Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu & HR Thn B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu & HR Thn B. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2024

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXXIII, THN B

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXXIII – B

Bac I Dan 12: 1 – 3; Bac II      Ibr 10: 11 – 14, 18;

Injil Mrk 13: 24 – 32;

Tema besar bacaan pertama dan Injil adalah soal akhir zaman, atau yang biasa dikenal sebagai hari kiamat. Seluruh bacaan liturgi hari ini, secara sederhana bisa dipahami sebagai berikut:

Hari kiamat adalah juga hari pengadian. Pada waktu itu, orang-orang pilihan akan dikumpulkan (Mrk 13: 27) untuk menerima hidup yang kekal (Dan 12: 2). Sementara orang-orang yang tidak dipilih akan mendapat kehinaan dan kengerian kekal (Dan 12: 2). Tentulah ketika mendengar warta ini, kita berharap agar diri kita masuk dalam kelompok orang-orang pilihan. Menjadi pertanyaan, siapa saja yang masuk dalam kelompok orang-orang pilihan. Daniel, dalam bacaan pertama, memberikan sedikit informasi, yaitu mereka yang namanya tercatat dalam Kitab (ay. 1).

Sebagai pengikut Kristus, sudah selayaknya kita bersyukur dan bangga karena nama kita sudah tercatat dalam Kitab itu. Ini terjadi lewat Sakramen Baptis yang diterima. Sakramen ini merupakan tawaran keselamatan dari Allah. Dengan menerima sakramen ini berarti kita menerima keselamatan yang ditawarkan Allah. Karena itulah, dengan Sakramen Baptis nama seorang pengikut Kristus tidak hanya dicatat dalam Buku Baptis, tetapi juga Kitab Kehidupan.

Akan tetapi, seperti tulisan-tulisan lain pada umumnya, dimana karena faktor waktu, sebuah tulisan bisa saja menjadi kabur bahkan hilang. Demikian pula nama kita dalam Kitab itu: bisa kabur dan juga hilang. Kekaburan itu dapat disebabkan karena dalam hidup kita tidak melakukan kehendak dan perintah Allah. Dengan kata lain, hidup kita tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Sementara itu, tulisan hilang bisa disebabkan karena dosa.

Karena itu, agar tulisan nama kita tidak menjadi kabur, atau agar tulisan nama kita tetap terang menderang, maka hendaknya hidup kita selaras dengan perintah atau kehendak Allah. Tentulah hal ini akan terasa sangat sulit, mengingat setiap manusia punya kelemahan dan kekurangan. Secara sederhana bisa dikatakan setiap manusia mudah jatuh ke dalam dosa. Dosa itulah yang kemudian menghapus sedikit demi sedikit tulisan nama kita. Namun kita tidak perlu merasa cemas atau takut, karena kita punya seorang pengantara antara kita dengan Allah. Dialah Yesus Kristus. Penulis Surat kepada Orang Ibrani mengatakan bahwa Yesus adalah Imam Agung yang akan menguduskan kita. Kita tidak perlu merasa cemas karena “untuk semuanya itu ada pengampunan.” (Ibr 10: 18).

Yesus menyediakan sarana pengampunan itu dalam Gereja-Nya lewat Sakramen Tobat. Jadi, dosa yang bisa membuat tulisan nama kita dalam Kitab sedikit demi sedikit terhapus, dapat kembali muncul bila kita menggunakan sarana yang ada, yaitu Sakramen Tobat.

by: adrian

Sabtu, 18 Agustus 2018

Renungan Hari Minggu Biasa XX - B


Renungan Minggu Biasa XX, Thn B
Bac I  Ams 9: 1 – 6; Bac II         Ef 5: 15 – 20;
Injil    Yoh 6: 51 – 58;
Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus memperkenalkan dirinya sebagai roti hidup yang turun dari sorga (ay. 51). Yesus menegaskan bahwa dirinya, tubuh dan darah-Nya adalah sungguh makanan. “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (ay. 55). Pernyataan Tuhan Yesus ini memang sungguh tidak masuk dalam akal budi kebanyakan orang Yahudi. Karena itulah, mereka saling bertengkar dan mempersoalkan pernyataan Yesus tadi (ay. 52).
Menghadapi orang Yahudi, yang memperkarakan pernyataan Yesus tersebut, kiranya nasehat Paulus dalam bacaan kedua, dan penulis Kitab Amsal, dalam bacaan pertama, sangat relevan. Di mata Paulus dan penulis Kitab Amsal, sikap orang Yahudi itu seperti sikap orang bodoh. Karena itu, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus berkata, “janganlah kamu bodoh.” (ay. 17); dan penulis Kitab Amsal mengajak umat untuk membuang kebodohan (ay. 6).
Dari bacaan pertama dan kedua hari ini, kita bisa mengetahui bahwa sikap orang Yahudi yang bertengkar soal pernyataan Tuhan Yesus sebagai makanan terjadi karena mereka hanya mengandalkan kemampuan manusiawinya saja. Orang Yahudi mencoba memahami pernyataan Yesus tersebut hanya dari sisi akal budi saja. Dan ketika akal budi menemui keterbatasannya, mulailah mereka saling bertengkar. Karena itu, Paulus dan penulis Kitab Amsal mengajak kita untuk “mengerti kehendak Tuhan” (Ef 5: 17; bdk. Ams 9: 6).
Sabda Yesus hari ini secara khusus ditujukan kepada para murid-Nya. Kepada kita Yesus berkata bahwa yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya akan mempunyai hidup kekal dan akan dibangkitkan pada akhir zaman (ay. 54). Menjadi pertanyaannya adalah apakah kita memahami sabda Yesus ini dan percaya? Untuk bisa memahaminya, kita harus mengikuti nasehat Paulus dan penulis Kitab Amsal, yaitu membuang kebodohan kita. Kebodohan itu terjadi ketika kita memaksakan pemikiran kita. Kata kunci untuk dapat memahami pernyataan Tuhan Yesus adalah “Yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Jadi, setiap murid Kristus yang makan tubuh-Nya (lewat ekaristi), akan hidup oleh Kristus, bukan dirinya sendiri.
by: adrian

Sabtu, 09 Juni 2018

Renungan Hari Minggu Biasa X, Thn B

Renungan Hari Minggu Biasa X, Thn B
Bac I  Kej 3: 9 – 15; Bac II         2Kor 4: 13 – 18, 5: 1;
Injil    Mrk 3: 20 – 35;
Bacaan pertama hari ini bercerita tentang kejatuhan manusia pertama, Adam dan Hawa. Setelah tahu mereka telah melanggar perintah Allah, mereka sembunyi. Ada yang mengatakan bahwa mereka sembunyi karena mereka telanjang (ay. 10). Artinya, mereka malu dirinya telanjang. Menjadi pertanyaan, apakah sebelumnya mereka tidak telanjang? Dapat dipastikan bahwa mereka telanjang, tapi ketelanjangan itu tidak membuat mereka malu sehingga harus bersembunyi. Jadi, ada dua ketelanjangan, yaitu sebelum berdosa dan setelah berdosa. Ketelanjangan sebelum berdosa tidak membuat mereka bersembunyi karena mereka tidak malu dan takut. Di sini mau ditekankan bahwa dosa mendatangkan rasa malu dan takut. Hal ini bisa muncul karena suara hatinya berperan.
Suara hati yang berperan menjadi tekanan Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, Paulus mengatakan bahwa dirinya “tidak tawar hati” (ay. 16). Hal ini disebabkan karena “manuasia batiniah kami dibaharui dari hari ke hari” (ay. 16). Dengan kata lain, suara hatinya senantiasa diasah sehingga berfungsi dengan baik. Suara hati yang berperan inilah yang membuat Paulus mengarahkan hatinya kepada kemuliaan kekal (bdk. ay. 17 – 18).
Sikap Rasul Paulus yang menekankan pentingnya suara hati bertentangan dengan sikap para ahli Taurat dalam Injil hari ini. Dapat dikatakan bahwa suara hati ahli-ahli Taurat telah mati, sehingga karya Allah dalam diri Yesus tidak mereka lihat, malah mencurigainya berasal dari Beelzebul (ay. 22). Matinya suara hati itu membuat mereka merasa tidak membutuhkan lagi rahmat pengampunan dari Roh Kudus.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk senantiasa mengasah ketajaman suara hati kita dan sekaligus memanfaatkannya dalam kehidupan. Suara hati yang hidup membuat kita merasa malu dan takut untuk berdosa. Suara hati juga menuntun kita untuk berani mengakui dosa dan menerima rahmat pengampunan. Semoga sabda Tuhan ini membantu kita untuk selalu hidup dengan suara hati.***
by: adrian

Selasa, 31 Mei 2016

Renungan Hari Minggu Paskah II - B

Renungan Hari Minggu Paskah II, Thn B/I
Bac I    Kis 4: 32 – 35; Bac II                        1Yoh 5: 1 – 6;
Injil      Yoh 20: 19 – 31;

Hari ini merupakan pekan kedua Minggu Paskah. Dalam tradisi Gereja Katolik, Minggu Paskah kedua ini dikenal juga sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Bacaan-bacaan liturgi hari ini memiliki tema tentang percaya. Kepercayaan itu ditujukan kepada Kristus yang telah bangkit. Inilah yang hendak ditekankan dalam Injil hari ini. Injil berkisah tentang penampakan Tuhan Yesus yang bangkit kepada para murid, secara khusus Thomas. Ada kesan bahwa maksud dari penampakan-penampakan Tuhan Yesus adalah supaya para murid percaya, bukan hanya bahwa Dia telah bangkit, tetapi juga bahwa Dia adalah Kristus. Dengan kepercayaan ini para murid diajak untuk mengimani-Nya.

Bacaan pertama dan kedua memuat konsekuensi dari percaya pada Tuhan Yesus. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Kisah Para Rasul, dikisahkan kehidupan para murid yang percaya kepada Kristus. Kata “percaya” di sini bisa juga dipahami dengan beriman. Dan mereka yang beriman ini dikatakan hidup “sehati dan sejiwa”. Singkat kata, mereka hidup dalam persaudaraan, kasih dan damai. Semangat ini membuat mereka tidak terlalu memperhatikan kepentingan diri sendiri, melainkan bersama.

Apa yang dihidupi para jemaat perdana dalam bacaan pertama, kembali ditegaskan Yohanes dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama, Yohanes menyatakan bahwa setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, harus mengasihi Allah dan sesamanya. Yohanes menekankan juga bahwa orang-orang yang percaya ini harus juga menuruti perintah-Nya. Tentulah umat sudah tahu bahwa perintah utama Tuhan adalah kasih yang ditujukan kepada Allah dan sesama.

Sabda Tuhan hari ini mau menegaskan kepada kita bahwa Yesus yang bangkit adalah Tuhan, yang telah menebus kita. Tuhan hendak mengajak kita untuk percaya dan mengimani-Nya. Berkaitan dengan Minggu kerahiman ilahi, kita diajak untuk mengimani kerahiman-Nya. Tuhan Yesus adalah andalan kita. Kepada-Nya kita percaya bahwa pada-Nya ada kerahiman. Berkat kerahiman-Nya, dosa-dosa kita diampuni. Akan tetapi, kepercayaan kita menuntut konsekuensi. Kita diminta untuk hidup dalam kasih satu dengan yang lain. Sebagaimana Tuhan telah mengampuni dosa kita, maka kita pun diminta untuk saling mengampuni kesalahan sesama.

by: adrian

Renungan Hari Minggu Biasa XXX - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXX, Thn B/I
Bac I  Yer 31: 7 – 9; Bac II                  Ibr 5: 1 – 6;
Injil    Mrk 10: 46 – 52;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Nabi Yeremia. Dalam kitabnya, Yeremia menyampaikan firman Allah buat umat Israel, yang saat itu hidup dalam penderitaan. Dalam penderitaan itulah harapan tumbuh. Dan firman Allah mengandung pengharapan itu. Yeremia mengajak umat Israel untuk bersukacita sebab Tuhan akan memenuhi harapan mereka. Di sini terlihat bahwa Tuhan memperhatikan penderitaan umat-Nya: orang buta dan lumpuh, serta perempuan yang mengandung (ay. 8).
Gambaran pemenuhan harapan umat dalam bacaan pertama tadi, terlihat dalam Injil. Tuhan Yesus adalah kepenuhan harapan itu. Ia datang dan menyembuhkan Bartimeus, orang buta. Tuhan Yesus membawa sukacita bagi Bartimeus, simbol orang menderita yang mengharapkan pembebasan. Yang menarik dari kisah penyembuhan Bartimeus ini adalah tindakannya yang menanggalkan jubahnya dan segera berdiri lalu pergi mendapatkan Tuhan Yesus (ay. 50). Menanggalkan jubah dapat dilihat sebagai lambang pertobatan, dan pertobatan ini diikuti dengan hidup dekat dengan Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus adalah kepenuhan pengharapan bangsa Israel dan umat manusia. Namun dalam pengharapan itu umat dituntut untuk bertobat sehingga ia dapat berdamai kembali dengan Allah. Inilah yang hendak disampaikan dalam bacaan kedua, yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani. Dalam suratnya, penulis melihat Tuhan Yesus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan korban pelunasan dosa sehingga umat dapat kembali berhubungan dengan Allah. Yesus Kristus tidak seperti imam besar lainnya, karena Tuhan Yesus tidak berdosa dan Ia mengorbankan diri-Nya sebagai korbannya.
Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus merupakan kepenuhan nubuat Allah akan janji keselamatan yang telah disuarakan oleh para nabi Perjanjian Lama. Janji keselamatan itu tidak hanya diperuntukkan bagi umat Israel, melainkan juga umat manusia. Namun tuntutannya sama, yaitu adanya pertobatan dan senantiasa hidup dekat-Nya. Melalui sabda-Nya ini, Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa bertobat dan selalu hidup dekat dengan Dia. Hidup dekat bukan berarti “ada di”, tetapi “ada bersama”, karena dalam kebersamaan itu kita bergerak bersama Tuhan.***
by: adrian

Renungan Hari Minggu Biasa XXIX - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXIX, Thn B/I
Bac I  Yes 53: 10 – 11; Bac II              Ibr 4: 14 – 16;
Injil    Mrk 10: 35 – 45;

Bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya, menyampaikan nubuat Allah tentang Hamba Tuhan yang menderita. Dikatakan bahwa penderitaan yang dialami dilihat sebagai korban penebus salah, bukan kesalahannya, melainkan kesalahan orang lain. Hal ini tampak dalam pernyataan “kejahatan mereka dia pikul.” (ay. 11). Jadi, Hamba Tuhan ini, sekalipun tidak punya salah, namun ia harus memikul kesalahan orang lain sehingga dengan demikian orang lain mendapatkan keselamatan.
Gambaran Hamba Tuhan yang menderita ini merupakan gambaran Tuhan Yesus. Hal ini terlihat dalam Injil dan kembali ditegaskan dalam bacaan kedua. Dalam Injil dikisahkan tentang permintaan Yakobus dan Yohanes kepada Tuhan Yesus agar kelak mereka diperkenankan mendapat posisi di samping-Nya. Tuhan Yesus menegaskan jalan hidup-Nya sebagai Hamba Tuhan. Dia terpanggil untuk merendahkan diri dan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang (ay. 45). Di sini Tuhan Yesus tidak hanya menunjukkan jalan hidup-Nya, tetapi juga mengajak para murid-Nya untuk mengikuti jalan hidup-Nya itu.
Penulis Surat kepada Orang Ibrani, dalam bacaan kedua, mencoba merefleksikan jalan hidup Tuhan Yesus sebagai Hamba Tuhan yang menderita. Bagi penulis, Tuhan Yesus adalah Imam Besar Agung (ay. 14). Tidak hanya sekedar Besar, tetapi juga Agung. Akan tetapi, sekalipun Besar Dia turut merasakan kelemahan manusia, sekalipun Ia tidak berdosa. Tidak seperti imam besar lainnya. Ada semangat solidaritas dengan kaum lemah. Di sini penulis, sama seperti ajakan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, mengajak jemaat untuk mau solidaritas dengan sesama mengikuti teladan Tuhan Yesus, “supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (ay. 16).
Sabda Tuhan hari ini pertama-tama mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus merupakan kepenuhan nubuat Allah dalam Perjanjian Lama. Dia-lah Hamba Tuhan yang menderita. Dia menderita untuk keselamatan umat manusia. Selain itu, sabda Tuhan mau mengajak kita untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus. Tuhan menghendaki supaya kita mau merendahkan hati di hadapan Tuhan dan sesama dengan hidup solider pada sesama.***
by: adrian

Minggu, 22 November 2015

Renungan HR Kristus Raja Semesta Alam - B

Renungan HR Kristus Raja Semesta Alam, Thn B/I
Bac I  Dan 7: 13 – 14; Bac II               Why 1: 5 – 8;
Injil    Yoh 8: 33 – 37;
Tema bacaan hari ini adalah Raja. Sosok raja dalam bacaan liturgi hari ini mengacu pada diri Tuhan Yesus. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nabi Daniel, berkisah tentang penglihatan Daniel. Dalam penglihatan itu, Daniel melihat sosok anak manusia yang diberi kekuasaan sebagai raja (ay. 14). Penglihatan Daniel akan Anak Manusia diperjelas oleh Yohanes dalam bacaan kedua, yang diambil dari Kitab Wahyu. Dalam kitabnya itu, Yohanes melihat bahwa anak manusia dalam penglihatan Daniel adalah sosok Yesus Kristus.
Dan dalam Injil, dalam dialog Tuhan Yesus dengan Pilatus, tampak jelas penegasan akan diri Tuhan Yesus sebagai Raja. Namun Tuhan Yesus menjelaskan bahwa "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (ay. 36). Dapat dikatakan bahwa kerajaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bukan semata kerajaan duniawi, melainkan juga rohani.
Jadi, bisa dikatakan bahwa semua bacaan-bacaan liturgi hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus adalah Raja. Ini dikaitkan dengan perayaan yang kita rayakan, yaitu Kristus, Raja Semesta Alam. Akan tetapi, kita tetap harus menyadari, sekalipun dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam, ke-raja-an-Nya bukan dalam artian politik duniawi, melainkan dalam pengertian spiritual rohani.
Sabda Tuhan menghendaki agar kita menyadari akan ke-raja-an Tuhan Yesus. Dialah Raja Semesta Alam. Sebagai raja Dia menguasai alam. Kita adalah bagian dari alam. Karena itu, kita juga termasuk hal yang dikuasainya. Akan tetapi, itu pun tergantung pada kesediaan diri kita membuka hati kita. Lewat sabda-Nya hari ini dan dengan perayaan Kristus Raja Semesta Alam ini, Tuhan mengajak kita untuk mau membuka hati dan diri kita agar Tuhan Yesus masuk dan merajai diri kita. Tuhan juga mau mengajak keluarga-keluarga katolik untuk bersedia membuka hatinya agar Tuhan Yesus dapat masuk dan merajai keluarganya.***
by: adrian

Minggu, 15 November 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXXIII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXXIII, Thn B/I
Bac I  Dan 12: 1 – 3; Bac II                 Ibr 10: 11 – 14, 18;
Injil    Mrk 13: 24 – 32;
Tentu kita sudah sering mendengar tentang ramalan kiamat. Sabda Tuhan hari ini, secara khusus bacaan pertama dan Injil, berbicara soal akhir jaman atau yang biasa kita kenal dengan istilah hari kiamat. Akhir jaman itu digambarkan dengan kedatangan Anak Manusia, yang adalah Tuhan Yesus. Injil hari ini menggambarkan akhir jaman itu dengan mengambil lukisan Daniel.
Satu hal yang menarik adalah bahwa akhir jaman itu ditandai dengan kehancuran total. Namun kehancuran itu bukanlah akhir dari segala-galanya, karena sesudah itu akan muncul kehidupan baru. Setelah kehancuran itulah malaikat-malaikat Allah akan mengumpulkan manusia. Jadi, di balik lukisan kehancuran itu, Tuhan Yesus mau memberikan harapan kepada kita agar kita tidak perlu takut, cemas dan gelisah.
Bacaan kedua sama sekali tidak ada kaitan langsung dengan tema akhir jaman, namun pesannya dapat dikenakan. Penulis Surat kepada Orang Ibrani hendak menekankan tema pertobatan sebagai ungkapan syukur atas korban pelunasan dosa oleh Tuhan Yesus sebagai Imam Agung. Dengan korban Kristus itu, umat manusia dikuduskan. Karena dikuduskan inilah, maka kita kelak akan dipilih oleh para malaikat. Jadi, sebelum akhir jaman tiba, umat dipanggil kepada pertobatan sehingga menjadi kudus.
Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita untuk memiliki harapan, bukan hanya dalam menghadapi akhir jaman melainkan juga dalam setiap perjuangan hidup kita. Tentulah dalam kehidupan kita selama ini, kita pernah mengalami atau akan mengalami "kehancuran" hidup. Nah, Tuhan menghendaki agar "kehancuran" hidup itu tidak membuat kita kehilangan iman dan harapan. Justru, lewat sabda-Nya hari ini, kita diajak untuk tetap menumbuhkan harapan dalam peristiwa "kehancuran" itu. Dan harapan itu ada pada pertobatan.***
by: adrian

Senin, 09 November 2015

Renungan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran - B

Renungan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran, Thn B/I
Injil    Yoh 2: 13 – 22;
Hari ini adalah Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran. Bacaan-bacaan liturgi berkisah tentang Bait Allah (Gereja), meski dengan kisah yang bertentangan namun saling melengkapi. Bacaan pertama menggambarkan tentang Bait Allah. Dari sini kita dapat melihat bahwa Bait Allah adalah sumber kehidupan; di sana ada kesegaran dan kesembuhan. Sumber kehidupan itu ada pada air yang mengalir dari dalam Bait Allah. Air itu sampai ke Laut Asin (Laut kematian) sehingga mengubahnya menjadi Laut Kehidupan.
Gambaran yang berbeda dengan Injil. Dalam Injil kita mendengar kisah Tuhan Yesus membersihkan Bait Allah. Akan tetapi, kita dapat mengetahui dasar tindakan Tuhan Yesus itu. Bait Allah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan semua orang, tapi diubah menjadi sumber “kematian” rakyat kecil dan sumber kehidupan pejabat. Tuhan Yesus melihat ada perubahan makna Bait Allah. Karena itu, Tuhan Yesus berusaha mengembalikan fungsi Bait Allah. Dari sini juga Tuhan Yesus langsung merujuk kepada Diri-Nya sebagai Bait Allah, karena dari Diri-Nya mengalir rahmat kehidupan dan keselamatan.
Apa yang diungkapkan Tuhan Yesus di atas, kembali ditegaskan oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengingatkan akan pentingnya menghargai dan menghormati Bait Allah, karena ia adalah kudus. Dan Paulus mengingatkan jemaatnya bahwa setiap orang adalah bait Allah karena Roh Allah diam di dalam diri setiap individu. Di sini Paulus mau mengajak jemaat untuk dapat menghormati tubuh pribadi dan juga orang lain.
Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita akan peran gereja dalam kehidupan kita. Tuhan mengajak kita untuk membangun sikap yang benar terhadap gereja. Perayaan Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran mengajak kita untuk merenungkan gedung gereja kita. Sudahkah kita menjadikannya sebagai tempat atau sumber kehidupan? Dan lebih dari itu, kita juga semakin diingatkan bahwa diri kita adalah Bait Allah yang hidup. Sudahkah kita menjadi saluran rahmat kehidupan bagi sesama? Kita juga diajak untuk mau menghormati tubuh kita sendiri dan orang lain, karena tubuh ini adalah bait Allah.***

by: adrian

Minggu, 08 November 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII, Thn B/I
Bac I  1Raj 17: 10 – 16; Bac II            Ibr 9: 24 – 28;
Injil    Mrk 12: 38 – 44;
Bacaan pertama dan Injil hari ini memiliki kesamaan dan kemiripan cerita. Kesamaan ada pada subyek cerita, yaitu janda. Kemiripannya ada pada tema, yaitu memberi. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Raja-raja yang pertama, dikisahkan bahwa Nabi Elia meminta seorang janda di Sarfat untuk memberinya minum dan makan. Awalnya janda itu keberatan karena persediaan makanan yang ada hanya cukup untuk dirinya dan anaknya sekali makan saja. Namun karena perjelasan Elia, janda itu mengikuti saja. Dan terjadilah kelimpahan dalam hidupnya. Di sini mau diajarkan untuk membangun sikap memberi. Sikap memberi berarti mengutamakan orang lain daripada diri sendiri.
Dalam Injil Tuhan Yesus memberi pelajaran tentang pemberian janda miskin. Diceritakan bahwa suatu kali Tuhan Yesus memperhatikan kotak persembahan. Dia melihat seorang janda memberikan dua peser. Sekalipun nilai nominalnya kecil, Tuhan Yesus memuji janda itu karena “janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Tindakan janda miskin ini tak jauh berbeda dengan janda di Sarfat dalam bacaan pertama. Di sini pun Tuhan Yesus mau mengajak para murid-Nya untuk berani memberi dari apa yang dipunyai.
Sikap memberi yang ada pada bacaan pertama dan Injil ini direfleksikan dengan sangat bagus oleh penulis surat kepada orang Ibrani. Yang menjadi pusat refleksi penulis ini adalah Tuhan Yesus. Dengan tema yang sama, yaitu memberi, penulis melihat sosok Tuhan Yesus sebagai Imam Agung, yang mau memberikan dirinya sebagai kurban pelunas dosa umat manusia. Kurban itu merupakan bukti cinta Allah kepada umat manusia. Tuhan Yesus benar-benar memberikan diri-Nya secara total, bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk umat manusia.
Karena itu, menjadi jelas apa yang menjadi pesan sabda Tuhan pada kita hari ini. Tuhan menghendaki agar kita mau memberi apa yang ada dalam diri kita kepada sesama kita yang membutuhkan. Memberi itu bukan sebatas materi saja, melainkan juga hal-hal yang bersifat non material juga, seperti saran, nasehat, ilmu pengetahuan, dll. Memberi merupakan sikap yang berorientasi ke luar dari diri sendiri. Dengan memberi kita akan menerima dan berkelimpahan.***
by: adrian

Senin, 02 November 2015

Renungan Peringatan Arwah Umat Beriman - B

Renungan Peringatan Arwah Semua Umat Beriman, Thn B/I
Bac I  2Mak 12: 42 – 46; Bac II           1Kor 15: 12 – 34;
Injil    Yoh 6: 37 – 40;
Kemarin Gereja merayakan pesta semua orang kudus. Hari ini Gereja semesta memperingati arwah semua umat beriman. Pada kesempatan ini umat beriman yang masih ada di dunia ini diajak untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal. Tujuannya agar mereka segera menikmati kebahagiaan abadi bersama para kudus. Dasar perbuatan ini ada pada sabda Tuhan yang menjadi bacaan liturgi hari ini.
Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Makabe kedua, Yudas mengajak umat Israel mendoakan mereka-mereka yang sudah meninggal, “supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.” (ay. 45). Dasar tindakannya ini adalah iman akan kebangkitan (ay. 44). Iman akan kebangkitan ini juga yang menjadi pewartaan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Pusatnya adalah Kristus. Dalam bacaan kedua terlihat jelas bahwa kebangkitan Kristus-lah yang menjadi inti pewartaan Paulus. Karena dengan kebangkitan Kristus membawa penebusan bagi umat manusia. Tanpa kebangkitan-Nya, sia-sialah iman dan pewartaan Paulus (ay. 14).
Warta kebangkitan mau menunjukkan adanya kehidupan setelah kematian. Inilah yang diwartakan Tuhan Yesus dalam Injil. Hidup tidaklah berakhir pada kematian; atau kematian bukanlah akhir segala-galanya. Hidup tetap berlanjut setelah kematian, namun di tempat yang lain dan dalam situasi yang berbeda. Kematian seakan menjadi pintu gerbang untuk kehidupan berikutnya. Akan tetapi semua ini terjadi bila umat beriman pada Tuhan Yesus (ay. 40). Yesus Kristus adalah pintu gerbang kepada kehidupan itu.
Sabda Tuhan hari ini mau memberikan dua hal kepada kita. Pertama, kita diajak untuk tetap menaruh harapan akan kebangkitan badan bagi saudara-saudari kita yang sudah meninggal dan juga untuk diri kita sendiri. Kedua, kita diajak untuk mendoakan arwah mereka, sehingga akhirnya mereka menikmati kemuliaan kekal bersama para kudus yang berbahagia. Berdoa untuk arwah umat beriman, selain untuk keselamatan hidup kekal mereka, juga mau menunjukkan keterikatan relasi kita dengan mereka. Di sini hendak ditegaskan bahwa kematian sama sekali tidak memisahkan kita.***

by: adrian

Minggu, 01 November 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXXI - B


Renungan Hari Minggu Biasa XXXI – B
Bac I  Ul 6: 2 – 6; Bac II            Ibr 7: 23 – 28;
Injil    Mrk 12: 28 – 34;
Bacaan pertama dan Injil hari ini memiliki kesamaan pada tema, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Ulangan, dikisahkan bahwa Nabi Musa memberikan perintah dari Allah untuk diperhatikan oleh umat Israel. Perintah itu adalah mengasihi “TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (ay. 5). Dalam perintah ini terdapat totalitas dalam mengasihi Allah. Dan Musa menghendaki supaya umat Israel melakukan ketetapan dan perintah ini dengan setia sehingga mereka akan akan mendapatkan rahmat dan berkat (ay. 3).
Perintah Allah yang diberikan Musa kepada bangsa Israel, kembali ditegaskan Tuhan Yesus dengan menambah tekanan. Dalam Injil Tuhan Yesus memberikan dua perintah yang utama, sebagai jawaban atas pertanyaan seorang ahli Taurat tentang perintah yang paling utama. Dua perintah utama itu adalah mengasihi Allah dengan totalitas diri dan mengasihi mengasihi sesame seperti mengasihi diri sendiri (ay. 30 – 31). Dalam pelaksanaannya dua perintah ini tak bisa dipisahkan satu sama lain, melainkan harus sejalan seiringan, ibarat 2 sisi koin. Sama seperti Musa yang menghendaki agar perintah Allah dilaksanakan dengan setia, demikian dua perintah utama yang diberikan Tuhan Yesus ini. Melakukan dua perintah tersebut dengan setia dan benar, membuat kita dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Tapi jika kita hanya sebatas mengetahuinya saja, maka kita “tidak jauh dari Kerajaan Allah.” (ay. 34).
Ketetapan dan perintah Allah yang ada pada bacaan pertama dan Injil ini direfleksikan dengan sangat bagus oleh penulis surat kepada orang Ibrani. Yang menjadi pusat refleksi penulis ini adalah Tuhan Yesus, yang bagi penulis dilihat sebagai Imam Agung. Keagungan imamat Yesus terletak pada pelaksanaan peran-Nya sebagai pengantara antara manusia dan Allah sehingga dengan demikian manusia memperoleh keselamatan (bdk. Ay. 25). Sebagai Imam Agung, Yesus mau memberikan diri-Nya sebagai kurban pelunas dosa umat manusia. Kurban itu merupakan bukti cinta-Nya kepada umat manusia, dan kesetiaan-Nya kepada Allah.
Perintah kasih bukanlah merupakan barang baru bagi umat kristiani. Kasih ini menjadi identitas bagi agama Kristen. Para pengikut Kristus dikenal ketika mereka melaksanakan cinta kasih, bukan hanya kepada Allah tetapi juga kepada sesama. Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa perintah kasih ini tidak hanya sebatas ucapan bibir atau pengetahuan akali saja. Melalui sabda-Nya hari ini Tuhan menghendaki kita untuk mempraktekkan perintah kasih ini dalam kehidupan kita, kapan dan dimana saja kita berada. Dengan melaksanakan perintah kasih dengan totalistas diri, kita secara tak langsung telah menyelamatkan sesama sekaligus menghantar dia kepada Kristus.***
by: adrian

Minggu, 11 Oktober 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXVIII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXVIII, Thn B/I
Bac I  Keb 7: 7 – 11; Bac II                 Ibr 4: 12 – 13;
Injil    Mrk 10: 17 – 30;

Dalam bacaan kedua hari ini, yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani, penulis memaparkan refleksinya tentang sabda Allah. Bagi penulis, sabda Allah itu lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun sehingga dapat memisahkan jiwa dan roh, serta membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (ay. 12). Sungguh luar biasa tajamnya sehingga dapat memisahkan jiwa dan roh. Di sini penulis mau mengajak pembacanya untuk senantiasa membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci.
Peran sabda Allah yang dapat memisahkan dan membedakan itu dapat dilihat dalam bacaan pertama dan Injil. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Kebijaksanaan, peran itu dirasakan oleh Raja Salomo. Dengan sabda Allah itu Salomo dapat memisahkan keinginan dan kebutuhan. Salomo lebih memilih pengertian dan kebijaksanaan daripada kekuasaan dan kekayaan (ay. 7 – 8). Justru pilihan pertama itu membuat yang kedua datang menghampirinya (ay. 11).
Apa yang disampaikan dalam bacaan pertama, terlihat juga dalam Injil. Peran sabda Allah itu diperankan langsung oleh Tuhan Yesus. Dia adalah Sabda Allah yang menjadi manusia (Yoh 1: 1, 14). Dalam Injil sabda Allah mampu membedakan antara kewajiban dan pengorbanan. Kepada orang muda yang kaya, yang ingin mengetahui cara mendapatkan hidup kekal, Tuhan Yesus memintanya untuk berkorban bagi sesama. Tidak cukup hanya dengan melaksanakan kewajiban saja (ay. 19 – 20). Kepada para murid-Nya, Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa jika mereka memilih pilihan pengorbanan maka yang lain akan menyusul (ay. 29 – 30). Ini seperti pilihan Salomo.
Dewasa ini banyak orang merasa cukup hanya dengan melaksanakan kewajiban agamanya saja. Orang merasa dengan melaksanakan kewajiban itu ia sudah merasa lebih suci dan hebat dalam kehidupan rohani. Sabda Tuhan hari ini membuka mata kita bahwa hal itu belumlah cukup. Tuhan menuntut lebih. Tuhan menghendaki supaya kita mau berkorban. Yang dikorbankan adalah diri kita dengan segala kepentingannya. Pengorbanan itu ditujukan kepada sesama.***
by: adrian

Minggu, 04 Oktober 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXVII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXVII, Thn B/I
Bac I  Kej 2: 18 – 24; Bac II                Ibr 2: 9 – 11;
Injil    Mrk 10: 2 – 12;

Bacaan pertama dan Injil hari ini secara langsung berbicara tentang perkawinan atau hidup berkeluarga. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Kejadian, diceritakan beberapa hal terkait dengan perkawinan itu, misalnya bahwa istri adalah penolong yang sepadan bagi suami (ay. 18), bahwa istri merupakan bagian dari suami (ay. 21), dan bahwa suami istri tak terceraikan (ay. 24). Di atas semuanya ini terlihat jelas bahwa perkawinan itu dibentuk atas dasar kehendak Allah. Oleh karena itu, beberapa hal yang berkaitan dengan perkawinan itu berdasarkan kehendak Allah.
Dalam Injil Tuhan Yesus mengulang kembali apa yang sudah diungkapkan dalam bacaan pertama tadi. Hal ini terkait dengan pernyataan orang Farisi bahwa boleh bercerai asal punya surat cerai, dan ini didasarkan pada tindakan nabi Musa (ay. 4). Akan tetapi, Tuhan Yesus menegaskan hakikat perkawinan yang dari semula merupakan kehendak Allah. Tuhan Allah-lah yang membentuk perkawinan. “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (ay. 9).
Penulis Surat kepada Orang Ibrani, yang menjadi bacaan kedua hari ini, sama sekali tidak menyinggung soal perkawinan. Penulis hanya menampilkan refleksi hubungan umat dengan Kristus Yesus. Dikatakan bahwa Tuhan Yesus telah mengalami maut bagi semua manusia (ay. 9). Sekalipun Dia memiliki kemuliaan, namun Dia tak mempermasalahkan untuk “turun” bersama manusia. Bahkan bagi penulis, Tuhan Yesus telah menyatu dengan manusia sehingga Ia tidak malu menyebut mereka saudara (ay. 11). Kebersatuan ini membuat manusia bukan siapa-siapa lagi, melainkan bagian dari kehidupan Tuhan Yesus. Kiranya semangat ini harus ada dalam kehidupan suami istri. Ketika mereka bersatu, istri menjadi bagian dari hidup suami, demikian pula sebaliknya.
Dewasa kini perceraian seakan menjadi budaya. Bahkan dalam Gereja Katolik, yang sedari awalnya tidak mengenal istilah cerai, banyak pasangan suami istri yang bercerai. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada lagi kebersatuan antara suami istri. Suami tidak lagi melihat istri sebagai bagian dari hidupnya atau penolong yang sepadan, demikian halnya dengan sang istri. Mereka saling menganggap satu sama lain sebagai orang asing. Sabda Tuhan hari ini mencoba membuka kesadaran suami istri. Tuhan mengingatkan kita, khususnya pasangan suami istri, bahwa pernikahan itu dibentuk oleh Tuhan. Ketika mengikrarkan janji nikah, suami bersatu dengan istri. Kebersatuan ini bukan hanya dalam arti fisik, melainkan juga psikis, jiwa dan spiritual.***
by: adrian

Minggu, 27 September 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXVI - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXVI, Thn B/I
Bac I  Bil 11: 25 – 29; Bac II               Yak 5: 1 – 6;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Bilangan. Di sini diceritakan bahwa Musa menegur Yosua, yang adalah abdinya. Sudah sejak masa muda Yosua mengikuti dan mengabdi pada Musa. Karena sudah sekian lama mengabdi pada Musa membuat Yosua merasa memiliki “kuasa”. Karena itu, ketika ada laporan perihal Eldad dan Medad, Yosua merasa punya kepentingan. Ia meminta Musa untuk mencegah kedua orang itu. Namun Musa menegornya, karena Yosua menilai mereka hanya menurut kacamatanya sendiri.
Dalam Injil juga Tuhan Yesus menegur para murid. Sama seperti Yosua para murid memiliki sikap angkuh, yang bersumber dari hidup lama bersama Tuhan Yesus (Yosua dengan Musa). Mereka merasa punya kuasa menentukan. Maka ketika ada orang lain mengusir setan demi nama Tuhan Yesus, mereka mencegah orang itu. Sama seperti Musa, Tuhan Yesus menegor para murid karena mereka menilai seseorang menurut cara pandang mereka saja.
Kesamaan cerita ini bukanlah suatu kebetulan. Musa yang menegur Yosua dalam Perjanjian Lama dan Tuhan Yesus yang menegur para murid dalam Perjanjian Baru. Hal ini memiliki makna bagi Tuhan Yesus. Dia-lah Musa Baru bagi Israel. Baik Musa maupun Tuhan Yesus sama-sama mengajak muridnya untuk menanggalkan "kacamata" yang digunakan untuk menilai orang lain.
Sering tanpa disadari, kita melihat dan menilai orang lain menurut "kacamata" kita. Rekan, sahabat, teman atau siapa saja kita ukur sesuai selera kita. Mereka yang tidak kita sukai, kita singkirkan. Orang yang tidak menyenangkan, dihindari. Hanya mereka yang disukai, karena mereka bisa menyenangkan saya, yang diterima dalam lingkungan pergaulan. Dengan sikap ini kita telah “membunuh” kebenaran. Hal inilah yang direfleksikan oleh Yakobus dalam suratnya, yang menjadi bacaan kedua. Dalam suratnya itu Yakobus berkata, “Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.” (ay. 6). Di sini Yakobus hendak mengajak kita untuk berlaku adil dengan menanggalkan “kacamata” penilaian kita.
Melalui sabda-Nya, hari ini Tuhan menghendaki kita untuk mau dan siap menerima siapa saja yang telah berbuat kebaikan dan mewartakan kebenaran. Kita harus mempunyai konsep bahwa mereka-mereka yang berjuang demi kemanusiaan, kebaikan, keadilan dan kebenaran, apapun agama, suku, ras dan golongannya, ada dalam satu kelompok dengan kita. Karena sebagai murid Kristus, kita juga terpanggil untuk mewujudkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan kedamaian serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.***
by: adrian

Minggu, 20 September 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXV - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXV, Thn B/I
Bac I  Keb 2: 12, 17 – 20; Bac II                   Yak 3: 16 – 4: 3;
Injil    Mrk 9: 30 – 37;

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Kebijaksanaan. Di sini diungkapkan rencana jahat orang jahat terhadap orang baik. Di mata orang jahat, orang baik dianggap sebagai penganggu kepentingannya (ay. 12). Rencana orang jahat kepada orang baik itu menyangkut aniaya dan siksa (ay. 19) serta hukuman mati yang keji (ay. 20). Melalui siksa dan aniaya orang akan dapat mengetahui kelembutan dan kesabaran hati orang baik itu.
Gambaran orang baik yang mendapat siksa, aniaya dan hukuman mati kembali ditegaskan Tuhan Yesus dalam Injil. Dalam Injil diceritakan bahwa Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya perihal Anak manusia yang akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh-Nya (ay. 31). Anak manusia yang dimaksud Tuhan Yesus, selain mirip dengan apa yang dikatakan Kitab Kebijaksanaan di atas, merujuk kepada diri Yesus sendiri. Dia-lah orang baik yang akan mendapatkan siksa dan aniaya, dan pada akhirnya dijatuhi hukuman mati yang keji lewat penyaliban. Sebagaimana yang sudah diketahui, Tuhan Yesus mati akibat iri hati pemuka agama Yahudi. Mereka tidak mementingkan kepentingan umat manusia, melainkan dirinya sendiri.
Dalam suratnya, yang menjadi bacaan kedua, Yakobus menyinggung soal iri hati dan mementingkan diri sendiri. Dalam suratnya dikatakan bahwa asal kekacauan dan segala macam perbuatan jahat adalah iri hati dan mementingkan diri sendiri. Dua sikap ini hanya akan melahirkan kesengsaraan, bukan hanya pada orang yang bersangkutan, melainkan juga pada orang lain. Karena itu, Yakobus mengajak umat untuk menanggalkan dua sikap itu dan menggantikannya dengan sikap murni, pendamai, ramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak dan tidak munafik (ay. 17).
Pertentangan antara orang baik dan jahat masih berlanjut hingga kini, baik di dunia sekular maupun di dalam Gereja sendiri. Saat ini pun orang baik selalu dilihat sebagai gangguan dan penghambat keinginan orang-orang jahat. Sering menjadi ironis bahwa orang jahat selalu mendapat dukungan dari banyak orang. Tak jarang petinggi pun ikut membela. Sabda Tuhan hari ini bukan sekedar memaparkan tentang Tuhan Yesus sebagai orang baik, melainkan mengajak kita untuk meneladani Dia. Sekalipun penuh tantangan dan derita, kita dipanggil untuk senantiasa menyuarakan kebaikan, kebenaran dan kedamaian.***
by: adrian

Senin, 14 September 2015

Renungan Pesta Salib Suci - B

Renungan Pesta Salib Suci, Thn B/I
Bac I  Bil 21: 4 – 9; Bac II                   Flp 2: 6 – 11;
Injil    Yoh 3: 13 – 17;

Hari ini Gereja Semesta mengajak kita bergembira merayakan Pesta Salib Suci. Pesta ini dikaitkan dengan penemuan potongan kayu salib Tuhan Yesus oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung, pada abad keempat. Salib itu diyakini sebagai salib tempat Tuhan Yesus tergantung. Akan tetapi, pesta Salib Suci bukan semata untuk memperingati peristiwa penemuan itu, melainkan ungkapan iman akan Salib Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan.
Salib sebagai jalan keselamatan terlihat dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. Dalam Injil dikatakan bahwa orang dapat naik ke sorga melalui Tuhan Yesus (ay. 13). Dan itu terjadi ketika Tuhan Yesus ditinggikan. Kata “ditinggikan” di sini mengandung makna penyaliban, yaitu saat Tuhan Yesus ditinggikan di kayu salib. Sebagaimana diketahui, pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib mendatangkan penebusan bagi umat manusia. Tuhan Yesus membandingkan peristiwa peninggian itu dengan peninggian ular di padang gurun oleh Musa (ay. 14). Peristiwa ini terdapat dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Bilangan. Orang yang memandang ular yang ditinggikan itu, akan mendapatkan keselamatan. Ia akan hidup.
Bacaan kedua, yang diambil dari Surat Paulus kepada jemaat di Filipi, juga menyinggung soal salib. Dalam suratnya itu, Paulus melihat bahwa pada peristiwa salib, Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya. Tuhan Yesus, yang menurut Paulus, setara dengan Allah, namun mengambil rupa sebagai seorang hamba. Proses perendahan diri ini merupakan bagian dari karya penebusan. Dan puncak penebusan itu ada pada salib, yaitu ketika Tuhan Yesus tergantung di kayu salib.
Salib sering dilihat sebagai bentuk penghinaan. Hanya orang yang benar-benar sangat jahat, layak mati di kayu salib. Namun Tuhan Yesus, yang sama sekali tidak ada kesalahan pada-Nya, memilih mati di kayu salib. Tuhan Yesus telah mengubah sesuatu yang hina menjadi mulia, karena melalui salib itu keselamatan dicurahkan. Salib sebagai jalan keselamatan, memiliki dua arah, yaitu vertikal dan horizontal. Keselamatan tegak lurus melambangkan keselamatan yang berasal dari Allah (atas) dan mendapat tanggapan dari manusia (bawah). Keselamatan horizontal menggambarkan Allah yang menjadi manusia, dalam diri Tuhan Yesus, hidup dalam kehidupan manusia, agar manusia pun mau menanggapi tawaran keselamatan Allah. Ini juga dapat melukiskan relasi kita dengan sesama. Kita diajak agar kita berperan dalam karya keselamatan Allah kepada sesama kita.***
by: adrian

Minggu, 13 September 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXIV - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXIV, Thn B/I
Bac I  Yes 50: 5 – 9a; Bac II               Yak 2: 14 – 18;
Injil    Mrk 8: 27 – 35;

Injil hari ini memuat pengakuan Petrus bahwa Tuhan Yesus adalah mesias (ay. 28). Peristiwa ini terjadi di Kaisarea Filipi. Pada waktu itu Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan kepada para murid-Nya tentang siapa diri-Nya, baik menurut banyak orang maupun menurut mereka sendiri. Kalau menurut para murid, jawaban Petrus mewakili mereka. Dan atas jawaban itu, Petrus mendapat pujian. Namun, tak lama kemudian Petrus dikecam Tuhan Yesus atas pernyataannya yang menolak jalan hidup mesias, yaitu “menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh.” (ay. 31).
Jalan hidup mesias sebenarnya sudah dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama. Bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya, berisi tentang hal itu. Dalam kitabnya, Yesaya menggambarkan Hamba Yahwe yang menderita. Gambaran penderitaan itu terlihat dari ungkapan punggungnya dipukul, disiksa dan dihina, sekalipun tidak ada kesalahan apapun padanya. Namun Hamba Yahwe ini sama sekali tidak memberontak (ay. 5 – 6). Nubuat Nabi Yesaya ini mendapat kepenuhannya dalam diri Tuhan Yesus.
Dalam suratnya, yang menjadi bacaan kedua, Yakobus mengungkapkan bahwa iman itu harus diwujud-nyatakan dalam perbuatan. Iman dan perbuatan itu merupakan dua sisi dari satu koin. Hal ini sama seperti peristiwa pengakuan Petrus, dalam Injil di atas. Pengakuan bahwa Tuhan Yesus adalah mesias merupakan satu sisi, dan bahwa jalan hidup mesias harus menderita merupakan sisi yang lain. Kalau dalam Injil Petrus hanya mau menerima satu sisi saja, dalam bacaan kedua Yakobus mengajak umat untuk siap menerima keduanya. Iman (Yesus sebagai mesias) harus diwujudkan dalam perbuatan (Hamba Yahwe yang menderita).
Banyak orang mengakui bahwa Yesus itu bukan manusia biasa. Dia memiliki kekuatan adikodrati. Namun mereka menolak akhir hidup-Nya. Bagi mereka, yang menderita dan mati itu bukan Yesus, melainkan orang yang menyerupai Dia. Sikap orang-orang ini tak jauh beda dengan Petrus, yang hanya mengakui kemesiasan-Nya, tetapi menolak jalan hidup-Nya. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita membangun sikap seperti yang disuarakan Yakobus: iman harus diikuti dengan perbuatan. Kita hendaknya menerima kemesiasan-Nya sekaligus jalan hidup-Nya yang penuh sengsara dan derita.***
by: adrian

Minggu, 06 September 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXIII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXIII, Thn B/I
Bac I  Yes 35: 4 – 7a; Bac II               Yak 2: 1 – 5;
Injil    Mrk 7: 31 – 37;

Hari ini bacaan pertama diambil dari Kitab Nabi Yesaya. Di dalam kitabnya Yesaya menyampaikan nubuat kedatangan mesias, yang merupakan pengharapan bagi umat Israel. Situasi saat itu umat Israel berada dalam pembuangan. Mereka sangat menderita. Karena itu, Yesaya mengajak umat Israel untuk bersiap menyambut Dia. Mesias ini akan menyelamatkan mereka. Yesaya menyebutkan tanda kehadiran mesias itu, yaitu orang buta melihat, yang tuli bisa mendengar (ay. 5) juga orang lumpuh dapat berjalan serta yang bisu bisa berkata-kata (ay. 6).
Tanda-tanda kehadiran mesias, seperti digambarkan Nabi Yesaya, terlihat dalam diri Tuhan Yesus. Dalam Injil hari ini dikisahkan mukjizat Tuhan Yesus menyembuhkan orang bisu dan tuli. Sekalipun Tuhan Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakan kepada siapapun, namun makin luas mereka memberitakannya (ay. 36). Hal ini dapat dimaklumi, karena kehadiran mesias sudah lama dinantikan. Kedatangan mesias merupakan kerinduan dan pengharapan yang begitu mendalam, sehingga ketika melihat sedikit saja tanda kehadirannya, akan berdampak besar.
Dalam suratnya, yang menjadi bacaan kedua hari ini, Yakobus seakan merefleksikan tentang Tuhan Yesus sebagai mesias. Sebagai mesias, Tuhan Yesus hadir untuk siapa saja, teristimewa mereka yang lemah dan tersingkirkan. Meminjam kata-kata orang banyak dalam Injil, “Ia menjadikan segala-galanya baik.” (Mrk 7: 37). Akan tetapi, refleksi Yakobus tidak hanya berhenti pada Tuhan Yesus saja. Yakobus justru menjadikan Tuhan Yesus sebagai media refleksi bagi umat. Yakobus mengajak umat untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus. “Janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (ay. 1).
Yesus adalah Tuhan. Sebagai Tuhan Dia mesti diimani. Akan tetapi, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada mengimani. Tuhan Yesus harus juga diteladani. Jadi, pada Tuhan Yesus, iman itu harus tampak juga dalam perbuatan. Yang dapat dilakukan, sebagai ungkapan meneladani Dia, adalah sikap-Nya terhadap orang kecil dan terpinggirkan. Tuhan menghendaki supaya kita tidak memandang rendah orang miskin, lemah dan cacat. Umumnya orang-orang ini selalu disingkirkan. Melalui sabda-Nya, Tuhan mengajak kita untuk merangkul mereka.***
by: adrian

Minggu, 30 Agustus 2015

Renungan Hari Minggu Biasa XXII - B

Renungan Hari Minggu Biasa XXII, Thn B/I

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Ulangan. Di sini dikisahkan tentang sabda Allah kepada umat Israel yang akan memasuki negeri yang diberikan Tuhan. Sebelum mereka menduduki negeri tersebut, Tuhan Allah memberikan beberapa petunjuk. Dalam petunjuk itu terkandung juga nasehat agar bangsa Israel melaksanakan segala perintah Allah dengan setia. Mereka dilarang untuk menambahi dan menguranginya (ay. 2). Di sini Tuhan Allah menghendaki supaya umat Israel hidup sesuai dengan ketetapan yang diberikan Tuhan.
Dalam perjalanan waktu, setelah bangsa Israel menduduki negeri itu, kehidupan pun semakin berkembang. Mulailah muncul tradisi-tradisi yang ditetapkan oleh nenek moyang. Tradisi-tradisi itu bersifat mengikat. Menjadi persoalan, tradisi itu akhirnya mengalahkan ketetapan Allah. Hal inilah yang terlihat dalam Injil hari ini. Serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat mengkritik Tuhan Yesus yang membiarkan beberapa murid-Nya makan tidak sesuai dengan tradisi, yaitu membasuh tangan sebelum makan (ay. 2). Tuhan Yesus balik mengkritik mereka. “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (ay. 8). Di sini Tuhan Yesus ingin menyadarkan orang Farisi dan ahli Taurat akan kehendak Allah untuk setia pada ketetapan-Nya.
Oleh karena itu, dalam suratnya, yang menjadi bacaan kedua hari ini, Yakobus mengajak umat untuk setia kepada kehendak Allah. Kehendak Allah itu dapat dilihat atau dibaca dalam firman-Nya (Kitab Suci). Yakobus meminta umat untuk membuang semua kekotoran dan kejahatan dari dalam diri dan berusaha menerima sabda Tuhan dalam hati (ay. 21). Akan tetapi, Yakobus tidak hanya berhenti pada status penerima sabda saja. Ia menasehati supaya umat juga menjadi pelaku sabda (ay. 22). Artinya, sabda Tuhan yang telah diterima diterapkan dalam kehidupan.
Tak dapat dipungkiri, kita hidup dengan tradisi dan adat istiadat leluhur. Jauh sebelum kita mengenal Kristus, nenek moyang kita sudah hidup dalam tradisi. Dan ketika kita menjadi pengikut Kristus, tradisi itu pun masih melekat dengan kehidupan kita. Sabda Tuhan hari ini bukan bertujuan agar kita menyingkirkan semua tradisi itu. Melalui sabda-Nya, Tuhan menghendaki agar kita tidak mengalahkan kehendak Allah demi suatu tradisi. Kehendak Allah adalah yang utama. Bisa juga dikatakan bahwa jika suatu tradisi bertentangan dengan kehendak Allah, kita harus meninggalkannya. Dan sama seperti dulu kita hidup sesuai dengan tradisi, sekarang juga, setelah menjadi pengikut Kristus, kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah, yang ada dalam Kitab Suci, hendaknya menjadi pedoman hidup kita.***
by: adrian