
Jumat, 21 September 2018
ISIS ITU ISLAM

Senin, 23 Maret 2015
Islam, ISIS dan Terorisme
Jumat, 22 Maret 2019
BEDA TERORIS ISLAM DAN TERORIS SELANDIA BARU

Selasa, 22 Maret 2022
AKUI SAJA KALAU ISIS ITU ISLAM
KOMPAS, 14 Maret 2015, menampilkan tulisan Ali Mustafa Yaqub, imam besar
Masjid Istiqlal. Judul tulisannya adalah “NIIS, Khawarij, dan Terorisme”.
Tulisan menarik ini bisa dikatakan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama
islam. Sebenarnya pembelaan ini sudah banyak kali muncul, semenjak kehadiran
kelompok teroris Al Qaeda. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa tidak ada yang baru
dalam tulisan tersebut.
Akan tetapi, tulisan tersebut, sebagaimana tulisan-tulisan lain yang
sejenis, masih menyisahkan kebingungan. Satu hal yang membuat bingung akhirnya
melahirkan pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini. Selain kebingungan, dalam
tulisan Mustafa terdapat satu hal, yang bagi saya, terkesan lucu.
Dikatakan lucu karena, untuk membela agama islam, Mustafa malah semacam
melemparkan persoalan radikalisme ini kepada penganut agama lain. Ali Mustafa
menulis, “Sebab, terorisme dapat datang dari pemeluk agama mana saja…”
Argumentasi ini mirip seperti argumen seorang anak yang kedapatan menyontek
saat ujian. Ketika ditanya gurunya, ia berkata, “Orang lain juga nyontek, koq!”
Pernyataan Mustafa ini terkesan menutupi persoalan utama: kaitan agama
islam dan terorisme. Memang penulis mengatakan bahwa sejatinya terorisme tak
ada kaitannya dengan agama. Tapi, benarkah demikian?
Pernyataan Mustafa di atas perlu dikritisi. Tak bisa dipungkiri bahwa pernyataan itu benar: terorisme bisa muncul dari pemeluk agama mana saja (harap bisa bedakan antara agama dan pemeluk agama). Terorisme bisa dilakukan oleh pemeluk agama Islam, Kristen, Buddha dan lainnya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa landasan terorismenya berbeda. Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok islam dilandasi pada ajaran agamanya. Ada banyak buku yang menyatakan hal ini, seperti Sejarah Teror dan Kudeta Mekkah. Karena itu, sekitar bulan September 2013 lalu, Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah untuk membakar Al Quran, karena kitab itu dinilai menciptakan radikalisme yang mengarah pada terorisme. Berbeda dengan pemeluk agama lain. Jika orang Kristen atau Buddha melakukan terorisme, bisa dipastikan mereka melanggar ajaran agamanya, karena tidak ada ajaran untuk melakukan hal itu.
Sabtu, 18 Februari 2017
MEMAHAMI KEBIJAKAN DONALD TRUMP
Senin, 14 Mei 2018
TERORISME: DARI #KAMI TIDAK TAKUT KE #KAMI SUDAH MUAK
Jumat, 01 Desember 2017
KESAMAAN KAUM WAHABI DAN KAUM KHAWARIJ
Rabu, 20 April 2016
Mau Masuk Sorga? Islamkanlah Orang Kafir !!!
Jumat, 05 Oktober 2018
TIKET MUDAH KE SURGA DALAM ISLAM

Rabu, 13 November 2019
CARA MUDAH MASUK SORGA
Kamis, 13 April 2023
ISLAM MENGAJARKAN UNTUK MENGISLAMKAN ORANG KAFIR AGAR MASUK SURGA
Tujuan akhir hidup umat beragama
adalah sorga. Tak ada satu orang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan dan
situasi di sorga itu. Yang jelas di sana hanya ada kebahagiaan dan sukacita.
Gambaran ini sangat kontras dengan neraka, sebagai bentuk lawan dari sorga.
Setiap orang selalu menghindari neraka dan hanya inginkan sorga.
Bagaimana orang dapat sampai ke
sorga? Tiap-tiap agama punya caranya sendiri. Dalam islam, salah satu cara
untuk masuk sorga adalah dengan mengajak orang-orang kafir meninggalkan iman
kepercayaannya sebelumnya dan masuk menjadi islam. Dengan kata lain, menjadi
mualaf. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad. Sang nabi pernah
bersabda, “Siapa yang dapat mengislamkan orang dengan usahanya, maka pastilah
ia masuk ke dalam sorga.” (At-Tabrani).
Bunyi hadits At-Tabrani
didasarkan langsung pada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Dan untuk masuk sorga
merupakan suatu kepastian (“pastilah…”), jika orang berhasil membuat orang
kafir masuk islam. Dikatakan orang kafir, karena dalam islam yang bukan islam
disebut dengan istilah kafir. Untuk orang-orang Kristen gelar ini didapat
karena iman mereka akan keallahan Yesus dan soal konsep trinitas (QS al-Maidah:
72 dan 73).
Dengan membaca hadits ini orang tentu akan berpikir bahwa orang islam pasti masuk sorga dengan mengislamkan orang lain. Tak peduli berapa banyak uang yang dikorupsinya, berapa banyak orang yang dibunuhnya atau berapa besar kejahatan yang telah dilakukannya. Yang penting sudah mengislamkan orang lain (walaupun hanya satu orang), ia pasti masuk sorga.
Minggu, 28 Mei 2017
TERUNGKAP, ALASAN UMAT ISLAM MENGISLAMKAN ORANG KAFIR
Minggu, 28 Juni 2015
Keturunan Ismail dan Keledai Liar
Sabtu, 05 Desember 2015
Memahami Kata "Kafir" menurut Islam
Sabtu, 26 November 2016
EKSTREMIS ISLAM ANCAM KEBEBASAN BERAGAMA
Sabtu, 20 Agustus 2016
Ini Alasan Kenapa ISIS Serang Arab Saudi
Senin, 15 Agustus 2016
ISLAM, TOA DAN TERORISME
Senin, 20 Juli 2015
Melihat Sisi Lain Tragedi Tolikara
Rabu, 18 November 2020
KESESATAN PIKIR DALAM RUU LARANGAN MIKOL
Publik Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya wacana pelarangan minuman beralkohol (mikol) di Indonesia. Wacana ini bukan sekedar basa basi, tetapi bakal jadi kenyataan karena wacana tersebut sudah tertuang dalam Rancangan Undang-undang (RUU). Dan sebagaimana biasa, reaksi pro kontra pun bermunculan. Terlihat bahwa masing-masing pihak hanya melihat dari sudut pandangnya saja. Misalnya, pihak pro mendukung RUU ini karena melihat dampak buruk dari mikol. Argumentasinya tak jauh beda dengan apa yang ada dalam RUU tersebut. Sementara pihak kontra menolak karena melihat dampak negatif ekonomi yang ditimbulkan oleh RUU tersebut.
Di
sini kami tidak mau mengulangi argumentasi-argumentasi pro kontra tersebut.
Dalam tulisan ini kami hanya ingin mengungkap kesesatan logika pembuat RUU ini.
Setelah membaca RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol secara utuh (termasuk
juga penjelasannya), kami mencoba menggambarkan jalan pikiran yang ada dalam
RUU ini. Seperti inilah jalan pikirannya: Ada
mikol – ada orang mabuk – ada ekses: tindak kejahatan yang menggangu kenyamanan masyarakat, dan masalah gangguan kesehatan.
Akan
tetapi, sepertinya jalan pikiran pembuat RUU ini terbalik. Pembuat RUU ini
memulai dari ekses yang ada di tengah masyarakat, dan langsung menuju kepada
mikol sebagai biangnya. Dengan cara berpikir seperti ini akhirnya pembuat RUU
langsung melompat kepada kesimpulan untuk melarang mikol. Inilah lompatan
pikiran, yang menyebabkan mikol berada pada pihak yang disalahkan. Karena
lompatan ini ada beberapa alur pikir yang terlewati. Salah satu alur pikir yang
terlewati adalah penyalah-gunaan mikol.
Harus
jujur diakui bahwa mikol tidak salah dan tidak jahat. Mikol bukan penyebab
langsung tindak kriminal di tengah masyarakat dan juga gangguan kesehatan.
Keberadaan mikol justru bisa berdampak langsung bagi kehidupan ekonomi
masyarakat. Karena itu, dalam islam Allah SWT mengizinkan umat islam untuk
membuat miras dan menjualnya sehingga mendatangkan rezeki (QS 16: 67). Di sini
tampak bahwa Al-Qur’an menyatakan mikol tidak dilarang sama sekali, malah
dianjurkan. (Lebih lanjut baca: Ajaran Islam tentang Miras dan Apa Kata Allah SWT dan Muhammad SAW tentang Miras)
Kebijakan langsung melarang mikol, sebagaimana alur pikir pembuat RUU ini justru malah berdampak pada dimensi kehidupan lainnya. Sepertinya pembuat RUU ini menutup mata terhadap dimensi-dimensi ini. Perlu diketahui, ada beberapa daerah di Indonesia yang dikenal sebagai daerah penghasil mikol. Ada banyak orang mendapatkan kehidupan yang layak dari hasil menjual mikol. Bagi sebagian masyarakat, itulah sumber ekonomi mereka. Pelarangan mikol jelas-jelas bertentangan dengan hak atas penghidupan yang layak dan memilih pekerjaan, sebagaimana tertuang dalam pasal ayat [2] dan pasal 28E ayat [1] UUD 1945.
Rabu, 29 Juni 2022
ARAB, ISLAM DAN KELEDAI LIAR
Islam, Yahudi dan Kristen dikenal sebagai agama Samawi. Dari etimologinya,
kata samawi (kata adjektif) memiliki arti “berhubungan dengan
langit”. Jika ditambahkan dengan kata agama, menjadi agama
samawi, maka dapat dimengerti sebagai agama dari langit. Hal ini didasarkan
pada keyakinan bahwa agamanya dibangun berdasarkan wahyu Allah melalui para
malaikat (dari langit) dan diteruskan oleh para nabi.
Agama samawi dikenal juga dengan sebutan agama Abrahamik. Hal ini
didasarkan pada peran Abraham (Islam: Ibrahim), sebagai bapak kaum beriman.
Sebagaimana diketahui, Abraham dikenal sebagai orang yang memulai kepercayaan
monoteistik. Dari dialah lahir keturunan anak-anak bangsa, yang kemudian
dikenal sebagai penganut agama Islam, Yahudi dan Kristen.
Dari Kitab Kejadian, kita dapat mengetahui bahwa Abraham mempunyai dua
orang putera dari dua wanita yang ada padanya. Dari Sarah, isterinya yang sah,
Abraham mendapat Ishak, dan dari Hagar, budaknya, ia mendapat Ismail.
Diketahui, Hagar berasal dari Mesir (Kej 16: 3).
Salah satu perdebatan yang tak pernah selesai antara orang Kristen dan
Islam adalah siapa yang dipersembahkan Abraham di Bukit Moria. Dan ini menjadi
sebuah lelucon anak cucu Abraham. Orang Islam mengatakan bahwa Ismail yang
dipersembahkan, meski dasarnya sangat lemah. Sementara orang Kristen mengatakan
Ishak-lah yang dipersembahkan, karena dia merupakan anak sah. Hanya orang
Yahudi tidak mau masuk ke dalam perdebatan ini, karena mereka tahu bahwa yang
dipersembahkan Abraham adalah seekor kambing.
Bagaimana dari dua putera Abraham ini muncul 3 agama monoteistik? Seperti yang diketahui, Abraham mendapatkan putera sah, yaitu Ishak, yang darinya lahir bangsa Israel. Orang Israel diidentikkan dengan agama Yahudi. Dalam agama Yahudi ada keyakinan mesianistik, dimana Allah akan melaksanakan karya penebusan-Nya.













