
Allah
selalu mencintai dan terlebih dahulu memberi dengan penuh kemurahan hati
sebelum meminta kesetiaan akan semua perintah-Nya, yakni perkataan dari seorang
Bapa yang penuh kasih, yang menunjukkan kepada umat manusia jalan yang benar
untuk menjalani kehidupan. Demikian ungkap Paus Fransiskus, pemimpin Gereja
Katolik sedunia, dalam audiensi umum di Lapangan St. Petrus, pada 27 Juni 2018.
“Hidup kristiani merupakan respon penuh syukur kepada seorang Bapa yang murah
hati, bukan pemenuhan yang dipaksakan dan tanpa kegembiraan atas serangkaian
kewajiban.”
Sebelum
audiensi itu, Paus Fransiskus bertemu dengan orang sakit dan tidak berdaya,
yang duduk di aula Paulus VI, dan menyambut perwakilan Olimpiade Khusus dan
menyalakan obor dari api Olimpiade Khusus itu. Kemudian Paus yang pernah meraih
penghargaan majalah TIME ini melanjutkan serangkaian pembicaraan audiensi
tentang 10 Perintah Allah, dengan merenungkan bagaimana Allah membebaskan
umat-Nya dari perbudakan di Mesir.
“Allah
tidak pernah meminta tanpa memberi terlebih dahulu. Ia menyelamatkan terlebih
dahulu, lalu meminta kesetiaan atas perintah-perintah-Nya, sehingga mereka bisa
menjalani kehidupan melalui jalan yang benar.” Ini adalah rahasia pendekatan
kristiani, yakni pendekatan Yesus – untuk mengetahui bahwa seseorang itu
dicintai oleh seorang Bapa dan kemudian untuk mencintai sesama, papar Paus yang berasal dari Argentina. “Yesus tidak memulai dengan diri-Nya sendiri, melainkan
dengan Bapa.”
“Proyek
atau upaya gagal jika berakar dalam keegoisan, bukan dalam rasa syukur kepada
Tuhan,” jelas Paus Fransiskus. Landasan akan segala sesuatu yang dilakukan oleh
seorang kristiani bukan berdasarkan pada kewajiban: saya harus melakukan ini,
ini, itu, ini .... “Bukan. Landasan akan tugas ini adalah cinta akan Allah
Bapa, yang terlebih dahulu memberi dan kemudian memerintah,” ungkap Paus ke-266.
Ini merupakan situasi berdasarkan sebuah hubungan dan pengalaman personal
antara Bapa dan anak.