Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu & HR Thn C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu & HR Thn C. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2025

RENUNGAN HR KRISTUS RAJA, THN C

Renungan HR Kristus Raja Semesta Alam, Thn I

Bac I 2Sam 5: 1 – 3; Bac II     Kol 1: 12 – 20;

Injil              Luk 23: 35 – 43;

Bacaan liturgi hari ini menampilkan menampilkan tema raja dan kerajaan untuk menegaskan hari raya yang dirayakan ini, yaitu Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan pertama menampilkan terpilihnya Daud menjadi raja. Memang kisah ini tidak ada kaitan langsung dengan Yesus Kristus sebagai raja, namun kalau direnungkan ia berkorelasi langsung. Terpilihnya Daud menjadi raja mau menegaskan bahwa Yesus juga adalah raja. Yesus dikenal sebagai anak atau putra Daud. Nah, karena Daud adalah raja, maka putranya kelak juga menjadi raja. Dialah Tuhan kita Yesus Kristus.

Yesus sebagai raja mendapat pengakuan dalam Injil hari ini. Lukas menceritakan kisah penyaliban, dan dalam peristiwa itu ada pengakuan sebagai raja. Setidaknya ada dua pengakuan. Yang pertama datang dari Romawi (ay. 37-38), baik itu prajuritnya maupun rajanya. Di sini Yesus diakui sebagai Raja orang Yahudi. Memang pengakuan ini merupakan bentuk penghinaan, dan gelar raja yang dimaksud masih bersifat politik-duniawi. Pengakuan kedua datang dari penyamun yang ikut disalibkan bersama Yesus (ay. 42). Di sini gelar raja yang dimaksud bersifat rohani-eskatologis. Yesus adalah raja penebus.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose merefleksikan peran Yesus sebagai raja, yang tak jauh seperti ungkapan iman penyamun yang disalibkan bersama Yesus dan mengakui-Nya sebagai raja. Rasul Paulus menyadarkan umat di Kolose bahwa Yesus datang membawa terang dan menghalau kegelapan dari dunia. Karena itulah, Kerajaan-Nya adalah “kerajaan terang” (ay. 12). Bagi Paulus sebagai raja Yesus sudah membawa “pengampunan dosa” (ay. 14) yang mengampuni kita sehingga “melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (ay. 13), yaitu kerajaan terang. Ini terjadi melalui peristiwa di salib karena kita telah didamaikan oleh “darah salib Kristus” (ay. 20).

Apa pesan Tuhan lewat sabda-Nya dalam tiga bacaan liturgi hari ini? Pertama-tama kita disadarkan Yesus sungguh raja, namun bukan dalam arti politik duniawi, melainkan rohani-eskatologis. Kita disadarkan sebagai raja Dia telah menebus kita dari kuasa maut, yaitu dosa. Oleh karena itu, jangan sia-siakan penebusan-Nya. Kita harus tetap selalu menyadari itu. Kita harus tahu bahwa dengan penebusan itu kita telah dimasukkan menjadi warga kerajaan terang, sehingga kita adalah anak-anak terang. Sebagai anak-anak terang, kita diajak untuk membawa terang itu kepada kegelapan, sehingga mereka yang berada di sana akhirnya bisa melihat dan menikmati terang itu.

by: adrian 

Sabtu, 14 Juni 2025

RENUNGAN HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS, THN C

Renungan HR Tritunggal Mahakudus, Thn C

Bac I Ams 8: 22 – 31; Bac II   Rom 5: 1 – 5;

Injil    Yoh 16: 12 – 15

Hari ini Gereja Universal mengajak kita untuk merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Cukup menarik bahwa hari raya Tritunggal Mahakudus ini dirayakan setelah kita merayakan Pentakosta. Hari raya pentakosta merupakan hari raya Roh Kudus. Hal ini seakan hendak merangkum perjalanan Allah dalam sejarah keselamatan umat manusia: Allah Bapa sang Pencipta, Allah Putera (Tuhan Yesus) sang Kasih dan Allah Roh Kudus sang Penghibur. Ketiganya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, yaitu Tritunggal Mahakudus. Allah Tritunggal merupakan salah satu ajaran iman umat Kristen. Allah satu namun hadir dalam tiga pribadi, yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus. Namun pada titik inilah umat sering bingung dan “diserang” oleh umat lain: satu koq ada tiga? Ada umat bertanya pendasaran ajaran ini. Sabda Tuhan hari ini, jika dibaca sebagai satu kesatuan bacaan liturgi, secara implisit mengungkapkan adanya Allah Tritunggal itu.

Dalam bacaan pertama, terlihat jelas ada relasi antara Allah pencipta dengan “aku”. Ada 2 kata kunci untuk memahami siapa “aku” ini. Kata kunci itu adalah “aku” sudah ada sebelum bumi ada (ay 23), dan “aku” telah lahir (ay 24, 25). Frasa “telah lahir” mau menunjukkan bahwa “aku” telah dilahirkan oleh Allah pencipta. Dari 2 kata kunci ini dapatlah disimpulkan bahwa “aku” di sini adalah Yesus Kristus. Dalam Yohanes 17: 5 dan 24 Yesus mengatakan bahwa dirinya telah ada sebelum dunia ada. Dan dalam rumusan syahadat Nicea-Konstantinopel dinyatakan bahwa Yesus Kristus dilahirkan, bukan dijadikan.

Sama seperti bacaan pertama, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma juga mengungkapkan relasi 2 pribadi trinitas, yaitu Bapa dan Putera, antara Allah dengan “Tuhan kita, Yesus Kristus” (ay. 1). Secara implisit Paulus mengatakan bahwa oleh Yesus Kristus kita diselamatkan sehingga kita “menerima kemuliaan Allah” (ay 2).

Dalam Injil ketiga pribadi trinitas ini dimunculkan oleh Yohanes. Di sana ada Roh Kudus, ada Yesus Kristus dan ada (Allah) Bapa. Ada 2 kata kunci untuk melihat keterkaitan 3 pribadi tinitas yang berpusat pada Bapa. Kedua kata kunci itu adalah memuliakan dan memberitakan (ay 14). Kita tahu bahwa dalam hidupnya Yesus berusaha menghantar orang untuk sampai memuliakan Allah (lihat peristiwa-peristiwa mukjizat). Yesus sendiri memuliakan Allah Bapa-Nya (Yoh 12: 28). Demikian pula dengan Roh Kudus. Yesus berkata bahwa Roh Kudus “akan memuliakan Aku” (ay 14). Sama seperti Yesus yang memberitakan pekerjaan Bapa (bdk. Yoh 5: 19), demikian pula Roh Kudus memberitakan tentang Yesus (ay. 14).

Sabda Tuhan hari ini mau menegaskan kepada kita kebenaran Tritunggal Mahakudus. Umat tak perlu lagi merasa bingung memikirkannya. Satu hal yang perlu disadari adalah Tritunggal Mahakudus bukanlah suatu ajaran pengetahuan sehingga harus dipahami dan dimengerti dengan akali, melainkan lebih dari suatu ajaran iman yang harus diimani dan dihayati. Dengan mengimani Tritunggal Mahakudus, kita disadarkan akan status kita sebagai ahli waris keselamatan. Namun diingat pula bahwa kita diminta untuk mewartakan keselamatan itu kepada orang lain supaya mereka pun dapat merasakannya. Jadi, sama seperti Yesus hadir untuk memberitakan kemuliaan Allah, dan Roh Kudus memberitakan tentang hidup dan perbuatan Yesus, hendaklah kita sekarang ini memberitakan trinitas.

by: adrian

Sabtu, 24 Mei 2025

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, THN C

Renungan Hari Minggu Paskah VI, Thn C

Bac I Kis 15: 1–2, 22–29; Bac II       Why 21: 10–14, 22–23;

Injil    Yoh 14: 23 – 29

Kalau kita membaca dan merenungkan bacaan pertama hari ini, kita dapat mengetahui sedikit situasi jemaat perdana yang ada di luar Yerusalem. Para jemaat, yang belum lama menerima pengajaran tentang Kristus dan telah menerima Kristus, mengalami dilema dalam hidup terkait iman akan Kristus. Ada orang-orang menyebarkan ajaran terkait dengan Kristus tapi bertentangan dengan apa yang pernah disampaikan oleh para rasul. Hal ini membuat jemaat merasa gelisah dan goyah imannya. “Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka” (ay.24). Karena itulah, para rasul menyampaikan pesan lewat Rasul Paulus, Barnabas, Silas dan Yudas. Pesan para rasul ini sejalan dengan pesan Yesus. Dalam Injil Yesus berpesan, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (ay. 27c). Para murid-Nya tak perlu gelisah dan gentar, karena ada Roh Kudus “yang diutus Bapa dalam nama-Ku” (ay. 26). Roh Kudus ini akan mengingatkan para murid akan semua yang pernah dikatakan Yesus.

Yohanes, dalam kitab Wahyu yang menjadi bacaan kedua, secara tidak langsung merefleksikan persoalan yang ada dalam bacaan pertama dan nasehat Yesus dalam Injil. Yohanes hendak mengingatkan jemaatnya bahwa iman mereka itu didasarkan pada iman para rasul. Kota yang kudus (ay. 10) dalam penglihatan Yohanes adalah Gereja. Lalu Yohanes menulis bahwa “tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba” (ay. 14). Karena itu, jika umat menemukan ajaran iman yang bertentangan dengan ajaran para rasul, dengan sendirinya umat tak perlu gelisah dan gentar. Langsung tolak. Roh Kudus akan mengingatkan mereka akan hal itu.

Dewasa ini para murid Kristus masih terus menghadapi ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ajaran para rasul. Hal itu bisa datang dari kalangan islam, bisa juga dari kalangan protestan. Tak sedikit ustad-ustad dan juga pendeta-pendeta menyampaikan pengajaran yang membuat umat katolik gelisah dan gentar. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak usah gelisah dan takut. Yesus sudah menjanjikan Roh Kudus yang akan mengingatkan kita akan pengajaran Yesus yang diwartakan para rasul.

by: adrian 

Sabtu, 17 Mei 2025

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH V, THN C

Renungan Hari Minggu Paskah V, Thn C

Bac I Kis 14: 21 – 27; Bac II   Why 21: 1 – 5;

Injil    Yoh 13: 31 – 35

Bacaan-bacaan liturgi masa paskah umumnya memberi tekanan pada warta para rasul Kristus mewartakan kebangkitan Tuhan Yesus. Kisah-kisah tersebut menjadi relevan buat murid-murid Kristus di masa kini dan masa depan. Misalnya seperti dalam bacaan pertama. Dalam Kisah Para Rasul Paulus dan Barnabas menjalankan karya misioner, pergi ke mana-mana supaya jemaat yang telah dibangun “bertekun di dalam iman” (ay. 22). Sebagaimana yang sudah diketahui, pusat pewartaan para rasul adalah Allah yang mengasihi manusia dengan mengorbankan Putra Tunggal-Nya agar manusia memperoleh hidup kekal. Pengorbanan Putra Tunggal Allah itu terjadi pada peristiwa salib. Warta ini ternyata diterima dan dipercaya juga oleh bangsa-bangsa lain juga (bdk. ay. 27). Karena itu, frasa “bertekun di dalam iman” berarti umat diajak untuk teguh percaya bahwa pengorbanan Yesus di salib merupakan bukti cinta Allah kepada manusia.

Yohanes, dalam kitab Wahyu yang menjadi bacaan kedua, membahasakan lain soal “bertekun di dalam iman”. Jika Kisah Para Rasul melihatnya tentang kasih Allah yang terlihat dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, Kitab Wahyu melihatnya sebagai efek dari kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Bagi Yohanes kematian dan kebangkitan Yesus membawa efek kebaruan. Ini seperti yang dikatakan Dia yang duduk di atas takhta, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (ay. 5). Karena itu, jadilah langit dan bumi yang baru (ay. 1), Yerusalem yang baru (ay. 2), dan yang terutama adalah hidup manusia yang baru karena mendapatkan penebusan. Karena itu, Kitab Wahyu mengajak umat untuk teguh percaya bahwa pengorbanan Yesus di salib membawa kebaruan dalam hidup, dan kita harus setia menjaga kebaruan itu.

Bagaimana kita bisa setia bertekun di dalam iman? Bagaimana kita bisa tetap setia menjaga kebaruan yang diberikan Kristus lewat kematian dan kebangkitan-Nya? Secara sederhana, bagaimana kita dapat membuat supaya kematian dan kebangkitan Yesus di kayu salib sebagai ungkapkan kasih Allah kepada kita tidak menjadi sia-sia? Pertanyaan ini dijawab oleh Yohanes dalam bacaan Injil hari ini. Dalam Injil Yesus memberi perintah baru, yaitu supaya kamu saling mengasihi (ay. 34). Jadi, dengan hidup dalam kasih kita telah bertekun dalam iman dan tetap hidup dalam kebaruan.

by: adrian 

Sabtu, 17 September 2022

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXV – C

 

Renungan Hari Minggu Biasa XXV – C

Bac I  Am 8: 4 – 7; Bac II           1Tim 2: 1 – 8;

Injil    Lukas 16: 1 – 13

Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Amos, Allah berbicara melalui mulut Nabi Amos. Dari apa yang disampaikan Amos terlihat jelas kalau Allah menghendaki agar kita senantiasa berbuat baik kepada siapa saja. Janganlah kita berbuat jahat pada orang lain, apalagi orang itu miskin dan lemah. Janganlah kita memanfaatkan kelemahan orang demi kebahagiaan diri kita sendiri. Tuhan justru minta agar kita bermanfaat bagi sesama.

Pesan Allah ini kembali diulangi oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama kepada Timotius, Paulus menyampaikan apa yang baik dan yang berkenan bagi Allah. Kita diminta untuk berbuat baik kepada semua orang, tanpa kecuali. Salah bentuk perbuatan baik yang dapat dilakukan adalah dengan mendoakan mereka. Sekali lagi perlu diingat, doa ini dipanjatkan kepada Tuhan untuk semua orang, tanpa kecuali. Di sini kita ingat akan nasehat Yesus untuk mendoakan mereka yang mencaci atau menghina kita (Luk 6: 28) atau mereka yang menganiaya kita (Mat 5: 44). Paulus menemukan dasar kenapa harus berbuat baik kepada semua orang, yaitu karena Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (ay. 4).

Dalam bacaan Injil Yesus menampilkan perumpamaan bendahara yang tidak jujur. Sekilas kita melihat bahwa bendahara tersebut dipuji. “Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik.” (ay. 8a). Spontan mungkin kita memahami bahwa itulah yang dikehendaki Allah, yaitu menjadi tidak jujur tapi cerdik. Bukan ini yang hendak diangkat Yesus dalam pengajaran-Nya. Lewat perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar kita sama seperti bendahara itu, berbuat baik kepada siapa saja, dengan membantu orang meringankan “beban utangnya”. Intinya tetap agar kita berbuat baik, bukannya melakukan kejahatan.

Sabda Tuhan hari ini kiranya  sangat jelas pesannya. Kita diminta untuk senantiasa berbuat kebajikan kepada siapa saja, tanpa mengenal batas suku, ras, agama atau antar golongan. Bahkan sejalan dengan nasehat Yesus, kebajikan itu harus juga dilakukan kepada orang yang berbuat jahat atau membenci dan memusuhi kita. Jadi, sekalipun kita dikatakan “kafir”, kita tak boleh membalas, malah kita diminta untuk mendoakan dan memberkati mereka. Dan bila mereka meminta bantuan, maka kita wajib membantunya.

Sabtu, 10 September 2022

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXIV - C

 

Renungan Hari Minggu Biasa XXIV – C

Bac I  Kel 32: 7 – 11, 13 – 14; Bac II  1Tim 1: 12 – 17

Injil    Lukas 15: 1 – 32

Sabda Tuhan hari ini mempunyai tema Allah yang mengampuni. Ini hendak memperlihatkan wajah Allah yang maharahim. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Keluaran, tampak Allah marah akan kelakuan umat Israel yang berdosa. Allah telah merencanakan malapetaka buat mereka. Namun Musa berhasil membujuk Allah demi janji Allah pada Abraham, Ishak dan Yakub. Kerahiman Allah ini pernah dirasakan juga oleh rasul Paulus. Dalam bacaan kedua, dari suratnya yang kedua kepada Timotius, Paulus mengatakan bahwa di antara orang yang berdosa “akulah yang paling berdosa” (ay. 15). Akan tetapi justru karena itu Yesus Kristus, yang adalah wajah kasih Allah, menunjukkan kesabaran-Nya.

Dalam Injil Yesus menunjukkan kerahiman Allah dengan memberi perumpamaan domba yang hilang. Perumpamaan ini tidak hanya mengajarkan soal kerahiman Allah tetapi juga bahwa kerahiman Allah itu di luar akal sehat manusia. Demi mencari seekor domba yang hilang sang gembala rela meninggalkan 99 ekor di padang untuk mencari yang hilang. Kerahiman Allah bukanlah hitung-hitungan matematis-bisnis. Kerahiman Allah adalah demi keselamatan, karena Allah tak mau seorang pun binasa. Yesus pernah bersabda, “Tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa.” (Yoh 18: 9).

Hari ini Tuhan menyadarkan kita betapa Allah itu maha pengampun. Dia maha Rahim. Kerahiman-Nya nyata dalam pengampunan. Tak ada dosa yang lebih besar daripada kerahiman Allah. Sebesar apa pun dosa kita, kerahiman Allah jauh lebih besar. Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa besarnya kerahiman Allah bukan lantas membuat kita begitu mudah jatuh ke dalam dosa. Ada orang berkata, “Akh, biarlah aku jatuh ke dalam dosa; toh Allah itu maha Rahim.” Ada juga umat yang berkata, “Akh, biarlah aku tidak datang ke gereja, toh nanti akan dicari.” Keraiman Allah, yang diwartakan dalam bacaan liturgi hari ini nyata dalam Allah yang tidak menghakimi dan menghukum.

Rabu, 25 Mei 2022

RENUNGAN HR KENAIKAN YESUS, THN C

 

Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, Thn C

Bac I  Kis 1: 1 - 11 ; Bac II       Ef 1: 17 – 23;

Injil    Luk 24: 46 – 53;

Setelah bangkit dari kematian, Yesus tidak langsung pergi ke surga. Ada alasan yang wajar kenapa hal itu terjadi. Peristiwa kematian-Nya di kayu salib tidak hanya meninggalkan duka yang begitu mendalam di hati para murid, teristimewa para rasul, melainkan juga membuat mereka kehilangan harapan. Dibutuhkan waktu 40 hari untuk membangkitkan harapan para rasul dengan membuka pikiran mereka akan makna Kitab Suci tentang peristiwa yang terjadi. Setelah yakin, akhirnya Tuhan Yesus berpisah. Yesus naik ke surga. Hari ini Gereja universal merayakan peristiwa tersebut. Yohanes dalam Injilnya menyatakan bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke surga merupakan suatu kebenaran (Yoh 16: 10). Bacaan-bacaan liturgi hari ini menegaskan peristiwa itu.

Yang sangat menarik adalah bacaan pertama dan Injil, yang diyakini oleh Gereja ditulis oleh penulis yang sama, yakni Santo Lukas. Ada pesan yang sama dari peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Sebelum berangkat, Tuhan Yesus menyampaikan beberapa pesan kepada para rasul-Nya. Salah satunya adalah agar para murid menjadi saksi-Nya. Mereka akan menjadi saksi Yesus mulai dari Yerusalem “sampai ke ujung bumi” (Kis 1: 8) atau “kepada segala bangsa” (Luk 24: 47). Namun sebelum mereka melaksanakan tugas perutusan itu, Tuhan Yesus menjanjikan juga Roh Kudus. Oleh karena itu, Tuhan Yesus meminta mereka untuk tidak meninggalkan Yerusalem sebelum Roh Kudus diturunkan.

Sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita untuk bergembira merayakan hari raya kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Melalui perayaan ini kita tidak hanya sekedar merayakan kebenaran iman kita, melainkan juga diingatkan akan tugas panggilan kita sebagai murid-murid Yesus. Pesan Yesus agar para murid menjadi saksi-Nya tidak hanya berlaku bagi para murid Yesus 2000 tahun lalu saja, tetapi berlaku juga bagi kita saat ini. Tugas perutusan yang Tuhan Yesus berikan kepada para murid ketika Dia naik, secara tidak langsung menjadi tugas perutusan kita juga. Karenanya, perayaan ini menyadarkan kita bahwa kita saksi-saksi Yesus.

Sabtu, 26 Februari 2022

RENUNGAN MINGGU BIASA VIII - THN C

Renungan Hari Minggu Biasa VIII, Thn C

Bac I  Sir 27: 4 – 7; Bac II        1Kor 15: 54 – 58;

Injil    Luk 6: 39 – 45;

Dalam Injil hari ini, ada banyak nasehat bagus dari Yesus. Salah satu nasehat yang menarik adalah soal menjaga lidah kita. Hal ini terkait dengan kebiasaan menilai atau mengkritik orang lain. Dalam hal ini Yesus meminta para murid-Nya untuk terlebih dahulu menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (ay. 42).

Nasehat Yesus ini bisa ditemukan akarnya pada tulisan Perjanjian Lama, sebagaimana tadi kita dengar dalam bacaan kedua. Putra Sirakh juga berbicara soal lidah manusia. Bagi Putra Sirakh lidah atau tutur kata seseorang bisa menjadi penilaian kepribadiannya. Ada banyak penilaian seseorang dari lidahnya. Apakah seseorang itu jujur atau pembohong, apakah orang itu hanya bisa berkata-kata saja, apakah seseorang itu konsisten dengan ucapannya atau tidak, dan lain sebagainya.

Terkait tema ini, Paulus dalam bacaan kedua seakan hendak menegaskan topik tersebut dengan menampilkan contoh konkret. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan bahwa kesalahan lidah itu akan mendatangkan dosa. Karena itu, Paulus seakan mengajak kita untuk mencontoh pada Yesus Kristus. Pada Yesus ada keselarasan antara kata, sikap dan perbuatan. Inilah yang harus diperjuangan para murid Kristus. Paulus mengatakan bahwa kesetiaan pada perjuangan itu membuat “jerih payahmu tidak sia-sia.” (ay. 58).

Pada kampanye pilgub DKI 2017 lalu, Anies Baswedan banyak melontarkan kritik terhadap Ahok. Dia mengatakan kalau jadi gubernur, dia akan membangun manusia, bukan membangun benda mati seperti yang dilakukan Ahok. Anies juga sesumbar tidak akan menggusur warga seperti yang dilakukan Ahok. Dan masih banyak kritik lainnya. Apa yang terjadi setelah Anies jadi gubernur? Apa yang dikritiknya itulah yang dilakukannya. Hal ini membuat masyarakat menilai Anies tidak konsisten dengan ucapannya, bahwa Anies hanya pintar menata kata-kata, yang tak nyata dalam sikap dan kerja. Tentulah, Allah tidak menghendaki kita seperti ini. Melalui sabda-Nya, Allah mau supaya kita selalu menjaga lidah kita. 

Sabtu, 12 Februari 2022

Renungan Hari Minggu Biasa VI – C

 Renungan Hari Minggu Biasa VI, Thn C

Bac I  Yer 17: 5 – 8; Bac II        1Kor 15: 12, 16 – 20;

Injil    Lukas 6: 17, 20 – 26;

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menyampaikan sabda bahagia dan sabda celaka. Mulai ayat 20 – 23, Yesus menyampaikan sabda bahagia, sedangkan dalam 3 ayat berikutnya merupakan sabda celaka. Jika direfleksikan kedua sabda ini, pesan yang mau disampaikan adalah orang yang berbahagia adalah orang yang mengandalkan Tuhan, sedangkan yang celaka adalah orang yang mengandalkan diri sendiri. Secara eksplisit Yesus memberi contoh untuk orang yang berbahagia, yaitu para nabi (ay. 23). Para nabi adalah mereka yang selalu mengandalkan hidupnya pada penyelenggaraan ilahi. Mereka percaya pada belas kasih Allah. Untuk contoh orang yang celaka adalah nabi-nabi palsu (ay. 26). Sekalipun berstatus “nabi” tapi palsu, mereka berkarya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, mencari kepuasan dan mengandalkan kekuatan sendiri.

Apa yang diwartakan Yesus dalam Injil sejalan dengan warta nabi Yeremia. Dalam bacaan pertama Yeremia menyampaikan warta kutukan dan warta berkat. Jadi, sangat mirip dengan warta Yesus. Hanya beda istilah saja. Siapa yang dikutuk dan siapa yang diberkati menurut Yeremia? Sama seperti warta Yesus, Yeremia mengatakan bahwa mereka yang mengabaikan Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri adalah terkutuk (ay. 5), sedangkan yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada-Nya adalah terberkati (ay. 7).

Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus juga mempunyai pesan yang kurang lebih sama. Dalam bacaan kedua, Paulus menekankan tentang kebenaran iman, yaitu “bahwa Kristus telah bangkit dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (ay. 20). Paulus meminta jemaat untuk berpegang teguh pada kebenaran iman ini, jangan pada kebenaran palsu. Dapat dipastikan jika berpegang pada kebenaran iman, maka keselamatan menghampiri kita, tapi jika sebaliknya, maka kebinasaanlah yang datang.

Bahagia dan celaka, berkat dan kutuk atau selamat dan binasa merupakan bagian dari hidup. Jika dihadapkan pada manusia, tentulah pilihannya adalah bahagia, berkat dan selamat. Tak ada manusia suka akan celaka, kutuk dan binasa. Setiap manusia akan berusaha untuk menghindarinya. Namun, sejauh mana manusia setia berupaya mewujudkan bahagia, berkat dan selamat? Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita bahwa kebahagiaan, berkat dan keselamatan akan ada bila kita benar-benar mengandalkan penyelenggaraan ilahi dalam hidup. Dengan kata lain, kita tidak pernah melupakan Tuhan.

Sabtu, 18 Desember 2021

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN IV - C

 Renungan Hari Minggu Adven IV, Thn C

Bac I  Mi. 5: 1 – 4a; Bac II        Ibr 10: 5 – 10;

Injil    Luk1: 39 – 45;

Hari raya natal semakin mendekat. Bacaan liturgi hari ini, khususnya bacaan pertama dan Injil, secara langsung mengarahkan kita kepada persiapan menyongsong natal, misteri Allah menjadi manusia. Dalam bacaan pertama, nabi Mikha menyampaikan ramalan akan kedatangan Juru Selamat. Setidaknya ada 2 poin penting dalam nubuat Mikha tersebut. Pertama, tentang Betlehem yang akan menjadi kota tempat Yesus dilahirkan. Kedua, tentang perempuan yang akan melahirkan. Dialah Bunda Maria.

Poin kedua inilah yang menjadi warta Injil hari ini. Kisah Maria mengunjungi Elisabet. Jika hanya fokus pada kunjungan, maka kisah ini hanya menjadi kisah biasa saja. Ada satu hal penting yang memberi makna akan kisah ini, yaitu pernyataan Elisabet tentang Maria. “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Elisabet menyebut Maria sebagai ibu Tuhan. Ini bisa dipahami karena Maria mengandung dari Roh Kudus; Maria-lah yang kemudian melahirkan Allah yang menjadi manusia, yang kita kenal dengan nama Yesus Kristus. Peristiwa kelahiran tersebut terjadi di kota Betlehem.

Sabda Tuhan ini tidak hanya sekedar memberi informasi tentang peristiwa awal kelahiran Tuhan Yesus. Sabda Tuhan ini mengandung juga pesan penting untuk dihayati. Satu pesan penting dari sabda Tuhan ini adalah bahwa Allah tidak memandang sebelah mata orang yang kecil. Atau dengan kata lain, Allah punya perhatian kepada kaum kecil. Ini terlihat dalam nubuat Mikha. Sekalipun Betlehem merupakan kota yang kecil, bahkan “yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda”, namun Allah mengunjunginya lewat peristiwa kelahiran Yesus. Demikian pula, Elisabet. Dia bukanlah siapa-siapa. Namun ibu Tuhan mengunjunginya. Ini bukti bahwa Allah punya perhatian juga kepada kaum kecil.

Pesan Tuhan ini mengandung 2 implikasi buat kita. Pertama, jangan pernah merasa rendah karena kita ini kecil, entah itu dari segi ekonomi, sosial, religius, atau aspek lainnya. Ingat, Tuhan tidak akan melupakan kita. Tuhan tetap menyertai dan membantu kita. Yesus, yang akan kita rayakan pesta kelahirannya, pernah berkata, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu" (Luk 12: 32). Kedua, hendaklah kita meneladani Allah yang begitu peduli kepada kaum lemah, kaum kecil. Allah saja mau peduli kepada yang kecil, kenapa kita tidak?

by: adrian

Jumat, 09 Agustus 2019

RENUNGAN MINGGU BIASA XIX-C

Renungan Hari Minggu Biasa XIX, Thn C
Bac I  Keb 18: 6 – 9; Bac II       Ibr 11: 1- 2, 8 – 19;
Injil    Luk 12: 32 – 48;
Bacaan-bacaan liturgi hari Minggu ini hendak berbicara tentang iman. Bacaan kedua, yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani, memberikan pendasaran tentang iman. Dikatakan bahwa iman merupakan  “dasar dari segala sesuatu yang kita harapan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (ay. 1). Untuk menguatkan pendasaran tersebut, penulis memberikan contoh dari sejarah bangsa Israel, yaitu Abraham, yang dikenal sebagai Bapa Orang Beriman.
Ungkapan iman terlihat juga dalam bacaan pertama. Dalam Kitab Kebijaksanaan diungkapkan bagaimana orang-orang beriman menyatakan dirinya. Secara implisit, penulis Kitab Kebijaksanaan mau mengidentifikasi iman dengan sikap berserah diri (seperti Abraham) kepada “kewajiban ilahi” sehingga mereka “akan mengambil bagian baik dalam hal-hal baik maupun dalam bahaya.” (ay. 9).
Salah satu tantangan iman adalah godaan duniawi yang membuat orang jadi gelisah, takut dan diliputi kekhawatiran. Godaan-godaan duniawi itu dapat berupa kekayaan, jabatan (kekuasaan) dan prestise (bandingkan dengan 3 godaan Yesus di padang gurun). Karena itulah, dalam Injil Tuhan Yesus mengajak para murid untuk tidak takut (ay. 32). Di balik ajakan itu, Tuhan Yesus menghendaki supaya para murid berserah diri kepada penyelenggaraan ilahi (dengan kata lain: beriman). Dengan beriman, para murid tidak melulu memusatkan hati, budi dan hidupnya hanya kepada hal-hal duniawi, melainkan juga mengarahkannya kepada “suatu harta di sorga.” (ay. 33).
Manusia memang hidup di dunia, namun hidupnya tidak melulu terarah pada hal-hal duniawi. Sekalipun hidup di dunia, hidup manusia terarah ke sorga. Sebagai makhluk dunia adalah wajar bila manusia tak dapat lepas dari barang-barang duniawi. Selagi tinggal di dunia, manusia boleh bersentuhan dengannya. Akan tetapi, janganlah benda-benda duniawi itu mengingat manusia untuk tetap di dunia dan melupakan arah tujuannya ke sorga. Hal inilah yang hendak disampaikan Tuhan melalui bacaan-bacaan liturginya. Melalui sabda-Nya, Tuhan menghendaki supaya manusia terus menyadari akan arah hidupnya yang tertuju ke sorga sehingga tidak perlu merasa takut akan hal-hal duniawi.
by: adrian

Minggu, 09 Juni 2019

RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA, THN C

Renungan Hari Raya Pentakosta, Thn C
Bac I  Kis 2: 1 –11; Bac II        1Kor 12: 3 – 7, 12 – 13;
Hari ini adalah penutupan masa paskah. Masa paskah ditutup dengan merayakan hari raya Pentakosta, yaitu peristiwa turunnya Roh Kudus atas para murid Yesus. Dasar biblis hari raya Pentakosta ada pada bacaan pertama hari ini. Roh Kudus digambarkan seperti lidah-lidah api (ay. 3). Dan efek dari Roh Kudus adalah keterbukaan, yang dilukiskan dengan kemampuan berbahasa orang lain (ay. 8 – 11). Keterbukaan membuat orang saling mengerti dan akhirnya bersatu.
Roh Kudus yang turun pada pesta Pentakosta, dalam bacaan pertama merupakan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus Kristus. Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menjanjikan “seorang penolong yang lain” (ay. 16), yaitu Roh Kudus (ay. 26). Jadi, peristiwa Pentakosta merupakan penggenapan janji Tuhan Yesus. Akan tetapi, umat islam menggunakan janji Yesus ini sebagai penggenapan akan kedatangan Nabi Muhammad. Dasarnya ada pada kata Roh Kebenaran (ay. 17), yang dalam bahasa Ibrani Ruakh Ha Emed. Frase Ha Emed kedengaran mirip dengan kata Ahmad, yang merupakan nama lain dari Muhammad.
Benarkah janji Yesus akan kedatangan Roh Kudus merupakan ramalan akan kedatangan Muhammad? Jika umat islam menggunakan teks janji Yesus akan Roh Kudus ini dipakai, maka mereka harus menerima juga peran Roh Kudus yang dijelaskan Yesus, yaitu “mengingatkan kamu akan semua yang telah Ku-katakan kepadamu” (ay. 26). Rasul Paulus, dalam bacaan kedua, memaparkan lagi peran Roh Kudus, yaitu membuat kita dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan” (ay. 3b). Karena itu, pertanyaannya adalah apa benar Muhammad mengingatkan kita akan semua yang telah disampaikan Yesus?; apakah benar Muhammad membuat kita mengaku “Yesus adalah Tuhan”?
Jadi, Roh Kudus sama sekali tidak merujuk pada sosok manusia. Lantas bagaimana kita dapat merasakan kehadiran Roh Kudus? Pertama-tama, ketika yakin bahwa Yesus adalah Tuhan, di sana Roh Kudus sudah hadir dalam diri kita. Selain itu, seperti kata Yesus, yaitu bila kita ingat akan apa yang telah disampaikan-Nya. Misalnya, ketika kita hendak membalas kejahatan orang, kita ingat akan perintah Yesus untuk saling mengasihi, di sana Roh Kudus sudah berkarya. Atau, ketika seorang suami ingin menceraikan istrinya, lalu ingat akan kata-kata Yesus bahwa yang telah disatukan Allah jangan diceraikan manusia, dan dia tak jadi bercerai, di sana Roh Kudus sudah berkarya. Paulus, dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus, mengatakan bahwa ketika kita yang berbeda-beda karena suku dan golongan dapat bersatu, hal itu disebabkan karena Roh Kudus (ay. 12 – 13).***

Kamis, 02 Mei 2019

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH III - C

Renungan Hari Minggu Paskah III, Thn  C
Injil    Yoh 21: 1 – 19;
Bacaan kedua hari ini, yang diambil dari Kitab Wahyu, mau menggambarkan penglihatan Rasul Yohanes akan sosok Yesus sebagai Anak Domba. Dalam penglihatan itu Anak Domba itu menerima kemuliaan yang tiada taranya dari “semua makhluk yang ada di sorga dan yang ada di bumi, dan yang di bawah bumi dan yang di laut, dan semu yang ada di dalamnya.” (ay. 13). Dapat dikatakan gambaran kemuliaan itu terkait erat dengan peristiwa paskah, yang diawali peristiwa salib. Gambaran Anak Domba yang disembelih merupakan gambaran salib, yang mana keduanya adalah gambaran kurban keselamatan.
Bacaan pertama dan Injil hari ini mempunyai pesan yang sama. Keduanya dapat dilihat sebagai konsekuensi lanjut dari peristiwa paskah Kristus. Dalam Injil, kebangkitan Kristus merupakan sebuah ajakan untuk mengikuti Dia. “Ikutilah Aku!” (ay. 19). Memang ajakan itu pertama-tama ditujukan kepada Rasul Petrus. Akan tetapi, ajakan itu menjadi ajakan Yesus kepada para murid lainnya, termasuk kita saat ini.
Kisah Para Rasul, yang menjadi bacaan pertama, mengisahkan perjalanan para rasul dalam mengemban misi Kristus, yaitu mewartakan kebangkitan Kristus. Hal ini merupakan konsekuensi dari pengalaman paskah. Bagi para rasul, melaksanakan tugas mewartakan kebangkitan Kristus merupakan suatu keharusan (ay. 29 – 32). Karena keharusan itu, mereka terpanggil untuk melaksanakannya walau tantangan dan cobaan menghadang. Semua itu dihadapi dengan senyum (ay. 41).
Bacaan-bacaan liturgi hari ini masih mengulas tema paskah. Melalui sabda Tuhan ini kita disadarkan bahwa peristiwa kebangkitan Kristus mempunyai dampak bagi kehidupan kita. Dampak pertama adalah kita mendapatkan rahmat penebusan. Akan tetapi, kebangkitan Kristus juga mengandung panggilan bagi kita untuk ambil bagian dalam tugas perustusan. Seperti para rasul, kita juga dipanggil Kristus untuk mewartakan kebangkitan-Nya. Kita tak perlu merasa gentar dengan cobaan dan tantangan. Para rasul sudah mengalamainya dan mereka menghadapinya dengan senyum. Maka hendaklah kita pun demikian.***
by: adrian

Sabtu, 27 April 2019

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH II - C


Renungan Hari Minggu Paskah II, Thn C
Bac I : Kis 5: 12 - 16; Bac II :      Why 1: 9 – 13, 17 – 19;
Injil       : Yoh 20: 19 – 31;
Minggu Paskah II dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Bacaan-bacaan liturgi hari ini seakan ingin menampilkan tema tersebut. Injil, yang mengisahkan tentang pengalaman rohani Rasul Tomas, menampilkan satu dimensi kerahiman, yaitu damai. Tuhan Yesus, yang adalah Sang Kerahiman, memberikan damai kepada para murid-Nya. “Damai sejahtera bagi kamu!” (ay. 19, 21). Selain itu, Tuhan Yesus juga memberikan kuasa mengampuni, yang dalam Gereja Katolik terdapat dalam Sakramen Tobat. Karena itu, orang yang memanfaatkan sakramen ini akan mengalami kerahiman Allah.
Allah kita adalah Allah yang rahim, penuh kasih. Para murid sudah merasakan dan mengalami kerahiman Allah dalam diri Tuhan Yesus. Pengalaman akan kerahiman itu tidaklah mereka nikmati untuk diri mereka sendiri, melainkan diwartakan. Hal inilah yang hendak ditampilkan dalam bacaan pertama dan kedua hari ini. Dalam bacaan kedua, yang diambil dari Kitab Wahyu, Yohanes mendapat perintah untuk mewartakan apa yang telah disaksikannya (ay. 11). Dengan pewartaan ini orang lain dapat mengetahui kerahiman ilahi ini sehingga dapat ambil bagian di dalamnya.
Bacaan pertama menampilkan kehidupan para rasul. Bersama dengan orang-orang yang sudah percaya, mereka hidup “dalam persekutuan yang erat” (ay. 12). Hidup dalam persekutuan erat menunjukkan bahwa mereka sungguh sudah mengalami kerahiman Allah dan hidup dalam kerahiman-Nya. Dapat dikatakan bahwa mereka sendiri sudah memiliki kerahiman itu. Karena itulah, “mereka sangat dihormati orang banyak.” (ay. 13). Dan kerahiman yang telah mereka rasakan, tidak dinikmati sendiri, tetapi dibagikan kepada orang lain. Hal ini terlihat pada peristiwa penyembuhan orang-orang sakit (ay. 15 – 16).
Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah kerahiman Allah. Dia tidak hanya sekedar wajah Allah, tetapi juga wajah kerahiman Allah. Tentulah hal ini sudah diketahui. Menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah mengalami dan memiliki kerahiman itu? Kalau sekedar mengalami mungkin kita sudah, karena memang Allah itu maharahim. Hanya saja pengalaman itu sepertinya tidak membekas sehingga kita benar-benar memilikinya. Tanda-tanda orang yang memiliki kerahiman ilahi adalah hidup damai dalam persekutuan. Karena itu, melalui sabda-Nya hari ini Tuhan mau mengajak kita untuk hidup dalam kerahiman-Nya, yang ditandai hidup dalam persekutuan erat dengan anggota umat lainnya.***

Sabtu, 23 Februari 2019

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA VII, THN C

Renungan Hari Minggu Biasa VII, Thn C
Injil    Luk 6: 27 – 39
Bacaan liturgi hari ini sangat menarik, karena dapat dijadikan satu kesatuan. Inti pesannya adalah agar kita menjadi manusia rohani. Hal inilah yang disampaikan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Rasul Paulus sadar bahwa kita manusia awalnya adalah jasmani atau alamiah (ay. 46, 47). Akan tetapi, hendaklah kita tidak tinggal dalam kejasmanian kita saja, tidak dikendalikan oleh kelemahan alamiah kita, melaiankan berubah menjadi manusia rohani. Dapat dipahami manusia rohani berarti manusia yang dapat mengendalikan kelemahan jasmaninya, atau menjadi tuan  atas kealamiahan jasmaninya.
Apa yang disampaikan Rasul Paulus merupakan penjabaran lain dari apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil. Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus memberikan beberapa contoh manusia rohani, manusia yang mengalahkan kelemahan jasmaninya. Manusia rohani itu terlihat pada berbuat baik kepada orang yang membenci (ay. 27), berdoa bagi mereka yang mencaci (ay. 28), murah hati (ay. 36), tidak suka menghakimi orang lain (ay. 37), dll. Apa yang disampaikan Tuhan Yesus memang mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilaksanakan. Namun bukan lantas berarti tidak ada yang pernah melakukannya. Yesus sendiri sudah melakukan apa yang diajarkan-Nya itu.
Selain Yesus, Daud juga sudah pernah melakukan atau mempraktekkan sebagai manusia rohani. Inilah yang ditampilkan dalam bacaan pertama. Raja Saul mempunyai rencana jahat, yaitu hendak membunuh Daud. Sekalipun ada kesempatan untuk menyingkirkan Raja Saul, namun Daud sama sekali tidak menggunakannya. Daud menunjukkan kasihnya kepada Saul.
Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita untuk tidak tetap tinggal dalam kealamiahan jasmani kita, melainkan berubah menjadi manusia rohani. Kita diminta untuk senantiasa berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada mereka yang membenci, memusuhi atau juga yang pernah menyakiti kita. Adalah wajar apabila kita membalas kejahatan dengan kejahatan. Itulah kealamiahan jasmani kita. Akan tetapi Tuhan ingin hal itu ditinggalkan. Kita harus menjadi TUAN atas kejasmanian kita dengan melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.
Pinang, 22 Feb 2019
by: adrian

Minggu, 07 Februari 2016

Renungan Hari Minggu Biasa V - C

Renungan Hari Minggu Biasa V, Thn C/II
Bac I  Yes 6: 1 – 2a, 3 – 8; Bac II       1Kor 15: 1 – 11;
Injil    Luk 5: 1 – 11;
Sabda Tuhan hari ini memiliki tema tentang panggilan dan perutusan. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitan Nabi Yesaya, berbicara tentang panggilan dan perutusan Yesaya. Diawali dengan penglihatan Yesaya tentang Tuhan dengan segala kemegahan-Nya di dalam Bait Suci. Dalam penglihatan itu, Yesaya mendengar pertanyaan Tuhan, “Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (ay. 8). Pertanyaan ini sangat jelas ditujukan kepada Yesaya. Karena itulah, dengan tegas Yesaya menjawab, “Ini aku, utuslah aku!” Yesaya menerima panggilan Tuhan dan siap diutus untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada bangsa Israel.
Kisah panggilan kembali terlihat dalam Injil hari ini. Panggilan itu terjadi pada diri Simon Petrus, dan juga Yakobus dan Yohanes. Berawal dari kisah mukjizat yang dialami oleh Simon Petrus dan teman-temannya, yaitu mendapat ikan dalam jumlah yang sangat besar. Dari sinilah Tuhan Yesus memanggil mereka, “Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” (ay. 10). Sama seperti Yesaya yang langsung menanggapi panggilan Tuhan, Simon dan kedua rekannya pun langsung menanggapi panngilan Tuhan Yesus. Dikatakan bahwa mereka segera menghela perahu mereka ke darat dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus (ay. 11).
Bacaan kedua, yang diambil dari surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, mau bercerita tentang panggilan dan perutusan Paulus serta apa tujuannya. Paulus mengatakan bahwa dibandingkan para rasul, dia adalah yang paling hina, “sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah” (ay. 9). Dalam suratnya Paulus menjelaskan juga akan tugas perutusannya, yaitu memberitakan Injil (ay. 1). Tujuan pemberitaannya, dan juga pemberitaan para rasul lainnya, itu adalah supaya jemaat menjadi percaya (ay. 11)
Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita akan tugas perutusan kita. Sakramen baptis yang telah kita terima membuat kita turut ambil bagian tugas perutusan Tuhan Yesus untuk mewartakan Injil. Bapa-bapa Paus kita, seperti Yohanes Paulus II, Benediktus XVI dan Paus Fransiskus, senantiasa menyerukan supaya umat Kristiani mewartakan tentang Kristus dan karya keselamatannya. Tujuannya pertama-tama bukan supaya orang diselamatkan, melainkan agar orang tahu dan menjadi percaya.***
by: adrian

Minggu, 24 Januari 2016

Renungan Hari Minggu Biasa III - C

Renungan Hari Minggu Biasa III, Thn C/II
Bac I  Neh 8: 3 – 7, 8 – 11; Bac II       1Kor 12: 12 – 30;
Ada kemiripan antara bacaan pertama dan Injil hari ini. kemiripan itu terletak pada diri Ezra dan Tuhan Yesus. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nehemia, dikisahkan bahwa Ezra, seorang imam sekaligus ahli kitab, membacakan Kitab Taurat. Gambaran ini mirip dengan Tuhan Yesus di Injil, meski kitab yang dibacakan berbeda. Namun yang menjadi daya tariknya bukan terletak ada kemiripan itu, melainkan pada pesannya. Ezra, dalam bacaan pertama, mengajak umat untuk bersukacita. Tapi sukacita itu tidak hanya dinikmati sendirian. “Kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa.” Di sini bacaan pertama mau mengajak kita untuk peduli kepada orang lain.
Sikap peduli ini-lah yang diperlihatkan Tuhan Yesus dalam Injil. Dalam Injil Tuhan Yesus membacakan Kitab Yesaya, dan kemudian menyatakan bahwa nas tersebut sudah terpenuhi dalam diri-Nya. Artinya, Tuhan Yesus datang ke dunia untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,” (ay. 18), pembebasan kepada orang-orang tawanan dan orang-orang yang tertindas, serta penglihatan bagi orang-orang buta (ay. 19). Di sini mau dikatakan bahwa Tuhan Yesus sangat peduli kepada orang lain. Ia tidak puas hanya dengan diri-Nya sendiri.
Pesan bacaan pertama dan Injil ini kembali direfleksikan dengan bagus oleh Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Dalam bacaan kedua, Paulus mau mengajak pembacanya untuk bersikap peduli kepada orang lain. Dasarnya adalah jemaat merupakan satu kesatuan sebagai satu tubuh Kristus. Paulus mengambil perbandingan dengan tubuh yang memiliki banyak anggota. Bagi Paulus, Kristus adalah tubuhnya, sedangkan jemaat adalah anggota-anggotanya. Paulus meminta supaya tiap-tiap anggota tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan anggota tubuh yang lain. Tujuannya cuma satu, yaitu melayani tubuh yang adalah Kristus.
Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa kita adalah anggota-anggota dari satu tubuh, yakni Kristus. Tiap-tiap kita memiliki tugas dan perannya masing-masing. Tugas dan peran itu bukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Kita dipanggil untuk keluar dari diri sendiri dengan memperhatikan kebutuhan sesama, yang adalah juga anggota tubuh Kristus. Dengan memperhatikan anggota tubuh yang lain, secara tidak langsung kita sudah melayani Kristus.***
by: adrian

Minggu, 27 Desember 2015

Renungan Hari Minggu Oktaf Natal III - C

Renungan Pesta Keluarga Kudus, Thn C
Injil    Luk 2: 41 – 52;
Hari ini Gereja Semesta mengajak kita untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus, Yusuf, Maria dan Yesus. Bacaan-bacaan liturgi hari ini mengambil tema tentang keluarga dengan penekanan yang berbeda-beda. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Samuel yang pertama, berbicara mengenai keluarga Elkana, Hana dan Samuel. Bagi Hana Samuel merupakan anugerah dari Tuhan. Sebagai ungkapan syukurnya, Hana mempersembahkan putranya itu kepada Tuhan. Di sini penekanannya adalah anak sebagai anugerah Tuhan, sehingga umat diajak untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan.
Injil mengangkat keluarga kudus, yaitu Yusuf, Maria dan Yesus. Ada dua penekanan dalam bacaan Injil ini. Pertama, Yusuf dan Maria mau menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai orangtua terhadap anak. Wujud tanggung jawab itu terlihat dari kecemasan dan perjuangan mencari anak mereka. Di sini tekanannya pada keluarga inti-duniawi. Kedua, Tuhan Yesus menunjukkan status-Nya sebagai Anak Allah, sehingga harus berada di rumah Bapa (ay. 49). Di sini Tuhan Yesus mengangkat nilai keluarga inti-duniawi ke keluarga Allah.
Penekanan Tuhan Yesus mengenai keluarga Allah, kembali ditegaskan oleh Yohanes dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama Yohanes menyatakan bahwa oleh kasih karunia Allah kita menjadi satu keluarga. Kita adalah anak-anak Allah. Jadi, oleh kasih kita tidak lagi hanya hidup dalam keluarga inti-duniawi, melainkan juga keluarga Allah. Yohanes menegaskan bahwa satu wujud konkret sebagai keluarga Allah adalah kasih. Sebagai anak-anak Allah, kita hendaknya “saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” (ay. 23).
Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa kita tidak hanya hidup dalam keluarga inti-duniawi (suami, isteri dan anak), melainkan juga sebagai keluarga Allah. Keluarga-keluarga inti-duniawi membentuk keluarga Allah oleh karena kasih. Tuhan menghendaki supaya kita menghidupi kasih itu dalam keluarga inti kita dan kita terapkan kepada keluarga-keluarga lainnya. Akan tetapi, Yohanes pernah mengatakan bahwa Allah itu adalah kasih (1Yoh 4: 8). Jadi, jika dalam keluarga semua anggota keluarga hidup dalam kasih, maka keluarga itu dapat disebut sebagai keluarga Allah.***
by: adrian

Minggu, 24 November 2013

Renungan HR Kristus Raja, Thn C

Renungan HR Kristus Raja Semesta Alam, Thn C/I
Bac I   : 2Sam 5: 1 – 3; Bac II       : Kol 1: 12 – 20;
Injil     : Luk 23: 35 – 43

Hari ini merupakan hari raja Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Raja Semesta. Bacaan-bacaan liturgi hari ini berbicara tentang raja dan kerajaan untuk menegaskan hari raya ini. Bacaan pertama menggambarkan tentang terpilihnya Daud sebagai raja. Segala suku di Israel meminta Daud untuk menjadi raja mereka. Mereka mengikat perjanjian di hadapan Allah. Terpilihnya Daud menjadi raja merupakan salah satu dasar kenapa Yesus juga berhak menjadi raja. Dia adalah putera Daud, yang membuat Dia memiliki gelar Putra Raja. Akan tetapi kerajaan Yesus tidak seperti kerajaan Daud.

Hal ini ditegaskan oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolese, Paulus mengatakan bahwa kerajaan Yesus adalah kerajaan terang yang mengalahkan kegelapan. Kerajaan terang yang dipimpin Yesus bukan hanya meliputi surga, melainkan juga dunia. Yesus membawa penebusan bagi umat manusia melalui darah salib-Nya (ay. 20).

Penegasan Paulus di atas didasarkan pada Injil hari ini. Dalam Injil orang Yahudi hanya melihat Yesus sebagai Raja Yahudi, meski itu merupakan bentuk ejekan. Berbeda dengan apa yang dilihat oleh seorang penyamun. Dia benar-benar melihat Yesus sebagai Raja. Ada yang menarik dari dua cara pandang yang berbeda ini. Sebagai Raja Yahudi (menurut orang Yahudi), Yesus dilihat mampu menyelamatkan Diri-Nya sendiri. Sedangkan sebagai Raja Semesta (menurut seorang penyamun), Yesus dapat menyelamatkan semua orang. Karena itulah, sang penyamun berseru, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (ay. 42).

Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau menyadarkan kita bahwa Yesus adalah sungguh Raja Semesta Alam. Kita adalah warga kerajaan-Nya. Sebagai warga, maka kita diminta untuk tunduk kepada-Nya. Kita hendaknya menuruti apa yang diperintahkan-Nya. Perintah-Nya demi kedamaian kita. Inilah yang dikehendaki Tuhan lewat sabda-Nya hari ini. Tuhan menghendaki kita untuk tidak membiarkan ada raja lain yang menguasai kita, seperti harta kekayaan, kenikmatan dan kekuasaan. Biarkanlah diri kita dipimpin oleh sang Raja Semesta Alam ini.

by: adrian

Minggu, 17 November 2013

Renungan Hari Minggu Biasa XXXIII-C

Renungan Hari Minggu Biasa XXXIII, Thn C/I
Bac I   : Mal 4: 1 – 2a; 2Tes 3: 7 – 12;
Injil     : Luk 21: 5 – 19

Bacaan pertama dan Injil hari ini berbicara soal akhir zaman, di mana digambarkan murka Allah. Namun sabda Tuhan ini tidak semata-mata berbicara tentang murka sehingga menimbulkan ketakutan, melainkan juga persiapan yang harus disiapkan. Kitab Maleaki menasehati supaya orang-orang benar tak perlu merasa cemas dan takut. Murka Allah hanya dikenakan kepada orang fasik.

Dalam Injil, Yesus menasehati para pendengar-Nya untuk waspada terhadap aksi penipuan. Menjelang akhir zaman akan banyak muncul serigala berbulu domba. Menghadapi semuanya itu umat tak perlu merasa takut. Kita tetap terpanggil untuk senantiasa bersaksi bagi kebenaran dan kebaikan. Tuhan sendiri yang akan meletakkan hikmat-Nya di dalam mulut kita.

Apa yang disampaikan Yesus dan Maleaki, ditegaskan kembali oleh Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Tesalonika. Dalam bacaan kedua, Paulus mengajak jemaatnya untuk tetap bertahan dalam kebaikan dan kebenaran. Paulus tidak menyampaikan hanya lewat kata-kata saja, melainkan dengan perbuatan. Karena itulah, ia meminta jemaat untuk mengikuti teladan hidupnya. Memang nasehat Paulus ini sangat cocok untuk para pemuka jemaat saat ini.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk selalu berbuat baik dan benar bagi kehidupan manusia. Hal ini dapat menjadi bekal persiapan kita menyongsong akhir zaman. Memang tak ada satu manusia pun di dunia ini yang tahu kapan akhir zaman itu datang. Karena itulah Yesus meminta kita untuk waspada. Salah satu bentuk kewaspadaan adalah dengan senantiasa berbuat baik dan benar. Perbuatan ini akan menjadi contoh teladan bagi orang lain. Dan ini merupakan bentuk persaksian bagi Kristus.

by: adrian