Kamis, 02 Agustus 2012

Kaum Muda Katolik, Bangkitlah!

Kaum muda, bangkitlah!
Sosialisasi OMK Paroki St. Yosep TBK

Kita tahu bahwa kaum muda itu adalah harapan bangsa, karena masa depan sebuah bangsa ada di tangan kaum muda. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memperhatikan anak-anak mudanya dan anak-anak mudanya pun mau maju. Kita bisa ambil contoh negara Jepang setelah kalah dalam Perang Dunia II. Waktu itu mereka hancur total. Namun dalam sekejap Jepang menjadi sebuah negara yang super maju. Hal ini disebabkan karena pemerintahnya memberi perhatian khusus kepada kaum mudanya dan kaum mudanya sendiri memberi diri pada perhatian pemerintahnya. Artinya, kaum mudanya sendiri mau maju.
Pemuda adalah harapan bangsa karena di masa depan pemudalah yang akan memimpin bangsa. Karena itu bisa dibayangkan jika seandainya kaum mudanya merupakan sekelompok manusia yang tak becus. Misalnya, hidup moralnya tak benar, suka mabuk-mabukan, suka mencuri, dll. Tentulah masa depan bangsa itu akan suram.
Gambaran bangsa ini tak jauh berbeda dengan Gereja. Kaum muda juga merupakan harapan Gereja, karena masa depan Gereja ada di tangan kaum muda. Nah, inilah yang mau disampaikan pada kesempatan sosialisasi ini. Namun sebelumnya, marilah kita bersama-sama melihat situasi Gereja di Eropa untuk kita bercermin.

Melihat Gereja Eropa
       Eropa dulu adalah kristen. Berbicara soal Eropa, maka orang tak bisa dipisahkan dari kekristenan. Benih kekristenan di Indonesia pun datang dari Eropa (Portugal, Spanyol, Belanda, Perancis, dll). Hampir sebagian besar daratan Eropa awalnya merupakan basis agama kristen.
         Akan tetapi, bagaimana dengan sekarang? Dapatkah sekarang orang-orang kristen membanggakan diri dengan keeropaannya?
Ada tiga situasi Gereja Eropa saat ini, yaitu: Gereja tua, Gereja kosong dan Gereja mati. "Tua" di sini bukan dalam arti usia gedung atau sejarah keberadaan jemaat kristennya, melainkan bahwa yang hadir saat ini di gereja-gereja hanyalah orang tua. Yang muda sudah meninggalkan gereja. Hal inilah yang menyebabkan banyak gereja menjadi kosong; dan cepat atau lambat gereja menjadi mati. Dan hal ini memang sudah terjadi. Ada banyak gereja saat ini sudah beralih fungsi. Ada yang jadi bioskop, mall, Rumah Sakit, dll.
Ada beberapa sebab yang saling berkaitan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa salah satu penyebab inilah yang menjadi faktornya, melainkan saling kait-mengkait. Setidaknya ada empat faktor penyebab. Pertama, Gereja kaku. Tak bisa dipungkiri bahwa ada banyak kekakuan dalam gereja katolik. Misalnya, soal liturgi, aturan-aturan gereja, sikap imamnya, dll. Kekakuan ini menyebabkan tidak ada ruang bagi kompromi, inovasi dan kreativitas. Kekakuan adalah sikap yang bertentangan dengan jiwa kaum muda itu sendiri. Karena itulah, ada banyak kaum muda yang mengatasi kekakuan ini dengan “lompat pagar” meninggalkan gereja.
Kedua, budaya materialisme dan hedonisme. Dapat dikatakan bahwa budaya materialisme dan hedonisme sudah masuk ke dalam gereja, merasuki semua umat, tak terkecuali kaum mudanya. Budaya hedonisme adalah budaya yang mengutamakan kenikmatan di atas segalanya. Nah, berkaitan dengan kehidupan gereja, orang merasa bahwa gereja itu tidak mendatangkan kenikmatan dan kepuasan; apalagi bila kotbah pastornya yang buruk atau liturginya yang itu-itu saja sehingga menimbulkan kebosanan. Karena itulah banyak umat, khususnya kaum muda, mencari kepuasan di tempat lain. Budaya materialisme mendasari sikap untung rugi. Orang yang sudah dirasuki budaya materialisme ini hanya akan mencari sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya, yang bisa ditakar dengan materi. Karena itulah, orang yang materialis akan malas datang ke gereja karena dirasakannya tidak mendatangkan keuntungan.
Ketiga, kaum muda terabaikan. Mungkin kaum muda kurang mendapat perhatian dari gereja, karena gereja (para imamnya) sibuk mengurus kekayaan dan hal lain atau terlalu kaku dengan aturan. Karena tidak diperhatikan, maka kaum mudanya pergi ke tempat lain untuk mendapatkan perhatian. Hal ini terjadi ketika gereja-gereja aliran pentekostal muncul, kaum muda merasa mendapatkan tempatnya.
Keempat, filsafat relativisme. Ketika masih menjabat Ketua Dewan Kepausan untuk Doktrin Iman, Paus Benediktus XVI sangat keras melawan filsafat relativisme ini. Filsafat relativisme ini berpengaruh pada sikap orang terhadap gereja. Filsafat ini memunculkan prinsip: church no, Jesus yes! Filsafat ini juga membawa pengaruh pada pandangan agama yang dilihat sama saja. Misalnya, antara katolik dan protestan dari dedominasi mana saja. Orang berpikir, yang penting kan kristen, sama-sama pengikut Kristus. Padahal ada begitu banyak perbedaan. Hal yang sama juga terjadi dengan agama lain. Orang berpikir bahwa agama itu sama saja, karena tujuannya ke surga. Padahal ada prinsip yang mendasar soal keselamatan itu yang berbeda.

Bagaimana dengan Gereja Kita
         Kita telah melihat situasi Gereja di Eropa. Dari situ kita dapat mengajukan pertanyaan, bagaimana dengan situasi Gereja di tempat kita? Apakah Gereja Katolik di Tanjung Balai Karimun sudah “tua” atau kosong atau mati?
Saya tidak mau menjawabnya. Andalah yang dapat menjawabnya. Saya hanya mau mengajak kita untuk melihat faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya situasi Gereja di Eropa. Dapatlah dipastikan bahwa faktor-faktor penyebab di atas sudah ada di sini. Tak bisa dipungkiri bahwa terkadang sikap Gereja (baca: pastor) terlalu kaku tanpa kompromi. Kita juga tak bisa menyangkal bahwa budaya materialisme dan hedonisme sudah merasuk ke sendi-sendi kehidupan. Ada banyak kaum muda kita yang “lompat pagar”, baik dengan cara diam-diam maupun dengan cara terbuka, karena tidak menemukan kenikmatan atau keuntungan dalam Gereja kita. Filsafat relativisme juga ada dalam kehidupan kita saat ini. Karena itu ada umat yang menganggap bahwa semua agama itu sama saja.
Semua itu memang ada dalam kehiduapan Gereja kita saat ini. Nah, pertanyaan kita adalah apakah kita akan membiarkan Gereja kita menjadi tua, kosong dan mati? Kita harus ingat bahwa masa depan Gereja ada di tangan kaum muda, bukan di tangan pastor atau suster. Kalau begitu, apa sikap kita? Apa yang harus kita lakukan?
Bapak Uskup kita, Hilarius Moa Nurak, SVD, pernah berkata bahwa Gereja tidak boleh tua, sekalipun usianya terus bertambah. Gereja harus tetap menjadi muda. Artinya, gereja mesti diisi kaum muda. Bukan berarti orang tua dan anak-anak tidak perlu ke gereja. Yang dimaksudkan Bapak Uskup adalah agar kaum mudanya aktif dalam kehidupan menggereja. 
        Karena itu, kita harus memberi perhatian kepada kaum muda, karena merekalah harapan dan masa depan Gereja. Sama seperti negara Jepang di mana kaum mudanya mau memberi diri dalam mengembangkan negaranya, demikian pula harapannya dengan kaum muda Gereja Katolik St. Yosep TBK.

Bercermin pada Sinode II
Gereja Keuskupan Pangkalpinang telah melaksanakan sidang sinodenya yang kedua. Hasil sidang itu tertuang dalam buku, “Menjadi Gereja Partisipatif: Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang.” Dua hal yang bisa direnungkan adalah Gereja kaum awam dan Gereja partisipatif. Dua hal ini sepertinya saling berkaitan, tak bisa dilepaskan. Dan dua hal ini harus dilihat dari perjalanan sejarah Gereja Katolik di keuskupan kita, secara khusus paroki kita.
Tak bisa dipungkiri bahwa benih iman Katolik pertama sekali ditaburkan oleh kaum awam dari etnis Tionghoa. Berawal dari Moro. Mereka datang dari Paroki Pin Hai di Fu Kien (Tiongkok). Ketika di Moro mereka hidup membaur dengan masyarakat lain dari etnis Melayu. Mereka bukan saja sibuk bekerja dan memelihara imannya sendiri, melainkan juga mereka mengajar dan mempersiapkan orang untuk dibaptis. Artinya, mereka berperan sebagai katekis. Mereka bukan sarjana atau ahli agama. Mereka adalah nelayan. Tapi mereka terpanggil untuk mewartakan Injil. Karena panggilan itulah akhirnya mereka mau mengajari dan mempersiapkan orang untuk dibaptis.
Sekitar tahun 1933 (1936 ?) ada wabah penyakit malaria dan kolera. Wabah ini menyebabkan masyarakat, termasuk umat Katolik bermigrasi ke luar dari Moro. Ada yang ke Tanjung Batu dan ada juga yang ke Karimun (Tanjung Balai). Di Tanjung Batu keluarga bapak Alena merupakan pilar Gereja Katolik.
Pada tahun 1930-an memang sudah ada tenaga imam yang melayani umat Katolik. Akan tetapi dengan jumlah imam yang terbatas dan medan yang sangat luas, membuat peran katekis tak tergantikan. Dan lagi-lagi orang dari etnis Tionghoa ini juga yang menjadi katekisnya. Kita dapat mencatat di sini Josef Tan Soei Chi, Maria Tan Mui Ching dan Philips Kwan Liang Thai yang berperan sebagai katekis atau guru agama. Mereka-mereka inilah kaum awam yang berperan dalam perkembangan iman Katolik di Tanjung Balai Karimun. Ini bisa terjadi karena adanya kemauan dalam dirinya, bukan soal kemampuan.
Kemudian muncullah perantau dari Flores yang membawa tradisi katolik dari Flores. Mereka ini juga datang dan memberi diri untuk perkembangan iman Katolik. Ada di antara mereka yang berstatuskan katekis atau guru agama. Lalu datanglah katekis-katekis resmi dari Jawa, seperti bapak Andi dan bapak Yakobus.
Artinya, umat dengan kesadarannya berperan aktif dalam membangun Gereja. Kesadaran ini juga yang hendak dibangun saaat ini, khususnya dalam diri kaum muda.

Kaum Muda dan Tantangannya
      Ada orang yang mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang indah. Keindahan ini karena dikaitkan dengan hidup senang foya-foya. Akan tetapi kalau kita perhatikan dengan teliti terlihat bahwa keindahan itu hanyalah sesaat saja. Tentu kita ingat akan pepatah, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Pepatah ini seakan mau membalikkan prinsip umum kaum muda yang hanya memikirkan kehidupan saat ini dan di sini saja. Pepatah tadi mau mengatakan bahwa kita perlu juga memperhatikan dan mempersiapkan sesuatu saat ini untuk di kemudian hari.
      Prinsip kaum muda yang hanya memikirkan kehidupan sesaat saja inilah yang menimbulkan tantangan. Ada banyak tantangan yang terjadi dalam kehidupan kaum muda, misalnya seperti:
1.    Bahaya narkoba
2.    Pernikahan dini
3.    Hamil di luar nikah
4.    Kumpul kebo
5.    Seks bebas
6.    Tidak adanya ketrampilan kerja
7.    Pendidikan lanjut (di luar Karimun)
8.    Pindah gereja/agama
9.    Serangan terhadap iman katolik dari gereja lain dan juga dari agama lain
10.                       Dan tantangan lainnya.
Tantangan-tantangan di atas jelas sangat mencemaskan Gereja saat ini. Tentulah tantangan ini bukan menjadi tugas tanggung jawab pastor dan pengurus DPP saja, melainkan juga semua umat, termasuk kaum muda. Kaum muda harus bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan ini, karena tantangan ini berkaitan langsung dengan kehidupannya. Bisa juga dikatakan bahwa tantangan ini diciptakan oleh kaum muda atau hidup berdampingan dengan kehidupan kaum muda.
Oleh karena itulah, kepada kaum muda Katolik Paroki St Yosep Tanjung Balai Karimun diserukan untuk bangkit menghadapi dan melawan tantangannya. Untuk menjawab tantangan ini, dari moderator OMK membuat rancangan agenda umum. Agenda ini bersifat tawaran, khususnya berkaitan dengan waktu. Agenda umum itu adalah sbb:
1.    Misa OMK. Di sini, sesuai dengan amanat sinode, kaum muda diajak untuk berpusat pada Kristus. Dalam 1 tahun ada dua kali misa OMK dengan memanfaatkan momen valentine day (14 Feb) dan Sumpah Pemuda (28 Okt).
2.    LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar). Soal waktunya akan dipikirkan kemudian.
3.    Pembekalan/Pencerahan (momen tgl merah). Di sini bisa diisi dengan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, ceramah, dll. Temanya disesuaikan dengan kebutuhan/tantangan kaum muda.
4.    Bakti Sosial. Di sini, sesuai dengan amanat sinode, kaum muda diajak untuk bermisi. Acara yang bisa dilakukan misalnya seperti donor darah, bersihkan pasar, tanam manggrove/bakau di sepanjang jalan lingkar, bazar, dll. Ini bisa dilakukan saat aksi APP atau HUT paroki.

Kaum Muda dan Sinode II
         Sinode II Keuskupan Pangkalpinang memberi perhatian juga kepada kaum muda Katolik yang dikenal dengan istilah Orang Muda Katolik (OMK). Malah bisa dikatakan bahwa sinode menyerukan agar OMK ini diperhatikan. Akan tetapi, sangat penting juga jika OMK-nya sendiri juga mau memberi diri diperhatikan.
      Berkaitan dengan hasil sinode II ini, keuskupan memperkenalkan struktur paroki yang baru, di mana pengurus di tingkat paroki dipilih dengan berangkat dari bawah, yaitu KBG. Artinya, di tingkat KBG akan ada pemilihan pengurus KBG dengan seksi-seksinya, termasuk seksi OMK. Dari KBG inilah nantinya orang-orang ini akan diangkat ke tingkat wilayah sebagai pengurus wilayah dan ketua seksi wilayah. Dan dari tingkat wilayah ini akan sampai pada DKPP atau seksi ini-itu.
       Oleh karena itu, sebagai wujud memberi diri, sangat diharapkan agar kaum muda hadir dan melibatkan diri dalam KBG. Dari sanalah nanti akan terbentuk kepengurusan seksi OMK paroki/stasi. Seksi OMK, dalam menjalankan tugasnya, akan didampingi oleh moderator OMK dan juga tim pendamping yang berjumlah 12 orang.
        Apa tugas seksi OMK paroki? Tugas utama adalah mengkoordinir OMK yang ada, baik yang struktural maupun yang non struktural. Selain itu tugas lainnya adalah mewujudkan agenda umum di atas. Tugas lain adalah menjalin relasi dengan OMK-OMK paroki lain atau keuskupan lain serta membangun relasi dengan kaum muda lintas gereja dan agama. Tidak lupa pula kehadiran OMK dalam kehidupan menggereja, baik di tingkat KBG maupun di paroki sendiri.
        Di atas sudah disebutkan adanya OMK non struktural. Apa itu? OMK non struktural adalah kelompok OMK yang tidak masuk dalam struktur paroki yang baru. Mereka bergerak dalam kategori-kategori. Tujuan utama kategori ini adalah perekat kesatuan. Saat ini kita baru memiliki satu OMK kategorial, yaitu OMK Saroha. Ke depan sangat diharapkan munculnya OMK-OMK dengan kategori-kategori berdasarkan minat/bakat, pendidikan dan profesi.
      Oleh karena itu, kami mengundang kepada semua kaum muda untuk membentuk kelompok kategorial khusus kaum muda. Ini bisa menjadi salah satu sarana untuk menjawab dan menghadapi tantangan. Kelompok kategorial itu bisa seperti: OMK Pelajar, OMK Karya, OMK Guru, OMK Legio Maria, OMK THS/THM, OMK Flores, OMK Cina, OMK Koor, OMK Kelahiran Karimun, OMK Voli, OMK Pencinta Liturgi Gregorian, OMK Jawa, OMK Peduli Orang Sakit, OMK Pencinta Lingkungan, OMK Karismatik, OMK Kitab Suci, dll.
      Masih ada banyak lagi kategorinya. Intinya adalah bahwa kategori itulah yang menyatukannya. Misalnya, karena sama-sama pelajar, maka membentuk OMK Pelajar. Atau karena minatnya pada Legio Maria atau lingkungan hidup maka dibentuklah OMK Legio dan OMK Pencinta Lingkungan. Seorang pelajar bisa masuk dalam OMK Pelajar dan OMK Legio sekaligus, sejauh dia bisa mengatur dirinya.
       Berapa jumlah anggota dalam satu kelompok kategorial itu? Ada beberapa kelompok kategorial yang memang dibatasi jumlahnya, tapi yang lain bebas. Yang dibatasi adalah OMK Legio Maria, di mana satu kelompok tidak lebih dari 20 orang. Jadi, seandainya ada 50 orang tertarik dengan Legio Maria dan mau membentuk OMK Legio Maria, maka mereka bisa membentuk 3-4 kelompok yang dikenal dengan istilah presidium. Nama presidiumnya mengambil gelar-gelar Bunda Maria. Sedangkan kelompok lain tak dibatasi. Mungkin 10 orang punya minat pada perhatian kepada orang sakit, maka 10 orang ini membentuk satu kelompok kategorial, mungkin dengan nama OMK St. Carolus Boromeus.

OMK Kategorial
           Di atas sudah dipaparkan contoh-contoh OMK kategorial. Masih terbuka pada contoh lain, tergantung pada minat dan bakat kaum muda. Yang jelas haruslah berorientasi pada kebaikan dan bermanfaat baik bagi kaum muda itu sendiri maupun bagi orang lain. OMK kategorial ini dalam struktur paroki yang baru tidak mendapat tepatnya. Oleh karena itu, posisinya berada di luar struktural. Akan tetapi, OMK kategorial ini tetap berada di bawah koordinasi seksi OMK paroki dan/atau stasi. Artinya, jalur komunikasi dan komandonya jelas, yaitu ketua seksi OMK paroki dan/atau stasi. Karena berada di luar struktural, maka pelantikan OMK kategorial bukanlah merupakan suatu kewajiban, kecuali OMK Legio Maria, karena hal itu sudah merupakan tuntutan. Yang jelas OMK kategorial tidak membutuhkan SK (Surat Keputusan) pengangkatan. Yang lebih dibutuhkan adalah karya.
    Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa pembentukan kelompok kategorial ini berasal dari bawah, yaitu dari OMK sendiri, bukan dari pastor paroki, moderator OMK atau tim pendamping OMK. Jadi, masing-masing kaum muda mencoba mengenali bakat dan minat dalam dirinya dan teman-temannya. Dari situlah kemudian muncul pembicaraan untuk membentuk sebuah kelompok kategorial. Yang mesti disadari adalah ini merupakan wujud konkret partisipasi dalam Gereja, sebagaimana yang diamanatkan sinode. Selain itu juga, harus disadari bahwa dengan membentuk kelompok kategorial ini, kaum muda memiliki aktivitas yang berguna serta belajar untuk berkomitmen.
      Semua OMK kategorial memiliki hak dan kewajiban yang sama. Hendaknya hak dan kewajiban itu berimbang. Hak itu adalah perhatian dari Gereja berkaitan dengan pengembangan iman, moral dan kepribadian. Apa yang bisa dilakukan oleh OMK kategorial? Di sini saya akan memberikan tugas kewajiban umum, yang berlaku bagi semua OMK kategorial:
1.    Berdoa bersama dalam kelompoknya masing-masing (soal waktunya ditentukan sendiri)
2.    Ikut dalam agenda umum OMK
3.    Berpartisipasi dalam kehidupan menggereja, baik di tingkat KBG maupun di paroki/stasi
Sedangkan kewajiban khusus OMK kategorial dikaitkan dengan kategorinya. Di sini saya hanya mengungkapkan beberapa contoh saja. Misalnya OMK Legio Maria. Kegiatan OMK Legio Maria, mau tak mau, harus mengacu pada statuta Legio Maria.
Atau OMK Peduli orang sakit, kegiatan khusus mereka adalah mengunjungi orang sakit, baik di rumah maupun di rumah sakit dan mendoakan mereka. Mereka juga terbuka untuk mendoakan orang sakit yang bukan katolik, jika seandainya diminta. Untuk itu, kelompok ini hendaknya memiliki jaringan dengan pihak rumah sakit atau pengurus KBG.
OMK Koor/paduan suara memiliki kegiatan khusus latihan koor. Soal waktu merupakan kesepakatan kelompok, karena di sinilah mereka belajar untuk setia dan berkomitmen. Bisa saja buah dari latihan ini adalah tampil pada momen-momen tertentu, misalnya misa pemberkatan. Dalam satu paroki bisa saja terdapat 2 atau lebih OMK koor.
OMK pencinta lingkungan bisa membuat kegiatan khusus berkaitan dengan kecintaannya pada lingkungan. Misalnya membersihkan lingkungan gereja atau di luar gereja, camping, naik gunung, mengolah limbah, dll.
OMK karismatik mempunyai kegiatan khusus seperti latih lagu puji-pujian, mendoakan orang sakit, dll. OMK pelajar dapat membuat kegiatan khusus berkaitan dirinya sebagai pelajar, yaitu belajar bersama, berdiskusi, berkreasi (misalnya membuat tulisan, puisi, pantun lalu ditampilkan di mading paroki), dll.

Penutup
         Demikianlah uraian singkat soal OMK Paroki St. Yosep Tanjung Balai Karimun. Intinya adalah agar kaum muda katolik Paroki St. Yosep TBK bangkit untuk menghadapi tantangan dan mewujudkan harapan Gereja. Kaum muda bukanlah obyek pastoral, melainkan subyek pastoral. Oleh karena itu, kaum muda harus mau dan berani memberi diri dalam kehidupan berpastoral di paroki kita.
        Akhir kata, kami menghaturkan banyak terima kasih atas kerelaan dn kemauan kaum muda untuk menanggapi seruan ini. Apa yang diutarakan di sini bukan untuk kepentingan pastor atau pengurus DPP, melainkan untuk kepentingan kaum muda itu sendiri dan demi Gereja. Karena masa depan Gereja kita ada di tangan kaum muda.

Pastoran, 1 Agustus 2012
by: adrian

Orang Kudus 2 Agustus: St. Eusebius Vercelli

SANTO EUSEBIUS VERCELLI, USKUP & MARTIR
Eusebius lahir di pulau Sardinia, Italia, kira-kira pada tahun 283. Namanya yang berarti “kesayangan” sesuai benar dengan kenyataan hidupnya di kemudian hari. Ia disayangi Tuhan dan seluruh Gereja karena dengan gigih membela ajaran iman yang benar di hadapan para penganut Arianisme dan dengan penuh kasih sayang menggembalakan umatnya di Vercelli hingga meninggal dunia.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Lalu ia dibawa ibunya ke Roma untuk belajar di sana. Di kota Roma ia ditahbiskan menjadi lektor dan menjadi pelayan imam dalam setiap perayaan kurban misa. Untuk melanjutkan studinya, ia pindah ke Vercelli, Italia Utara. Di sana ia terus bertumbuh menjadi seorang yang saleh hidupnya. Pada tahun 340 ia ditahbiskan menjadi Uskup Vercelli. Sebagai uskup ia berusaha membina imam-imam yang berkarya di keuskupannya agar hidup lebih sesuai dengan jabatan mereka. Untuk itu ia membentuk suatu persekutuan hidup seperti biara bersama imam-imamnya. Konon persekutuan hidup bersama yang didirikannya merupakan tahap awal kehidupan monastik di dalam Gereja Barat. Dengan cara hidup itu, Eusebius bermaksud mendidik imam-imamnya menjadi pelayan umat yang tidak saja pandai tetapi juga suci dan tidak terikat batin dengan hal-hal duniawi. Usahanya itu diberkati Tuhan dengan hasil yang gilang gemilang. Banyak dari imam-imam binaannya menjadi imam dan uskup yang saleh hidupnya.

Menyaksikan kesalehan dan keberhasilan Eusebius, pada tahun 354 Paus Liberius (352 – 366) bersama uskup-uskup lainnya mengutus dia kepada Kaisar Konstantius untuk meminta kesediaan kaisar membuka sebuah konsili demi terciptanya ketenteraman di dalam tubuh Gereja dari gangguan bidaah Arianisme. Pada tahun 355 diadakan sebuah sinode para uskup di Milano, Italia, untuk membicarakan hukuman atas Uskup Santo Athanasius. Banyak uskup arian hadir dalam sinode itu. Mereka berusaha keras mempengaruhi uskup-uskup lainnya untuk mengikuti mereka. Eusebius yang hadir dalam sinode itu dengan gigih membela ajaran Athanasius dan menentang ajaran sesat para uskup arian yang tidak mengakui keallahan Yesus Kristus. Ia pun dengan tegas menolak menandatangani surat keputusan hukuman atas diri Uskup Santo Athanasius.

Karena sikapnya itu, Eusebius menanggung banyak penderitaan dari para uskup arian. Sejak bidaah itu didukung oleh kaisar Konstantius, Eusebius diancam dengan hukuman mati dan dibuang ke Scytopolis, Palestina di bawah pengawasan Uskup Arian Patrophilius. Di sana selama beberapa tahun ia disiksa oleh para musuhnya. Dari Scytopolis ia dikirim ke Kapadokia dan ke Mesir. Kendatipun banyak siksaan yang dialaminya, ia tetap teguh berpegang pada kebenaran imannya. Sepeninggal Kaisar Konstantius pada tahun 361, Eusebius dibebaskan. Sebelum kembali ke Vercelli ia masih menghadiri sinode uskup-uskup Aleksandria pada tahun 362 atas izin Kaisar Yulianus, pengganti Konstantius. Oleh uskup-uskup lainnya, Eusebius diutus ke Anthiokia untuk menyelesaikan pertikaian antara pengikut Santo Eustakius dan pengikut Uskup Arian Miletus.

Misinya itu tidak berhasil. Sebagai gantinya ia tanpa mengenal lelah meneruskan usahanya untuk menjaga ketenteraman umat menghadapi pengaruh Arianisme. Ia pergi ke Illiricum, mengunjungi berbagai Gereja dan mendesak para pemimpinnya agar tetap memegang teguh ajaran iman yang benar dari para rasul. Dari sana ia pulang ke Vercelli, Italia Utara pada tahun 363. Dia disambut umatnya seperti seorang pahlawan yang kembali dengan kemenangan.

Sisa-sisa hidupnya dimanfaatkannya untuk mengajari umat perihal ajaran iman yang benar. Ia masih meninggalkan kepada umatnya satu buku tafsiran mazmur-mazmur. Bersama Santo Hilarius dari Poiters Eusebius tampil sebagai seorang penentang Uskup Arian Auxensius. Eusebius akhirnya meninggal dunia di Vercelli pada tahun 371. Oleh Gereja dia dihormati sebagai seorang martir karena kesengsaraan yang dialaminya sewaktu dibuang oleh kaisar dan para penganut Arianis.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Kamis Biasa XVII - Thn II

Renungan Hari Kamis Pekan Biasa XVII B/II
Bac I  Yer 18: 1 – 6 ; Injil       Mat 13: 47 – 53

Injil hari ini berkisah tentang kerajaan sorga, khususnya soal akhir zaman. Dijelaskan melalui perumpamaan bagaimana proses “pengadilan” akhir yang diawali dengan penjaringan, pengumpulan lalu kemudian penyortiran. Dalam perumpamaan itu dikatakan bahwa para nelayan memilih ikan-ikan yang baik dan membuang ikan-ikan yang jelek. Tampak jelas bahwa wewenang ada di tangan para nelayan itu. Merekalah yang lebih tahu mana ikan yang baik dan mana ikan yang tidak baik.

Perumpamaan itu mau menjelaskan proses “pengadilan” akhir zaman. Yesus mengatakan bahwa tugas para malaikat untuk menyortir manusia ke dalam dua bagian: yang baik dan yang tidak baik. Yang baik akan menikmati kebahagiaan dalam sorga, sedangkan yang tidak baik masuk ke dalam api neraka. Inilah gambarannya.

Yang menarik dari kisah Injil ini adalah bahwa para malaikat itu menjalankan tugasnya seperti para nelayan. Merekalah yang memilih. Dan mereka benar-benar tahu mana manusia yang baik dan yang tidak baik. Sementara manusia bersikap berserah. Manusia, pada saat itu, tidak bisa memberontak menganggap dirinya baik. Manusia, sama seperti ikan, hanya berserah.

Di sini sabda Tuhan mau mengatakan kepada kita bahwa pilihan ada di tangan kita masing-masing. Kita tahu akhir ceritanya: yang baik akan masuk ke dalam pasu (sorga), sedangkan yang tidak baik akan dicampakkan ke dalam dapur api. Hal ini memberi kesempatan peluang kepada kita untuk melihat dan mengenal diri sendiri: apakah kita masuk kategori baik atau tidak baik. Jika kita mendapat diri kita tidak baik, maka sabda Tuhan juga memberi kesempatan untuk berubah. Persoalannya, maukah kita???

by: adrian