Senin, 19 Juli 2021

MARIA BUNDA BERDUKACITA

 


“Aku ini Bundamu yang berdukacita. Milikkulah semua dukacitamu. Juga bagimu, pada masa ini penderitaan dan penindasan semakin bertambah. Sebab kamu hidup di masa hati manusia telah menjadi beku, tertutup oleh egoisme yang picik.

Umat manusia terus bergegas di jalan penolakan keras kepala terhadap Allah, kendati segala nasehat keibuanku dan tanda-tandaku terus dilimpahkan oleh Kerahiman Tuhan. Demikianlah wabah dosa, kebencian dan kekerasan semakin merajalela. Dan kurban yang paling rentan adalah anak-anakku, yang tidak punya pembela dan mereka yang tidak memiliki perlindungan.

Saat ini betapa banyak orang miskin, yang tidak punya apa-apa, dan yang hidup dalam keadaan yang memprihatinkan dan tidak manusiawi, tanpa pekerjaan yang tetap, tanpa sarana hidup yang layak. Dan betapa banyak orang yang menyimpang jauh dari Allah serta Hukum Kasih-Nya, yang direngut oleh pasukan tangguh orang-orang yang mengajarkan ateisme.

Umat manusia hidup di padang gurun, yang tandus dan dingin; belum pernah seperti sekarang mereka begitu terancam. Penderitaan umat manusia terangkum di dalam Hatiku yang Tak Bernoda. Saat ini, lebih dari kapan pun, aku adalah Bunda yang berdukacita, dan air mata berjatuhan dari mataku yang rahim. Dengarkanlah Ibumu dan jangan menjauh dari kasih Bundamu yang berdukacita, yang ingin menuntun kamu semua kepada keselamatan.

Putra-putraku terkasih, pada saat ini kamu harus menjadi tanda dukacitaku yang mendalam. Di dalam hatimu, bersamaku tanggunglah penderitaan dunia dan Gereja, yang sedang menghadapi sakratulmaut dan sengsaranya yang menyelamatkan. Kiranya hanya dari penderitaan kita inilah suatu era damai yang baru akan bersemi bagi semua orang.”

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Minggu, 18 Juli 2021

YESUS ITU ISLAM: EMANGNYA KENAPA?

 


Dalam islam ada tiket mudah dan murah untuk masuk surga. Salah satunya adalah memurtadkan atau mengislamkan orang kafir. Dengan kata lain, memualafkan orang kafir adalah tiket menuju surga. Salah satu orang kafir itu adalah orang kristen. Bukan tidak mustahil hal ini sudah ditekankan ke umat islam sejak usia dini. Karena itulah, ada banyak cara yang dilakukan supaya orang kafir itu menjadi pemeluk islam. Satu di antaranya lewat membangun opini yang menampilkan tokoh-tokoh kristen yang memeluk islam. Dulu ada heboh berita tentang Paus Benediktus XVI masuk islam. Ada pula yang membuat opini “Yesus itu islam.”

Padahal publik sudah tahu islam adalah agama yang diturunkan oleh Muhammad SAW pada abad VII. Salah satu syarat utama untuk menjadi penganut agama islam adalah dengan mengucapkan syahadat "AsshHaduala ilahailallah wa AsshHaduana muhammadurrasulullah", yang artinya: aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Orang yang menganut agama islam sering disebut muslim.

Karena itulah, tentu sebagian besar orang langsung kaget dengan opini yang dibangun umat islam itu. Bagi orang kristiani, Yesus adalah peletak dan dasar bagi iman dan ajaran agama kristen. Diketahui bahwa Yesus sudah ada jauh sebelum Muhammad lahir dan menjadi rasul Allah. Selisihnya sekitar 6 abad. Jika demikian bagaimana mungkin Yesus disebut sebagai seorang muslim tanpa menyebut wa AsshHaduana muhammadurrasulullah?

Agar tidak bingung dan dapat memahami judul di atas, maka terlebih dahulu kita harus memahami arti dan makna kata “islam”. Kata ini tak bisa dipisahkan atau dilepaskan dari kata “muslim”. Keduanya berkaitan erat. Muslim adalah orang yang memeluk agama islam. Jadi, muslim itu sama artinya dengan orang islam; atau dengan kata lain, muslim itu merupakan ungkapan lain untuk istilah/frase orang islam. Dan itulah Yesus. Kalau begitu, apa arti islam?

Secara etimologis kata “islam” berasal dari bahasa Arab, yang diambil dari kata salima dengan arti selamat. Dari kata salima itu terbentuk kata aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh/taat. Kata ini terdapat dalam QS al-Baqarah: 112: “Bahkan, barangsiapa menyerahkan diri (aslama) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati.”

Selain dua kata itu, Al-Qur’an juga memakai kata kerja “islam” dengan kata yuslim yang berarti tunduk atau menyerah/berserah diri kepada Allah. Tentang makna penyerahan diri secara total, kita dapat menemukan akar kata “islam” pada kata istalma mustaslimaIni seperti terdapat dalam QS Ash-Shaffat: 26: ”Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” Karena itu, menjadi muslim berarti beriman kepada Allah dengan tunduk kepada kehendak-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Mungkin dengan ketaatan ini maka datanglah selamat atau keselamatan.

Jumat, 16 Juli 2021

TELAAH ATAS SURAH QAF AYAT 38

 


Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun (QS 50: 38)

Al-Qur’an diyakini oleh umat islam sebagai wahyu Allah yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad. Apa yang tertulis di dalamnya, termasuk titik komanya, adalah berasal dari Allah, tanpa campur tangan manusia. Karena itulah, umat islam memandang Al-Qur’an sebagai sesuatu yang suci, sebab ada Allah di dalamnya. Perlakuan terhadap Al-Qur’an pun jauh berbeda dengan kitab-kitab lainnya, yang memang buatan tangan manusia. Menjadi tak heran akan reaksi umat islam ketika menemukan lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an tercecer di sebuah tempat sampah. Hal itu tidak hanya dilihat sebagai sebuah bentuk penistaan, tetapi juga pelecehan terhadap kesucian Allah. Masak Allah dibuang di tempat sampah?

Berangkat dari pemahaman tersebut, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah, yang disampaikan kepada Muhammad. Wahyu Allah ini disampaikan saat Muhammad masih berada di Mekkah. Karena itulah, ayat ini masuk dalam kelompok surah Makkiyyah.

Sebelum menelaah ayat tersebut, terlebih dahulu kita memahami maksud yang terkandung dalam kutipan tersebut. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang jelas, maka kejelasan itu terlihat juga pada kutipan ayat di atas. Dapatlah dipahami bahwa pada waktu itu Allah menjelaskan kepada Muhammad perihal waktu penciptaan langit dan bumi dan bagaimana keadaan Allah. Dari kutipan di atas setidaknya ada 3 hal yang hendak disampaikan Allah, yaitu bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, bahwa Allah membutuhkan waktu 6 masa; dan untuk mengerjakan semua itu Allah sama sekali tidak letih. Apa yang bisa ditelaah dari sini?

Pertama-tama, kita sama sekali tidak menemukan kaitan langsung ayat 38 ini dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Tampak jelas kalau kutipan ayat ini berdiri sendiri. Tiba-tiba saja Allah berbicara kepada Muhammad soal penciptaan langit dan bumi dalam waktu 6 masa, dan kemudian Allah seolah-olah hendak menunjukkan kehebatan-Nya dengan mengatakan bahwa diri-Nya tidak merasa letih sama sekali. Dari mana gagasan ayat ini muncul?