Jumat, 31 Juli 2015

Orang Kudus 31 Juli: St. Germanus

SANTO GERMANUS, USKUP & PENGAKU IMAN
Informasi mengenai orang kudus ini sangat terbatas. Yang diketahui adalah ia lahir pada tahun 378. Germanus dipilih menjadi Uskup Auxerre, Perancis, meskipun ia sendiri tidak menyukainya. Kemudian ia meninggalkan isterinya. Harta miliknya ia gunakan untuk membangun gereja dan biara. Dua kali ia diutus ke Inggris melawan tentara Saxon. Germanus dengan giat mengkristenkan kembali seluruh wilayah keuskupannya. Ia meninggal dunia pada tahun 488.
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Jumat Biasa XVII - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa XVII, Thn B/I

Tema sabda Tuhan hari ini adalah soal penghargaan. Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Imamat. Di sini Tuhan Allah menerangkan kepada Musa tentang hari-hari pertemuan kudus yang harus dirayakan oleh umat Israel. Ada satu frase yang cukup menarik dalam pernyataan Allah ini, yaitu agar umat tidak melakukan pekerjaan yang berat. Setidaknya ada empat kali frase ini diulang (ay. 7, 8, 35, 36). Dalam pertemuan-pertemuan kudus ini, arahnya adalah untuk memuliakan Allah. Akan tetapi, dampaknya kena juga kepada umat, yaitu agar mereka beristirahat dari segala aktivitas. Memang tujuannya, supaya mereka bisa fokus kepada Allah. Namun di balik ini, ada juga penghargaan terhadap tubuh, yaitu supaya tubuh tidak dipaksakan melakukan segala aktivitas tanpa ada waktu untuk jeda. Jadi, dalam bacaan pertama, penghargaan itu tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, melainkan kepada tubuh manusia.
Penghargaan justru tidak hadir dalam Injil. Yang ada dalam Injil hari ini adalah penolakan terhadap Tuhan Yesus. Diceritakan bahwa Tuhan Yesus tiba di kampung-Nya dan memulai pengajaran. Sekalipun orang merasa takjub dengan pengajaran-Nya, namun mereka sama sekali tidak menghargai-Nya. Hal ini didasarkan pada pengenalan akan latar belakang diri-Nya dan keluarga-Nya. Orang kenal siapa Dia dan keluarga-Nya. Karena itu, mereka tidak menghargai-Nya dengan cara menolak-Nya.
Sekecil apapun penghargaan itu, sangat berarti bagi setiap orang. Dalam penghargaan itu, kita tidak hanya menghargai pribadi orang, melainkan apa yang melekat dengan dirinya. Di samping itu juga, dengan menghargai orang lain, kita secara tidak langsung sudah menghargai diri kita sendiri. Sabda Tuhan hari ini menghendaki supaya kita tidak menganggap rendah apa yang dikerjakan orang lain. Sekalipun hasilnya kurang memuaskan, adalah baik kita memberinya penghargaan. Dengan menghargai, kita belajar bersyukur.***
by: adrian

Kamis, 30 Juli 2015

Parpol, Pilkada & Mahar Politik

INKONSISTENSI PARTAI NASDEM
Politik sudah lama dianggap busuk dan jahat. Dalam politik seorang politikus hanya mencari kepentingan, entah itu untuk dirinya sendiri atau juga untuk partai. Dan untuk mendapatkan kepentingannya itu, baik partai maupun politikusnya sering mengumbar janji atau lihai bersilat lidah. Di bibir keluar pernyataan luhur mulia, namun berbanding terbalik dengan di lapangan.
Ketika Partai Nasdem muncul, ada semacam angin segar perubahan. Restorasi adalah kata yang sering digembar-gemborkan oleh elite partai ini. Mereka sering mengatakan akan menjaga konsistensi antara kata dan perbuatan.
Akan tetapi, dalam suasana PILKADA 2015 ini terlihat Partai Nasdem tidak konsisten. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Sekjen Partai Nasdem, Patrice Rio Caplla, dalam acara PrimeTime News di Metro TV hari Senin, 27 Juli 2015, yang tidak sejalan dengan dukungan Partai Nasdem kepada calon Gubernur Kepulauan Riau.
Dalam acara PrimeTime News, yang mengangkat tema “Kader yang Tak Didukung Parpol” Patrice menjelaskan kenapa Partai Nasdem mendukung Saan Mustopa, yang adalah kader Partai Demokrat. Beliau mengatakan, “Pilkada 2015 merupakan momentum untuk mencari orang-orang terbaik untuk memimpin daerah.” Untuk mencari orang terbaik ini Partai Nasdem mempunyai sistem, yaitu survei.
Agar seseorang dapat dicalonkan sebagai kepala daerah, dibutuhkan beberapa syarat, seperti kompetensi, disukai masyarakat dan dipercaya oleh masyarakat. Khusus untuk incumbent, kepercayaan masyarakat ini dapat dilihat dari tingkat kepuasan masyarakat.
Jadi, dapat dikatakan bahwa ada 2 pilar dukungan itu, yaitu ketokohan (pribadi baik, diterima masyarakat, dll) dan hasil survei. Jadi, bisa dikatakan bahwa Partai Nasdem mendukung Saan Mustopa karena dia orang baik, diterima masyarakat dan mengenal permasalahan daerah (putra daerah), serta elektabilitasnya tinggi menurut lembaga survei.
Ketika menegaskan dua pilar tadi, Patrice menyatakan bahwa dua pilar tersebut merupakan prinsip umum partai. Jadi, bukan hanya dikenakan pada Saan Mustopa saja, melainkan kepada calon kepala daerah lainnya. Partai Nasdem selalu mengutamakan kepentingan masyarakat. Karena itu, sekalipun bukan kader partai, sejauh orang itu baik dan hasil surveinya bagus, Partai Nasdem akan mendukungnya.
Namun ketika pernyataan Patrice tadi diterapkan ke situasi pencalonan kepala daerah di Provinsi Kepulauan Riau, kita menemukan inkonsistensi. Pernyataan Sekjen Partai Nasdem ini sama sekali tidak pas dikenakan kepada calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau. Sebagaimana yang sudah diketahui, di Kepulauan Riau Partai Nasdem mendukung pasangan Muhammad Sani dan Nurdin Basirun. Dalam acara deklarasi pasangan Sani dan Nurdin, Minggu (26/07), terlihat Patrice hadir. Ini sebagai bentuk dukungan Partai Nasdem.
Pertanyaannya, benarkah dua pilar tadi membuat Partai Nasdem mendukung pasangan Sani dan Nurdin?
Kalau dilihat dari survei, calon gubernur Soerya Respationo selalu unggul. Dari segi ketokohan, Soerya tak kalah dengan Sani, yang adalah putra daerah. Soerya sangat mengenal situasi Kepri, pribadinya baik dan nasionalis. Hal ini terlihat dari penerimaan masyarakat terhadap dirinya. Tak jauh berbeda juga dengan calon wakilnya, Ansar Ahmad, yang saat ini menjabat Bupati Bintan. Track record-nya selama menjabat Bupati Bintan sangat memuaskan. Masyarakat dari semua kalangan sangat menerima dia. Tapi, kenapa Partai Nasdem tidak mendukung Soerya? Kenapa harus Sani? Kenapa harus Nurdin?
Tampak jelas kalau Partai Nasdem tidak terlalu kenal dengan calon yang didukungnya. Sani adalah Gubernur Kepri periode 2010 – 2015. Hingga tahun 2015 ini usianya sudah 73 tahun. Ini usia tua. Saya pernah mengikuti acara peresmian Panti Rehabilitasi BNN di Nongsa, dan beliau hadir. Ketika memasuki ruangan, beliau berjalan sambil dituntun. Jalannya sudah sempoyongan. Seorang sopir taksi pun mengkritisi usia beliau. Ia berkata, “Ini apakah partai pengusungnya bodoh atau karena Sani-nya yang sangat bernafsu akan kekuasaan.” Karena itu, dimana semangat restorasi Partai Nasdem? Apakah partai ini anti dengan calon dari kaum muda?
Nurdin Basirun saat ini menjabat sebagai Bupati Tanjung Balai Karimun. Sama seperti Sani, Partai Nasdem seakan abai akan track record calon ini. Partai Nasdem merupakan partai yang mengedepankan nilai-nilai nasionalisme dan pluralisme. Kita dapat bertanya, apakah Nurdin sudah teruji ke-nasionalisme-an dan pluralismenya. Karena bagi kalangan minoritas, khususnya agama, tokoh ini tidak punya relasi yang bagus.
Karena itu, melihat hal ini dapatlah dikatakan bahwa Partai Nasdem tak ubahnya dengan partai politik lainnya. Partai Nasdem hanya bisa bermulut manis. Hal ini semakin menegaskan adagium dunia politik, dimana yang abadi hanyalah kepentingan.
Batam, 27 Juli 2015
by: adrian
Baca juga opini lainnya: