Senin, 08 Juli 2013

(Inspirasi Hidup) Kasih Sayang, Harta & Prestasi

KASIH SAYANG, HARTA & PRESTASI
Suatu ketika, ada seorang wanita  baru kembali dari pasar. Dalam perjalanan pulang ia melihat ada 3 orang pria berjanggut  duduk di halaman depan rumah. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut."

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"

Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar."

"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali," kata pria itu.

Ketika suaminya pulang, si isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini."

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.

"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,"  kata pria itu hampir bersamaan.

"Lho, kenapa?” tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan." Katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya. "Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan,” sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. “Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh  masuk ke rumahmu."

Wanita itu kembali masuk ke dalam dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho..., menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah  ini penuh dengan Kekayaan."

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa  kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan  nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang."

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak  masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita."

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa di antara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."

Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang, tapi kenapa  kamu ikut juga?"

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kami pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."
Baca juga refleksi lainnya:

Orang Kudus 8 Juli: St. Prokopius

Santo prokopius, Martir
Penduduk asli Yerusalem ini menjadi lektor dan pengusir roh-roh jahat. Ia amat sederhana dan rendah hati, sehingga penduduk di sekitarnya sangat menghormati dia. Pada awal masa penganiayaan umat Kristen oleh Kaisar Diokletianus, ia dipaksa memuja berhala oleh kaisar. Tetapi Prokopius menjawab, “Tidaklah baik mengabdi kepada beberapa tuan. Aku hanya mengenal satu Kepala, satu Raja, yakni Kristus.” Karena ketegasannya ini ia dipenggal.

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Minggu, 07 Juli 2013

(C E R P E N) Maafkan Aku, Lala

MAAFKAN AKU, LALA

Namanya Lala. Aku baru tahu dia sebagai anak asput[1] St. Clara ketika ia dan Jeni datang menemuiku. Aku sungguh mengaguminya. Aku senang melihatnya tersenyum, menampilkan barisan gigi putihnya dan lesung pipit di kedua pipinya. Bibirnya mungil terlihat kemerahan alami tanpa polesan kosmetik. Rambutnya dipotong shaggy sampai di pundak, sangat serasi dengan wajahnya yang bulat oval. Namun, yang membuat aku tertarik adalah kesederhanaannya.
Sejak pertemuan itu, wajahnya tak pernah hilang dari pikiranku. Ia selalu hadir disetiap gerak hidupku di seminari. Sampai-sampai teman semeja makan selalu menggoda, takut aku salah masukkan sendok ke dalam mulut karena ...
Apakah aku lagi jatuh cinta? batinku pada suatu sore. Memang aku suka padanya. Tak bisa kupungkiri. Ingin sekali berjalan berdua dengannya sambil sesekali merangkul atau bergandeng, seperti yang dilakukan teman-teman sekolah yang bukan seminari. Ahk, seandainya aku bukan seminaris, pasti sudah aku pacari dia.
Atau berdosakah aku bila suka dan kagum padanya? Bila aku pacaran dengannya? Dulu ada pembina berkata kalau kami ini adalah calon imam yang berarti hidup kami harus sudah mirip seperti imam. Apakah adil bila kami yang seorang remaja sudah dipaksakan mengambil kehidupan orang dewasa?
Jangan-jangan ini pertanda kalau aku tak terpanggil. Tidak! gumanku dalam hati. Aku terpanggil. Aku mau jadi imam. Tapi, bagaimana dengan ini? Oh Tuhan, kenapa Kau panggil aku tanpa menghilangkan rasa cinta ini? keluhku.
”Pernah kau ungkapkan perasaanmu padanya?” tanya Aldo suatu siang.
”Itu lagi yang jadi soal. Aku tak punya nyali,” ungkapku polos disambut tawa ringan sobat karibku itu. ”Tapi, anak asput yang lain udah tahu jika aku naksir dia.”
”Bisa saja itu hanya perasaanmu. Sapa tahu dia tak punya perasaan itu.”
”Entahlah, akupun tak tahu. Terlihat akhir-akhir ini ia selalu menjauhiku. Sikapnya pun dingin dan acuh.”
”Gimana kalo pake perantara?”
“Siapa?”
“Nita. Aku kenal baik dia. Lagi pula Nita kan sohibnya Lala.”
”Aku takut ketahuan sama suster. Bukan hanya aku yang jadi sasaran. Lala juga jadi korban.”
”Aku bukan langsung cerita isi hatimu.” Aldo berteori. ”Cuma tanyakan sikapnya yang dingin terhadapmu. Aku jamin Nita takkan bilang ke orang lain demi Lala”
Dari Nita, aku tahu perihal sikap Lala yang dingin dan cuek terhadapku. Ternyata ia takut kalau dirinya menghambat panggilanku.
”Sebenarnya dia juga suka diriku,” ungkapku. ”Ada rasa itu di hatinya, namun dia takut mengungkapkannya karena bisa menggagalkan panggilanku.”
”Sepertinya begitulah. Anak asput juga pada pikir begitu”
”Kau tau, Do,” ujarku, ”aku semakin mencintainya.”
”Hei, kau mau keluar atau....”
”Entahlah. Aku tak tahu. Tapi salahkah bila aku menyukainya? Terlarangkah rasa ini?” Aldo membisu. ”Bukankah kita ini remaja. Keremajaan itu salah satu fase dalam kehidupan manusia. Setiap manusia pasti melaluinya. Yang aku alami ini kan bentuk dari pergolakan masa remaja. Semua remaja tentu mengalaminya. Kita tak bisa menghindar. Tak bisa menyangkalnya.
”Kita memang calon imam. Tapi kita juga manusia. Sebagai manusia pasti kita lalui dan alami masa remaja dengan gejolaknya. Tak mungkin kita langsung lompat menjadi dewasa, hanya karena mau jadi imam. Semua imam pasti pernah jadi remaja. Mana ada imam yang terlahir sebagai dewasa. Imam juga manusia.
”Karena itu, adalah wajar kalau aku menyukainya. Ini bagian dari keremajaanku. Seminari tak boleh menghalang. Kalau demikian, berarti seminari akan menghilangkan salah satu fase dalam hidup kita.”
”Gus, aku pikir kau perlu bicara sama Bapa[2] Mago.” Aldo tiba-tiba nyeletuk setelah sekian lama dikotbahi. ”Aku yakin beliau bisa memberikan masukan buatmu.”
”Aman tidak? Jangan-jangan aku dikeluarkan. Dulu ada frater yang bilang kalo pembinaan di seminari menuntut seminaris untuk munafik, karena kejujuran bisa membahayakan panggilan.”
”Aku rasa tidak!
***
Aku dan beberapa teman berjalan menuju asput. Sore ini ada acara pesta di sana. Empat cewek cantik menerima kami. Seorang menghantar kami ke tempat di mana akan diadakan upacara misa yang dipimpin oleh Bapak Uskup. Beberapa undangan sudah datang. Sebagian besar anak asput sudah duduk di dalam ruangan. Mereka sebagai koor. Aku melihat ada lima orang anak seminari bergabung dengan mereka. Mungkin suster memintanya.
Ketika hendak duduk seorang anak asput mendekati kami. Ia berbisik kepadaku, “Kak Agus, nanti sumbang satu lagu, ya?!”
Aku mau menolak, tapi gadis itu segera berlalu. Aku cuma bisa mengumpat dalam hati, sementara Aldo tersenyum saja.
Maka, ketika acara resepsi dan hiburan, seorang MC meminta diriku untuk maju ke depan dan membawakan sebuah lagu sebagai hiburan. Sontak suara tepuk tangan dari anak-anak asput dan seminaris membahana di ruangan yang sehari-hari dipakai sebagai kamar makan. Aku jadi kikuk. Maklum, aku sama sekali tidak siap.
Dengan langkah berat aku berjalan ke depan. Keringat dingin mulai mengalir membasahi keningku. Kuusap dengan punggung tanganku. Aku mengumpat, kenapa tidak membawa sapu tangan (maklum, sejak muncul isu global warming aku lebih memilih pakai sapu tangan ketimbang kertas tissue). Seorang cewek mendekatiku dan memberikan selembar tissue.
Kulihat semua mata tertuju padaku. Mereka semua tenang. Aku menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. Kuambil gitar dan sejenak memikirkan lagu. Tanpa sengaja, terlintas dalam pikiranku lagu Once, ’Aku Mau’.
Kau boleh acuhkan diriku,
Dengan ’nggap ku tak ada
Tapi takkan mengubah perasaanku kepadamu..
Semua tenang mendengarkan laguku. Kulihat Lala duduk di antara temannya. Dia tertunduk. Sesekali ia mengusap matanya dengan tissue. Menangiskah dia? batinku. Karena laguku?
Saat acara rekreasi aku pulang sendirian. Ketika sampai di depan asrama, aku mendengar sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Ternyata Tika. Ia bersama Lala.
”Kak, Lala mau bicara.” Tika langsung pergi.
”Aku minta maaf atas sikapku selama ini.”
”Tak perlu minta maaf. Kamu tak salah. Kamu sungguh baik. Hatimu sangat mulia. Akulah yang seharusnya minta maaf.” Sejenak kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kuberanikan diri untuk meraih tangannya. ”Maafkan aku telah mencintaimu.” Lala tertunduk. Ia mengatup kedua bibirnya. ”Kuharap aku bisa melupakanmu. Kau mau bantu aku, kan?!” Lala tetap tertunduk. Aku melepaskan tangannya dan berjalan pulang.
”Kak,” suara itu memaksaku menoleh. ”Kita masih bisa berteman, kan?”
Aku mengangguk. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyuman yang membuat aku kagum kepadanya, yang takkan mungkin kulupakan.
Waena, 9 Okt 2009
by: adrian
Baca juga cerpen lainnya:
1.      Tono dan Tini
2.      Leo dan Lia
3.      Kuda Lumping
4.      Pelajaran Sejarah
5.      Kicau Burung Hilang
6.      Jam Waker



[1]  Asput adalah istilah untuk penghuni asrama putri. Di beberapa tempat dipakai istilah astri. Ada kesan asput untuk tingkat SMU sedangkan astri untuk tingkat kuliahan.
[2]  Bapa adalah sapaan untuk imam di Keuskupan Jayapura ini