Rabu, 12 Juni 2013

(Pencerahan) Pengabdian Tulus

Kabar gembira
Inilah kabar gembira yang diwartakan oleh Tuhan Kita Yesus Kristus kepada para murid-Nya dalam bentuk perumpamaan:

Kerajaan surga itu bagaikan dua orang bersaudara yang hidup bahagia dan puas, sampai kedua-duanya dipanggil Tuhan untuk emnjadi murid-Nya.

Yang lebih tua menanggapi panggilan itu dengan sukarela, meskipun ia harus meninggalkan orang tua serta gadis yang dicintainya dan diimpikan menjadi isterinya. Ia lalu pergi ke sebuah negeri yang jauh. Di sana ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang sangat miskin. Penganiayaan timbul di negeri itu. Ia ditangkap atas dasar tuduhan palsu, kemudian disiksa dan dibunuh.

Dan Tuhan berkata kepadanya:
“Baik, hamba yang jujur dan setia! Engkau memberiku pengabdian seharga seribu talenta. Sekarang akan kuberikan kepadamu semiliyar, semiliyar talenta sebagai ganjaranmu. Masuklah dalam sukacita Tuhanmu!”

Tanggapan adiknya atas panggilan Tuhan kurang begitu rela. Ia ingin melalaikannya supaya dapat meneruskan rencananya serta menikah dengan gadis yang dicintainya. Ia menikmati kebahagiaan hidup berkeluarga, usahanya berkembang pesat, ia menjadi terkenal dan kaya. Kadangkala ia member sedekah kepada pengemis, bersikap ramah terhadap isteri dan anak-anaknya. Sesekali ia juga mengirim sedikit uang untuk kakaknya yang tinggal di negeri yang jauh. “Uang ini mungkin bisa membantu karyamu di tengah orang miskin itu,” tulisnya di dalam surat.

Pada saat ia meninggal, Tuhan berkata kepadanya:
“Baik, hamba yang jujur dan setia! Engkau memberiku pelayanan seharga sepuluh talenta. Sekarang akan kuberikan ganjaran kepadamu sebesar semiliyar, semiliyar talenta. Masuklah ke dalam sukacita Tuhanmu!”

Kakaknya tercengang-cengang ketika mendengar bahwa adiknya mendapatkan ganjaran yang sama dengannya. Dan ia senang. Katanya, “Tuhan, setelah melihat semua ini, seandainya saya harus lahir dan hidup kembali, saya masih akan melakukan hal yang persis sama dengan yang telah saya perbuat bagi-Mu!”

Ini sungguh Kabar Gembira. Tuhan sungguh Mahamurah dan seorang murid mengabdi kepada-Nya hanya karena gembira saja. Kegembiraan itu diterakan pada pengabdian oleh cinta.

by: Anthony de Mello, Burung Berkicau
Baca juga refleksi lainnya:

Dendam dan Memaafkan

DENDAM & PSIKOLOGI MEMAAFKAN
“Pak Felix, tolong bantu saya menghadapi anak bungsu saya,” kata ibu Vinta (55 tahun) di telepon. Ibu yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan di jalan protokol Jenderal Sudirman ini bercerita panjang lebar tentang Fanta (16 tahun)
Tinggal di Amerika
Anak bungsu dari tiga bersaudara (semuanya perempuan) itu baru saja pulang dari Amerika Serikat. Tinggal di sana selama setahun bersama kakak sulung (30 tahun), Fanta tidak betah. Sehari-hari ia bertengkar dengan kakak dan suaminya yang orang Amerika.
Kendati sangat suka tinggal di Amerika, Fanta terpaksa kembali ke Jakarta dan tinggal berdua ibunya. Ayahnya sendiri tinggal dan bekerja di Amerika Serikat. Kakaknya yang kedua (25 tahun) tinggal dan bekerja di luar Jawa. 
Kelakuan Fanta semakin menjadi-jadi. Tiada kata dari ibunya tanpa bantahan Fanta. Di sekolah pun ia sering didamprat guru-guru karena -- menurut mereka -- Fanta tidak dapat diatur. Ibu Vinta kehabisan akal.
"Saya ingin ia berkonsultasi, tapi jangan sampai dia tahu bahwa bapak itu psikolog," pinta ibu Vinta. "Kebetulan dia pernah bertanya kepada saya, 'Kenapa sih kita harus beragama?'" kata ibu Vinta seakan mendapatkan jalan keluar. Berbekal pertanyaan kritis itu, ibu Vinta mengajak anaknya berdiskusi dengan penulis.
Kelainan Emosi
Sesi pertama diisi dengan diskusi filsafat dan teologi tentang pertanyaan Fanta. Kebetulan penulis berlatar belakang filsafat, teologi dan psikologi klinis. Senang akan diskusi yang berlangsung seru, Fanta bersedia berkonsultasi beberapa kali. 
Sebenarnya pertanyaan Fanta itu mempunyai latar belakang masalah psikisnya. Ia berseteru dengan kakak sulung yang bertipe kepribadian conscientious (J. Oldham dan J. Morris, 2003, The Personality Self-Portrait: Why You Think, Work, Love, and Act the Way Tou Do) yang salah satu cirinya adalah religius dan taat aturan/hukum. Sementara Fanta sendiri bertipe adventurous yang berciri utama senang tantangan dan mengutamakan kebebasan. Dengan latar belakang tipe kepribadian yang berseberangan, tanpa mereka sadari api-api permusuhan tersulut antara kakak beradik itu sejak masa kecil.
Lagi pula berdasarkan analisis konstelasi keluarga (jumlah dan kedudukan anak: W. Toman, 1961, Family Constellation: Theory and Practice of a Psychological Game), ketidakcocokan antara anak sulung dan anak bungsu kemungkinan besar bisa saja terjadi, apalagi bila mereka itu sesama jenis. Kasus ini terjadi pada Fanta dan kakaknya, hal mana diperkuat oleh latar belakang kepribadian yang berbeda.
Dalam 'perang' itu, jelaslah Fanta berada dalam posisi kalah. Akibatnya, pelan tapi pasti terbentuklah kelainan emosional pada diri Fanta. Kelainan yang Fanta alami oleh para ahli disebut oppositional defiant disorder (melawan dan memberontak; American Psychiatrist Association, 1994, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV). Kelainan ini sesuai dengan tipe kepribadiannya.
Psikologi Amarah dan Dendam
Di atas ibu Vinta menyebut beberapa bentuk dari perlawanan dan pemberontakan Fanta (oppositional defiant disorder). Namun apakah yang menjiwai perilaku tersebut?
Aaron Beck, M.D, pencetus Terapi Kognitif, dalam bukunya Prisoners of Hate: The Cognitive Basis of Anger, Hostility and Violence (1999), menjelaskan bahwa di balik perilaku Fanta itu ada psikologi amarah dan dendam.
Berbagai aturan dan larangan dari kakak ditafsirkan Fanta sebagai "perilaku kakak yang tidak menyukai adik." Penafsiran ini terjadi karena egocentricity (cara berpikir yang berpusat pada diri sendiri). Dengan kepribadian yang adventurous (mengutamakan kebebasan, tantangan), egocentricity Fanta menjadi berlebihan. Egocentricity berlebihan mengakibatkan letupan emosi, amarah. 
Kemarahannya itu makin bertambah saat dia berproses pikir seperti ini: "Seharusnya kakak menyayangi adik, tetapi kenyataannya tidak." Berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu, ia juga lalu mengembangkan self statement yang keliru: "Mengapa sih saya harus kalah dari dia?" Ia mensugesti diri untuk tidak mengalah.
Tampaklah bahwa psikologi amarah dalam diri Fanta itu berlanjut melalui mind reading (membaca pikiran) yang keliru. Ia keliru membaca motif-motif dari tindakan-tindakan (larangan dan pembatasan) kakak. Kekeliruan membaca membawa Fanta pada kesimpulan keliru bahwa dirinya layak menyerang (aggression), baik secara verbal maupun secara fisik. Kepada penulis ia mengaku bahwa ia hampir saja membunuh kakaknya. Pada suatu kesempatan ia telah menyiapkan pisau di kamarnya. Untunglah kakaknya tidak memasuki kamar Fanta saat melarang Fanta berpergian.
Bingkai Permusuhan
Egocentricity, mind reading yang keliru, aggression menjadi suatu lingkaran setan jika ketiganya berproses ke dalam bingkai permusuhan alias hostile frame. Proses itu berlangsung dalam kaitan dengan isu apa saja. Mereka bagaikan memfoto dan membingkai diri masing-masing dalam pola pikir negatif. Biasanya Fanta melihat diri sebagai 'korban', dan kakak sebagai 'pelaku'. Pembingkaian negatif (pola pikir negatif) membuat mereka keliru menginterpretasi setiap tindakan, motof, pikiran masing-masing. 
Ada dua kekeliruan utama yang sering diakibatkan bingkai permusuhan. Kekeliruan pertama adalah catastrophic distortion. Kesalahan kecil masing-masing merusak seluruh citra baik masing-masing. Kekeliruan kedua adalh pola pikir generalisasi. Larangan atau pembatasan apa pun ditafsirkan sebagai "tidak menyukai diriku."
Psikologi Memaafkan
Setelah menjelaskan kondisi permasalahannya, penulis membantu Fanta menyadari ciri-ciri kelebihan dan kekurangan dari orang yang bertipe kepribadian seperti dirinya. Tentu penulis memberi petunjuk untuk memanfaatkan kelebihan diri dan menetralisir kekurangan dirinya. 
Namun demikian fokus perhatian dalam kasus Fanta adalah kemampuan mengatasi amarah. Setelah memahami psikologi amarah, Fanta merumuskan sejumlah self-statement positive (pernyataan bagi diri sendiri) untuk mensugesti diri. Dalam setiap situasi yang menimbulkan amarah, Fanta mensugesti diri untuk mengalahkan amarah yang telah disimbolisasi sebagai setan dalam diri sendiri.
Kemudian Fanta dibantu memahami dan menerapkan 'psikologi memaafkan' seperti disarankan John Monbourquette (2000) dalam How to Forgive. Memaafkan iu merupakan keputusan untuk tidak berbalas dendam yang merupakan konsekuensi dari keadilan instinktual. Setelah berkeputusan untuk memaafkan, kita berusaha menyadari bahwa dalam banyak hal kita sendiri perlu dimaafkan.
Mengapa kita berat untuk memaafkan orang lain? Karena kita terjebak dalam pikiran bahwa orang tersebut itu bencana bagi kita. Karena itu ia harus dilawan dan diperangi. Saat menyadari bahwa kita juga perlu dimaafkan, kita ternyata juga merupakan bencana bagi orang lain. Nah, daripada saling membencanakan diri masing-masing, mengapa tidak kita saling memaafkan. Untuk itu, kita mesti melakukan proses baru reframing (memahami diri masing-masing dan orang lain) dengan cara yang lebih positif.
Barangkali kita perlu merenung kata seorang teolog katolik Jacques-Marie Pohier, "Memaafkan itu sulit karena kita takut akan resikonya."
Felix Lengkong MA PhD (Konselor dan dosen psikologi konseling klinis Unika Atma Jaya dan Universitas Pelita Harapan) dari http://www.hidupkatolik.com/2013/06/04/dendam-dan-psikologi-memaafkan

Senin, 10 Juni 2013

(Sharing Iman) Rahmat Tuhan Lepaskan Aku dari Kegelapan

BERSAMA TUHAN HADAPI KEGELAPAN
Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda berada dalam situasi kegelapan dan dosa? Anda akan berjuang sendiri untuk melepaskan diri Anda dari situasi itu? Atau Anda akan mengandalkan rahmat Tuhan?
Suatu ketika saya menyusuri suatu lorong yang gelap. Namun saya berjalan dengan lancar saja di lorong itu. Pasalnya, sudah beberapa kali saya melintasi lorong itu di siang hari. Jadi saya sudah agak hafal hal-hal yang ada di sepanjang lorong itu. Namun saat malam itu saya melewati lorong itu, dahi saya terbentur sesuatu. Butir-butir darah segar mengucur membasahi wajah saya. Saya agak panik. Namun saya mampu menguasai diri.
Setelah berhenti sesaat, saya meneruskan perjalanan saya. Di ujung orong itu ada seberkas cahaya. Saya merasa aman. Saya merasa ada sesuatu yang memberi harapan. Meski darah masih mengalir perlahan-lahan, saya terus mengarahkan pandangan saya ke ujung lorong itu. Seberkas cahaya itu mampu meyakinkan saya bahwa saya mampu menembus lorong yang gelap itu. Saya merasa yakin, ada sesuatu yang memberi kekuatan untuk terus maju.
Benar. Kaki-kaki saya terus melangkah hingga di ujung lorong itu. Anehnya, cahaya yang saya lihat itu ternyata tidak ada di ujung lorong itu. Cahaya itu masih jauh dari ujung lorong itu. Cahayanya berpendar-pendar hingga di ujung lorong itu. Saya merasa, cahaya itu hanyalah fatamorgana. Namun cahaya itu telah menguatkan saya untuk terus berjalan, meski darah masih mengalir dari dahi saya. Ada optimisme. Ada kekuatan untuk meraih tujuan.
Sahabat, setiap kita tentu pernah mengalami kegelapan dalam hidup. Kita merasa takut di saat kegelapan melingkupi diri kita. Kita merasa cemas. Kita merasa ada sesuatu yang mesti kita hindari, namun ternyata kita tidak mampu. Ada yang mengancam diri kita. Yang kemudian sering kita buat adalah kita lari menghindari kegelapan itu. Kita berusaha untuk menemukan terang.
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti tetap tenang saat kegelapan menghadang kita dalam perjalanan hidup. Kita tidak perlu merasa takut atau panik. Yang mesti kita lakukan adalah tetap memusatkan perhatian pada apa yang semestinya kita lakukan. Dengan demikian, kita mampu melawan kegelapan itu. Kita mampu menemukan cahaya.
Dalam hidup rohani, kegelapan itu juga sering kita alami. Hal ini kita alami saat dosa menguasai hidup kita. Saat kita jatuh ke dalam dosa. Banyak orang tidak mampu menghadapi godaan-godaan dalam hidupnya.
Akibatnya, mereka tidak mampu bertahan dalam kebaikan. Mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka kemudian dikuasai oleh kegelapan hidup. Mereka merasa cemas, kalau-kalau sukacita batiniah hilang dari diri mereka.
Mereka berusaha untuk keluar dari kegelapan dosa itu. Namun mereka tidak mampu berjuang sendirian. Setiap kali mereka mau keluar dari kegelapan itu, mereka jatuh kembali ke dalam dosa. Lantas apa yang mesti dilakukan?

Tentu saja sebagai orang beriman, kita butuh rahmat Tuhan untuk dapat melepaskan diri dari dosa dan kegelapan itu. Untuk itu, orang mesti membuka hatinya bagi rahmat Tuhan. Orang mesti membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan. Dengan demikian, dosa dan kegelapan itu lenyap dari dirinya. Tuhan memberkati.

copas: sesawi.net
Baca juga sharing lainnya: