Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri islam, isis dan terorisme. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri islam, isis dan terorisme. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 September 2018

ISIS ITU ISLAM


Memasuki tahun 2000 dunia dihebohkan dengan kehadiran ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan NIIS (Negara Islam Iraq-Suriah). Belum selesai dengan urusan terorisme Al Qaidah, dunia dihadapkan dengan terorisme ISIS, yang konon jauh lebih biadab dari Al Qaidah. Salah satu misi perjuangan ISIS ternyata bukan hanya mendirikan Negara islam Iraq – Suriah, melainkan juga mengislamkan dunia. Karena itu, ISIS dilihat sebagai ancaman bagi dunia.
Menyaksikan kebiadaban anggota ISIS dalam membantai manusia yang tidak sepaham dengannya, menimbulkan reaksi tidak hanya dari kalangan non muslim tetapi juga dari kalangan islam. Reaksi dari kalangan islam tentulah sudah bisa ditebak. Umumnya mereka menyatakan bahwa tindakan ISIS itu bukanlah cerminan islam. Salah satu contohnya adalah tulisan (alm) Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal, yang pernah dimuat di Harian KOMPAS. Judul tulisannya adalah “NIIS, Khawarij, dan Terorisme”. Tulisan menarik ini bisa dikatakan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama islam. Sebenarnya pembelaan ini sudah banyak kali muncul, semenjak kehadiran kelompok teroris Al Qaeda. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam tulisan tersebut.
Akan tetapi, tulisan tersebut, sebagaimana tulisan-tulisan lain yang sejenis, masih menyisahkan kebingungan. Satu hal yang membuat bingung akhirnya melahirkan pertanyaan apakah benar ISIS itu bukan islam. Selain kebingungan, dalam tulisan Mustafa terdapat satu hal, yang bagi saya, terkesan lucu.
Dikatakan lucu karena, untuk membela agama islam, Mustafa malah semacam melemparkan persoalan radikalisme ini kepada penganut agama lain. Ali Mustafa menulis, “Sebab, terorisme dapat datang dari pemeluk agama mana saja…” Argumentasi ini mirip seperti argumen seorang anak yang kedapatan menyontek saat ujian. Ketika ditanya gurunya kenapa menyontek, ia berkata, “Orang lain juga nyontek, koq!”

Senin, 23 Maret 2015

Islam, ISIS dan Terorisme

BENARKAH ISIS BUKAN ISLAM?
KOMPAS, 14 Maret 2015, menampilkan tulisan Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal. Judul tulisannya adalah “NIIS, Khawarij, dan Terorisme”. Tulisan menarik ini bisa dikatakan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama islam. Sebenarnya pembelaan ini sudah banyak kali muncul, semenjak kehadiran kelompok teroris Al Qaeda. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam tulisan tersebut.

Akan tetapi, tulisan tersebut, sebagaimana tulisan-tulisan lain yang sejenis, masih menyisahkan kebingungan. Satu hal yang membuat bingung akhirnya melahirkan pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini. Selain kebingungan, dalam tulisan Mustafa terdapat satu hal, yang bagi saya, terkesan lucu.

Dikatakan lucu karena, untuk membela agama islam, Mustafa malah semacam melemparkan persoalan radikalisme ini kepada penganut agama lain. Ali Mustafa menulis, “Sebab, terorisme dapat datang dari pemeluk agama mana saja…” Argumentasi ini mirip seperti argumen seorang anak yang kedapatan menyontek saat ujian. Ketika ditanya gurunya, ia berkata, “Orang lain juga nyontek, koq!”

Pernyataan Mustafa ini terkesan menutupi persoalan utama: kaitan agama islam dan terorisme. Memang penulis mengatakan bahwa sejatinya terorisme tak ada kaitannya dengan agama. Tapi, benarkah demikian?

Pernyataan Mustafa di atas perlu dikritisi. Tak bisa dipungkiri bahwa pernyataan itu benar: terorisme bisa muncul dari pemeluk agama mana saja (harap bisa bedakan antara agama dan pemeluk agama). Terorisme bisa dilakukan oleh pemeluk agama Islam, Kristen, Buddha dan lainnya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa landasan terorismenya berbeda. Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok islam dilandasi pada ajaran agamanya. Ada banyak buku yang menyatakan hal ini, seperti Sejarah Teror dan Kudeta Mekkah. Karena itu, sekitar bulan September 2013 lalu, Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah untuk membakar Al Quran, karena kitab itu dinilai menciptakan radikalisme yang mengarah pada terorisme. Berbeda dengan pemeluk agama lain. Jika orang Kristen atau Buddha melakukan terorisme, bisa dipastikan mereka melanggar ajaran agamanya, karena tidak ada ajaran untuk melakukan hal itu.

Berkaitan dengan konteks ajaran agama, sangat menarik kalau kita kritisi pernyataan Mustafa lainnya. Dia menulis, “…, mengaitkan NIIS dengan agama islam akan melahirkan kesimpulan yang salah, karena islam adalah ajaran yang tertulis dalam Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW…” Hal inilah yang membuat banyak orang bingung.

Jumat, 22 Maret 2019

BEDA TERORIS ISLAM DAN TERORIS SELANDIA BARU


Tanggal 15 Maret 2019 merupakan hari berkabung bagi warga Selandia Baru. Negeri yang selama ini terbilang aman dan tenang digoncang aksi teror warga negara Australia, negeri tetangga. Uniknya adalah korban semuanya umat muslim yang baru saja menyelesaikan shalat Jumat di masjid Al-Noor, di pinggiran kota Christchurch. Setidaknya ada 49 korban tewas akibat aksi biadab tersebut (kemungkinan jumlah korban tewas dapat bertambah).
Selama ini terorisme selalu diidentikkan dan dikaitkan dengan islam, karena semua pelaku teror beragama islam. Dan sasaran targetnya adalah yang bertentangan dengan islam, sekalipun korbannya dapat juga umat islam sendiri. Akan tetapi, kali ini pelaku terornya bukan beragama islam. Malah sasaran korbannya justru umat islam.
Tentu semua kita sepakat bahwa aksi terorisme adalah tindakan yang sangat biadab dan di luar batas kemanusiaan. Tindakan tersebut patut dikutuk dan dikecam, dan pelakunya harus mendapatkan hukuman seberat-beratnya.
Sekalipun terorisme islam dan terorisme di Selandia Baru sama-sama merupakan tindakan biadab dan harus dikutuk, namun terdapat perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Yang paling mendasar adalah bahwa terorisme islam mendasarkan tindakannya pada ajaran agama. Dua sumber agama islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadis, sering dijadikan landasan aksi para teroris. Para pelaku teror mendapat inspirasi dan perintah dari ajaran agama islam. (untuk hal ini, silahkan baca Motivasi Para Teroris dan Tak Mungkin Membasmi Terorisme). Dapat disimpulkan bahwa para teroris islam melakukan aksi terornya karena mengikuti perintah Allah dan teladan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, pelaku terorisme islam adalah juga seorang religius.

Selasa, 22 Maret 2022

AKUI SAJA KALAU ISIS ITU ISLAM

KOMPAS, 14 Maret 2015, menampilkan tulisan Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal. Judul tulisannya adalah “NIIS, Khawarij, dan Terorisme”. Tulisan menarik ini bisa dikatakan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama islam. Sebenarnya pembelaan ini sudah banyak kali muncul, semenjak kehadiran kelompok teroris Al Qaeda. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam tulisan tersebut.

Akan tetapi, tulisan tersebut, sebagaimana tulisan-tulisan lain yang sejenis, masih menyisahkan kebingungan. Satu hal yang membuat bingung akhirnya melahirkan pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini. Selain kebingungan, dalam tulisan Mustafa terdapat satu hal, yang bagi saya, terkesan lucu.

Dikatakan lucu karena, untuk membela agama islam, Mustafa malah semacam melemparkan persoalan radikalisme ini kepada penganut agama lain. Ali Mustafa menulis, “Sebab, terorisme dapat datang dari pemeluk agama mana saja…” Argumentasi ini mirip seperti argumen seorang anak yang kedapatan menyontek saat ujian. Ketika ditanya gurunya, ia berkata, “Orang lain juga nyontek, koq!”

Pernyataan Mustafa ini terkesan menutupi persoalan utama: kaitan agama islam dan terorisme. Memang penulis mengatakan bahwa sejatinya terorisme tak ada kaitannya dengan agama. Tapi, benarkah demikian?

Pernyataan Mustafa di atas perlu dikritisi. Tak bisa dipungkiri bahwa pernyataan itu benar: terorisme bisa muncul dari pemeluk agama mana saja (harap bisa bedakan antara agama dan pemeluk agama). Terorisme bisa dilakukan oleh pemeluk agama Islam, Kristen, Buddha dan lainnya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa landasan terorismenya berbeda. Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok islam dilandasi pada ajaran agamanya. Ada banyak buku yang menyatakan hal ini, seperti Sejarah Teror dan Kudeta Mekkah. Karena itu, sekitar bulan September 2013 lalu, Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah untuk membakar Al Quran, karena kitab itu dinilai menciptakan radikalisme yang mengarah pada terorisme. Berbeda dengan pemeluk agama lain. Jika orang Kristen atau Buddha melakukan terorisme, bisa dipastikan mereka melanggar ajaran agamanya, karena tidak ada ajaran untuk melakukan hal itu.

Sabtu, 18 Februari 2017

MEMAHAMI KEBIJAKAN DONALD TRUMP

Setelah dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeluarkan beberapa kebijakan yang dinilai banyak orang sangat kontroversial. Salah satu kebijakan itu adalah larangan memasuki Negara Amerika Serikat bagi imigran dari 7 negara islam. Ketujuh negara itu adalah Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman. Tidak menunggu waktu lama, aksi protes pun melanda beberapa lokasi di Amerika. Mereka menentang kebijakan Trump tersebut. Tak kalah menarik, dunia pun mengecamnya.
Ada kesan bahwa mereka yang protes hanya sekedar protes, dan menilai bahwa aksi protes menggambarkan aspirasi seluruh rakyat Amerika. Padahal, sebuah suvei merilis bahwa lebih dari separuh rakyat Amerika setuju dengan kebijakan tersebut. Di samping itu, kebijakan Trump itu bukanlah kebijakan permanen. Penerapan larangan itu memiliki batasan toleransi waktu. Artinya, larangan itu tidak berlaku selamanya; bahkan tidak sampai 1 tahun. Akan tetapi, pihak yudikatif mengambil keputusan membatalkan kebijakan Trump tersebut.
Satu pertanyaan atas masalah ini adalah KENAPA. Kenapa Trump mengeluarkan kebijakan larangan itu, dan kenapa segelintir warga memprotesnya? Tak bisa dipungkiri bahwa dasar tindakan kedua pihak ini (Trump dan warga anti) adalah kemanusiaan. Trump mau membela kemanusiaan warga Amerika, sedangkan warga membela kemanusiaan universal. Warga memakai pola pikir awam, yaitu belas kasih mendahului kejadian; sementara Trump memakai pola pikir militer, yaitu sedia payung sebelum hujan, mencegah lebih baik daripada kejadian.
Yang menjadi dasar kebijakan Trump adalah terorisme. Karena itu, setelah keluar keputusan dari pengadilan yang membatalkan kebijakan pemerintah itu, Trump langsung menyatakan bahwa jika ada aksi teroris di Amerika, pihak pengadilanlah yang pertama kali disalahkan. Lewat kebijakan larangan itu, Trump mau melindungi warga Amerika dari bahaya terorisme. Karena itu, sebelum muncul aksi teror yang merugikan warga dan negara, adalah bijak jika dicegah terlebih dahulu. Salah satu tindakan pencegahannya adalah dengan melarang imigran dari 7 negara islam.
Dalam kebijakan larangan itu Trump bukan anti islam atau orang islam, sebagaimana yang sering disuarakan banyak pihak. Trump anti terhadap terorisme bukan islam, meski islam tak bisa dipisahkan dengan terorisme. Sikap Trump ini terlihat bahwa dia masih menjalin relasi dengan negara-negara islam lainnya. Negara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak dikenakan larangan masuk ke Amerika Serikat. Trump mengantisipasi politik perang Kuda Troya. Kemanusiaan dan belas kasih adalah Kuda Troya bagi umat muslim radikal untuk masuk ke Negeri Paman Sam ini. Dan kita semua tahu bagaimana kelanjutan kisah Kuda Troya.
Memang, dalam kebijakan Trump tersebut akan muncul kesan bahwa islam itu adalah agama teroris. Namun, kiranya kesan ini tidaklah terlalu berlebihan. Mark Gabriel pernah berkata, “Islamlah yang ada di balik terorisme, bukan muslim. Muslim adalah korban. Bahkan anak-anak muda berusia 19 tahun yang membajak pesawat dan terbunuh saat itu – mereka adalah korban. Penjahatnya adalah islam.”

Senin, 14 Mei 2018

TERORISME: DARI #KAMI TIDAK TAKUT KE #KAMI SUDAH MUAK

Dalam waktu 1 minggu bangsa Indonesia diguncang teror oleh para pelaku terorisme, yang terkait dengan Negara Islam Irak Suriah atau biasa disebut ISIS. Teror pertama terjadi di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, pada Rabu, 9 Mei, menewaskan 4 orang anggota brimob dan 1 anggota teroris. Selang sehari terjadi lagi di lokasi yang sama, yang menewaskan 1 orang anggota brimob dan 1 anggota teroris. Sebuah ironisme bahwa kejadian, yang melenan lebih banyak anggota polisi ini, justru terjadi di markas kepolisian yang memiliki kemampuan tempur.
Pada hari Minggu, 13 Mei, terjadi aksi terorisme di tiga kejadian. Pada sekitar pukul 02.00 dini hari, tim Densus 88 berhasil mencegat sekelompok teroris di Cianjur. Anggota teroris ini berhasil dilumpuhkan. Pada pagi hari, di saat umat kristiani hendak beribadah, aksi teroris terjadi di 3 lokasi berbeda di Surabaya, yaitu Gereja St. Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia dan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya. Aksi teror bom bunuh diri ini, yang dilakukan oleh 1 keluarga (ayah, ibu dan 4 anak), menewaskan lebih dari 10 orang, termasuk para teroris. Dan sekitar pukul 22.00 ada aksi teroris di daerah Sidoarjo, yang sekali lagi dilakukan oleh sebuah keluarga, namun aksi ini terbilang gagal karena bom keburu meledak.
Jika kita fokus pada aksi terorisme pada hari Minggu ini, terlihat pola gunung. Aksi terorisme di Cianjur dan Sidoarjo merupakan kaki Gunung Teror Minggu, karena kedua aksi ini merupakan aksi yang gagal. Sementara aksi terorisme di tiga gereja merupakan puncak Gunung Teror Minggu. Karena itu, di beberapa akun media sosial jaringan teroris juga di media sosial lainnya, aksi tersebut dipuji-puji.
Menghadapi aksi terorisme, mulai tanggal 9 Mei hingga 13 Mei, langsung muncul taggar #kami tidak takut, yang bertebaran di media sosial. Beberapa tokoh nasional, termasuk Bapak Presiden Jokowi, juga mengeluarkan seruan “Kami tidak takut”. Sasaran seruan ini ada dua, yaitu kepada kaum teroris dan juga kepada warga Indonesia. Kepada kaum teroris, seruan ini mau mengatakan kepada mereka bahwa aksi teror yang mereka buat tidak akan menimbulkan efek ketakutan. Ketakutan merupakan salah satu tujuan utama aksi teror, karena orang yang takut akan mudah dikendalikan.

Jumat, 01 Desember 2017

KESAMAAN KAUM WAHABI DAN KAUM KHAWARIJ

Islam selalu dikenal dengan agama rahmatan lil alamin, yang artinya agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan. Akan tetapi, setiap aksi intoleran atau gerakan radikal selalu dikaitkan dengan islam. Terorisme selalu dikuasai oleh islam, meski banyak juga tokoh islam menyangkal bahwa para teroris itu bukanlah islam. Hal inilah yang sering membuat umat non muslim bingung.
Ketika muncul gerakan-gerakan islam radikal yang intoleran, selalu muncul dua istilah, yaitu wahabi dan Khawarij. Ada kesan bahwa jika ada aksi anarkis yang mengatas-namakan islam, selalu diarahkan kepada dua nama ini. Seakan-akan dua nama ini, wahabi dan khawarij, hanya sebagai kambing-hitam. Menjadi pertanyaan, apakah wahabi dan khawarij itu bukan islam?
Umat non muslim mungkin banyak yang tidak tahu soal wahabi dan khawarij ini. Berikut akan ditampilkan kesamaan dua gerakan islam yang selalu dijadikan kambing-hitam jika terkait dengan radikalisme dan terorisme. Persamaan ini kami ambil dari buku Achmad Imron R, Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi: Sejarah, Doktrin dan Akidah (hlm. 122 – 123).

Rabu, 20 April 2016

Mau Masuk Sorga? Islamkanlah Orang Kafir !!!

MENGISLAMKAN ORANG KAFIR: TIKET MUDAH KE SORGA
Tujuan akhir hidup umat beragama adalah sorga. Tak ada satu orang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan dan situasi di sorga itu. Yang jelas di sana hanya ada kebahagiaan dan sukacita. Gambaran ini sangat kontras dengan neraka, sebagai bentuk lawan dari sorga. Setiap orang selalu menghindari neraka dan hanya inginkan sorga.
Bagaimana orang dapat sampai ke sorga? Tiap-tiap agama punya caranya sendiri. Dalam islam, salah satu cara untuk masuk sorga adalah dengan mengajak orang-orang kafir meninggalkan iman kepercayaannya sebelumnya dan masuk menjadi islam. Dengan kata lain, menjadi mualaf. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad. Sang nabi pernah bersabda, “Siapa yang dapat mengislamkan orang dengan usahanya, maka pastilah ia masuk ke dalam sorga.” (At-Tabrani).
Bunyi hadits At-Tabrani didasarkan langsung pada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Dan untuk masuk sorga merupakan suatu kepastian (“pastilah…”), jika orang berhasil membuat orang kafir masuk islam. Dikatakan orang kafir, karena dalam islam yang bukan islam disebut dengan istilah kafir. Untuk orang-orang Kristen gelar ini didapat karena iman mereka akan keallahan Yesus dan soal konsep trinitas (QS al-Maidah: 72 dan 73).
Dengan membaca hadits ini orang tentu akan berpikir bahwa orang islam pasti masuk sorga dengan mengislamkan orang lain. Tak peduli berapa banyak uang yang dikorupsinya, berapa banyak orang yang dibunuhnya atau berapa besar kejahatan yang telah dilakukannya. Yang penting sudah mengislamkan orang lain (walaupun hanya satu orang), ia pasti masuk sorga.
Karena itu, wajar saja bila memperhatikan banyak orang islam berjuang mengislamkan orang lain. Kita masih ingat beberapa pemain sepak bola di Indonesia yang kemudian masuk islam. Di Kepulauan Lingga, orang Kristen dapat memperoleh jabatan di pemerintahan jika mau pindah agama menjadi islam. Seorang guru mengajar di sebuah pulau terpencil jauh dari keluarganya (anak dan istri). Ia dapat pindah tugas di tempat keluarganya berada jika ia mau masuk islam.

Jumat, 05 Oktober 2018

TIKET MUDAH KE SURGA DALAM ISLAM


Tujuan akhir hidup umat beragama adalah surga. Tak ada satu orang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan dan situasi di surga itu. Yang jelas di sana hanya ada kebahagiaan dan sukacita. Dalam islam di surga itu ada kenikmatan seksual (bdk. QS Al-Baqarah: 25), karena di sana Allah menyediakan bidadari cantik (bdk. QS Ad-Dukhan: 54, dan QS At-Tur: 20) serta gadis montok yang sebaya (bdk. QS An-Naba: 33). Gambaran kenikmatan dan kebahagiaan ini sangat kontras dengan neraka, sebagai bentuk lawan dari surga. Setiap orang selalu menghindari neraka dan hanya inginkan surga.
Bagaimana orang dapat sampai ke surga? Tiap-tiap agama punya caranya sendiri. Dalam islam, salah satu cara untuk masuk surga adalah dengan mengajak orang-orang kafir meninggalkan iman kepercayaan sebelumnya dan masuk menjadi islam. Dengan kata lain, menjadi mualaf. Hal ini didasarkan pada pernyataan Nabi Muhammad. Sang nabi pernah bersabda, “Siapa yang dapat mengislamkan orang dengan usahanya, maka pastilah ia masuk ke dalam surga.” (At-Tabrani).
Tulisan At-Tabrani itu didasarkan langsung pada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Dan untuk masuk surga merupakan suatu kepastian (“pastilah…”), jika orang berhasil membuat orang kafir masuk islam. Dikatakan orang kafir, karena dalam islam yang bukan islam disebut dengan istilah kafir. Untuk orang-orang Kristen gelar ini didapat karena iman mereka akan keallahan Yesus dan soal konsep trinitas (QS al-Maidah: 72 dan 73).
Dengan membaca pernyataan itu orang tentu akan berpikir bahwa orang islam pasti masuk surga dengan mengislamkan orang lain. Tak peduli berapa banyak uang yang dikorupsinya, berapa banyak orang yang dibunuhnya atau berapa besar kejahatan yang telah dilakukannya. Yang penting sudah mengislamkan orang lain (walaupun hanya satu orang), ia pasti masuk surga.

Rabu, 13 November 2019

CARA MUDAH MASUK SORGA


Tujuan akhir hidup umat beragama adalah sorga. Tak ada satu orang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan dan situasi di sorga itu. Yang jelas di sana hanya ada kebahagiaan dan sukacita. Gambaran ini sangat kontras dengan neraka, sebagai bentuk lawan dari sorga. Setiap orang selalu menghindari neraka dan hanya inginkan sorga.
Bagaimana orang dapat sampai ke sorga? Tiap-tiap agama punya caranya sendiri. Dalam islam, salah satu cara untuk masuk sorga adalah dengan mengajak orang-orang kafir meninggalkan iman kepercayaannya sebelumnya dan masuk menjadi islam. Dengan kata lain, menjadi mualaf. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad. Sang nabi pernah bersabda, “Siapa yang dapat mengislamkan orang dengan usahanya, maka pastilah ia masuk ke dalam sorga.” (At-Tabrani).
Bunyi hadits At-Tabrani didasarkan langsung pada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Dan untuk masuk sorga merupakan suatu kepastian (“pastilah…”), jika orang berhasil membuat orang kafir masuk islam. Dikatakan orang kafir, karena dalam islam yang bukan islam disebut dengan istilah kafir. Untuk orang-orang Kristen gelar ini didapat karena iman mereka akan keallahan Yesus dan soal konsep trinitas (QS al-Maidah: 72 dan 73).
Dengan membaca hadis ini orang tentu akan berpikir bahwa orang islam pasti masuk sorga dengan mengislamkan orang lain. Tak peduli berapa banyak uang yang dikorupsinya, berapa banyak orang yang dibunuhnya atau berapa besar kejahatan yang telah dilakukannya. Yang penting sudah mengislamkan orang lain (walaupun hanya satu orang), ia pasti masuk sorga.

Kamis, 13 April 2023

ISLAM MENGAJARKAN UNTUK MENGISLAMKAN ORANG KAFIR AGAR MASUK SURGA

 

Tujuan akhir hidup umat beragama adalah sorga. Tak ada satu orang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan dan situasi di sorga itu. Yang jelas di sana hanya ada kebahagiaan dan sukacita. Gambaran ini sangat kontras dengan neraka, sebagai bentuk lawan dari sorga. Setiap orang selalu menghindari neraka dan hanya inginkan sorga.

Bagaimana orang dapat sampai ke sorga? Tiap-tiap agama punya caranya sendiri. Dalam islam, salah satu cara untuk masuk sorga adalah dengan mengajak orang-orang kafir meninggalkan iman kepercayaannya sebelumnya dan masuk menjadi islam. Dengan kata lain, menjadi mualaf. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad. Sang nabi pernah bersabda, “Siapa yang dapat mengislamkan orang dengan usahanya, maka pastilah ia masuk ke dalam sorga.” (At-Tabrani).

Bunyi hadits At-Tabrani didasarkan langsung pada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Dan untuk masuk sorga merupakan suatu kepastian (“pastilah…”), jika orang berhasil membuat orang kafir masuk islam. Dikatakan orang kafir, karena dalam islam yang bukan islam disebut dengan istilah kafir. Untuk orang-orang Kristen gelar ini didapat karena iman mereka akan keallahan Yesus dan soal konsep trinitas (QS al-Maidah: 72 dan 73).

Dengan membaca hadits ini orang tentu akan berpikir bahwa orang islam pasti masuk sorga dengan mengislamkan orang lain. Tak peduli berapa banyak uang yang dikorupsinya, berapa banyak orang yang dibunuhnya atau berapa besar kejahatan yang telah dilakukannya. Yang penting sudah mengislamkan orang lain (walaupun hanya satu orang), ia pasti masuk sorga.

Minggu, 28 Mei 2017

TERUNGKAP, ALASAN UMAT ISLAM MENGISLAMKAN ORANG KAFIR

Tujuan akhir hidup umat beragama adalah sorga. Tak ada satu orang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan dan situasi di sorga itu. Yang jelas di sana hanya ada kebahagiaan dan sukacita. Gambaran ini sangat kontras dengan neraka, sebagai bentuk lawan dari sorga. Setiap orang selalu menghindari neraka dan hanya inginkan sorga.
Bagaimana orang dapat sampai ke sorga? Tiap-tiap agama punya caranya sendiri. Dalam islam, salah satu cara untuk masuk sorga adalah dengan mengajak orang-orang kafir meninggalkan iman kepercayaannya sebelumnya dan masuk menjadi islam. Dengan kata lain, menjadi mualaf. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad. Sang nabi pernah bersabda, “Siapa yang dapat mengislamkan orang dengan usahanya, maka pastilah ia masuk ke dalam sorga.” (Al-Tabrani).
Bunyi hadis Al-Tabrani didasarkan langsung pada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Dan untuk masuk sorga merupakan suatu kepastian (“pastilah…”), jika orang berhasil membuat orang kafir masuk islam. Dikatakan orang kafir, karena dalam islam yang bukan islam disebut dengan istilah kafir. Untuk orang-orang Kristen gelar ini didapat karena iman mereka akan keallahan Yesus dan soal konsep trinitas (QS al-Maidah: 17, 72 dan 73).
Dengan membaca hadis ini orang tentu akan berpikir bahwa orang islam pasti masuk sorga dengan mengislamkan orang lain. Tak peduli berapa banyak uang yang dikorupsinya, berapa banyak orang yang dibunuhnya atau berapa besar kejahatan yang telah dilakukannya. Yang penting sudah mengislamkan orang lain (walaupun hanya satu orang), ia pasti masuk sorga.
Dengan prinsip hadis ini, wajar saja bila banyak orang islam berjuang mengislamkan orang lain. Terlebih kaum perempuan, karena menurut Hadis Sahih Muslim, sedikit saja kaum perempuan masuk ke sorga. Nabi Muhammad berkata, “Wahai kaum wanita! Beri zakat, karena aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kalian.” (HS Bukhari). Jadi, dalam pandangan islam, kaum perempuan lebih banyak menghuni neraka, sedangkan di sorga termasuk kelompok minoritas. Hal ini disebabkan karena perempuan selalu dipandang sebagai sumber dosa.

Minggu, 28 Juni 2015

Keturunan Ismail dan Keledai Liar

MENGENAL KARAKTER ORANG ARAB ( ISLAM) DARI ALKITAB
Islam, Yahudi dan Kristen dikenal sebagai agama Samawi. Dari etimologinya, kata samawi (kata adjektif) memiliki arti “berhubungan dengan langit”. Jika ditambahkan dengan kata agama, menjadi agama samawi, maka dapat dimengerti sebagai agama dari langit. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa agamanya dibangun berdasarkan wahyu Allah melalui para malaikat (dari langit) dan diteruskan oleh para nabi.
Agama samawi dikenal juga dengan sebutan agama Abrahamik. Hal ini didasarkan pada peran Abraham (Islam: Ibrahim), sebagai bapak kaum beriman. Sebagaimana diketahui, Abraham dikenal sebagai orang yang memulai kepercayaan monoteistik. Dari dialah lahir keturunan anak-anak bangsa, yang kemudian dikenal sebagai penganut agama Islam, Yahudi dan Kristen.
Dari Kitab Kejadian, kita dapat mengetahui bahwa Abraham mempunyai dua orang putera dari dua wanita yang ada padanya. Dari Sarah, isterinya yang sah, Abraham mendapat Ishak, dan dari Hagar, budaknya, ia mendapat Ismail. Diketahui, Hagar berasal dari Mesir (Kej 16: 3).
Salah satu perdebatan yang tak pernah selesai antara orang Kristen dan Islam adalah siapa yang dipersembahkan Abraham di Bukit Moria. Dan ini menjadi sebuah lelucon anak cucu Abraham. Orang Islam mengatakan bahwa Ismail yang dipersembahkan, meski dasarnya sangat lemah. Sementara orang Kristen mengatakan Ishak-lah yang dipersembahkan, karena dia merupakan anak sah. Hanya orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam perdebatan ini, karena mereka tahu bahwa yang dipersembahkan Abraham adalah seekor kambing.
Bagaimana dari dua putera Abraham ini muncul 3 agama monoteistik? Seperti yang diketahui, Abraham mendapatkan putera sah, yaitu Ishak, yang darinya lahir bangsa Israel. Orang Israel diidentikkan dengan agama Yahudi. Dalam agama Yahudi ada keyakinan mesianistik, dimana Allah akan melaksanakan karya penebusan-Nya.
Muncullah Yesus Kristus sebagai perwujudan rencana keselamatan Allah. Tuhan Yesus membawa pembaharuan dalam ajarannya. Beberapa pembaharuannya dapat dilihat seperti, cinta kasih, menolak hukuman mati, soal haram dan halal, dll. Namun orang Yahudi menolak-Nya. Penolakan ini akhirnya melahirkan orang Kristen (orang yang mengikuti Kristus). Orang Kristen identik dengan agama Kristen.
Selain Ishak, Abraham mempunyai seorang putera lagi dari budaknya, yaitu Ismail. Diyakini bahwa Ismail menjadi bapak bangsa Arab. Orang Arab sudah diidentikkan dengan agama Islam, meski sebagai agama, Islam baru hadir pada abad VII. Muhammad merupakan tokoh utama lahirnya agama Islam ini. Dikatakan bahwa Muhammad membawa pembaharuan. Namun pembaharuan Muhammad bukan pembaharuan atas ajaran samawi yang lama (agama Kristen), melainkan atas tradisi di tempatnya berada. Karena kalau dibandingkan dengan pembaharuan yang ditawarkan Yesus Kristus, Muhammad justru membawa manusia kembali kepada tradisi Yahudi (soal cinta kasih, hukuman mati, haram dan halal, dll).
Jadi, keberadaan agama Islam, Kristen dan Yahudi tak bisa dipisahkan dari kedua anak Abraham. Dapat dikatakan bahwa Ishak melahirkan agama Yahudi dan Kristen, sedangkan Ismail melahirkan agama Islam. Karena itu, orang Islam, Yahudi dan Kristen sebenarnya masih satu keluarga besar. Namun anehnya, kenapa ketiganya selalu tidak bisa hidup berdampingan dengan damai.
Banyak orang mengatakan bahwa biang pangkalnya ada pada orang Islam sebagai keturunan Ismail. Ini didasarkan pada “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Bagaimana hal ini dijelaskan? Kitab Suci sendiri sudah menyatakan soal karakter Ismail.

Sabtu, 05 Desember 2015

Memahami Kata "Kafir" menurut Islam

POLEMIK “KAFIR” DI FACEBOOK
Menarik mengikuti polemik kata “kafir” antara Sdr. IQmal Putra Hayat Bsl (IPH) dan Sdr. Fajar Ali Susanto (FAS) di Facebook. Polemik ini bermula dari tanggapan Sdr. IQmal terhadap komen Purwanto Brahmantyo, yang menanggapi status Sdr. Gunawan Budi Utomo di grop Facebook AHOK 4 DKI 1. Status Sdr. Gunawan sendiri, yang dikirim 24 September 2015, pukul 16: 12 (tepat hari raya Idul Adha), sebenarnya merupakan komen dia atas tulisan di ISLAMTOLERAN.COM, dengan judul “Fantastis! Gubernur Yang Suka Diteriaki Kafir Oleh FPI Ini Berkurban 30 Ekor Sapi”
Atas artikel situs Islam Toleran itu, Sdr. Gunawan menulis status yang sama dengan judul artikel, lalu menambah satu frase “Silahkan Like”. Sebelum Sdr. Purwanto menuliskan komennya, ada beberapa orang menanggapi status Gunawan tersebut. Akhirnya Sdr. Purwanto memberikan tanggapannya. Tercatat tiga kali Sdr. Purwanto memberikan komen; dan ketiga komen itu sama saja (semacam copy paste). Adapun komen Sdr. Purwanto berbunyi, “semua merasa jadi tuhan sehingga dengan mudahnya mengecap seseorang di anggap kafir! Hebat betul.” Komen ini diposting pada tanggal 24 September, pukul 17: 27.
Jika disimak dari nada tulisan Sdr. Purwanto, tampak jelas kalau komennya bukan hanya ditujukan untuk menanggapi status Sdr. Gunawan, tetapi juga komen-komen sebelumnya. Intinya, Sdr. Purwanto merasa miris melihat orang yang begitu mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda. Sdr. Purwanto menilai orang yang dengan mudah mengkafirkan orang lain sudah identik dengan Tuhan.
Dari komen Sdr. Purwanto inilah akhirnya muncul polemik antara Sdr. IQmal dan Sdr. Fajar. Sekedar diketahui, pada bagian lain, masih dalam topik yang sama, Sdr. IQmal menanggapi komen Mariani Sukaejie dengan menulis, “memang situs ISLAMTOLERAN sesat dan menyesatkan karena adminnya sendiri bukan islam tp Kristen.” Berikut ini akan saya tampilkan komen-komen diskusi mereka. Jadi, atas komen Sdr. Purwanto. Sdr. IQmal memberi tanggapan, yang kemudian ditanggapi oleh Sdr. Fajar sehingga terjadilah diskusi menarik di antara keduanya. Kami akan menyingkat nama keduanya.

Sabtu, 26 November 2016

EKSTREMIS ISLAM ANCAM KEBEBASAN BERAGAMA

Ekstremis islam mengancam kebebasan beragama di seluruh dunia, terutama di negara-negara Barat, Timur Tengah, dan Afrika. Demikian laporan yang dirilis oleh sebuah yayasan Vatikan (Aid to the Church in Need), yang memberikan bantuan kepada orang-orang di daerah konflik. Laporan ini mengatakan “kekerasan bermotif agama” telah menimbulkan serangan di satu dari lima negara di seluruh dunia dalam dua tahun terakhir.
Laporan itu, yang dirilis secara bersamaan di Vatikan dan Filipina pada 15 November, mengatakan bahwa “tujuan utama ekstremis islam adalah menghilangkan komunitas agama lain.” Dari 196 negara, 38 menunjukkan “bukti pelanggaran kebebasan beragama yang signifikan.”
Studi ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama memburuk di 11 dari 23 negara, yang dikategorikan sebagai “negara-negara penganiaya”, termasuk Banglades, Tiongkok, Indonesia dan Pakistan. Setidaknya tujuh negara – Afganistan, Irak, Nigeria, Korea Utara, Arab Saudi, Somalia dan Suriah – yang digambarkan sebagai “terburuk”.
Laporan ini menggambarkan ancaman ekstremisme sebagai “mematikan dengan niat genosida.” Serangan mereka termasuk “pembunuhan massal, pemerkosaan, penyiksaan ekstrem, seperti membakar orang hidup-hidup, penyaliban, dan melemparkan orang dari gedung-gedung tinggi.”
Laporan itu mengatakan bahwa ekstremisme “jelas berkembang dengan baik” dan ada bukti “penyebaran ideologi militan” di negara-negara dengan gerakan ekstremis seperti Banglades, Nigeria, Filipina, Indonesia, dan Pakistan.
Krisis Pengungsi

Sabtu, 20 Agustus 2016

Ini Alasan Kenapa ISIS Serang Arab Saudi

ARAB SAUDI DAN NIIS
Aksi bom bunuh diri beruntun yang dilakukan Negara Islam di Irak dan Suriah di Arab Saudi – Qatif, Jeddah dan Madinah (5/7/2016) – membuka lembaran baru relasi Negara kaya minyak itu dengan kelompok teroris paling brutal saat ini.
Semua tahu, geneologi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) tidak bisa dipisahkan dari pertarungan politik antara rezim yang berkuasa dan pihak oposisi di Irak dan Suriah. Instabilitas politik di dua negara itu telah memunculkan lahirnya kelompok-kelompok perlawanan yang membawa bendera agama.
Di Suriah, Arab Saudi bersama Negara Teluk lainnya menyokong pihak oposisi. Alasan mereka, melengserkan rezim Bashar al-Assad sama halnya dengan melemahkan pengaruh Iran di kawasan. Arab Saudi dan sekutunya punya target yang tak main-main memerankan kartunya di Timur Tengah mengubah peta geopolitik. Karena itu, seluruh kelompok oposisi yang punya misi menjatuhkan rezim Assad mendapat dukungan finansial dan persenjataan yang sangat luar biasa.
Namun, satu hal yang tak dikalkulasi Arab Saudi dan Negara Teluk, di antara kelompok oposisi tersebut punya misi terselubung. Kelompok oposisi punya mimpi masing-masing perihal masa depan Irak dan Suriah. Menumbangkan rezim Assad hanya sarana antara. Tujuan utamanya mendirikan Negara Agama, glorifikasi negara masa lalu.
NIIS salah satu kelompok oposisi yang terang-terangan mendirikan negara di tengah kekecamukan politik yang tak berujung itu. Mereka menjadikan kota-kota yang dikuasai, seperti Mosul (Irak) dan Raqqa (Suriah), basis mengendalikan kekuasaannya. Bahkan NIIS belakangan mendeklarasikan sebagai jaringan global dengan tak lagi menjadikan Irak dan Suriah basisnya. Mereka menyebut kelompoknya sebagai Negara Islam yang tersebar di seantero dunia dengan menggunakan media sosial sebagai komunikasi internal.
Pertanyaannya, kenapa NIIS yang semula mendapatkan sokongan dari Arab Saudi dan Negara Teluk kini justru menyerang balik Arab Saudi? Bukankah ideologi NIIS sejalan dengan ideologi yang dianut Arab Saudi?
Sepintas serangan NIIS ke Arab Saudi sehari menjelang Idul Fitri memang terlihat aneh dan ganjil. Tidak terbayangkan NIIS akan melancarkan aksi brutal ke negara yang telah jadi inspirasi dan penyokong gerakan mereka dalam melawan rezim Assad dan gerakan melumpuhkan pengaruh Iran di kawasan. Lebih-lebih serangan tersebut dilancarkan pada hari umat islam sedang mengakhiri puasa Ramadhan.
Beberapa alasan

Senin, 15 Agustus 2016

ISLAM, TOA DAN TERORISME

Di penghujung bulan Juli lalu Kota Tanjung Balai Asahan membara. Sekitar 6 rumah ibadah (vihara dan klenteng) dibakar oleh massa islam yang marah karena merasa agamanya dilecehkan. Peristiwa ini berakar pada TOA. Seperti yang sudah diketahui publik, menjelang shalat isya, seorang perempuan Tionghoa bernama Meliana (41 tahun) meminta agar pengurus masjid Al Maksum yang ada di lingkungannya mengecilkan volume TOA tersebut.
Sesudah shalat isya, sejumlah jemaah dan pengurus masjid mendatangi rumah Meliana. Ia dan suaminya kemudian dibawa ke kantor lurah ( bayangkan, 2 orang minoritas, China pula, berada di tengah gerombolan jemaah islam). Suasana memanas sehingga kedua orang itu akhirnya “diamankan” ke Polsek Tanjung Balai Selatan. Tak lama sesudah itu terjadilah aksi anarki.
Semuanya berawal dari TOA. Ada apa dengan TOA? Tentulah semua orang sudah tahu jawabannya. Suara TOA sangat membisingkan. Ibu Meliana merasa terganggu dengan suara-suara yang keluar dari TOA itu. Mungkin bukan cuma ibu Meliana saja. Ada orang lain juga yang merasa terganggu, tetapi baru Ibu Meliana yang berani meminta pengurus mengecilkan volume TOA. Mungkin, setelah peristiwa ini umat agama lain tidak mau ambil resiko, karena terbukti niat baik melahirkan malapetaka. Dan tanpa disadari, umat islam telah mencoreng agamanya sendiri. Saya tak tahu apakah umat islam menyadari semua hal ini atau tidak.

Senin, 20 Juli 2015

Melihat Sisi Lain Tragedi Tolikara

KENAPA PASCA TRAGEDI TOLIKARA, GEREJA-GEREJA DIAMANKAN?
Hari raya Idul Fitri tahun ini adalah hari raya yang sangat memalukan bagi Bangsa Indonesia, khususnya umat Kristen. Di saat umat islam sedang menjalankan shalat Id, untuk menyambut hari raya Idul Fitri, terjadilah penyerangan. Salah satu korbannya adalah mushala, tempat umat islam biasa bersembahyang. Mushala itu dibakar (atau terbakar?).
Saya pribadi, ketika mendengar berita itu, amat sangat terkejut. Sejauh yang saya ketahui Tanah Papua sangat toleran. Sekalipun mayoritas beragama kristen, penduduknya sangat menghormati penganut agama lain. Kenapa muncul peristiwa ini? Saya tidak mau larut dalam eforia kecaman di dunia maya terhadap aksi penyerangan itu. Saya mengajak orang untuk melihat juga latar belakang penyerangan itu. Bagi saya, pasti ada alasan mendasar sehingga pecahlah tragedi itu.
Akan tetapi, saya tidak tertarik dengan masalah penyerangan itu. Saya justru tertarik melihat peristiwa pasca penyerangan itu, yaitu pengamanan gereja-gereja di seluruh wilayah Indonesia. Ada informasi bahwa POLRI menerapkan siaga 1 untuk menyikapi peristiwa Tolikara ini. Kenapa harus ada pengamanan gereja-gereja Kristen pasca penyerangan itu?
Peristiwa umat beragama menyerang umat agama lain yang sedang beribadah bukan baru pertama kali terjadi di Indonesia. Beberapa tahun lalu, umat katolik yang sedang beribadat di rumah salah satu umatnya, diserang dan dihentikan kegiatannya. Beberapa minggu lalu juga, sekelompok umat islam menghentikan kegiatan ibadah umat Kristen. Masih ada peristiwa lainnya. Akan tetapi, setelah peristiwa itu tidak ada perintah dari POLRI untuk mengamankan mesjid-mesjid di seluruh Indonesia.
Terlihat jelas bahwa ketika sekelompok umat islam menyerang orang Kristen yang sedang beribadah, tidak ada tindakan pengamanan mesjid oleh pihak polisi. Berbeda jika yang diserang itu adalah umat islam. Akan ada pengamanan umat Kristen yang sedang menjalankan ibadah. Seperti contoh hari Minggu (19/07). Karena itu, pertanyaannya adalah kenapa.
Terlalu mudah untuk dijawab. Umat Kristen tidak punya tradisi balas dendam. Tuhan Yesus sendiri sudah mengajarkan hal itu. Tuhan Yesus mengajarkan supaya pengikutnya mendoakan dan memberkati orang yang menghina dan menganiaya mereka (Mat 5: 39 – 48). Umat Kristen diajak untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan (Rom 12: 17; Mat 5: 39). Karena tahu tidak ada tradisi balas dendam dalam agama Kristen, maka tidak ada pengamanan mesjid pasca peristiwa penyerangan sekelompok umat islam terhadap umat Kristen yang sedang beribadah. Polisi tahu umat Kristen tidak akan menyerang balik mesjid sebagai aksi balasan.
Berbeda dengan umat islam. Sekalipun akan ada penyangkalan, tak bisa dipungkiri ada semangat balas dendam jika ada umat islam dizolimi. Ketika ada penyerangan terhadap umat islam di belahan dunia lain, pasti umat islam yang lain akan bangkit. Pernah terjadi seorang biksu di Yogyakarta diserang oleh sekelompok orang islam. Setelah diusut, ternyata aksi tersebut sebagai balasan atas perilaku umat Buddha di Vietnam terhadap muslim Rohingya. Pernah juga terjadi aksi sweeping terhadap turis-turis berkebangsaan tertentu ketika terjadi penghinaan atas umat islam di negara tersebut. Karena itu, ketika ada umat islam diserang di Tolikara, polisi langsung memprediksikan akan ada aksi balasan. Kebetulan, masih ada banyak umat islam yang tidak dapat membedakan gereja-gereja Kristen, maka tindakan pengamanan dilakukan terhadap semua gereja.
Hal ini menunjukkan bahwa ada potensi ancaman aksi balasan dari umat islam lainnya. Memang tidak semua, namun ada. Tak bisa disangkal bahwa di antara mayoritas umat islam Indonesia, ada segelintir umat islam yang masuk kategori islam fundamental atau islam radikal. Mereka-mereka inilah yang ditakuti akan tersulut amarahnya atas peristiwa penyerangan umat islam yang sedang beribadah oleh sekelompok orang Kristen. Apalagi penyerangan itu seakan mendapat legitimasi dari ajaran agama. Dan yang menjadi persoalan, kelompok islam fundamental dan radikal ini sulit dideteksi keberadaannya. Maka, adalah bijak jika dilakukan pengamanan secara menyeluruh.
Memang aksi pengamanan ini merupakan wujud antisipasi polisi mencegah kerusuhan. Polisi mempunyai asas “sedia payung sebelum hujan”. Akan tetapi, tetap saja menyisahkan suatu keprihatinan dalam diri saya. Aksi pengamanan ini seakan membenarkan bahwa islam bukanlah agama damai. Islam diidentikkan dengan kekerasan dan balas dendam. Karena, jika memang islam agama damai, pastilah tidak akan ada tindakan pengamanan. Lihat saja dengan agama Kristen. Sekalipun sering dianiaya, tak tidak ada aksi pengamanan dari polisi.
Batam, 19 Juli 2015
by: adrian
Baca juga tulisan lainnya:

Rabu, 18 November 2020

KESESATAN PIKIR DALAM RUU LARANGAN MIKOL


Publik Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya wacana pelarangan minuman beralkohol (mikol) di Indonesia. Wacana ini bukan sekedar basa basi, tetapi bakal jadi kenyataan karena wacana tersebut sudah tertuang dalam Rancangan Undang-undang (RUU). Dan sebagaimana biasa, reaksi pro kontra pun bermunculan. Terlihat bahwa masing-masing pihak hanya melihat dari sudut pandangnya saja. Misalnya, pihak pro mendukung RUU ini karena melihat dampak buruk dari mikol. Argumentasinya tak jauh beda dengan apa yang ada dalam RUU tersebut. Sementara pihak kontra menolak karena melihat dampak negatif ekonomi yang ditimbulkan oleh RUU tersebut.

Di sini kami tidak mau mengulangi argumentasi-argumentasi pro kontra tersebut. Dalam tulisan ini kami hanya ingin mengungkap kesesatan logika pembuat RUU ini. Setelah membaca RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol secara utuh (termasuk juga penjelasannya), kami mencoba menggambarkan jalan pikiran yang ada dalam RUU ini. Seperti inilah jalan pikirannya: Ada mikolada orang mabukada ekses: tindak kejahatan yang menggangu kenyamanan masyarakat, dan masalah gangguan kesehatan.

Akan tetapi, sepertinya jalan pikiran pembuat RUU ini terbalik. Pembuat RUU ini memulai dari ekses yang ada di tengah masyarakat, dan langsung menuju kepada mikol sebagai biangnya. Dengan cara berpikir seperti ini akhirnya pembuat RUU langsung melompat kepada kesimpulan untuk melarang mikol. Inilah lompatan pikiran, yang menyebabkan mikol berada pada pihak yang disalahkan. Karena lompatan ini ada beberapa alur pikir yang terlewati. Salah satu alur pikir yang terlewati adalah penyalah-gunaan mikol.

Harus jujur diakui bahwa mikol tidak salah dan tidak jahat. Mikol bukan penyebab langsung tindak kriminal di tengah masyarakat dan juga gangguan kesehatan. Keberadaan mikol justru bisa berdampak langsung bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Karena itu, dalam islam Allah SWT mengizinkan umat islam untuk membuat miras dan menjualnya sehingga mendatangkan rezeki (QS 16: 67). Di sini tampak bahwa Al-Qur’an menyatakan mikol tidak dilarang sama sekali, malah dianjurkan. (Lebih lanjut baca: Ajaran Islam tentang Miras dan Apa Kata Allah SWT dan Muhammad SAW tentang Miras)

Kebijakan langsung melarang mikol, sebagaimana alur pikir pembuat RUU ini justru malah berdampak pada dimensi kehidupan lainnya. Sepertinya pembuat RUU ini menutup mata terhadap dimensi-dimensi ini. Perlu diketahui, ada beberapa daerah di Indonesia yang dikenal sebagai daerah penghasil mikol. Ada banyak orang mendapatkan kehidupan yang layak dari hasil menjual mikol. Bagi sebagian masyarakat, itulah sumber ekonomi mereka. Pelarangan mikol jelas-jelas bertentangan dengan hak atas penghidupan yang layak dan memilih pekerjaan, sebagaimana tertuang dalam pasal ayat [2] dan pasal 28E ayat [1] UUD 1945.

Rabu, 29 Juni 2022

ARAB, ISLAM DAN KELEDAI LIAR

 

Islam, Yahudi dan Kristen dikenal sebagai agama Samawi. Dari etimologinya, kata samawi (kata adjektif) memiliki arti “berhubungan dengan langit”. Jika ditambahkan dengan kata agama, menjadi agama samawi, maka dapat dimengerti sebagai agama dari langit. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa agamanya dibangun berdasarkan wahyu Allah melalui para malaikat (dari langit) dan diteruskan oleh para nabi.

Agama samawi dikenal juga dengan sebutan agama Abrahamik. Hal ini didasarkan pada peran Abraham (Islam: Ibrahim), sebagai bapak kaum beriman. Sebagaimana diketahui, Abraham dikenal sebagai orang yang memulai kepercayaan monoteistik. Dari dialah lahir keturunan anak-anak bangsa, yang kemudian dikenal sebagai penganut agama Islam, Yahudi dan Kristen.

Dari Kitab Kejadian, kita dapat mengetahui bahwa Abraham mempunyai dua orang putera dari dua wanita yang ada padanya. Dari Sarah, isterinya yang sah, Abraham mendapat Ishak, dan dari Hagar, budaknya, ia mendapat Ismail. Diketahui, Hagar berasal dari Mesir (Kej 16: 3).

Salah satu perdebatan yang tak pernah selesai antara orang Kristen dan Islam adalah siapa yang dipersembahkan Abraham di Bukit Moria. Dan ini menjadi sebuah lelucon anak cucu Abraham. Orang Islam mengatakan bahwa Ismail yang dipersembahkan, meski dasarnya sangat lemah. Sementara orang Kristen mengatakan Ishak-lah yang dipersembahkan, karena dia merupakan anak sah. Hanya orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam perdebatan ini, karena mereka tahu bahwa yang dipersembahkan Abraham adalah seekor kambing.

Bagaimana dari dua putera Abraham ini muncul 3 agama monoteistik? Seperti yang diketahui, Abraham mendapatkan putera sah, yaitu Ishak, yang darinya lahir bangsa Israel. Orang Israel diidentikkan dengan agama Yahudi. Dalam agama Yahudi ada keyakinan mesianistik, dimana Allah akan melaksanakan karya penebusan-Nya.