungguh aneh dan menyalahi tata aturan bahasa.

Dalam tata bahasa, kata “engkau” merupakan kata ganti orang kedua tunggal. Kata ini sepadan dengan kata “kamu”, “kau”, atau “Anda”. Berdasarkan hukum tata bahasa, orang yang sedang berbicara merupakan orang pertama, sedangkan yang bukan berbicara atau lawan bicaranya adalah orang kedua. Dengan kata lain, orang kedua merupakan pribadi lain selain orang pertama. Jadi, ada 2 orang yang berbeda.

Selasa, 26 Januari 2021

INILAH AYAT-AYAT KAFIR DALAM AL-QUR'AN

 

Harus jujur dikatakan bahwa hanya islam agama yang mengkafir-kafirkan penganut agama lain. Sikap umat islam terhadap orang kafir jelas dan tegas, yaitu membenci, memusuhi bahkan bila perlu memerangi dan membunuh. Semua ini mendapat pendasarannya dari Al-Qur'an, kitab suci umat islam. Karena Al-Qur'an itu adalah wahyu Allah SWT, maka semangat dan sikap terhadap orang kafir merupakan kehendak Allah SWT. Sikap jelas dan tegas terhadap orang akfir adalah kehendak dan perintah Allah SWT.

Minggu, 24 Januari 2021

AL-QUR’AN SEBAGAI WAHYU ALLAH


Apabila mendengar istilah Al-Qur’an, tentulah pikiran orang terarah kepada sebuah kitab yang terdiri dari 114 surah dan 6.236 ayat. Sebagai sumber iman umat islam, kitab ini menjadi penuntun, pedoman dan petunjuk bagi hidup kaum muslim. Kitab ini aslinya ditulis dalam bahasa Arab, karena memang Allah sendiri menghendaki demikian.

Umat islam percaya bahwa Al-Qur’an itu merupakan wahyu Allah SWT secara langsung kepada nabi Muhammad SAW. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an diyakini sebagai kata-kata Allah SWT sendiri. Karena ini, umat islam menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada kitab ini. Pelecehan terhadapnya sama saja berarti menghina Allah SWT. Setiap umat islam dipanggil untuk membela Allahnya dari setiap upaya penghinaan terhadap diri-Nya dan juga agama-Nya. Allah sendiri telah memberi petunjuk bagaimana seharusnya umat islam memperlakukan mereka yang telah menghina dirinya (QS al-Maidah: 33).

Akan tetapi, ketika umat islam ditanya soal makna “langsung” dari wahyu Allah yang menjadi kitab ini, terdapat perbedaan pendapat. Setidaknya ada dua penafsiran atas kata “langsung” ini.

1.    Ada yang menafsirkan kata “langsung” ini secara harafiah. Artinya, Al-Qur’an sebagai kitab turun langsung sebagai kitab utuh kepada nabi Muhammad SAW. Ada dua pendasaran akan penafsiran ini. Pertama, kisah tentang turunnya wahyu pertama kepada Muhammad, dimana Allah yang berbicara kepada Muhammad berkata, “Iqra!”. Perkataan Allah ini lebih merupakan sebuah perintah dimana Muhammad disuruh untuk membaca. Kata iqra sendiri biasa dimaknai dengan bacalah. Berangkat dari makna ini, tentulah saat itu sudah ada KITAB sehingga Muhammad diminta untuk membacanya. Atau dengan kata lain, saat itu Allah sudah menyerahkan sebuah KITAB, yang kemudian dikenal dengan nama Al-Qur’an, dan menyuruh Muhammad untuk membacanya.

Kisah seperti ini tak jauh berbeda dengan kisah pertobatan Santo Agustinus, yang kebetulan lebih dahulu ada darpada kehadiran islam. Agustinus hidup dalam abad IV, sedangkan islam baru hadir pada akhir abad VI. Dalam kisah pertobatan Agustinus, dikisahkan bahwa seorang anak kecil, yang kemudian diyakini sebagai jelmaan malaikat Tuhan, berkata kepada Agustinus, “Tole lege!” Perkataan anak kecil ini tak jauh beda maknanya dengan iqra. Perkataan tersebut dimaknai dengan ambil dan bacalah. Diceritakan bahwa setelah itu, Agustinus mengambil Alkitab dan membukanya. Kitab itu terbuka pada halaman Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, dan akhirnya Agustinus membacanya.

Jumat, 22 Januari 2021

AYAT-AYAT NERAKA DALAM AL-QUR'AN


Al-Qur’an diyakini sungguh oleh umat islam sebagai kitab yang berasal langsung dari Allah SWT. Apa yang tertulis dalam kitab itu dipercaya sebagai kata-kata atau wahyu Allah SWT. Dasar keyakinan ini adalah Al-Qur’an sendiri. Beberapa ayat Al-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an ini (sekedar menyebut beberapa, QS al-Baqarah: 4; QS Ali Imran: 3; QS; an-Nisa: 105; QS al-Maidah: 48; QS ar-Rad: 1; QS an-Nahl: 89; QS al-Kahf: 1). Umat islam juga sungguh yakin dan percaya bahwa Allah SWT itu maha benar dan maha tahu. Karena itulah, umat islam percaya apa yang dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51).

Umat islam melihat bahwa Al-Qur’an itu merupakan pedoman, petunjuk, keterangan, tuntunan dan pelajaran bagi manusia. Semuanya sudah dibuat jelas sehingga mudah dipahami. Hal ini bertujuan untuk mendatangkan rahmat bagi umat islam sendiri. Semua ini telah dinyatakan Allah dalam kitab tersebut.

Sebagai pedoman, Al-Qur’an memberikan arahan kepada umat muslim untuk terarah ke surga dan menghindari neraka. Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memberikan keterangan yang jelas tentang surga saja, tetapi juga neraka. Keterangan seperti apa yang diberikan Al-Qur’an terkait dengan neraka? Pelajaran apa yang diberikan Allah lewat kitab-Nya soal neraka? Seperti apa gambaran neraka yang ada dalam Al-Qur’an?

Berikut ini akan dipaparkan ayat-ayat yang berbicara tentang neraka. Artinya, dalam ayat tersebut terdapat kata “neraka”. Kutipan ayat Al-Qur’an ini didasarkan pada Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Kutipan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah ini menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, ada beberapa petunjuk yang patut diperhatikan.

Kamis, 21 Januari 2021

GUNAKAN JUGA CARA PIKIR ORANG LAIN

 


Suatu hari, pesawat yang membawa seorang ahli arkeologi jatuh di rimba Kalimantan. Hanya sang ahli ini saja yang hidup. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia coba mencari-cari dan mengumpulkan sisa-sisa makanan yang ada untuk bertahan hidup hingga tim penyelamat datang. Menjelang sore, ia duduk santai beristirahat. Seekor moyet datang menghampirinya. Monyet itu duduk di hadapannya. Mereka saling bertatapan.

Sang ahli arkeologi ini menatap serius sang monyet. Dalam hati ia berkata, inilah dulu nenek moyang kami, manusia, seperti yang dikatakan engkong Darwin.

Si monyet menggaruk-garukkan kepalanya sambil berkata, ini kayaknya dulu nenek moyang kami.

Ini hanya sebuah cerita. Satu hal yang hendak disampaikan cerita ini adalah bahwa manusia selalu menggunakan sudut pandangnya saja dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Jarang sekali manusia mau menggunakan cara pikir orang lain juga.

Sama seperti sang ahli arkeologi tadi. Dia hanya memakai cara pandang dia saja, bahwa manusia berasal dari monyet. Ini didasari pada teori evolusi Darwin. Dari cara pandang ini, lahirlah sebuah kebenaran yang berlaku universal; tapi sayang hanya berlaku bagi manusia saja. Coba gunakan cara pikir monyet juga? Siapa tahu monyet juga berpikir bahwa dirinya berasal dari manusia. Artinya, manusia berevolusi menjadi monyet. Apa dasarnya?

Kalau manusia dari monyet, dasarnya adalah teori Darwin. Bagaimana dengan monyet berasal dari manusia? Janganlah karena tidak ada dasarnya, lantas tidak diakui. Bisa saja ada monyet yang mengeluarkan teori evolusi tersebut, tapi hingga kini belum diketahui atau ditemui oleh manusia. Karena keterbatasan manusia sajalah yang membuat kita tidak menemukan teori monyet itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menemukan perbedaan pendapat. Beda pendapat ini kerap ditimbulkan karena perbedaan sudut pandang atau cara berpikir saja. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan memaksakan pendapat kita yang paling benar dan memvonis pendapat orang lain itu salah. Cobalah sesekali kita memakai cara pikir orang lain sama seperti kita menggunakan cara pikir kita sendiri.

Namun di atas semuanya itu dibutuhkan kejujuran hati nurani yang besar. Karena ada banyak orang yang ngotot dengan pendapatnya hanya karena ingin membela kepentingan tersembunyi.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Rabu, 20 Januari 2021

SETIAP MASALAH ADA SOLUSINYA

 


Orang selalu mengatakan bahwa tak ada jalan yang mulus. Demikian pula halnya dengan perjalanan hidup setiap manusia. Siapapun dirinya, perjalanan hidup itu memang tidak selamanya mulus dan selalu sesuai dengan keinginan. Ada saatnya kita menghadapi persoalan atau tantangan. Tidak ada seorangpun yang bisa menghindar dari masalah, ia akan datang tanpa permisi dan bisa menyerang pada siapa saja dan di mana saja.

Allah menghendaki umat-Nya hidup bahagia. Namun manusia selalu hidup dengan masalah: tantangan dan persoalan. Masalah merupakan bagian dari hidup manusia. Justru masalah itu membuat hidup manusia menjadi hidup. Maka, hendaknya jangan mengatakan bahwa masalah itu berasal dari Tuhan (bdk. Yak 1: 13).

Allah memang tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah, TETAPI satu hal yang pasti adalah: Dia akan memberi kekuatan dan selalu menyediakan jalan keluarnya! Paulus, dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, berkata, “Allah tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1Kor 10: 13).

Jangan pernah mengangap persoalan sebagai penderitaan, jangan juga terlalu berfokus pada masalah sehingga bisa membuat kita menjadi stress dan depresi. Rasul Yakobus, dalam suratnya, mengajak orang untuk tetap merasa bahagia sekalipun menghadapi berbagai macam masalah (Yak 1: 2)

Untuk dapat bertahan menghadapi masalah, hendaklah kita memiliki pikiran yang positif. Di balik awan ada matahari. Di balik suatu masalah PASTI ada suatu kebaikan, selain itu juga akan mendewasakan iman kita agar terus bertumbuh. Pikiran positif membuat kita selalu menyadari bahwa masalah bisa datang kapan dan di mana saja, sehingga kita dapat mengantisipasinya. Antisipasi bukan berarti menghindari masalah sama sekali, melainkan mengurangi dampak masalah yang datang. Sebagai orang beriman, wujud antisipasi ini adalah seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Mat 26: 41).

Jangan gentar dengan setiap masalah yang muncul. Percayalah, di saat menghadapi jalan buntu, maka Allah sanggup memberikan jalan keluar yang terbaik. Kitab Mazmur menulis bahwa Tuhan “tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya.” (Maz 37: 28).

Sebagaimana sebuah gembok, sebesar apapun gembok itu, pasti ada kunci untuk membukanya. Begitu juga dengan masalah. Sekelam apapun masalah itu PASTI ada jalan keluarnya.

Be Positive, Be Happy!!!

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Senin, 18 Januari 2021

INI PERAN AYAH YANG BISA BANTU TUMBUH KEMBANG ANAK


Fatherless
atau father hunger adalah sebuah predikat yang diberikan kepada ayah lantaran hanya hadir secara fisik karena terikat dalam pernikahan, tetapi tidak terlibat dalam urusan perkembangan anak. Berdasarkan data dari Konferensi Ayah Sedunia tahun 2019, Indonesia termasuk satu dari 10 negara dengan kategori fatherless tertinggi.

Tentunya ini bukanlah suatu label yang baik. Sebab menurut Pakar Pengasuhan Keayahan, Irwan Rinaldi, peran ayah sangat penting dan tidak boleh disepelekan dalam pengasuhan anak. Terlebih saat anak berada pada usia 7 sampai 15 tahun, kehadiran sosok ayah di tahap perkembangan ini sangatlah dibutuhkan anak.

“Jika anak tidak mendapatkan peran ayah di usia tersebut, maka akan terjadi ketimpangan antara pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya stimuluan dari kedua orangtua,” ujar Rinaldi.

Salah satu kurangnya perhatian ayah bisa dirasakan anak dalam tumbuh kembangnya. Hal ini mulai dari anak lebih mudah depresi, menjadi anti sosial, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, terjerumus seks bebas hingga narkoba. “Karena usia biologis lebih maju dibandingkan psikologisnya, hal ini seringkali menjadi penyebab utama terjadinya perceraian,” tambah Rinaldi.

Minggu, 17 Januari 2021

AYAT-AYAT SURGA DALAM AL-QUR'AN


Al-Qur’an diyakini sungguh oleh umat islam sebagai kitab yang berasal langsung dari Allah SWT. Apa yang tertulis dalam kitab itu dipercaya sebagai kata-kata atau wahyu Allah SWT. Dasar keyakinan ini adalah Al-Qur’an sendiri. Beberapa ayat Al-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an ini (sekedar menyebut beberapa, QS al-Baqarah: 4; QS Ali Imran: 3; QS; an-Nisa: 105; QS al-Maidah: 48; QS ar-Rad: 1; QS an-Nahl: 89; QS al-Kahf: 1). Umat islam juga sungguh yakin dan percaya bahwa Allah SWT itu maha benar dan maha tahu. Karena itulah, umat islam percaya apa yang dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51).

Umat islam melihat bahwa Al-Qur’an itu merupakan pedoman, petunjuk, keterangan, tuntunan dan pelajaran bagi manusia. Semuanya sudah dibuat jelas sehingga mudah dipahami. Hal ini bertujuan untuk mendatangkan rahmat bagi umat islam sendiri. Semua ini telah dinyatakan Allah dalam kitab tersebut.

Perjalanan akhir semua manusia adalah surga. Akan tetapi, umat islam yakin bahwa surga itu hanya untuk kaum muslim (meski tidak semuanya) saja, karena orang kafir merupakan bahan bakar api neraka. Ini sudah dinyatakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Keterangan seperti apa yang diberikan Al-Qur’an terkait dengan surga? Pelajaran apa yang diberikan Allah lewat kitab-Nya soal surga? Seperti apa gambaran surga yang ada dalam Al-Qur’an?

Berikut ini akan dipaparkan ayat-ayat yang berbicara tentang surga. Artinya, dalam ayat tersebut terdapat kata “surga”. Kutipan ayat Al-Qur’an ini didasarkan pada Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Kutipan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah ini menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, ada beberapa petunjuk yang patut diperhatikan.

Jumat, 15 Januari 2021

MENGENAL SEKILAS TENTANG AL-QUR'AN


Jika dikatakan Al-Qur’an, umumnya dipahami sebagai kitab sucinya umat islam yang ditulis pakai bahasa Arab, yang isinya mulai dari Surah al-Fatihah dan berakhir pada Surah an-Nas. Umat islam sungguh yakin kalau Al-Qur’an merupakan kitab yang berasal langsung dari Allah SWT. Apa yang tertulis dalam kitab itu dipercaya sebagai kata-kata atau wahyu Allah sendiri. Dasar keyakinan ini ada dalam Al-Qur’an sendiri dimana dikatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an ini (sekedar menyebut beberapa: QS al-Baqarah: 4; QS Ali Imran: 3; QS ar-Rad: 1; QS an-Nahl: 89; QS al-Kahf: 1). Berhubung Allah SWT itu diyakini sebagai maha benar dan maha tahu, maka Al-Qur’an itu merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51).

Terdapat perbedaan pemahaman terhadap kata “langsung” dari frase “langsung dari Allah SWT” ini. Segelintir orang memahami bahwa Al-Qur’an langsung diberikan kepada Nabi Muhammad SAW secara utuh sebagai sebuah kitab. Ada dua pendasaran argumen ini, yaitu [1] kisah pertama kali Muhammad mendapat wahyu saat bersemedi di gua Hira, dimana dia mendapat perintah singkat: Bacalah! Banyak orang memahami bahwa pada saat itu pasti sudah ada kitab, yang kemudian dikenal dengan nama Al-Qur’an. Bagaimana mungkin disuruh membaca tanpa ada sesuatu yang dapat dibaca. [2] Dalam Al-Qur’an sendiri telah dinyatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab. (QS an-Nisa: 105; QS al-Maidah: 48; QS Taha: 1 – 2; QS an-Naml: 6; QS az-Zumar: 2).

Akan tetapi, ada juga yang memahami bahwa wahyu Allah diturunkan secara bertahap. Artinya, Al-Qur’an tidak turun langsung dalam bentuk kitab, namun dalam bentuk ayat per ayat. Pemahaman ini didasarkan pada wahyu Allah sendiri. Dalam surah al-Insan Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur.” (ayat 23). Hal ini sejalan juga dengan wahyu Allah dalam QS al-Furqan: 32 dan QS al-Isra: 106. Dengan kata lain, Al-Qur’an turun dalam bentuk ayat demi ayat, bukan dalam bentuk kitab. Meski demikian tetap saja ayat-ayat itu merupakan perkataan langsung Allah.

Terhadap dua pemahaman ini, pemahaman mana yang benar? Jawabannya adalah TIDAK JELAS, karena kedua pemahaman tersebut sama-sama mendapat pendasaran dari wahyu Allah sendiri. Akan tetapi, bagi orang yang masih memiliki akal sehat, pemahaman yang kedua-lah yang dapat diterima karena masuk akal.

Kamis, 14 Januari 2021

ANAK NAKAL KARENA IBU MEROKOK SAAT HAMIL

 


Pada umumnya rokok selalu diidentikkan dengan dunia kaum pria. Karena itu tak heran bila iklan-iklan rokok selalu menampilkan aktor pria. Akan tetapi, dewasa ini sudah tak asing lagi melihat kaum hawa merokok. Bukan hanya wanita muda saja, tetapi juga ibu-ibu, bahkan ada yang mengenakan jilbab.

Tentulah ada kenikmatan tersendiri dengan merokok. Namun tetap saja rokok selalu mengandung resiko bagi kesehatan. Karena itulah, pada bungkus rokok selalu ada peringatan akan bahaya rokok bagi kesehatan. Kebiasaan merokok bagi perempuan yang sedang hamil berpotensi terhadap perilaku anak di kemudian hari. Ibu hamil yang merokok akan membuat anaknya menjadi nakal.

Hal ini diungkapkan dalam penelitian Univercity of Leicester. Gordon Harold, sebagai ketua peneliti, mengatakan bahwa bukti keterkaitan ibu merokok dan anak nakal menunjukkan bahwa merokok yang dilakukan ibu berhubungan dengan perkembangan anak setelah lahir.

Penelitian tentang kebiasaan merokok dan hubungan perilaku pada anak sudah pernah dilakukan. Namun penelitian tersebut masih belum memperhitungkan faktor lain, seperti genetik, pola asuh atau perilaku orangtua kepada anaknya.

Penelitian terbaru ini berdasarkan data dari 3 penelitian di Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat. Para peneliti mengamati kebiasaan merokok wanita saat hamil dan perilaku anak di sekolah saat berusia 4 – 10 tahun. Beberapa faktor lain juga diamati, seperti cara membesarkan anak, genetis dan apakah anak dibesarkan oleh ibu asuh atau ibu kandung.

Peneliti menetapkan batas skor masalah perilaku anak sebesar 100 poin. Semakin tinggi angka tersebut berarti semakin tinggi perilaku bermasalah pada anak. Hasilnya, anak yang dibesarkan oleh ibu kandung dan tidak merokok saat hamil mempunyai skor 99. Sedangkan anak yang dibesarkan ibu yang merokok saat hamil memiliki skor lebih tinggi, yaitu 104.

Gordon Harold menjelaskan perilaku anak bisa dipengaruhi dua hal, yaitu masih dalam kandungan dan saat sudah lahir serta berkembang. Anak yang lahir dari ibu yang merokok kemungkin mengalami kelainan dalam perkembangan otak. Kalainan itulah yang berpengaruh pada perilaku anak di kemudian hari.

diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu

Rabu, 13 Januari 2021

INI SIFAT SETAN YANG PERLU DITIRU

 


Semua agama memiliki pandangan yang sama terkait dengan sosok yang bernama setan. Umumnya setan dilihat sebagai musuh atau lawan dari Allah. Dia selalu dikonotasikan dengan keburukan dan kejahatan. Karena hidup manusia terarah kepada Allah, maka tak heran bila manusia juga membenci setan. Manusia dipanggil untuk melawan setan.

Namun, di balik sifat buruk dan jahatnya ternyata setan mempunyai banyak sifat yang kayaknya perlu manusia tiru. Berikut ini 7 keutamaan atau sifat setan yang perlu ditiru.

1. Pantang menyerah

Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Kreatif

Setan akan mencari cara apapun dan bagaimanapun untuk menggoda manusia agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, banyak yang malas.

3. Konsisten

Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada pekerjaannya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih ngaggur dan membutuhkan pekerjaan.

4. Solider

Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5. Jenius

Setan itu paling pintar otaknya dalam mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat.

6. Tanpa Pamrih

Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar. Materi seharusnya bukanlah hal yang terpenting dalam hidup ini!

7. Suka berteman dan kompak

Setan adalah mahluk yang selalu ingin berteman, berteman agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia banyak yang lebih memilih mementingkan diri-sendiri dan egois. Manusia dalam mengerjakan sesuatu cenderung ingin menonjolkan kemampuannya sendiri dibanding bekerja sama dengan orang lain.

diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 12 Januari 2021

MEMAHAMI TIGA JENIS HALANGAN NIKAH


Pasangan muda datang ke pastornya menanyakan perihal nasib mereka. Sebelumnya, niat mereka untuk meresmikan perkawinannya ditolak pihak Gereja karena ada halangan usia sipil, yaitu mempelai wanitanya belum genap berusia 19 tahun (mengikuti undang-undang perkawinan yang terbaru). Menghadapi permintaan tersebut, sang imam hanya mengatakan bahwa dirinya akan menulis surat ke Bapa Uskup agar Bapa Uskup memberikan dispensasi sehingga mereka bisa diberkati. Penjelasannya ini didasarkan pada pengalaman masa lalu ketika bertugas di paroki lain. Saat itu ada sepasang, yang juga mempunyai halangan nikah karena usia sipil, menghadap Bapa Uskup, lantas Bapa Uskup memberikan dispensasi.
Sekilas jawaban atau penjelasan imam ini terkesan bijaksana. Akan tetapi, bila ditelaah dengan baik-baik, terdapat kesesatan pikir sehingga berujung pada kesalahan. Bahkan kesalahannya bisa bersifat fatal, karena dia menjerumuskan Bapa Uskup ke dalam kesalahan. Dimana kesesatan pikIr dan kesalahannya?
Dalam Gereja Katolik, perkawinan tunduk pada 3 hukum, yaitu hukum kodrati, hukum Gereja dan hukum sipil. Sekalipun perkawinan adalah hak setiap orang, namun orang juga harus tunduk pada hukum perkawinan. Hanya hukum yang membatasi hak seseorang. Karena ada 3 hukum yang mengatur perkawinan, maka pembatasan hak untuk menikah juga ada 3: ada halangan nikah yang bersifat kodrati, gerejawi dan juga sipil.
Halangan nikah kodrati berlaku bagi semua orang. Sumber utama hukum ini adalah Tuhan. Karena itu, menghapus halangan ini hanya Tuhan atau kodrat saja yang dapat melakukannya. Tidak ada kuasa mana pun yang bisa melakukannya. Halangan gerejawi merupakan halangan atas perkawinan yang dibuat oleh otoritas Gereja dan hanya dikenakan pada anggota Gereja berdasarkan norma hukum. Halangan yang bersifat gerejawi bisa dilonggar atau dihilangkan hanya oleh otoritas Gereja dengan dispensasi. Kuasa sipil tidak boleh mencampurinya. Sedangkan halangan sipil merupakan halangan atas perkawinan yang dibuat oleh negara, dan hanya dikenakan pada warga negaranya. Halangan sipil bisa dilonggar atau dihilangkan hanya oleh otoritas sipil, bukan oleh otoritas Gereja.

Senin, 11 Januari 2021

DAMPAK SEKS DI USIA REMAJA



Dewasa ini melakukan hubungan seks sebelum menikah bukanlah hal yang baru. Banyak orang muda, bahkan kaum remaja (usia SD dan SMP) sudah terbiasa melakukan hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh mereka yang berstatus “suami istri”. Dan tak jarang ada remaja merasa diri sudah bisa menikah karena sudah bisa berhubungan seks, apalagi bila ada yang berhasil ‘mencetak’ anak. Karena itu, tak heran bila prosentase pernikahan di usia dini tak pernah turun secara drastis.

Banyak orang tak pernah berpikir kalau ternyata hubungan seks sebelum menikah, apalagi hubungan seks saat usia masih remaja, mempunyai dampak buruk bagi kehidupan, secara khusus kaum perempuan.

Ada sebuah penelitian yang ingin mencari tahu apa dampak hubungan seks sebelum menikah bagi kaum perempuan. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan: pengaruh psikologis dalam kehidupan pernikahan perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Secara tidak langsung, penelitian ini sangat berguna bagi kaum perempuan.

Penelitian tersebut, selain memakai metode wawancara dan observasi, menggunakan juga beberapa teori, yaitu teori triangular love dan teori levinson serta Raporport. Teori triangular love dari Stenberg digunakan sebagai teori utama dalam penelitian ini. Menurut teori tersebut, cinta menjadi alasan untuk perempuan muda terlibat dalam hubungan seksual pra-nikah. Teori Levinson dipergunakan untuk menggali permasalahan keluarga dan konsep Rapoport dipakai untuk menggali konflik yang terjadi dalam keluarga. Wawancara dan observasi menjadi metode utama yang digunakan dalam penelitian ini. 

Proses pengambilan data dilakukan antara bulan Juni hingga Juli 2000, dan untuk mengetahui jawaban yang sama dilakukan cek dan ricek dengan menggunakan kuesioner tertutup yang diberikan satu bulan setelah wawancara. Responden penelitian terdiri dari empat perempuan berusia antara 20 hingga 34 tahun yang memiliki pengalaman melakukan hubungan seksual pranikah pada saat berusia 17-30 tahun.

Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa hubungan seksual pranikah berpotensi untuk menciptakan konflik dalam keluarga. Ada empat responden tidak memiliki pengalaman konflik karena permasalahan yang berkaitan dengan keperawanan. Meski demikian tak bisa dipungkiri bahwa hubungan seksual pranikah menjadi faktor pencetus akan kecemburuan, salah pengertian antar pasangan, konflik karena permasalahan anak, dan masalah hukum.

Selain itu, hubungan seks di usia remaja bisa memicu kanker serviks serta berdampak pada osteoporosis. Bagi sebuah bangsa, jika warga remajanya sudah terbiasa melakukan hubungan seks, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai bencana nasional. Lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan tonton video ini.


jika video tak bisa diputuar, silahkan klik di sini.

diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu

Jumat, 08 Januari 2021

TELAAH KATA “KAFIR’ DALAM AL-QUR’AN



Agama islam tidak hanya dikenal sebagai agama teror, melainkan juga sebagai agama yang mengkafir-kafirkan umat agama lain. Harus jujur dikatakan bahwa hanya islam agama yang mengkafir-kafirkan umat agama lain. Kedua identitas islam ini mendapat pendasarannya dalam Al-Qur’an, yang diyakini merupakan wahyu Allah SWT secara langsung kepada nabi Muhammad SAW. Bagi umat islam, umat agama lain adalah kafir, dan orang kafir harus dimusuhi, dibunuh bahkan dimusnahkan. Ini merupakan kehendak dan perintah Allah SWT.

Kata “kafir” dalam Al-Qur’an begitu sangat kuat gaungnya. Sebagaimana diketahui jumlah ayat Al-Qur’an secara keseluruhan adalah 6.236 ayat dengan pembagian surah Makkiyyah (87 surah) ada 4.643 ayat, dan surah Madaniyyah (27 surah) ada 1.593 ayat. Dengan demikian prosentasenya adalah surah Makkiyyah sekitar 74,45%, dan surah Madaniyyah hanya sekitar 25, 54%. Bagaimana komposisi kata “kafir” dalam kedua surah ini?

Dalam tulisan “Ayat Kafir dalam Al-Qur’an” dipaparkan bahwa dari 87 surah Makkiyyah, ada 56 surah yang memuat kata “kafir” dengan total ayat ada 186 ayat; sedangkan dalam surah Madaniyyah, dari 27 surah ada 22 surah yang memuat kata “kafir” dengan total ayat ada 220 ayat. Dari 186 ayat dalam surah Makkiyyah terdapat 208 kali disebutkan kata “kafir” dan dan juga “kekafiran”, dengan rincian kata “kekafiran” ada 22 kali sedangkan 186 kali menyebut kata “kafir”. Sementara dalam surah Madaniyyah sebanyak 256 kali disebutkan kata “kafir” dan dan juga “kekafiran”, dengan rincian kata “kekafiran” ada 31 kali sedangkan 225 kali menyebut kata “kafir”. Jika ditotal semuanya, sebanyak 464 kali kata “kafir” dan “kekafiran” muncul dalam Al-Qur’an. Untuk memperjelas perbandingannya, perhatikan tabel di bawah ini.

Kelompok Surah

Jumlah Surah

Surah Kafir

Ayat Kafir

Sebutan Kafir

Makkiyyah

87

56

186

208 X

Madaniyyah

27

22

220

256 X

Akan tetapi, jumlah ini bisa lebih banyak lagi. Ada beberapa alasan untuk membenarkan hal ini. Pertama, jika diperhatikan ayat sebelum dan sesudah ayat yang terdapat kata “kafir”, ada muncul kata ganti orang yang dapat dipastikan merujuk pada kata “kafir”. Artinya, ada ayat, baik sebelum maupun sesudah, yang jelas-jelas berhubungan dengan ayat yang terdapat kata “kafir” meski di sana tidak ditulis kata tersebut. Sebagai contoh, dalam surah al-Baqarah: 7 disebut kata ganti “mereka” dimana kata ganti itu bisa dipastikan merujuk pada orang-orang kafir yang disebut dalam ayat 6. Kedua, jika kaum munafik adalah juga kaum fasik (QS an-Nisa: 67), dan kaum fasik adalah juga kaum kafir (bdk. QS as-Sajdah), maka otomatis jumlah kata “kafir” akan bertambah. Setidaknya ada 50 ayat yang memuat kata “fasik”, sedangkan kata “munafik” ada 55 ayat. Ketiga, jika orang kafir disamakan juga dengan orang zalim (QS al-Baqarah: 254), maka jumlah kata “kafir” juga pasti bertambah. Dalam Al-Qur’an ada 200 ayat yang terdapat kata “zalim”.

Kamis, 07 Januari 2021

JANGAN MUDAH MENYERAH PADA PENOLAKAN

 


Robert Foster ‘Bob’ Bennet, politikus dari Partai Republik, pernah berkata, “Sebuah penolakan adalah tidak lebih dari sebuah langkah yang diperlukan dalam meraih sukses.” Hal ini mengandaikan adanya usaha untuk belajar dari kesalahan. Tentulah kita ingat akan keledai, seekor binatang bodoh tapi ia tak pernah jatuh ke dalam lobang yang sama untuk kedua kalinya.

Penolakan adalah bagian dari hidup. Setiap manusia pasti pernah mengalami penolakan. Jika kita sedang menghadapi penolakan: lamaran kerja yang ditolak, cinta yang ditolak, ide yang ditolak; bacalah dulu kisah singkat orang-orang di bawah ini. Orang-orang ini adalah pembuktian bahwa penolakan hanyalah bagian dari sebuah perjalanan kesuksesan:

·        Ide mesin fotokopi Xerox pernah ditolak oleh 20 perusahaan. Baru setelah 7 tahun penolakan itu, mesin fotokopi ini bisa diterima.

·        Alexander Graham Bell disuruh seorang bankir untuk menyingkirkan 'mainan itu'. Sang bankir menolak membeli 'mainan itu' dengan alasan tidak membutuhkannya. 'Mainan itu' adalah telepon. Sekarang ‘mainan itu’ menjadi salah satu barang yang dibutuhkan manusia di muka bumi ini.

·        Sebanyak 33 penerbit telah menolak manuskrip  Chicken Soup For The Soul. Para editornya percaya, kisah nyata pendek yang disusun oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen ini tidak menjual. Kini, buku tersebut telah terjual lebih dari 100 juta kopi di seluruh dunia dan diterbitkan dalam 54 bahasa.

·        Sebuah organisasi yang terdiri dari para ahli mengatakan usaha Thomas Alfa Edison dalam menciptakan lampu listrik sebagai praktik ilmu pengetahuan yang sia-sia dan  tak ada gunanya mendapatkan perhatian. Namun kini penemuannya itu justru menghubah wajah dunia.

·        Ide cerita Star Wars  karya George Lucas pernah ditolak oleh studio-studio film ternama Hollywood dan setiap jaringan televisi Amerika Serikat. Tetapi kini film tersebut tercatat sebagai salah satu film terlaris sepanjang masa dengan perolehan total sebesar $4.45 miliar. Belum lagi penghasilan dari penjualan merchandise-nya.

Masih ada begitu banyak contoh lagi. Semuanya mau mengatakan bahwa penolakan bukanlah akhir segalanya. Teruslah melangkah dan berjuang dengan keyakinan. 

diambil dari tulisan 7 tahun lalu