Tampilkan postingan dengan label Renungan Masa Adven & Natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Masa Adven & Natal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Desember 2019

RENUNGAN MALAM NATAL


Renungan Malam Natal, Thn A
Bac I  Yes 9: 1 – 6; Bac II         Tit 2: 11 – 14;
Injil    Luk 2: 1 – 14;
Malam hari ini kita mengakhiri peziarahan kita selama masa adven. Penantian kita sudah berakhir. Tuhan Yesus sudah lahir. Itulah natal. Injil malam ini mengisahkan tentang peristiwa kelahiran Tuhan Yesus. Dia adalah Raja Damai (bdk. Yes 9: 6). Raja yang akan datang membawa kedamaian. Karena itu, penginjil menutup kisahnya dengan kidung sukacita bala tentara surga, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (ay. 14)
Bacaan pertama dan Injil malam ini disatukan pada kata “damai”. Kata itu tentulah merujuk pada Yesus yang diperingati dan dirayakan kelahirannya hari ini. Yesus adalah Raja Damai. Dia datang hendak membawa damai. Damai yang dibawa Yesus bukanlah seperti sebuah benda yang sudah jadi dan siap pakai. Seolah-olah Yesus datang maka dunia otomatis damai atau kedamaian itu langsung ada. Yesus hanya memberikan pengajaran, yang melaluinya kedamaian itu dapat tumbuh dan berkembang. Ajaran utama Yesus adalah kasih. Jadi, kedamaian itu masih tetap harus diperjuangkan sehinga dapat terwujud. Yesus memberikan cara mewujudkannya, yaitu dengan saling mengasihi.
Bacaan kedua, yang diambil dari Surat Paulus kepada Titus, memberikan cara mewujudkan kedamaian itu. Apa yang diungkapkan Paulus merupakan bahasa lain dari apa yang pernah diajarkan Tuhan Yesus. Untuk mewujudkan damai dalam hidup, Paulus meminta kita untuk “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, ..... hidup bijaksana, adil dan beribadah.” (ay. 12). Selain itu, Paulus juga mengajak kita untuk “rajin berbuat baik.” (ay. 14). Baik di sini tidak melulu berdasarkan selera pribadi kita saja, tetapi memperhatikan juga kepentingan orang lain. Karena itulah, hal ini sejalan dengan tuntutan bijaksana tadi.
Semua manusia pastu mendambakan hidup damai. Kedamaian itu bukan saja lantaran tidak ada perang, tetapi juga soal ketenangan hati. Hari ini Tuhan sudah lahir. Dia datang membawa damai. Namun kedamaian itu harus kita perjuangkan melalui ajaran-Nya. ajaran utamanya adalah kasih. Karena itu, sabda Tuhan malam hari ini menyadarkan kita untuk mewujudkan kedamaian itu dalam kehidupan kita, di mulai dari dalam rumah tangga kita, komunitas kita hingga lingkungan masyarakat kita. Semoga perayaan natal ini dapat membangkitkan kesadaran kita untuk menjalankan ajaran dan perintah Tuhan sehingga kedamaian bersemi dalam hidup ini.***
by: adrian

Kamis, 24 Desember 2015

Renungan Malam Natal - Thn C

Renungan Malam Natal, Thn C/II
Bac I  Yes 9: 1 – 6; Bac II                   Tit 2: 11 – 14;
Injil    Luk 2: 1 – 14;
Malam hari ini kita mengakhiri peziarahan kita selama masa adven. Penantian kita sudah berakhir. Tuhan Yesus sudah lahir. Injil mala mini mengisahkan tentang peristiwa tersebut. Dikatakan bahwa Bunda Maria melahirkan di Betlehem, karena ada program sensus. Maria tidak melahirkan di sebuah rumah, melainkan di sebuah kandang. Tuhan Yesus terbaring dalam palungan. Terdengar seperti menyedihkan, suram dan hina. Namun penginjil menutup kisahnya dengan berita sukacita, meski lokasi kejadiannya berbeda. Terlihatlah “sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah.” (ay. 13)
Gambaran seperti Injil terlihat juga dalam bacaan pertama. Yesaya, dalam kitabnya, mengungkapkan adanya dua situasi berbeda dalam kehidupan manusia. Ada orang yang mengalami situasi suram atau “berjalan dalam kegelapan.” (ay. 2). Akan tetapi, Yesaya menegaskan bahwa manusia tidak selamanya hidup dalam kesuraman atau berjalan dalam kegelapan. Akan ada sorak-sorai dan sukacita yang besar (ay. 3). Semua itu karena kelahiran seorang anak, yang adalah Raja Damai (ay. 6). Di sini Yesaya mau menubuatkan kelahiran Tuhan Yesus.
Bacaan kedua, yang diambil dari Surat Paulus kepada Titus, seakan merefleksikan bacaan pertama dan Injil. Apa yang diungkapkan Yesaya dalam bacaan pertama merujuk pada Tuhan Yesus. Dia-lah yang dimaksudkan Yesaya sebagai Raja Damai. Dia-lah Terang bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan; dan orang yang telah mematahkan kuk dan gadar dari umat manusia. Paulus melihat semua ini sebagai bentuk kasih karunia Allah yang mau menyelamatkan manusia. Jadi, kelahiran Yesus Kristus merupakan wujud kasih Allah kepada umat manusia.
Tuhan sudah lahir. Malam ini kita diajak untuk bersukacita atas kelahiran-Nya. Sukacita kita bukan semata-mata karena peristiwa kelahiran, melainkan karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Karena itu, sabda Tuhan malam hari ini menyadarkan kita bahwa Allah mengasihi kita lewat kelahiran seorang anak di palungan. Namun, kita juga disadarkan, sebagaimana pesan Paulus dalam bacaan kedua, bahwa lewat kasih-Nya kita diajak untuk “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingian duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah.” (ay. 12). Tuhan juga menghendaki supaya kita “rajin berbuat baik.” (ay. 14)***
by: adrian

Sabtu, 10 Januari 2015

Renungan Hari Sabtu sesudah Epifani, Thn B

Renungan Hari Sabtu sesudah Epifani, Thn B/I
Bac I    1Yoh 5: 14 – 21; Injil                        Yoh 3: 22 – 30;

Bacaan liturgi hari ini diambil dari tulisan Yohanes. Injil hari ini menampilkan sosok Yohanes Pembaptis. Diceritakan bahwa ada orang yang mempertentangan antara Tuhan Yesus dengan Yohanes Pembaptis. Pangkal pertentangan itu adalah tindakan Tuhan Yesus yang membaptis orang seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Akan tetapi, Yohanes Pembaptis tidak mempermasalahkan hal itu. Yohanes tidak mau jatuh ke dalam dosa iri hati dan kesombongan. Malah Yohanes Pembaptis memilih sikap rendah hati dengan berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (ay. 30).

Sementara bacaan pertama menampilkan pengajaran Yohanes tentang dosa. Dalam suratnya yang pertama, Yohanes mengingatkan bahwa semua kejahatan adalah dosa, tapi tidak semua dosa itu mendatangkan maut (ay. 17). Yohanes mempertentangkan antara kita yang berasal dari Allah dengan dunia yang dikuasai si jahat. Karena itu, Yohanes mengajak pembacanya untuk menghindari kejahatan yang mendatangkan dosa. Sekalipun berada di dunia, kita tak perlu harus ikut berdosa.

Hidup manusia tak pernah lepas dari godaan dosa. Benarlah apa yang dikatakan Yohanes dalam suratnya bahwa dunia berada di bawah kuasa si jahat. Dengan kata lain, dunia identik dengan dosa. Karena kita hidup di dunia, maka kita akan selalu bersinggungan dengan dosa. Namun bukan lantas berarti kita harus berdosa. Yohanes Pembaptis sudah memberi teladan bagi kita. Dia sudah dihadapkan pada tantangan dosa, namun ia memilih untuk tidak berdosa dengan bersikap rendah hati. Hari ini sabda Tuhan menghendaki kita untuk senantiasa berjuang melawan dosa. Tuhan meminta kita untuk tidak jatuh ke dalam dosa, sekalipun kita berada di dunia yang penuh dengan dosa.

by: adrian

Jumat, 09 Januari 2015

Renungan Hari Jumat sesudah Epifani, Thn B

Renungan Hari Jumat sesudah Epifani, Thn B/I
Bac I    1Yoh 5: 5 – 13; Injil              Luk 5: 12 – 16;

Hari ini Injil bercerita tentang penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada orang yang sakit kusta. Dikatakan bahwa ketika melihat Tuhan Yesus, penderita kusta itu langsung memohon untuk disembuhkan. Ia tahu pada Yesus ada kesembuhan. Ia percaya bahwa Tuhan Yesus dapat menyembuhkan penyakit kustanya. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Demikian pinta si kusta (ay. 12). Karena kepercayaannya itulah, ia sembuh.

Bacaan pertama seakan merefleksikan kembali peristiwa penyembuhan orang kusta itu. Dalam suratnya yang pertama, Yohanes menegaskan bahwa Allah telah mengaruniakan hidup kepada kita, dan hidup itu ada dalam Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Jika kita percaya kepada Tuhan Yesus, maka kita dapat beroleh hidup itu. Hal inilah yang terjadi dengan orang yang menderita sakit kusta. Ia percaya kepada Tuhan Yesus dan dia sembuh.

Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa dalam Yesus ada kehidupan; kehidupan itu adalah juga kesembuhan. Satu syarat yang dibutuhkan adalah percaya. Melalui sabda-Nya hari ini, Tuhan menghendaki kita untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan Yesus. Bukan tidak mustahil, dalam kehidupan ini kita selalu menghadapi masalah dan cobaan hidup. Tuhan meminta kita untuk datang kepada-Nya, menyerahkan semua permasalahan dan cobaan hidup kita kepada-Nya. Datanglah seperti si penderita kusta. Ia memperoleh kesembuhan karena kepercayaannya. Kita pun pasti demikian.

by: adrian

Kamis, 08 Januari 2015

Renungan Hari Kamis sesudah Epifani, Thn B

Renungan Hari Kamis sesudah Epifani, Thn B/I
Bac I    1Yoh 4: 19 – 5: 4; Injil                     Luk 6: 14 – 22a;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Surat Yohanes yang pertama. Dalam suratnya itu, Yohanes kembali menegaskan akan ajaran pokok Tuhan Yesus, yaitu soal kasih. Bagi Yohanes, kasih itu terarah kepada dua sisi, yaitu Allah dan sesama manusia. Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi juga sesamanya. Yohanes menegaskan bahwa siapa yang mengatakan dirinya mengasihi Allah namun membenci sesamanya, adalah pendusta. Kasih itu berasal dari Allah. Karena itu, orang yang hidup dalam kasih, Allah tinggal di dalam dia.

Apa yang diungkapkan Yohanes dalam bacaan pertama, bertentangan dengan sikap orang Nazaret, yang mendengar pengajaran Tuhan Yesus di rumah ibadat. Tuhan Yesus mengungkapkan kasih Allah kepada umat manusia sebagaimana yang dinubuatkan Nabi Yesaya. Dengan pengungkapkan nubuat itu, mau dikatakan bahwa Allah ada dalam Tuhan Yesus. Akan tetapi, warga sama sekali tidak melihatnya. Mereka hanya sebatas melihat hal lahiriah. “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa kasih itu adalah kekuatan ilahi. Orang yang hidup dalam kasih merupakan orang yang memiliki kekuatan ilahi. Karena memiliki kekuatan ilahi itulah maka ia dapat mengasihi sesama, termasuk musuh atau yang berlaku jahat. Melalui sabda-Nya ini, Tuhan menghendaki kita untuk senantiasa hidup dalam ajaran kasih ini. Dengan hidup dalam kasih, kita sudah menampilkan Allah kepada orang lain.

by: adrian

Rabu, 07 Januari 2015

Renungan Hari Rabu sesudah Epifani, Thn B

Renungan Hari Rabu sesudah Epifani, Thn B/I
Bac I    1Yoh 4: 11 – 18; Injil                        Mrk 6: 45 – 52;

Hari ini Injil mengisahkan perjuangan para murid menghadapi badai dan ketakutan. Dikisahkan bahwa setelah berpisah dengan Tuhan Yesus, para murid menyeberang dengan perahu. Di tengah danau, pada malam hari, mereka diterjang angin sakal. Mereka bukan hanya kepayahan menghadapi gelombang danau, melainkan juga kepanikan. Ada di antara mereka yang tidak bisa berenang. Situasi ini diperparah dengan kehadiran Tuhan Yesus, yang dikira hantu. Mereka menjadi ketakutan. Yesus, yang seharusnya datang untuk menyelamatkan, ditakuti. Namun setelah Tuhan Yesus naik ke dalam perahu, angin pun reda, dan ketakutan mereka pun hilang.

Bacaan pertama hari ini seakan mau merefleksikan peristiwa di atas. Yohanes, dalam suratnya yang pertama, mencoba merenungkan kembali kejadian tersebut. Titik tolak Yohanes adalah ajaran Tuhan Yesus, yaitu kasih. Bagi Yohanes, kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Kepanikan dan ketakutan yang terjadi pada diri murid-murid disebabkan karena ketiadaan kasih dalam perahu itu. Namun ketika Tuhan Yesus naik ke dalam perahu itu, semuanya hilang. Yesus adalah ungkapan kasih Allah. Dia adalah Juruselamat.

Sering dalam kehidupan kita selalu kepanikan dan ketakutan. Sebagaimana yang dikatakan Yohanes, ketakutan dan juga kepanikan itu bisa muncul karena kita tidak mempunyai kasih. Karena itu, melalui sabda-Nya, Tuhan menghendaki kita untuk senantiasa menumbuhkan kasih dalam hidup. Kasih merupakan inti ajaran Tuhan Yesus. ia merupakan perintah utama bagi pengikut Kristus. Dengan kasih, kita dapat menghalau ketakutan dalam hidup, karena Allah ada di dalam kita.

by: adrian

Selasa, 06 Januari 2015

Renungan Hari Selasa sesudah Epifani, Thn B

Renungan Hari Selasa sesudah Epifani, Thn B/I
Bac I    1Yoh 4: 7 – 10; Injil              Mrk 6: 34 – 44;

Dalam bacaan pertama hari ini, Yohanes memaparkan apa yang dulu pernah diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada mereka, para murid-Nya, yaitu tentang kasih. Dalam suratnya yang pertama, Yohanes menegaskan bahwa kasih itu berasal dari Allah. Siapa saja yang hidup dalam kasih, maka ia berasal dari Allah; Allah ada di dalamnya. Umat dapat menghadirkan Allah dalam hidup dengan kasih. Karena itulah, Yohanes mengajak para pembacanya untuk hidup dalam kasih satu dengan yang lain, karena dengan demikian Allah hadir di tengah mereka.

Kasih, yang dikehendaki Tuhan, merupakan tindakan yang terarah kepada orang lain. Hal inilah yang mau dibangun Tuhan Yesus kepada para murid-Nya dalam Injil hari ini. Dikisahkan bahwa setelah mengajar orang banyak dan hari mulai malam, para murid meminta Tuhan Yesus menyuruh orang banyak itu pergi mencari makan di kampung-kampung terdekat. Akan tetapi, Tuhan Yesus justru meminta para murid-Nya untuk memberi mereka makan. “Kamu harus memberi mereka makan!” Demikian kata Yesus kepada para murid-Nya (ay. 37). Di sini Tuhan Yesus mau menumbuhkan rasa belas kasih pada para murid-Nya.

Sering dalam kehidupan kita selalu menghindari bila dituntut untuk peduli kepada sesama. Lebih ironis lagi, banyak dari kita, khususnya para imam, suka menasehati orang untuk hidup dalam kasih sementara kita sendiri sulit melakukannya. Tak jarang pula kita seperti para murid, memilih jalan pintas nan mudah supaya diri kita tak merasa direpotkan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk selalu menghidupi apa yang pernah diajarkan Tuhan Yesus. Tuhan menghendaki kita untuk menumbuhkan kepedulian kepada sesama kita yang membutuhkan bantuan. Kepedulian itu merupakan wujud kasih.

by: adrian

Senin, 05 Januari 2015

Renungan Hari Senin sesudah Epifani, Thn B

Renungan Hari Senin sesudah Epifani, Thn B/I
Bac I    1Yoh 3: 22 – 4: 6; Injil                     Mat 4: 12 – 17, 23 – 25;

Kemarin kita merayakan hari raya Epifani. Penampakan Tuhan kepada orang Majus menjadi tanda bahwa Tuhan Yesus hadir tidak hanya untuk bangsa Yahudi saja, melainkan juga terbuka untuk bangsa-bangsa lain. Injil hari ini kembali menegaskan hal itu. Karena takut akan Herodes, Yesus menyingkir dan berdiam di daerah Zebulon dan Naftali. Di sana juga Tuhan Yesus memberitakan kerajaan sorga. Yesus membawa terang dan menghalaukan kegelapan di sana. Yang menerima terang itu, tinggal dalamnya. Ini merupakan ungkapan percaya.

Hal itu ditegaskan juga oleh Yohanes dalam bacaan pertama. Dalam suratnya yang pertama, Yohanes mengungkapkan bahwa menerima Tuhan Yesus berarti percaya kepada-Nya; dan kalau kita percaya kepada-Nya maka kita akan menuruti perintah-Nya sehingga kita tinggal di dalam Dia. Perintahnya jelas, yaitu hidup saling mengasihi. Dengan saling mengasihi, maka Allah akan tinggal diam dalam kita. Terang Tuhan ada pada kita sehingga orang lain dapat melihat dan merasakannya.

Tuhan Yesus adalah terang dunia. Terang itu menghalau kegelapan dosa dari kehidupan umat manusia. kita dipanggil untuk menerima terang itu. Menerima berarti percaya dan bersedia melaksanakan perintah-Nya. Hari ini sabda Tuhan menghendaki kita untuk senantiasa menampilkan Terang Tuhan dalam kehidupan sehingga orang lain pun dapat menikmati terang itu. Menikmati merupakan langkah awal untuk menerima. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak berhenti menampilkan terang itu. Salah satu wujudnya adalah dengan hidup kasih, sebagaimana yang diajarkan Yesus Kristus.

by: adrian

Sabtu, 03 Januari 2015

Renungan Hari Sabtu Masa Natal II - B

Renungan Hari Sabtu Masa Natal II, Thn B/I
Bac I    1Yoh 2: 29 – 3: 6; Injil                     Yoh 1: 29 – 34;

Bacaan-bacaan liturgi hari ini masih melanjutkan bacaan liturgi kemarin. Bacaan pertama diambil dari Surat Yohanes yang Pertama. Dalam suratnya ini, Yohanes berbicara tentang dalam Yesus ada kebenaran. Yesus juga dilihat sebagai ungkapan Kasih Allah Bapa kepada umat manusia. Dua hal ini mengandung dua konsekuensi. Hal yang pertama mengandung konsekuensi bahwa siapa saja yang bertindak jujur dan berjuang menegakkan kebenaran lahir dari Tuhan Yesus. Sedangkan konsekuensi dari hal kedua adalah kita sebagai anak-anak Allah.

Injil hari ini menceritakan perjumpaan Yohanes Pembaptis dengan Tuhan Yesus. Yohanes memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Di samping itu juga Yohanes menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ini merupakan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus Kristus. Dan kesaksiannya ini adalah benar. Ini merujuk pada pengakuan Yohanes sebelumnya bahwa ia tidak berdusta. Karena itulah, apa yang dikatakannya tentang Tuhan Yesus merupakan sebuah kebenaran. Tentu Yohanes berharap supaya umat percaya pada kebenaran ini.

Sabda Tuhan hari ini berbicara tentang kebenaran iman. Melalui sabda-Nya Tuhan menyadarkan kita akan kebenaran iman yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Hari ini ada beberapa kebenaran iman. Yang pertama sekali adalah bahwa dalam Yesus ada kebenaran. Bagi siapa saja yang berbuat kebenaran lahir dari Tuhan Yesus sehingga kita juga menjadi anak-anak Allah. Inilah kebenaran iman yang kedua. Kita adalah anak Allah karena bertindak dalam kebenaran. Kebenaran itu ada dalam Yesus. Maka Yesus adalah Anak Allah. Inilah kebenaran iman ketiga. Di sini mau dikatakan bahwa mengakui kebenaran iman mengajak kita untuk hidup dalam kebenaran.

by: adrian

Jumat, 02 Januari 2015

Renungan Hari Jumat Masa Natal II - B

Renungan Hari Jumat Masa Natal II, Thn B/I
Bac I    1Yoh 2: 22 – 28; Injil                        Yoh 1: 19 – 28;

Hari ini bacaan-bacaan liturgi diambil dari tulisan Yohanes. Bacaan pertama diambil dari Surat Yohanes yang Pertama. Dalam suratnya ini, Yohanes berbicara tentang kemunculan anti-kristus. Bagi Yohanes, anti-kristus ini sama saja dengan pendusta. Mereka tidak mengakui Yesus sebagai Kristus, atau meragukan keallahan Yesus. Menyangkal Yesus sama artinya tidak mengakui kemahakuasaan Allah. Di sini mau ditekankan kesatuan antara Allah Bapa dengan Yesus sebagai Allah Putera. Dasarnya adalah bahwa Yesus itu merupakan Sabda Allah (Bapa) yang menjadi daging (Yoh 1: 14).

Jika dalam bacaan pertama ditampilkan pendusta akan Yesus Kristus, Injil justru sebaliknya. Injil hari ini menampilkan sosok Yohanes Pembaptis yang memperkenalkan Yesus Kristus. Tentang Yohanes Pembaptis ini dikatakan bahwa ia tidak dusta. Sekalipun terkesan hebat, Yohanes Pembaptis tidak menyatakan diri sebagai Mesias, justru sebaliknya dia datang untuk menyiapkan jalan bagi Sang Mesias.

Sabda Tuhan hari ini berbicara tentang dusta dan jujur dalam iman. Melalui sabda-Nya Tuhan menghendaki kita untuk senantiasa jujur dalam iman. Kejujuran dalam iman menyiratkan adanya sikap rendah hati, sebagaimana ditampilkan dalam sosok Yohanes Pembaptis. Hanya orang angkuh saja yang suka berdusta. Kejujuran menjadi salah satu pilar penting dalam membangun relasi, baik itu dengan Tuhan maupun dengan sesama. Oleh karena itu, Tuhan juga menghendaki supaya kita bersikap jujur dalam kehidupan ini.

by: adrian

Rabu, 31 Desember 2014

Renungan Oktaf Natal VII - B

Renungan Oktaf Natal VII, Thn B/I
Bac I    1Yoh 2: 18 – 21; Injil                        Yoh 1: 1 – 18;

Hari ini merupakan oktaf natal yang ketujuh. Hari ini bacaan-bacaan liturgi diambil dari tulisan Yohanes. Bacaan pertama diambil dari Surat Yohanes yang Pertama. Dalam suratnya ini, Yohanes berbicara tentang kemunculan anti-kristus. Yohanes menegaskan bahwa anti-kristus ini berasal dari dalam Gereja (jemaat) sendiri, dan mereka mewartakan dusta tentang Kristus. Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa apa yang mereka sampaikan adalah dusta, karena bagi Yohanes “tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.” (ay. 21). Di sini Yohanes mau mengatakan bahwa kebenaran hanya akan melahirkan kebenaran, sedangkan dusta melahirkan dusta. Dan bagi Yohanes, kebenaran itu ada dalam Kristus.

Kebenaran ada dalam Kristus ditekankan juga oleh Yohanes dalam Injilnya hari ini. Dalam Injil Yohanes coba memaparkan secara filosofis kehadiran Allah dalam diri Tuhan Yesus dan peran Yohanes Pembaptis. Dikatakan bahwa pada mulanya adalah Firman. Firman itu adalah Allah, dan Firman itu menjadi Manusia. Dialah Yesus Kristus. Menurut Yohanes, “kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” (ay. 17). Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Tuhan Yesus sudah melihat Allah dan mengenal-Nya. Tuhan Yesus sudah menyatakan Allah kepada manusia.

Anti-kristus sudah dinyatakan sejak dulu oleh Yohanes dalam suratnya. Bahkan Tuhan Yesus sendiri pernah mengungkapkan hal itu. Menarik untuk disimak bahwa anti-kristus itu muncul dari dalam Gereja sendiri. Mereka adalah orang yang meninggalkan Gereja dan kemudian menyerang Gereja. Ini dapat kita temui hingga saat ini. Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita akan keberadaan anti-kristus ini. Tujuannya supaya kita tidak disesatkan olehnya. Melalui sabda-Nya, Tuhan menghendaki agar kita tetap setia pada kebenaran iman yang telah diwariskan oleh para rasul dan para pengganti-pengganti mereka. Dan kebenaran itu hanya ada pada Kristus Yesus.

by: adrian

Selasa, 30 Desember 2014

Renungan Oktaf Natal VI - B

Renungan Oktaf Natal VI, Thn B/I
Bac I    1Yoh 2: 12 – 17; Injil                        Luk 2: 36 – 40;

Hari ini merupakan oktaf natal yang keenam. Hari ini bacaan pertama diambil dari Surat Yohanes yang Pertama. Di dalam suratnya ini, Yohanes menyampaikan nasehatnya kepada anak-anak, bapa-bapa (orang tua) dan anak-anak muda. Pertama-tama Yohanes mau menyadarkan mereka bahwa dosa mereka sudah diampuni oleh nama Yesus Kristus. Karena sudah ditebus, maka Yohanes meminta mereka untuk menjaga rahmat penebusan itu. Hal ini dapat dilakukan dengan hidup sesuai kehendak Allah, hidup dalam kasih-Nya dan senantiasa melakukan kebaikan dan kebenaran.

Apa yang disampaikan Yohanes dalam bacaan pertama, terlihat dalam diri Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, sebagaimana diwartakan Injil hari ini. Dalam Injil Hana digambarkan sebagai orang yang hidup menurut perintah dan kehendak Tuhan. Dikatakan bahwa Hana “tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.” (ay. 37).

Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita untuk selalu hidup mengikuti perintah dan kehendak-Nya. Hal ini sebagai ungkapan syukur dan tanggung jawab atas rahmat penebusan yang telah kita terima dari Tuhan Yesus. kita mendapat contoh teladan dalam diri Hana. Oleh karena itu, melalui sabda-Nya Tuhan menghendaki agar kita senantiasa hidup sesuai kehendak Allah, hidup dalam kasih-Nya dan senantiasa melakukan kebaikan dan kebenaran kepada sesama.

by: adrian

Senin, 29 Desember 2014

Renungan Oktaf Natal V - B

Renungan Oktaf Natal V, Thn B/I
Bac I    1Yoh 2: 3 – 11; Injil              Luk 2: 22 – 35;

Hari ini merupakan oktaf natal yang kelima. Bacaan pertama hari ini diambil dari Surat Yohanes yang Pertama. Dalam suratnya ini, Yohanes mengungkapkan bahwa ada kaitan antara mengenal Allah dengan mengikuti perintah Allah. Bagi Yohanes, orang yang mengenal Allah adalah juga yang melakukan perintah Allah. Tidak mungkin orang mengaku kenal akan Allah, namun tidak pernah menuruti perintah-Nya. Orang seperti ini, menurut Yohanes, tak ubahnya sebagai pendusta.

Apa yang diungkapkan Yohanes dalam bacaan pertama, terlihat dalam keluarga Maria dan Yosef, sebagaimana diwartakan Injil hari ini. Dalam Injil dikisahkan bahwa keluarga Yosef dan Maria menyerahkan Bayi mereka, yaitu Tuhan Yesus, kepada Allah sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan kata lain, mereka menuruti perintah Tuhan. Maka bisa dikatakan kalau keluarga ini mengenal Tuhan. Hal yang sama terjadi dengan Simeon. Ia hidup mengikuti perintah Tuhan, sehingga ia benar-benar mengenal Tuhan yang datang ke Bait Allah, dan ia berkesempatan melihat-Nya.

Sabda Tuhan hari ini mau menegaskan kepada kita tentang adanya kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Tak sedikit orang mengaku mengenal Tuhan. Akan tetapi, perilaku hidupnya tidak mencerminkan pengenalannya akan Tuhan. Hidupnya tidak sesuai dengan perintah Tuhan. Inilah yang dikehendaki Tuhan melalui sabda-Nya. Tuhan meminta kita supaya pengenalan kita akan Tuhan diwujudkan juga dalam tindakan nyata berupa mengikuti perintah-Nya.

by: adrian

Sabtu, 27 Desember 2014

Renungan Oktaf Natal III - B

Renungan Oktaf Natal III, Thn B/I
Bac I    1Yoh 1: 1 – 4; Injil                Yoh 20: 2 – 8;

Hari ini merupakan oktaf natal yang ketiga. Dalam oktaf natal ketiga ini Gereja Universal mengajak kita mengenangkan Santo Yohanes, yang dikenal sebagai rasul dan pengarang Injil (termasuk surat). Oleh karena itu, bacaan-bacaan liturgi hari ini mengambil dari tulisan-tulisan Yohanes. Bacaan pertama diambil dari Surat Yohanes yang Pertama. Di sini Yohanes menyatakan bahwa apa yang diwartakan dalam tulisan itu merupakan hasil dari pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus, yang disebutnya sebagai Firman Hidup. Dengan tulisan itu, Yohanes berharap supaya pembacanya mau masuk dalam persekutuan Kristus sehingga turut juga merasakan sukacita.

Injil hari ini mengambil kisah kebangkitan Tuhan Yesus. Dikisahkan bahwa setelah menerima warta gembira dari beberapa perempuan, dua murid yang menerima berita itu, yaitu Petrus dan murid yang dikasihi Tuhan Yesus, bergegas menuju kubur Yesus. Jika Petrus hanya melihat fakta lahiriah, murid yang lain melihat fakta imani. Dikatakan bahwa setelah melihat semuanya itu (sebagaimana yang dilihat Petrus), ia menjadi percaya. Baik Petrus maupun murid yang dikasihi sama-sama melihat benda yang sama. Akan tetapi, Petrus berhenti pada apa yang dilihatnya, sedangkan murid yang dikasihi itu sampai pada tingkat iman. Murid yang lain yang dikasihi Yesus ini, oleh beberapa ahli, diyakini sebagai Yohanes.

Ada dua topik yang ingin disampaikan Tuhan melalui sabda-Nya hari ini. Kedua topik itu adalah percaya dan sukacita. Tuhan menghendaki supaya kita menanamkan sikap percaya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Yohanes dalam Injil hari ini. Yohanes tidak hanya berhenti pada apa yang ia lihat, melainkan sampai pada ke kedalaman iman, yaitu percaya. Dan percaya ini juga yang mau disampaikannya melalui suratnya. Pesan sabda Tuhan ini dapat kita terapkan dalam situasi kegembiraan natal ini. Mata kita masih selalu tertuju pada kandang natal. Hendaklah kita jangan hanya melihat patung-patung kanak-kanak Yesus, Maria, Yosef, para gembala dan hewan gembalaan mereka serta para majus dengan segala gemerlapannya, melainkan sampai pada permenungan akan cinta Tuhan kepada kita.

by: adrian

Jumat, 26 Desember 2014

Renungan Oktaf Natal II - B

Renungan Oktaf Natal II, Thn B/I

Hari ini merupakan oktaf natal yang kedua. Dalam oktaf natal kedua ini kita diajak mengenangkan Santo Stefanus, yang mati sebagai martir pertama dalam Gereja Katolik. Bacaan pertama secara khusus menyajikan peristiwa kematian Santo Stefanus ini. Ia mati demi membela imannya akan Kristus. Berawal dari karya Stefanus bagi banyak orang dan perdebatannya dengan orang-orang Yahudi. Karena tidak bisa mengalahkannya, mereka marah dan akhirnya membunuh Stefanus. Berhadapan dengan mereka, Stefanus sama sekali tidak gentar atau takut.

Apa yang dialami Stefanus sebenarnya sudah disabdakan oleh Yesus. Pengalaman Stefanus dalam bacaan pertama tidak jauh berbeda dengan nubuat yang disampaikan Tuhan Yesus. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengatakan bahwa kelak para murid-Nya akan digiring menghadap orang-orang yang menentang-Nya, tapi Tuhan akan menyertai mereka, termasuk karunia berkata-kata. Tuhan Yesus juga menyampaikan bahwa karena nama-Nya, para murid akan dibenci dan dibunuh. Karena ini, kata-kata Tuhan Yesus ini terpenuhi dalam diri Stefanus, yang hari ini kita peringati.

Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa sabda Yesus tentang nasib para murid-Nya menjadi kenyataan. Para murid Yesus akan mengalami penderitaan karena imannya pada Yesus Kristus. Mereka akan dibenci, dimusuhi, dihina, dianiaya, bahkan dibunuh. Kebenaran sabda Yesus ini terlihat dalam diri Santo Stefanus, yang peringatannya kita rayakan hari ini. Kata-kata Yesus ini masih terbukti hingga kini. Masih banyak murid Yesus, yang karena iman pada Kristus, menderita aniaya, hinaan bahkan dibunuh. Melalui sabda-Nya ini Tuhan Yesus meminta kita untuk tidak takut dan cemas. Kita dapat meneladani Santo Stefanus dalam menghadapi tantangan. Ia berani mati demi imannya pada Kristus. Ada banyak juga saksi iman yang demikian. Bagaimana dengan kita?

by: adrian

Rabu, 24 Desember 2014

Renungan Hari Rabu Adven IV - B

Renungan Hari Rabu Adven IV, Thn B/I
Bac I    2Sam 7: 1 – 5; 8b – 12, 16; Injil                 Luk 1: 67 – 79;

Sabda Tuhan hari ini mau berbicara tentang Allah yang mahakuasa. Kemahakuasaan Allah terlihat dalam segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Samuel yang kedua, Allah menegaskan kekuasaan Allah di hadapan Raja Daud melalui mulut Nabi Natan. Dalam bacaan pertama terlihat bahwa Daud, yang sudah berkuasa, ingin mendirikan rumah Tuhan. Ada kesan bahwa Allah mau diatur oleh Daud. Karena itulah, Allah kembali menegaskan bahwa Dia-lah yang berkuasa. Kekuasaan itu terlihat dari kehendak-Nya dalam mengatur kehidupan. Allah sendirilah yang akan menentukan siapa yang akan mendirikan rumah bagi-Nya.

Allah yang mahakuasa kembali terlihat dalam Injil hari ini. Injil menceritakan tentang pujian Zakaria atas peristiwa kelahiran puteranya, Yohanes Pembaptis. Dalam pujiannya itu, Zakaria mengungkapkan kemahakuasaan Allah, yang telah menumbuhkan tanduk keselamatan bagi umat manusia. Tanduk keselamatan itu merupakan janji keselamatan Allah, yang telah dinyatakan Allah kepada leluhur manusia. dan salah satu bukti pemenuhan janji Allah itu adalah puteranya sendiri, yang dinilai Zakaria, akan menjadi nabi Allah yang mahatinggi dan akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan bagi-Nya (ay. 76).

Tuhan adalah Allah yang mahakuasa. Inilah yang hendak disampaikan Tuhan melalui sabda-Nya. Tuhan mau menyadarkan kita bahwa kekuasaan Allah bukan untuk menakut-nakuti umat manusia, melainkan untuk menyelamatkannya. Allah ingin menyelamatkan manusia dengan turun sendiri ke dunia. Ini bisa terjadi karena Dia adalah mahakuasa. Kemahakuasaan Allah membuat Dia dapat melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Kita tidak dapat mengatur-atur Dia sesuka hati kita. Sebaiknya kita mengambil sikap seperti Zakaria, yang melambungkan madah pujian dan kemuliaan kepada Allah yang mahakuasa.


by: adrian

Selasa, 23 Desember 2014

Renungan Hari Selasa Adven IV - B

Renungan Hari Selasa Adven IV, Thn B/I
Bac I    Mal 3: 1 – 4; 4: 5 – 6; Injil               Luk 1: 57 – 66;

Injil hari ini, yang merupakan kelanjutan dari Injil kemarin, berkisah tentang kelahiran Yohanes Pembaptis. Kelahiran Yohanes Pembaptis mendatangkan sukacita, bukan saja bagi keluarga Zakaria dan Elisabeth, melainkan juga warga kampung. Mereka melihat rahmat Allah dalam peristiwa itu. Kuasa Allah kembali mereka lihat dalam peristiwa penamaan anak yang baru dilahirkan Elisabeth. Mereka sungguh melihat bahwa “Tangan Tuhan menyertai dia.” (ay. 66). Di sini mau ditunjukkan bahwa memang Yohanes Pembaptis merupakan bagian dari rencana karya keselamatan Allah. Kehadirannya sudah diramalkan.

Ramalan akan kehadiran Yohanes Pembaptis dapat ditemui dalam bacaan pertama hari ini. Dalam Kitab Maleakhi, yang menjadi bacaan pertama, diungkapkan bahwa Tuhan akan mengutus utusan-Nya untuk mendahului-Nya. Utusan ini akan menyiapkan jalan bagi umat di hadapan Tuhan. Utusan ini akan terlebih dahulu memurnikan umat dari dosa-dosa mereka melalui pertobatan. Jadi, apa yang diungkapkan Tuhan melalui mulut Nabi Maleakhi, merupakan nubuat akan kehadiran Yohanes Pembaptis yang mendahului Tuhan Yesus.

Dapatlah dikatakan bahwa Injil hari ini merupakan pemenuhan nubuat Nabi Maleakhi, dalam bacaan pertama. Yohanes Pembaptis hadir lebih dahulu. Ia datang untuk menyiapkan umat bagi kedatangan Tuhan Yesus. Seruan Yohanes Pembaptis menjadi santer terdengar di saat kita menyiapkan diri menyambut pesta kelahiran Tuhan Yesus. Kita juga diajak untuk mempersiapkan diri dan hati kita bagi kedatangan Tuhan. Salah satu persiapan itu adalah dengan pertobatan. Tobat merupakan bentuk pemurnian hati sehingga Tuhan Yesus menjadi pantas datang bersemayam dalam hati kita.

by: adrian

Senin, 22 Desember 2014

Renungan Hari Senin Adven IV - B

Renungan Hari Senin Adven IV, Thn B/I
Bac I    1Sam 1: 24 – 28; Injil          Luk 1: 46 – 56;

Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan bahwa segala pujian hanya kepada Tuhan Allah. Dalam Injil hari ini, pujian itu diberikan oleh Maria. Setelah menerima warta gembira dari Malaikat Tuhan bahwa ia akan menjadi sarana bagi Allah untuk hadir di dunia, Maria mengunjungi Elisabeth. Secara tidak langsung, Maria ingin membuktikan kata-kata Malaikat Gabriel kepadanya. Dalam kunjungan itu, Maria mendapat pujian dari sanaknya itu. Namun Maria mengembalikan semuanya itu kepada Tuhan. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah.” (ay. 46 – 47).

Apa yang dilakukan Maria, mirip dengan apa yang dilakukan ibunda Samuel. Setelah melahirkan dan menyapih anaknya, ia menyerahkan anaknya itu kepada Tuhan diiringi dengan pujian dan sembah. Ibu ini sadar betul bahwa anak yang dilahirkan itu bukan semata-mata usaha manusiawi semata, melainkan karunia Allah. Untuk mendapatkan anak itu, ia musti berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan telah mengabulkan permintaannya. Karena itu, setelah disapih, ibu itu membawa persembahan kepada Tuhan, dan salah satu persembahan itu adalah puteranya sendiri.

Ada banyak dari kita menerima rahmat dan berkat dari Tuhan. Ketika kita membutuhkan sesuatu, kita datang dan berdoa kepada Tuhan. Tak sedikit doa-doa kita dikabulkan oleh Tuhan. Namun pernahkah kita menghaturkan syukur dan terima kasih atas karunia-Nya itu? Kita justru sering melupakan Tuhan. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan senantiasa mendengarkan doa-doa permohonan kita. Tak jarang juga kita selalu menerima berkat-Nya. Melalui sabda-Nya ini, Tuhan menghendaki kita untuk tidak melupakan kebaikan Tuhan kepada kita. Hendaknya kita selalu menghaturkan terima kasih kepadanya dengan memadahkan puji dan kemuliaan.

by: adrian

Sabtu, 20 Desember 2014

Renungan Hari Sabtu Adven III - B

Renungan Hari Sabtu Adven III, Thn B/I
Bac I    Yes 7: 10 – 14; Injil              Luk 1: 26 – 38;

Sabda Tuhan hari ini masih memiliki kaitan dengan tema sabda Tuhan kemarin, yaitu tentang pada Tuhan tidak ada yang mustahil. Ketiadaan yang mustahil ini didasarkan pada Allah yang Mahakuasa. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya, diungkapkan nubuat Tuhan melalui Nabi Yesaya berkaitan dengan kedatangan Mesias. Ada kesan bahwa manusia sering meragukan Tuhan. Karena itu, Nabi Yesaya menyampaikan nubuat Allah bahwa “seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia immanuel.” (ay. 14) Nubuat ini sebagai tanda kemahakuasaan Allah.

Injil hari ini sepertinya memiliki keterkaitan erat dengan bacaan pertama. Perempuan muda yang dimaksud Yesaya dalam bacaan pertama adalah Maria. Itulah yang ingin dikatakan Lukas dalam Injilnya. Dalam perjumpaan Malaikat Gabriel dan Maria, Malaikat Gabriel menyampaikan bahwa Maria akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia harus menamai Dia Yesus (ay. 31). Dengan kata lain, Maria yang hamil dan melahirkan anak laki-laki, adalah pemenuhan nubuat Nabi Yesaya.

Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa nubuat Nabi Yesaya tentang perempuan muda yang akan melahirkan juruselamat terpenuhi dalam diri Maria. Karena itu, bisalah dikatakan bahwa Maria merupakan bagian inti dari rencana keselamatan Allah. Melalui Maria Allah hadir membawa keselamatan bagi umat manusia. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnya jika kita menghaturkan rasa hormat juga kepada Maria. Dan inilah yang dikehendaki Tuhan melalui sabda-Nya. Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa menaruh hormat kepada Maria, karena dia adalah bagian inti dari rencana keselamatan Allah. Menghormati Maria berarti juga kita menghormati Allah. Bukan lantas berarti kita menyamakan Maria dengan Allah. Kita menghormati Maria karena kesediaannya memberi diri bagi rencana keselamatan Allah.

by: adrian

Jumat, 19 Desember 2014

Renungan Hari Jumat Adven III - B

Renungan Hari Jumat Adven III, Thn B/I
Bac I    Hak 13: 2 – 7, 24 – 25; Injil             Luk 1: 5 – 25;

Sabda Tuhan hari ini memiliki persamaan, yaitu sama-sama berkisah tentang keluarga yang mendapatkan anak/keturunan. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Hakim-hakim berkisah tentang kehamilan pasangan tua Manoah dan istrinya. Dikatakan bahwa istrinya itu mandul. Namun dari mereka lahirlah Simson yang akan tampil sebagai hakim bagi bangsa Israel, yang akan memimpin mereka kepada Allah. Sangat menarik bahwa istri Manoah diminta untuk menjaga dirinya dari segala hal-hal yang buruk selama masa kehamilannya.

Peristiwa yang mirip dengan kelahiran Simson terlihat lagi dalam Injil. Hari ini Injil mengisahkan mengenai kehadiran keturunan dalam sebuah pasangan tua Zakaria dan Elisabeth. Sama seperti istrinya Manoah, Elisabeth juga dikatakan mandul. Namun dari mereka ini lahir Yohanes Pembaptis, yang “akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan.” (ay. 16). Jadi, sekalipun di mata manusia mereka tak mungkin lagi mendapat keturunan, namun tidak bagi Allah. Karena bagi Allah tidak ada yang mustahil sebab Allah adalah Mahakuasa.

Kemarin sabda Tuhan menyinggung kemahakuasaan Allah yang hadir di dunia dengan cara manusia. Banyak orang melihat dengan cara pandang manusia sehingga mereka menilai itu tidak mungkin terjadi. Banyak manusia meragukan kemahakuasaan Allah karena ia memakai kacamata duniawi. Hari ini sabda Tuhan kembali mau membahas topik tersebut dengan menghadirkan kisah dua pasangan suami isteri tua dan mandul, yaitu Manoah dan isterinya, serta Zakaria dan Elisabeth, isterinya. Dalam kacamata manusia, tak mungkin mereka mendapat keturunan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di sini Tuhan mau menyatakan kepada kita bahwa jangan pernah meragukan kemahakuasaan Allah. Iman akan Allah yang Mahakuasa musti diteguhkan. Iman ini sebagai bekal persiapan kita menyambut peristiwa kelahiran Tuhan Yesus.

by: adrian