Kamis, 22 Januari 2015

Orang Kudus 22 Januari: St. Laura Vicuna

BEATA LAURA VICUNA, PENGAKU IMAN
Laura Vicuna lahir pada 5 April 1891 di Santiago, Chili. Ia adalah puteri dari Jose Domingo Vicuna, seorang tentara, dan Mercedes Pino. Pada tahun 1891 terjadi perang sipil di Chili dan keluarga Vicuna terpaksa meninggalkan Chili karena dicari untuk ditangkap. Pada tahun 1894, setelah kelahiran adiknya, Julia Amanda, Laura kehilangan ayahnya yang meninggal dunia.

Setelah ayahnya meninggal, ibunya membawa kedua anaknya pergi ke Argentina. Di sana ibunya bertemu dengan Manuel Mora, yang kemudian menjanjikan untuk membiayai kehidupan keluarganya. Laura kemudian disekolahkan pada sekolah yang dikelola oleh biarawati Salesian atau yang lebih dikenal dengan Putri Maria Penolong Umat Kristiani.

Laura kemudian ingin sekali menjadi biarawati Salesian. Hal ini mendapat tentangan dari Manuel Mora, yang bahkan memukulnya. Kehidupan Manuel Mora yang jauh dari Tuhan membawa ibunya ikut menjauhi Tuhan. Laura dengan sepenuh hati berdoa kepada Tuhan dan mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan demi keselamatan ibunya. Pada 8 Desember 1901, Laura diizinkan untuk bergabung dengan Solidaritas Anak-anak Maria oleh Uskup.

Pada akhir tahun 1903, Laura sakit keras dan pulang ke rumahnya. Di sana ia mendapat kekerasan dari ayah tirinya. Laura Vicuna meninggal dunia pada 22 Januari 1904 di Junin de los Andes, Neuquen, Argentina. Sebelum meninggal, ia memberitahukan ibunya bahwa ia mempersembahkan nyawanya bagi keselamatan ibunya. Sejak saat itu ibunya bertobat dan kembali kepada Tuhan. Pada 3 September 1988, Laura Vicuna dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.

Baca juga riwayat orang kudus 22 Januari:

Renungan Hari Kamis Biasa II - Thn I

Renungan Hari Kamis Biasa II, Thn B/I
Bac I    Ibr 7: 25 – 8: 6; Injil             Mrk 3: 7 – 12;

Bacaan-bacaan liturgi hari ini menampilkan maklumat tentang siapa itu Yesus. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani, penulis menampilkan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar. Menurut penulis surat ini, Tuhan Yesus berbeda dari imam-imam besar lainnya. Imam Besar ini saleh, tanpa dosa dan salah, terpisah dari orang-orang berdosa, dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga (ay. 26). Sebagai Imam Besar Tuhan Yesus menjadi “Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia” (ay. 6).

Dalam Injil Tuhan Yesus mendapat gelar Anak Allah. Gelar ini berasal dari pengakuan roh-roh jahat yang merasuki orang. Dikisahkan bahwa saat itu Tuhan Yesus berada di sebuah danau. Ia mengajar orang banyak, yang datang dari berbagai daerah. Mereka bukan saja mendapatkan pengajaran, tetapi juga penyembuhan bagi yang sakit. Orang-orang yang kerasukan roh jahat pun dibebaskan dari pengaruh roh jahat itu. Saat pembebasan itulah, roh-roh jahat itu mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Sabda Tuhan hari ini pertama-tama menyadarkan kita akan siapa Tuhan Yesus itu. Dia-lah Imam Besar dan juga Anak Allah. Sebagai Imam Besar, Tuhan Yesus telah menjadi pengantara kita dengan Allah Bapa. Dia telah mendamaikan relasi kita yang rusak dengan Allah. Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus memiliki kuasa atas roh-roh jahat yang selalu merasuki hidup manusia, termasuk kita sehingga hidup kita tidak lagi mengikuti kehendak Tuhan melainkan kehendak roh jahat itu. Di sini tampak jelas bahwa Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa bersyukur karena Dia telah mendamaikan kita dengan Allah. Tuhan juga meminta kita untuk selalu datang kepada-Nya bila roh jahat merasuki hidup kita.

by: adrian

Rabu, 21 Januari 2015

Hambatan Peralihan ke Kematangan Anak Remaja

HAMBATAN UMUM UNTUK MELAKSANAKAN PERALIHAN KE KEMATANGAN
Dasar yang Buruk
Remaja yang tidak membentuk dasar yang baik selama masa kanak-kanak tidak akan dapat menguasai tugas-tugas perkembangan masa remaja. Seperti dijelaskan oleh Eisenberg, “Perkembangan optimal dalam masa remaja bergantung pada keberhasilan tugas perkembangan dalam masa bayi dan masa kanak-kanak.”

Terlambat Matang
Remaja yang terlambat matang tidak mempunyai banyak waktu untuk menguasai tugas-tugas perkembangan masa remaja dibandingkan dengan remaja yang matang lebih awal atau anak yang matangnya normal. Banyak di antara remaja yang terlambat matang baru menyelesaikan perubahan masa puber pada saat masa remaja hampir berakhir.

Terlampau Lama Diperhitungkan seperti Anak-anak
Remaja yang terlambat matang sering diperlakukan seperti anak-anak pada saat teman-teman sebayanya diperlakukan sebagai orang yang hampir dewasa. Akibatnya, remaja dapat mengembangkan perasaan kurang mampu untuk memikul hak keistimewaan, dan tanggung jawab sejalan dengan kedewasaannya.

Perubahan Peran
Remaja yang bekerja setelah menamatkan SLA atau setelah berhenti sekolah segera mengalami perubahan peran yang drastis. Ia harus menjalankan peran dewasa lebih awal dibandingkan dengan teman-teman sebaya yang melanjutkan pendidikan, dan kurang mempunyai kesempatan unuk mencegah peralihan yang lambat ke masa dewasa.

Ketergantungan yang Terlampau Lama
Keadaan ketergantungan yang terlampau lama, seperti bila remaja melanjutkan pendidikan sampai awal masa dewasa, merupakan rintangan dalam membuat peralihan ke masa dewasa. Anak perempuan, sebagai kelompok, cenderung dipaksa berada dalam keadaan ketergantungan yang terlalu lama dibandingkan dengan anak laki-laki. Oleh karena itu mereka mengalami hambatan dalam melakukan peralihan ke masa dewasa.

sumber: Elizabeth B. Hurlock, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5). Jakarta: Erlangga, 1980, hlm. 237.
Baca juga artikel lainnya: