Renungan
Hari Minggu Biasa XXV – C
Bac
I Am 8: 4 – 7; Bac II 1Tim 2: 1 – 8;
Injil Lukas 16: 1 – 13
Dalam
bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Amos, Allah berbicara melalui mulut
Nabi Amos. Dari apa yang disampaikan Amos terlihat jelas kalau Allah
menghendaki agar kita senantiasa berbuat baik kepada siapa saja. Janganlah kita
berbuat jahat pada orang lain, apalagi orang itu miskin dan lemah. Janganlah kita
memanfaatkan kelemahan orang demi kebahagiaan diri kita sendiri. Tuhan justru
minta agar kita bermanfaat bagi sesama.
Pesan
Allah ini kembali diulangi oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang
pertama kepada Timotius, Paulus menyampaikan apa yang baik dan yang berkenan
bagi Allah. Kita diminta untuk berbuat baik kepada semua orang, tanpa kecuali. Salah
bentuk perbuatan baik yang dapat dilakukan adalah dengan mendoakan mereka. Sekali
lagi perlu diingat, doa ini dipanjatkan kepada Tuhan untuk semua orang, tanpa
kecuali. Di sini kita ingat akan nasehat Yesus untuk mendoakan mereka yang
mencaci atau menghina kita (Luk 6: 28) atau mereka yang menganiaya kita (Mat 5:
44). Paulus menemukan dasar kenapa harus berbuat baik kepada semua orang, yaitu
karena Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh
pengetahuan akan kebenaran.” (ay. 4).
Dalam
bacaan Injil Yesus menampilkan perumpamaan bendahara yang tidak jujur. Sekilas kita
melihat bahwa bendahara tersebut dipuji. “Lalu tuan itu memuji bendahara yang
tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik.” (ay. 8a). Spontan mungkin
kita memahami bahwa itulah yang dikehendaki Allah, yaitu menjadi tidak jujur
tapi cerdik. Bukan ini yang hendak diangkat Yesus dalam pengajaran-Nya. Lewat
perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar kita sama seperti bendahara itu, berbuat
baik kepada siapa saja, dengan membantu orang meringankan “beban utangnya”.
Intinya tetap agar kita berbuat baik, bukannya melakukan kejahatan.
Sabda
Tuhan hari ini kiranya sangat jelas
pesannya. Kita diminta untuk senantiasa berbuat kebajikan kepada siapa saja,
tanpa mengenal batas suku, ras, agama atau antar golongan. Bahkan sejalan
dengan nasehat Yesus, kebajikan itu harus juga dilakukan kepada orang yang
berbuat jahat atau membenci dan memusuhi kita. Jadi, sekalipun kita dikatakan “kafir”,
kita tak boleh membalas, malah kita diminta untuk mendoakan dan memberkati
mereka. Dan bila mereka meminta bantuan, maka kita wajib membantunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar