Minggu, 18 Mei 2014

Kekacauan Landa Gereja

GEREJA DALAM KEKACAUAN
“Kekacauan berkembang semakin parah, juga di dalam Gereja, dan kini menyebar ke segala penjuru dunia. Yang pertama akan digempur adalah para imam. Mereka membiarkan diri dijerumuskan oleh ketidaksetiaan. Setiap hari jumlah mereka yang membiarkan diri dijerumuskan oleh kesesatan ini semakin besar.

Atas nama kemajuan, sejumlah imam telah menjadi hamba dunia dan hidup menurut dunia. Mereka telah menggantikan doa dengan kegiatan yang menyibukkan; mereka telah menggantikan mati raga dengan terus memburu penghiburan dan kenikmatan; mereka telah mengganti kekudusan dengan semakin patuh kepada dosa. Mereka telah menjadi jasad berjalan, kubur yang dicat putih, yang masih menyebut diri imam, tetapi oleh Puteraku Yesus, tidak lagi diakui sebagai imam.

Dan sayang sekali, tidak jarang orang-orang seperti itulah yang paling dihargai, yang berhasil mencapai sukses dan yang ditempatkan pada kedudukan dengan tanggung jawab besar.

Mereka yang tetap setia biasanya adalah mereka yang dianiaya, yang paling tidak diacuhkan dan kadang-kadang sengaja disingkirkan.

Dengan demikian kegelapan merajalela dan awan setan berusaha menutupi segala sesuatu: setiap hari kemurtadan semakin besar.”
10 Maret 1977
diedit dari: Marian Centre Indonesia, Kepada Para Imam: Putra-putra Terkasih Bunda Maria. (hlm 284 – 285)

Orang Kudus 18 Mei: St. Yohanes I

SANTO YOHANES I, PAUS & MARTIR
Yohanes lahir di Tuscany, kira-kira pada tahun 470. Sebelum diangkat sebagai Paus di Roma menggantikan Paus Hormisdas (514-523) pada tanggal 13 Agustus 523, ia melayani umat Roma sebagai diakon agung. Sebagai Paus, ia adalah Uskup Dioses Roma ke-53. Masa kepausaannya yang singkat itu (523-526) diisinya dengan berbagai tindakan untuk membela kebenaran agama di hadapan para penganut Arianisme. Di kalangan umat, ia dikenal sebagai Paus yang ramah. Dengan Theodorikus, Raja Ostrogotik di Italia, ia menjalin hubungan baik tetapi segera berubah menjadi permusuhan karena dia tidak membela kepentingan Theodorikus yang Arian itu.

Permusuhan itu berawal dari keberhasilan Paus Hormisdas mengakhiri skisma antara Gereja Barat dengan Gereja Timur berkat kerjasama yang baik dengan kaisar Yustinus I pada tahun 519. Perbaikan hubungan ini membawa serta sejumlah hukum baru yang tidak menguntungkan bagi Thedorikus bersama pengikut-pengikutnya yang menganut ajaran sesat Arianisme. Untuk memperbaiki posisi mereka, Theodorikus yang bersahabat baik dengan Yohanes itu mendesak Paus Yohanes untuk memimpin sebuah delegasi menghadap kaisar. Misi ini tidaklah tercapai seluruhnya seperti yang diinginkan Theodorikus. Dalam kunjungan ke Konstantinopel Paus Yohanes bersama delegasinya diterima dengan senang hati oleh Yustinus, Patriakh Timur bersama umatnya. Bahkan di sana Yohanes diperkenankan merayakan Paskah

Selama beberapa waktu, Theodorikus menaruh curiga besar pada Yohanes tentang segala hal yang dibicarakan di Konstantinopel. Ia mencurigai bahwa Yohanes telah mengadakan persekongkolan untuk mengembalikan lagi kuasa kaisar Byzantium di Italia. Keberhasilan Paus Yohanes dalam kunjungannya ke Konstantinopel dilihatnya sebagai suatu tanda perlawanan terhadap dirinya. Oleh karena itu, sekembalinya delegasi itu ke Ravenna, Paus Yohanes ditangkap dan dipenjarakan di Ravenna. Ia disiksa hingga mati. Jenazah Yohanes dibawa ke Roma untuk dimakamkan di Basilik Santo Petrus.

Renungan Hari Minggu Paskah V - A

Renungan Hari Minggu Paskah V, Thn A/I
Bac I : Kis 6: 1 – 7; Bac II :            1Ptr 2: 4 – 9;
Injil       : Yoh 14: 1 – 12;

Dalam Injil hari ini Filipus meminta kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka. Dari sinilah Yesus mulai mengajari para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Apa yang dikatakan Yesus bukan berasal dari diri-Nya sendiri, melainkan dari Bapa. Demikian pula pekerjaan Yesus adalah juga pekerjaan Bapa. Yesus hendak melaksanakan karya Bapa bagi umat manusia. Salah satu karya-Nya adalah membangun Kerajaan Allah. Subyek dari Kerajaan Allah adalah manusia. Jadi, dengan kata lain, Yesus (Allah Bapa) membutuhkan manusia untuk membangun Kerajaan-Nya.

Manusia sebagai bahan bangunan inilah yang disampaikan Petrus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama, Petrus mengatakan bahwa Allah, melalui mereka, hendak membangun rumah rohani. Dan dalam pembangunan itu, dibutuhkan bahan dasar, seperti membangun rumah yang membutuhkan batu. Bagi Petrus, manusia adalah batunya. Karena itu, Petrus meminta umat untuk memberi diri “dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.” (ay. 5). Sikap yang dibutuhkan di sini adalah sikap berserah diri, membiarkan diri dipakai sepenuhnya oleh Allah demi bangunan rohani itu.

Sikap berserah sebagaimana yang diharapkan dalam bacaan kedua, tidak terlihat pada diri jemaat perdana yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Dikatakan bahwa terjadi sungut-sungut di antara jemaat, salah satunya disebabkan karena terabaikannya pelayanan terhadap janda-janda. Hal ini bisa terjadi karena ada sebagian jemaat yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya sehingga mengabaikan kepentingan bersama.

Hari ini sabda Tuhan, melalui bacaan liturgi, mau menyampaikan bahwa Allah berencana membangun bangunan rohani dengan menggunakan manusia sebagai bahan dasarnya. Tuhan membutuhkan diri kita. Hal ini perlu disadari: Tuhan membutuhkan kita demi pembangunan tersebut. Sekalipun Allah Mahakuasa, Dia membutuhkan kita. Karena itu, hendaklah kita mau memberikan diri kita untuk pembentukan bangunan itu. Namun yang perlu diingat adalah agar kita mengutamakan kehendak Allah yang terjadi, karena Dia-lah arsitek bangunan itu.

by: adrian