Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian Thn I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian Thn I. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 September 2025

RENUNGAN HARI SELASA BIASA XXVI, THN I

Renungan Hari Selasa Biasa XXVI, Thn I

Bac I Za 8: 20 – 23; Injil           Luk 9: 51 – 56;

Bacaan liturgi hari ini menampilkan dua pertentangan sikap. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Nubuat Zakaria, ditampilkan sikap terbuka dari orang-orang bukan Yahudi yang menerima dan mengakui keallahan Yahwe. Dikatakan bahwa mereka akan “datang mencari Tuhan semesta alam di Yerusalem” (ay. 22). Bagi mereka Tuhannya banga Yahudi adalah Allah yang menyertai umat-Nya.

Sikap orang-orang bukan Yahudi ini bertentangan dengan orang Samaria dalam bacaan Injil. Diceritakan bahwa orang-orang Samaria tidak mau menerima Yesus, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem (ay. 53). Padahal Samaria masih termasuk golongan Yahudi. Di sini orang Samaria tidak hanya menolak keallahan Yesus, tetapi juga tidak mau mengakui Tuhan yang ada di Yerusalem. Mereka tidak tahu kalau Yesus Adalah Immanuel, Allah beserta kita.

Tentulah lewat tampilan dua pertentangan sikap di atas, lewat sabda-Nya Tuhan mau mengajak kita mengambil sikap terbuka seperti orang-orang yang diwartakan dalam bacaan pertama. Sabda Tuhan ini hendak menyadarkan kita bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan bagi umat bangsa lain juga, tidak hanya spesifik untuk kelompok kita saja. Allah itu satu untuk semua orang. Dan karena Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka Yesus juga tidak hanya dikhususkan untuk orang Kristen saja. Kita harus bersyukur jika ada orang lain yang menerima dan mengakui keallahan Yesus

by: adrian 

Selasa, 16 September 2025

RENUNGAN HARI SELASA BIASA XXIV, THN I

Renungan Hari Selasa Biasa XXIV, Thn I

Bac I 1Tim 3: 1 – 13; Injil        Luk 7: 11 – 17;

Mother Theresia dari Kalkuta pernah mengatakan bahwa salah satu penyakit terbesar abad ini bukanlah HIV/AIDS, kanker atau jantung, melainkan ketidak-peduliaan. Manusia hanya sibuk dengan dirinya atau kelompoknya sendiri dan tidak mau peduli pada nasib penderitaan sesamanya. Masing-masing orang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Korupsi yang merajalela mempunyai akar pada ketidak-pedulian. Koruptor adalah orang yang menari di atas penderitaan orang lain. Banyak kekacauan di dunia ini juga berakar pada ketidak-pedulian.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyingkirkan semangat egoisme dan membangun semangat peduli pada orang lain. Tuhan menghendaki kita peduli pada sesama, karena Allah itu adalah Allah yang peduli. Hal ini tampak dalam Injil hari ini. Ketika melihat ibu yang kehilangan anaknya laki-laki yang tunggal, dikatakan “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” sehingga kemudian Tuhan Yesus berkata, “Jangan menangis!” (ay. 13). Lalu terjadilah mukjizat. Rasul Paulus juga, dalam bacaan pertama, memberi tekanan pada kepedulian. Suratnya yang pertama kepada Timotius memang dialamatkan kepada para pemuka jemaat, namun pesannya bisa juga untuk umat biasa. Secara sederhana beberapa nasehat Paulus tersebut mengarah pada pembentukan sikap peduli pada orang lain. Paulus minta agar pemuka umat lebih berorientasi pada jemaat, ketimbang diri sendiri.

Oleh karena itu, lewat sabda-Nya hari ini, Tuhan menghendaki supaya kita berani menyingkirkan sikap hanya mementingkan kepentingan diri sendiri atau kelompok. Tuhan mau agar kita membangun sikap peduli pada orang lain yang memang membutuhkan bantuan. Janganlan kita menegarkan hati kita akan penderitaan sesama. Hendaklah kita mau berbagi dari apa yang kita punya untuk meringankan penderitaan sesama.

by: adrian

Rabu, 23 Juli 2025

RENUNGAN HARI RABU BIASA, THN I

Renungan Hari Rabu Biasa, Thn I

Bac I Kel 16: 1 – 5, 9 – 15; Injil        Mat 13: 1 – 9;

Tuhan Yesus, dalam Injil hari ini, menyampaikan pengajaran lewat perumpamaan penabur, yang menaburkan benihnya. Ada empat jenis tanah dimana benih itu jatuh. Yang menariknya adalah Yesus menutup pengajarannya dengan berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (ay. 9). Ini sebuah perintah. Dalam perintah itu tampak jelas makna perumpamaannya, yaitu bahwa realitas tanah bukanlah kenyataan statis, melainkan dinamis. Ia berhubungan dengan sikap keterbukaan dan kerendahan hati untuk mendengarkan. Kerelaan dan keterbukaan untuk mendengar kehendak Allah dan setia melaksanakannya, itulah gambaran tanah yang subur.

Gambaran yang berbeda dijumpai dalam diri orang Israel. Dalam bacaan pertama, diceritakan bagaimana bangsa ini bersungut-sungut (ay. 2). Mereka ingin kembali ke masa lampau (ay. 3), yang sekalipun tertindas tapi masih terasa enak. Sederhananya, enak tapi sengsara. Ini adalah gambaran dosa. Dosa itu memang menarik dan enak (bdk. kisah kejatuhan manusia pertama), tapi mendatangkan maut. Keluar dari Mesir merupakan simbolisasi keluar dari dosa, menjadi manusia yang merdeka. Namun sayangnya, umat Israel tertutup telinga hatinya. Mereka bukan saja tidak mendengar kehendak Allah, tetapi juga tak dapat melaksanakan kehendak-Nya. Bangsa Israel mirip seperti gambaran tanah di pinggiran jalan, atau tanah berbatu-batu atau tanah bersemak duri. Akan tetapi, meskipun demikian Allah tetap peduli kepada mereka (ay. 4-5).

Telinga adalah indra pendengaran. Ia berguna untuk mendengar. Dari pendengaran kita mendapatkan sesuatu yang baik dan berguna bagi kehidupan. Dari aktivitas mendengar akan menggerakkan kehendak dan kemauan untuk melakukan apa yang didengar. Jadi, mendengar melahirkan kehendak, dan kehendak menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna bagi kita. Semua itu tergantung pada sikap keterbukaan dan kerendah-hatian kita untuk mendengar. Tanpa itu, dengan kata lain, ketertutupan hati, membuat kita tidak bisa berkembang.

by: adrian 

Selasa, 04 Maret 2025

RENUNGAN HARI SELASA BIASA VIII, THN I

Renungan Hari Selasa Biasa VIII – Thn I

Bac I           Sir 35: 1 – 12; Injil                   Mrk 10: 28 – 31

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: ……” (ay 29 – 30). Di sini Tuhan Yesus mau meneguhkan para murid-Nya untuk tidak ragu mengikuti Dia dan mewartakan Injil. Siapa yang percaya dan setia, pasti akan menerima kelimpahan berkat dan pasti memperoleh hidup kekal. Tuhan tidak akan ingkar janji. Dia akan membalas.

Apa yang diwartakan Injil, yaitu bahwa Tuhan akan membalas, tampak juga dalam warta bacaan pertama yang diambil dari Kitab Putra Sirakh. Dalam kitabnya penulis menulis, “Dia itu Tuhan pembalas, dan engkau akan dibalas-Nya dengan tujuh lipat.” Kalau dalam Injil seratus lipat, Kitab Putra Sirakh tujuh lipat. Soal angka memang beda, namun intinya sama, yaitu kepenuhan. Segala kebaikan yang dilakukan akan dibalas Tuhan dengan kelimpahan berkat. Karena itu sama seperti dalam Injil, dalam Kitab Putra Sirakh juga penulis mau meneguhkan para pembacanya untuk tidak ragu memenuhi hukum Taurat (ay 1), berbuat baik (ay 2), menjauhi kejahatan dan menolak kelaliman (ay 3). Siapa yang setia melaksanakannya akan dibalas Tuhan dengan berkat dan Rahmat-Nya.

Sering dalam kehidupan motivasi kebaikan yang dilakukan adalah untuk mendapatkan berkat Tuhan. Karena itu, ketika berkat Tuhan tak kunjung datang, sekalipun kebaikan demi kebaikan sudah dilakukan, maka kita menjadi patah semangat. Tak jarang juga di antara kita memilih percaya Tuhan tidur atau mungkin Tuhan tidak ada. Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini mau meyakinkan kita bahwa Tuhan setia pada janji-Nya. Tuhan akan membalas setiap kebaikan yang telah kita lakukan, karena Dia adalah Tuhan pembalas. Karena itu, jangan takut berkorban, dan jangan ragu pada janji Tuhan. Teruslah mengikuti Dia dengan berbuat kebaikan. Percayalah, Tuhan menjamin dan menepati janji-Nya.

by: adrian 

Senin, 03 Maret 2025

RENUNGAN HARI SENIN BIASA VIII, THN I

Renungan Hari Senin Biasa VIII – Thn I

Bac I           Sir 17: 24 – 29; Injil                 Mrk 10: 17 – 27

Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini mau mengajak kita untuk memiliki sikap lepas bebas terhadap kelekatan-kelekatan yang dapat menghalangi kita masuk ke dalam kebahagiaan kekal. Kebahagiaan kekal itu disamakan dengan kebersatuan kita dengan Sang Pencipta. Dalam bacaan pertama, penulis Kitab Putra Sirakh mengatakan bahwa penghalang kita untuk bisa mendapatkan hidup kekal adalah dosa. Namun penulis juga mengingatkan bahwa Tuhan selalu membuka pintu tobat bagi mereka yang menyesal (ay 24) dan berpaling kepada Tuhan, karena belas kasih dan pengampunan Tuhan itu besar (ay 29). Namun tidak berhenti di situ saja. Penulis Kitab Putra Sirakh menegaskan supaya kita berani melepaskan dosa (ay 25).

Sikap lepas bebas juga dituntut oleh Tuhan Yesus. Dalam Injil terlihat jelas dalam diri orang kaya yang menghadap Yesus, yang ingin petunjuk untuk memperoleh hidup yang kekal. Dari kisah tersebut dapat dikatakan ada yang menghalangi orang muda yang kaya itu untuk mendapatkan hidup yang kekal. Penghalang itu adalah harta kekayaannya. Tuhan Yesus meminta dia untuk lepas bebas dari kekayaannya dengan menjual semuanya itu dan membaginya kepada orang miskin sehingga dia mendapatkan harta di surga (ay 21). Dikatakan bahwa orang muda itu kecewa dan pergi dengan sedih (ay 22). Artinya, orang muda itu tidak bisa lepas bebas dari kekayaannya.

Hidup kekal adalah dambaan bagi setiap manusia. Sorga merupakan tujuan akhir ziarah hidup manusia. Di sanalah manusia mendapatkan hidup kekal. Akan tetapi, setan menciptakan halangan bagi manusia untuk memperoleh hidup yang kekal tadi. Dengan kata lain, setan tidak mau manusia masuk sorga; setan ingin manusia ke neraka. Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini menampilkan 2 penghalang bagi manusia untuk mendapatkan hidup kekal, yaitu dosa dan kekayaan. Kelekatan pada kedua penghalang inilah yang menghambat manusia masuk sorga. Perlu diketahui memiliki kekayaan bukan berarti dosa, tapi ia bisa menjadi penghalang ketika manusia melekat padanya. Untuk bisa mendapatkan hidup yang kekal, maka manusia harus bersikap lepas bebas dari kedua penghalang tadi. Manusia harus melepaskan dosa dan berpaling pada Tuhan. Manusia harus berani melepaskan kelekatannya pada harta kekayaan dan mengikuti Tuhan.

by: adrian 

Sabtu, 01 Maret 2025

RENUNGAN HARI SABTU BIASA VII, THN I

Renungan Hari Sabtu Biasa VII – Thn I

Bac I           Sir 17: 1 – 15; Injil                   Mrk 10: 13 – 16

Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini mau mengatakan kepada kita betapa manusia itu luhur mulia. Hal ini sangat kental disuarakan penulis Kitab Putra Sirakh. Berangkat dari kisah penciptaan (Kej 1: 26 – 30; 2: 5 – 7) penulis kembali menyuarakan kemuliaan manusia dengan gaya bahasanya sendiri. Dapatlah dikatakan kemuliaan dan keluhuran manusia itu terletak pada gambaran Allah. Memang awalnya dikatakan manusia diciptakan Tuhan dari tanah (ay 1), yang mau menunjukkan kerapuhannya, tetapi penulis menegaskan bahwa menurut gambar Allah dijadikan-Nya manusia itu (ay 3). Tidak hanya itu, dikatakan bahwa Allah “menanamkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia” (ay 8). Jadi, poin penting yang mau disampaikan penulis Kitab Putra Sirakh di sini adalah bahwa manusia itu luhur mulia sehingga pantas untuk dihormati dan dihargai.

Kemanusiaan itu tidak dibatasi oleh sekat gender, suku, status sosial atau juga usia. Inilah yang mau disampaikan lewat tindakan Tuhan Yesus yang memarahi para murid-Nya yang mencegah anak-anak datang kepada-Nya (ay 13). Para murid tidak dapat melihat kemuliaan dan keluhuran martabat manusia dalam diri anak-anak. Akan tetapi, Yesus menegaskan kepada mereka bahwa mereka “itulah yang empunya Kerajaan Allah” (ay 14). Jadi, sekali pun anak-anak, yang dalam budaya tidak terhitung dalam status masyarakat, mereka tetaplah manusia yang perlu dihormati dan dihargai.

Dalam kehidupan terkadang kita sering menilai manusia menurut cara pandang kita. Kita membuat klasifikasi manusia berdasarkan ukuran kita. Karena itu terciptalah sekat-sekat pemisah di antara manusia. Penghormatan atas pribadi manusia didasarkan pada stratanya. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat manusia dengan tolok ukur Allah. Setiap manusia harus dihormati dan dihargai bukan karena status sosialnya, bukan pula karena agama atau sukunya, atau apapun, melainkan karena kemanusiaannya. Setiap manusia adalah gambaran Allah. Ada keilahian dalam diri manusia. Inilah dasar kenapa Gereja Katolik menentang hukuman mati dan aborsi. Sekalipun manusia itu super jahat, dia tetaplah manusia. Kejahatan hanya mengaburkan keilahian yang ada dalam diri manusia itu. Ibarat mendung yang menutup cahaya matahari. Di balik mendung itu, matahari tetaplah bersinar.

by: adrian 

Jumat, 28 Februari 2025

RENUNGAN HARI JUMAT BIASA VII, THN I

Renungan Hari Jumat Biasa VII – Thn I

Bac I           Sir 6: 5 – 17; Injil           Mrk 10: 1 – 12

Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini mengangkat tema relationship, hubungan antar manusia. Tak bisa dipungkiri, sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain sebagai rekan relasinya. Kitab Putra Sirakh, dalam bacaan pertama, menyebut ada 2 tipe rekan relasi itu, yaitu sahabat semu (ay 8 – 12) dan sahabat setiawan (ay 14 – 16). Dalam persahabatan semu, relasi bisa rusak karena pihak luar karena persahabatan itu tidak dilandasi oleh motivasi murni. Dalam persahabatan semu ada kepentingan untuk kepuasan diri. Sedangkan sahabat setiawan dilandasi sikap takut akan Tuhan. Dengan kata lain, dalam persahabatan ini Tuhan diikut-sertakan dalam relasi itu.

Bacaan Injil menyorot relasi suami istri. Ini berawal dari pertanyaan orang Farisi untuk mencobai Yesus, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya.” (ay 2). Dapatlah dikatakan bahwa mengacu pada apa yang diwartakan penulis Kitab Putra Sirakh, Tuhan Yesus memberikan jawaban-Nya. Gambaran sahabat semu dalam Kitab Putra Sirakh itu disamakan dengan rusaknya relasi suami istri, yang berujung pada perceraian. Yesus mengatakan itu karena ketegaran hati (ay 5) sehingga Musa mengeluarkan surat cerai. Yesus memberikan gambaran relasi suami istri yang ideal sebagaimana sahabat setiawan. Relasi yang ideal itu melibatkan Tuhan (ay 6) sehingga “apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia.” (ay 9).

Manusia adalah makhluk sosial. Kesosialannya menuntut ia untuk bergaul dan menjalin relasi dengan sesama, baik sebagai sahabat maupun sebagai pasangan hidup. Tentulah kita menghendaki agar relasi yang dibangun dapat bermanfaat bukan saja bagi yang menjalin relasi melainkan juga bagi kehidupan manusia. Lewat sabda-Nya hari ini Tuhan menghendaki agar dalam setiap relasi kita, baik sebagai sahabat maupun sebagai pasangan hidup, Tuhan harus selalu diikut-sertakan. Kehadiran Tuhan dalam relasi kita membuat kita mampu memelihara relasi kita dengan lurus hati.

by: adrian 

Kamis, 27 Februari 2025

RENUNGAN HARI KAMIS BIASA VII, THN I

Renungan Hari Kamis Biasa VII – Thn I

Bac I           Sir 5: 1 – 8; Injil             Mrk 9: 41 – 50

Sering dalam kehidupan kita mendengar pernyataan orang bahwa karena Tuhan itu maharahim, maka tak perlu takut berdosa. Keyakinan itu membuat manusia suka sekali jatuh ke dalam dosa. Bukan tidak mungkin kita pun berpikiran demikian. Hal ini sebenarnya sudah diungkap oleh penulis Kitab Putra Sirakh. Bukan berarti penulis membenarkan perbuatan dosa atau mengamini tindakan dosa. “Jangan menyangka pengampunan terjamin, sehingga engkau menimbun dosa demi dosa.” (ay 5). Memang pada Tuhan ada belas kasih dan pengampunan, namun penulis mau mengajak kita untuk sesegera mungkin bertobat dari dosa dan kesalahan.

Permintaan penulis Kitab Putra Sirakh kembali dipertegas oleh Tuhan Yesus dalam Injil hari ini. Bahkan tuntutan Yesus lebih radikal. Tuhan Yesus mau supaya manusia tidak berbuat dosa, sekalipun Allah itu maharahim dan penuh belas kasihan. Karena itulah, apabila ada salah satu anggota tubuh menyesatkan tubuh, maka lebih baik anggota itu dibuang. Jangan sampai hanya nila setitik, rusak susu sebelanga. Jika susu sebelanga rusak, maka ia tidak bisa dinikmati lagi, kecuali dibuang.

Dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini, pesan sabda Tuhan kiranya jelas. Tuhan menghendaki supaya dalam kehidupan kita senantiasa menghindari dosa. Dengan perkataan lain, Tuhan mau agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Memang untuk menghindari dari dosa bukanlah perkara mudah. Dosa itu menggoda, dan godaan itu selalu menarik dan enak, sesuatu yang disukai manusia. Namun bukan lantas berarti, seperti yang dikatakan penulis Putra Sirakh, kita terus menimbun dosa. Kita justru diajak untuk bertobat. Pintu pengampunan Tuhan selalu terbuka, sehingga kapan saja kita bisa datang kepada-Nya.

by: adrian 

Rabu, 26 Februari 2025

RENUNGAN HARI RABU BIASA VII, THN I

Renungan Hari Rabu Biasa VII – Thn I

Bac I           Sir 4: 11 – 19; Injil                   Mrk 9: 38 – 40

Dapat dikatakan tema Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini adalah kebijaksanaan. Ini dengan sangat jelas dan tegas disuarakan oleh penulis Kitab Putra Sirakh dalam bacaan pertama. Di sini kita diajak untuk senantiasa memeluk kebijaksanaan. “Memeluk” di sini berarti kita, seperti kata penulis Kitab Putra Sirakh, mencintai (ay 12), melayani (ay 14), percaya (ay 16), sehingga hidup kita pun dituntun (ay 17). Secara sederhana, lewat Kitab Putra Sirakh ini, Tuhan menghendaki supaya pikiran, perkataan, hidup dan perbuatan kita selalu diserapi oleh kebijaksanaan.

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk berlaku bijaksana. Ini berawal dari laporan Yohanes tentang seseorang melakukan pengusiran setan demi nama Yesus, tapi dicegah para murid hanya karena orang itu tidak termasuk kelompok para murid Yesus. Di sini ada kesombongan dalam diri para murid Yesus. Seolah-olah kewenangan dan kemampuan itu hanya dimiliki oleh mereka saja. Tuhan Yesus membuka wawasan mereka. “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (ay40). Di sini para murid diminta untuk bersikap bijaksana. Dengan sikap itu mereka dimampukan untuk melihat kebaikan dan kharisma dalam diri orang lain.

Pesan sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini kiranya jelas. Tuhan menghendaki supaya dalam kehidupan kita senantiasa berlaku bijaksana. Salah satu musuh kebijaksanaan adalah kesombongan, karena kesombongan akan membutakan mata kita untuk dapat melihat kebaikan dan kharisma yang ada di luar diri kita. Kesombongan hanya menuntun kita untuk melihat diri kita sendiri. Dengan menyingkirkan sifat sombong, maka kebijaksanaan akan dapat tumbuh bersemi dalam hati kita, sehingga pikiran, perkataan, hidup dan perbuatan kita pun akan diwarni oleh kebijaksanaan.

by: adrian 

Selasa, 25 Februari 2025

RENUNGAN HARI SELASA BIASA VII, THN I

Renungan Hari Selasa Biasa VII – Thn I

Bac I           Sir 2: 1 – 11; Injil            Mrk 9: 30 – 37

Dalam Injil Tuhan Yesus pertama-tama menyampaikan warta tentang nasib Anak manusia, yang adalah diri-Nya. “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh, Ia akan bangkit.” (ay. 31). Dikatakan bahwa para murid tidak mengerti perkataan Yesus itu, tapi mereka segan bertanya (ay. 32). Mereka malah sibuk mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka (ay. 34). Dari sini Yesus menyampaikan lagi pengajaran-Nya.

Apa yang disampaikan Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya yang kedua bisa merupakan inti sari dari warta Putra Sirakh dalam bacaan pertama. Orang yang mau mengikuti jalan Tuhan harus siap menghadapi cobaan (ay. 1). Untuk itu hatinya harus teguh dan tabah (ay 2) serta sabar (ay 4). Ia harus tetap percaya pada Tuhan. Keteguhan pada Tuhan tentulah akan mendatangkan keselamatan. Untuk meneguhkan wartanya ini, penulis Kitab Putra Sirakh mengajak pembacanya untuk belajar dari orang-orang generasi sebelumnya. Di sana terlihat jelas bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Pesan penting yang mau disampaikan Tuhan lewat bacaan-bacaan liturgi hari ini adalah supaya kita selalu mengutamakan kehendak Allah. Atau dengan perkataan lain agar kita mendahulukan jalan-jalan Tuhan, bukan jalan-jalan dunia atau diri kita. Kecenderungan kita adalah mengikuti jalan dunia, karena jalan dunia lebih enak dan menggoda. Memang jalan Tuhan tidaklah popular, akan tetapi kesetiaan pada jalan tersebut akan mendatangkan keselamatan.

by: adrian 

Jumat, 21 Februari 2025

RENUNGAN HARI JUMAT BIASA VI, THN I

Renungan Hari Jumat Biasa VI – Thn I

Bac I           Kej 11: 1 – 9; Injil           Mrk 8: 34 – 9: 11

Sudah jadi sifat manusia itu serakah. Manusia mempunyai sifat tidak puas. Dia ingin lebih, lebih dan lebih. Inilah yang terlihat dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. Dalam bacaan pertama keserakahan itu terungkap dari niat manusia untuk mendirikan “sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit.” (ay. 4). Dalam keinginan mereka itu tidak hanya terungkap keserakahan dan kesombongan, tetapi juga pemberontakan melawan kehendak Allah. Kesombongan itu tampak dalam niat mendirikan menara demi nama mereka sendiri supaya dikenang. Pemberontakan terlihat dari tujuan mereka dengan menara itu, yaitu supaya mereka “jangan terserak ke seluruh bumi.” (ay. 4). Padahal Allah menghendaki agar manusia tersebar ke seluruh dunia. Allah menghendaki keragaman.

Yesus sadar sifat serakah manusia itu. Manusia tidak puas dengan hidupnya dan berupaya untuk mempertahankan hidupnya. Manusia tak puas dengan harta kekayaan yang dimilikinya dan berusaha untuk mencari lagi dan lagi. Demikian pula ketidak-puasan dengan jabatan dan kuasa sehingga berupaya mempertahankannya. Karena itulah, kepada para murid-Nya Tuhan Yesus menasehati kalau mau mengikuti Dia, maka “harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.” (ay. 34). Dengan menggunakan gaya bahasa retoris, Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seseorang memperolah seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.” (ay. 36)

Pesan penting yang mau disampaikan Tuhan lewat bacaan-bacaan liturgi hari ini adalah supaya kita selalu mengutamakan kehendak Allah. Jangan melawan kehendak-Nya. Bukan berarti kita tidak boleh menjadi terkenal atau memiliki harta benda dan jabatan kuasa. Semua itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Namun perlu disadari bahwa di balik semuanya itu setan siap menggiring kita untuk melawan Allah sehingga kita menjadi budak kekayaan, jabatan kuasa dan popularitas. Kehendak Allah adalah agar lewat semuanya itu kita tetap merendah diri di hadapan Allah, dan menggunakan semua yang dimiliki itu demi kemuliaan Allah dalam diri sesama manusia.

by: adrian

Kamis, 20 Februari 2025

RENUNGAN HARI KAMIS BIASA VI, THN I

Renungan Hari Kamis Biasa VI – Thn I

Bac I           Kej 9: 1 – 13; Injil           Mrk 8: 27 – 33

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini tentu sudah tak asing bagi kita. Di sini mau dikatakan bahwa kita bisa dekat atau sayang seseorang bilang kita mengenalnya. Jika tidak atau belum kenal pastilah dalam berkomunikasi ada perasaan canggung dan kikuk. Pengenalan yang diharapkan di sini tentulah bukan sebatas pengenalan permukaan saja. Kita diajak untuk mengenal lebih mendalam. Duc in altum. Dengan pengenalan yang mendalam, kita sampai pada rasa hormat pada pribadi seseorang serta bisa menerima dia apa adanya.

Dalam bacaan pertama Allah memperkenalkan esensi terdalam kemanusiaan kepada kita, yaitu bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang segambar dengan diri-Nya. Dengan pengenalan inilah, maka wajar bila Allah tidak menghendaki terjadinya penumpahan darah manusia alias tidak membunuh. “Sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” (ay. 6). Tuhan Yesus telah memperluas makna “membunuh” menjadi tidak menghina, tidak memfitnah, dst. Kalau kita menghina atau memfitnah apalagi membunuh, bukan saja manusia yang menjadi korbannya, melainkan Allah, karena manusia itu segambar dengan Allah.

Sedangkan dalam Injil terlihat pengenalan Petrus akan Yesus hanya sebatas permukaan saja. Karena itu, ketika Yesus menyampaikan bahwa Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan, ditolak dan dibunuh (ay. 31), Petrus menegur Yesus (ay. 32). Dia tidak bisa menerima Yesus sebagai Mesias apa adanya. Dia tak bisa menerima jalan hidup Yesus sesuai kehendak Allah, melainkan harus menurut kemauannya.

Oleh karena itu, sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita untuk berupaya melakukan pengenalan lebih mendalam. Pengenalan atas sesama manusia dan juga terhadap Allah serta alam ciptaan. Dengan demikian maka kita dapat menghargai sesama kita dan alam ciptaan serta menerima rencana kehendak Allah.

by: adrian 

RENUNGAN HARI KAMIS BIASA VI, THN I

Renungan Hari Kamis Biasa VI – Thn I

Bac I           Kej 9: 1 – 13; Injil           Mrk 8: 27 – 33

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus minta pendapat para murid-Nya siapa diri-Nya menurut mereka. Mewakili para murid lainnya, Petrus menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias (ay. 29). Dari sini Yesus menyampaikan pengajaran tentang nasib Sang Mesias itu, namun Yesus tidak menggunakan kata “Mesias” melainkan “Anak Manusia”. Dikatakan bahwa Anak Manusia itu akan menanggung banyak penderitaan, ditolak lalu dibunuh dan dibangkitkan sesudah tiga hari (ay. 31). Mendengar hal itu Petrus protes. Kenapa Petrus menegor Yesus?

Ada beberapa kemungkinan untuk itu. Kemungkinan pertama dikaitkan dengan jawaban Petrus tentang siapa Yesus itu menurut para murid. Bagi Petrus tidak mungkin Mesias akan seperti yang digambarkan oleh Yesus tadi. Kemungkinan kedua adalah terkait ajaran Allah yang ada dalam Perjanjian Lama, seperti dalam bacaan pertama. Kepada Nuh dan anak-anaknya, Allah melarang mereka untuk membunuh manusia (menumpahkan darah manusia), “sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” (ay. 6). Berangkat dari firman Allah itulah, Petrus berasumsi tak mungkinlah imam-imam dan ahli-ahli Taurat sampai membunuh Anak Manusia.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan jawaban Petrus. Menjadi pertanyaan, kenapa Yesus memarahi Petrus? Dua kemungkinan di atas dan teguran Yesus kepada Petrus merupakan dua hal yang berbeda. Sekalipun berbeda, namun intinya tetap sama, yaitu kehendak Allah harus terjadi. Petrus berupaya menggagalkan rencana keselamatan Allah lewat sengsara, wafat dan kebangkitan Anak Manusia. Karena itulah Yesus marah kepada Petrus dan berkata kepadanya, “Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (ay. 33). Di sini Tuhan mau agar kita senantiasa hidup sesuai dengan kehendak Allah.

by: adrian


Rabu, 19 Februari 2025

RENUNGAN HARI RABU BIASA VI, THN I

Renungan Hari Rabu Biasa VI – Thn I

Bac I Kej 8: 6 – 13, 20 – 22; Injil      Mrk 8: 22 – 26

Dalam Injil hari ini Markus menceritakan kisah penyembuhan orang buta di Betsaida. Diceritakan bahwa ketika Tuhan Yesus dan para rasul-Nya tiba di sana, orang membawa kepada-Nya seorang buta. Dan terjadilah mujizat penyembuhan. Orang buta itu akhirnya kembali bisa melihat. Ada yang menarik dari kisah penyembuhan ini. Kesembuhan tidak terjadi sekali tindakan saja. Setelah Tuhan Yesus melakukan tindakan orang buta itu tidak langsung bisa melihat dengan jelas. “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” (ay. 24). Baru tindakan kedua, orang buta itu sembuh dan bisa melihat dengan jelas.

Apa yang terjadi pada peristiwa penyembuhan orang buta ini, tak jauh beda dengan peristiwa Nuh. Setelah hujan berhenti dan sesudah 40 hari, saat Nuh membuka tingkap bahtera, tidak serta merta mereka bisa keluar dari bahtera, karena air masih menggenangi bumi. Setelah melalui beberapa percobaan, akhirnya didapat kepastian air sudah kering sehingga mereka yang di bahtera bisa keluar. Dan dikatakan bahwa Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan dan mempersembahkan korban bakaran (ay. 20).

Sabda Tuhan dalam bacaan-bacaan liturgi ini mau menunjukkan kepada kita betapa Allah menghargai proses. Allah tidak menyembuhkan orang buta dengan sekali tindakan saja. Allah juga tidak membuat air bah kering seketika juga. Semua ada tahapannya; ada prosesnya. Dengan proses ini kita diajak untuk bersabar sehingga kita pun dapat menghargai proses. Dengan demikian kita bisa bertekun dalam pengharapan. Keselamatan tidak memberikan hikmah rohani secara instan. Semuanya indah pada waktunya, bukan indah seketika.

by: adrian

Senin, 13 November 2017

RENUNGAN HARI SENIN BIASA XXXII - THN I

Renungan Hari Senin Biasa XXXII, Thn I
Bac I  Keb 1: 1 – 7; Injil    Luk 17: 1 – 6;
Sangat menarik kalau kita merenungkan pesan Tuhan lewat sabda-Nya hari ini, baik dalam bacaan pertama maupun dalam Injil. Kedua bacaan liturgi hari ini memiliki pesan yang sama, yang berguna bagi kehidupan kita. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Kebijaksanaan, salah satu pesan yang menonjol adalah agar para penguasa dunia mengarahkan pikiran dan seluruh dirinya kepada Tuhan (ay. 1). Dengan mengarahkan diri kepada Tuhan, orang akan mendapatkan kebijaksanaan, yang akan menuntunnya untuk “sayang akan manusia” (ay. 6).
Pesan bacaan pertama kembali dipertegas oleh Tuhan Yesus. Jika penulis Kitab Kebijaksanaan mengarahkan pesannya kepada penguasa dunia, Tuhan Yesus mengarahkan pesan-Nya kepada penguasa pada umumnya. Di sini pengertian penguasa tidak melulu dalam arti politik kekuasaan, tapi juga sosial. Berhadapan dengan orang lemah, yang kuat dilihat sebagai penguasa. Kepada mereka ini Tuhan Yesus mengajak untuk tidak “menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini” (ay. 2). Yang kuat harus menuntun yang lemah, tidak hanya dalam arti fisik, melainkan juga dalam arti moral-sosial (bdk. ay. 3).
Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita bahwa dalam saat-saat tertentu kita mempunyai kekuatan yang lebih daripada orang lain. Dalam kasus tertentu biasa saja kita memiliki nilai lebih daripada orang lain, entah itu dalam hal pengetahuan, kebaikan, kekuatan fisik, dan sebagainya. Melalui sabda-Nya hari ini Tuhan menghendaki supaya kita tidak menggunakan kelebihan kita itu untuk mencelakakan orang lain. Tuhan justru mengajak kita untuk memanfaatkan kelebihan kita demi kebaikan sesama.

by: adrian

Selasa, 31 Mei 2016

Renungan Hari Selasa Biasa XXX - Thn I

Renungan Hari Selasa Biasa XXX, Thn B/I
Bac I  Rom 8: 18 – 25; Injil                 Luk 13: 18 – 21;

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus memberikan pelajaran tentang kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan. Ada dua perumpamaan yang dipakai untuk melukiskan kerajaan Allah itu, yaitu dengan biji sesawi (ay. 19) dan ragi (ay. 21). Dalam dua perumpamaan itu terdapat satu kesamaan, yaitu dari sesuatu yang kecil akhirnya menjadi besar. Pohon yang besar, di mana burung-burung dapat bersarang dan orang bisa berteduh, berasal dari biji yang kecil. Adonan roti dapat mengembang menjadi besar pun karena diberi sedikit ragi. Di sini mau Tuhan Yesus mau menekankan bahwa Kerajaan Allah dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, namun manfaatnya besar bagi kehidupan.
Apa yang disampaikan Tuhan Yesus di atas, kembali diungkapkan Paulus dalam bacaan pertama. Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, Paulus menegaskan akan arah perjalanan hidup umat manusia, yaitu “menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.” (ay. 19). Dan ini menumbuhkan pengharapan akan keselamatan (ay. 24). Karena itu, Paulus mengajak jemaat agar dalam pengharapan itu “kita menantikannya dengan tekun.” (ay. 25). Ketekunan itu berawal dari hal-hal yang kecil dan sederhana.
Dewasa ini manusia sudah dirasuki oleh budaya instan. Orang ingin meraih sukses dengan cepat tanpa menghargai proses. Orang hanya mau melihat hasil yang spektakuler, tanpa memperhatikan proses awalnya. Sabda Tuhan hari ini mengajari kita untuk tidak menganggap remeh hal-hal kecil dan sederhana, apalagi berkaitan dengan tujuan akhir hidup kita. Tuhan menghendaki supaya kita membangun kerajaan Allah di dunia ini dari hal-hal yang sederhana. Dalam ketekunan itulah kerajaan Allah dapat terwujud. Tak perlu menunggu sesuatu yang wah atau luar biasa.***

by: adrian

Renungan Hari Senin Biasa XXX - Thn I

Renungan Hari Senin Biasa XXX, Thn B/I
Bac I  Rom 8: 12 – 17; Injil                 Luk 13: 10 – 17;

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengkritik pandangan orang Yahudi, khususnya kepala rumah ibadat, perihal melakukan kebajikan pada hari sabat. Diceritakan bahwa pada hari sabat itu Tuhan Yesus mengajar di sebuah rumah ibadat. Di sana ada seorang perempuan yang telah 18 tahun hidup dalam penderitaan karena sakit bungkuk punggungnya. Atas dasar belas kasih, Tuhan Yesus menyembuhkannya. Namun tindakan-Nya itu mendapat tanggapan negatif dari kepala rumah ibadat itu. Dalam tindakan-Nya ini Tuhan Yesus mau menunjukkan jiwa merdeka-Nya yang mengatasi kekakuan aturan demi kehidupan manusia. Tuhan tidak mengabdi pada aturan, sebagaimana dicontohkan oleh kepala rumah ibadat, melainkan mengabdi kepada kemanusiaan.
Sikap seperti Tuhan Yesus di atas kembali disuarakan Paulus dalam refleksinya. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, yang menjadi bacaan pertama hari ini, Paulus menegaskan bahwa umat sudah dimerdekakan dan menjadi anak-anak Allah. Dengan menjadi anak-anak Allah, berarti umat menjadi ahli waris kemuliaan Allah. Ada dua konsekuensi untuk ini, yaitu pertama, umat harus mematikan perbuatan-perbuatan daging dalam tubuh. Dengan kata lain, umat diminta untuk tidak hidup menurut daging. Kedua, umat diminta untuk menerima Kristus dan turut menderita bersama-sama dengan Dia.
Dalam kehidupan seringkali kita jumpai orang yang begitu terikat pada peraturan. Memang peraturan itu dibutuhkan untuk terciptanya keteraturan. Akan tetapi, manusia dipanggil buat menjadi budak aturan. Manusia adalah tuan atas peraturan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memiliki jiwa merdeka atas peraturan. Bukan berarti kita dapat melanggar peraturan seenaknya saja. Tuhan mengajak kita supaya kita melaksanakan aturan demi kemanusiaan. Hal yang sama ketika diterapkan dalam kehidupan rohani. Tuhan menghendaki agar kita menampilkan diri sebagai anak-anak Allah, karena memang kita sudah dimerdekakan. Dengan kemerdekaan itu, hendaklah kita berjuang mematikan perbuatan daging dalam tubuh kita.***
by: adrian

Renungan Hari Sabtu Biasa XXIX - Thn I

Renungan Hari Sabtu Biasa XXIX, Thn B/I
Bac I  Rom 8: 1 – 11; Injil                   Luk 13: 1 – 9;

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengkritik pandangan orang Yahudi yang mengaitkan aib atau penderitaan dengan dosa. Kritik ini diungkapkan Tuhan Yesus untuk menanggapi pernyataan orang-orang Yahudi yang datang kepada-Nya dengan kabar tentang darah orang Galilea yang dicampurkan Pilatus ke darah korban persembahan. Mereka menilai bahwa orang Galilea sangat berdosa. Di balik penilaian ini ada anggapan bahwa orang yang tidak mengalami peristiwa aib itu berarti dirinya tidak berdosa. Bagi Tuhan Yesus siapa saja bisa mengalami peristiwa itu dan bisa juga berdosa. Namun yang terpenting adalah pertobatan. Dengan bertobat orang melepaskan diri dari hukuman dosa, yaitu maut.
Bertobat merupakan gerakan roh. Inilah yang mau ditekankan Paulus dalam bacaan pertama, yang masih diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma. Dalam suratnya itu, Paulus membeberkan refleksinya tentang Tuhan Yesus yang telah mati untuk penebusan dosa umat manusia. Oleh kematian-Nya, umat sekarang hidup menurut roh yang memerdekakannya dari “hukum dosa dan hukum maut.” (ay. 2). Dosa terjadi karena umat hidup menurut daging. Namun jika umat hidup menurut roh, maka roh itulah yang akan mendorongnya untuk bertobat.
Sebagai manusia kita tentu tidak luput dari dosa. Daging kita lemah. Kita selalu mengikuti kecenderungan daging sehingga akhirnya kita jatuh ke dalam dosa. Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita akan hal itu. Dengan kesadaran ini kita tentunya tidak akan memandang rendah atau menghakimi sesama yang mendapat musibah sebagai akibat dosanya. Tuhan menghendaki supaya kita selalu bertobat. Melalui sabda-Nya, Tuhan menyadarkan kita bahwa dengan kematian Yesus Kristus di salib, kita hidup menurut roh. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu hidup menurut roh.***

by: adrian

Renungan Hari Jumat Biasa XXIX - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa XXIX, Thn B/I
Bac I  Rom 7: 8 – 25a; Injil                 Luk 12: 54 – 59;

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengeritik sikap orang yang begitu pandai membaca tanda-tanda alam, namun lemah dalam membaca kebenaran ilahi. Akan tetapi, bagi Tuhan Yesus kelemahan itu bukan terletak pada ketidakmampuan, melainkan pada ketidakmauan. Dan di balik semua itu ada persoalan untung rugi. Orang hanya ingin keuntungan duniawi yang mendatangkan kesukaan. Orang merasa membaca dan melaksanakan kebenaran ilahi tidak mendatangkan keuntungan; malah dapat dikatakan rugi. Karena itulah, banyak manusia yang mengabaikannya.
Dalam bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, Paulus mengungkapkan refleksi akan dirinya. Kepada jemaat di Roma, Paulus memaparkan pergolakan dirinya. Di satu sisi ia ingin melayani hukum Allah, tapi di sisi lain ia melayani hukum dosa. Dosa selalu mendatangkan kenikmatan. Akan tetapi, satu hal yang patut dipuji dari Paulus adalah dia menyadari kelemahan dan kekuatannya. Dan Paulus tidak mau dikendalikan kelemahannya. Dia selalu berjuang mengatasinya.
Seringkali terjadi, dalam kehidupan ini, kita melupakan kebenaran Tuhan, sekalipun kita sebenarnya sudah mengetahui. Kita merasa bahwa dengan melaksanakan kebenaran Tuhan, kita tidak mendapatkan “untung” apa-apa. Keuntungan ini selalu dikaitkan dengan soal kenikmatan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melawan kecenderungan itu. Kita dapat belajar dari teladan Santo Paulus. Yang terpenting adalah kita terlebih dahulu harus menyadari kelemahan dan kekuatan kita.***

by: adrian

Renungan Hari Kamis Biasa XXIX - Thn I

Renungan Hari Kamis Biasa XXIX, Thn B/I
Bac I  Rom 6: 19 – 23; Injil                 Luk 12: 49 – 53;

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan efek dari kedatangan-Nya di dunia. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kehadiran diri-Nya di dunia ini akan membawa pertentangan (ay. 51). Pertentangan ini terjadi antara kebaikan dan kejahatan. Tuhan Yesus sebagai wakil dari pertentangan. Di sini Tuhan Yesus mau menggambarkan akibat dari mengikuti Dia. Orang yang mengikuti Dia tentulah akan menerima resiko ini: disingkirkan, dimusuhi bahkan dibunuh. Yang menyingkirkan, memusuhi dan membunuh bukan berasal dari luar lingkungan, melainkan dari dalam lingkungan sendiri, seperti keluarga.
Paulus dalam bacaan pertama, yang diambil dari suratnya kepada jemaat di Roma, juga menampilkan masalah pertentangan. Kepada jemaat di Roma, Paulus mengungkapkan pertentangan itu antara hamba dosa dan hamba Allah. Mereka-mereka yang masuk ke dalam kelompok hamba Allah akan mengalami situasi terasing karena berlawanan dengan kebiasaan yang berlaku di dunia. Kecenderungan dunia adalah menghambakan diri pada dosa dalam wujud kenikmatan duniawi. Tentulah hal ini membuat para hamba Allah mengalami pertentangan, bukan saja dari luar dirinya, melainkan juga dari dalam dirinya.
Perang antara kebaikan dan keburukan merupakan masalah klasik. Dalam kehidupan telah ditunjukkan bahwa untuk menjadi baik itu sangatlah susah. Selalu saja ada yang menggoda dan menentang. Hal yang sama dengan mengikuti Tuhan Yesus. Karena itu, tak heran kalau sampai saat ini murid-murid Yesus Kristus selalu disingkirkan, dihambat, ditekan dan dimusuhi. Ini merupakan bagian dari iman. Sabda Tuhan mengajak kita untuk tetap menjalaninya tanpa perlu merasa takut dan cemas.***

by: adrian