Tidak ada keraguan lagi akan
apa yang kita lakukan sekarang. Penahbisan 𝗨𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗥𝗼𝗺𝗼 𝗛𝗮𝗻𝘀 𝗠𝗼𝗻𝘁𝗲𝗶𝗿𝗼
terjadi karena telah ada keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik, yang
tadi dibacakan oleh orang yang juga sangat tinggi, 𝗠𝗼𝗻𝘀𝗶𝗻𝘆𝘂𝗿 𝗠𝗶𝗰𝗵𝗮𝗲𝗹, 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗸𝘀𝗮𝗻𝗮 𝘁𝘂𝗴𝗮𝘀 𝗞𝗲𝗱𝘂𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗩𝗮𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮.
Saudara-saudari terkasih,
Satu era kepemimpinan yang
panjang berakhir hari ini di Larantuka. Pelayanan kegembalaan Bapak 𝗙𝗿𝗮𝗻𝘀 𝗞𝗼𝗽𝗼𝗻𝗴 𝗞𝘂𝗻𝗴, yang
sejak tahun 𝟮𝟬𝟬𝟰
menjadi Uskup Larantuka dan meneruskan estafet kepemimpinan dari Bapak 𝗨𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗗𝗮𝗿𝗶𝘂𝘀 𝗡𝗴𝗴𝗮𝘄𝗮, 𝗦𝗩𝗗. Pada
perayaan dua puluh dua tahun yang lalu, saat Bapak Uskup Frans memulai
pelayanannya sebagai 𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗱𝗶𝗼𝘀𝗲𝘀𝗮𝗻
setelah dua tahun menjadi 𝘂𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗸𝗼𝗮𝗷𝘂𝘁𝗼𝗿, yang
berperan sebagai komentator dalam perayaan itu adalah seorang romo yang waktu
itu masih muda, tetapi tampil berwibawa dan meyakinkan: 𝗥𝗼𝗺𝗼 𝗛𝗮𝗻𝘀 𝗠𝗼𝗻𝘁𝗲𝗶𝗿𝗼.
Kita tentu tidak tahu apa yang
akan terjadi dengan serem kita hari ini yang juga masih muda dan tampil
meyakinkan.
Dari kedalaman rohani dan
kekayaan pengalaman pastoralnya, Bapak Uskup Frans memilih dua moto: “𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗽𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗮𝗮𝗻-𝗠𝘂” 𝗱𝗮𝗻 “𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘀𝘂𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮.”
Jarang ada uskup yang memilih dua moto—dan itu menunjukkan keistimewaan beliau.
Mungkin karena harus memimpin
umat Katolik di dua wilayah kabupaten. Atau saya yakin, karena sadar bahwa
untuk menjadi gembala di wilayah yang kerap mengalami bencana—banjir, gempa
bumi, dan letusan gunung berapi—serta memimpin umat yang tinggal terpencar di
pulau-pulau, yang dibatasi gunung dan lembah, 𝗱𝗶𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗕𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮, 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗸𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝘆𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗼𝗮 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻.
Uskup baru kita, Bapak Uskup
Hans, merasa cukup dengan satu moto. Tetapi satu moto ini tidak main-main. 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗺𝗼𝘁𝗼 𝗶𝗻𝗶, 𝗸𝗮𝘁𝗮 “𝘀𝗮𝘁𝘂” 𝗱𝗶𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝘁𝗶𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶, 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝗟𝗮𝘁𝗶𝗻: 𝗨𝗻𝘂𝗺, 𝘂𝗻𝘂𝘀, 𝘂𝗻𝗮.
Untuk yang pernah belajar
bahasa latin, di sini kata “satu” digunakan dalam tiga genus: neutrum, feminin,
dan maskulin. Dengan moto ini, seluruh diri manusia disapa—tubuh, roh, dan
pengharapan. Artinya dengan moto ini, Segala sudut disentuh. Moto ini menyentuh
semua kelompok, mengajak semua umat. Moto ini menyadarkan kita bahwa apa pun
perbedaan di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan
menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang
satu.
Namun moto ini sekaligus membuka mata kita akan jurang yang terbentang di antara kita: 𝗷𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗺𝗽𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗺𝗶𝘀𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝘁𝗿𝗲𝗺; 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝗽𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗸𝘂𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝘁𝗮𝗹 𝗸𝗲 𝘄𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗽𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶𝗿𝗮𝗻; 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝘁𝗲𝗺𝗯𝗼𝗸 𝗽𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝘀𝘂𝗸𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗶𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸; 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗰𝘂𝗿𝗶𝗴𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝘁𝗲𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗲𝘆𝗮𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗶𝗻.