Minggu, 05 April 2015

Renungan Hari Raya Paskah, Thn B

Renungan Hari Raya Paskah, Thn B/I
Bac I    Kis 10: 34a, 37 – 43; Bac II              Kol 3: 1 – 4;
Injil      Yoh 20: 1 – 9;

Hari ini umat katolik seluruh dunia merayakan Hari Raya Paskah. Hari ini merupakan puncak dari perjalanan retret agung kita selama masa prapaskah. Kita telah mempersiapkan diri untuk menyambut Paskah Tuhan kita Yesus Kristus. Paskah adalah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Karena itu, dengan kebangkitan-Nya maut, yaitu dosa, telah dikalahkan. Inilah makna penebusan. Bacaan-bacaan liturgi hari ini bertemakan kebangkitan.

Injil hari ini secara spesifik mengisahkan tentang peristiwa kebangkitan Yesus yang digambarkan “hilangnya” jenasah Yesus dari kubur. Para rasul dan Maria Magdalena yang ke kuburan Yesus, tidak menemukan jenasah Yesus di sana. Namun salah seorang murid, yang dikasihi Yesus, melihat ketiadaan jenasah itu sebagai kebangkitan-Nya. Karena itulah, setelah menyaksikan semuanya itu ia percaya (ay. 8). Ketika yang lain hanya melihat dengan mata indrawi, murid ini melihatnya dengan mata iman sehingga ia percaya. Di kemudian hari barulah Petrus menyadari hal itu. Ini terlihat dari bacaan pertama. Dalam bacaan pertama, Petrus mewartakan Yesus yang bangkit. Baginya, kebangkitan bermakna penebusan bagi yang percaya (ay. 43).

Apakah kebangkitan Yesus memiliki makna lain selain penebusan? Kebangkitan Yesus merupakan kebangkitan bagi umat manusia. Inilah yang hendak dikatakan oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolese, Paulus menegaskan bahwa kita juga ikut bangkit bersama Kristus. Konsekuensi bangkit bersama Kristus adalah agar kita mencari “perkara yang di atas..., bukan yang di bumi.” (ay. 1 – 2). Kebangkitan Kristus hendaknya juga membawa perubahan dalam sikap dan perilaku hidup. Ini juga yang dikatakan Petrus dalam bacaan pertama. Perubahan itu terlihat dari sikap terbuka kepada sesama.

Hari ini kita bergembira merayakan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita diajak bersyukur karena rahmat penebusan yang diberikan Allah lewat wafat dan kebangkitan Putera-Nya. Namun kita juga perlu menyadari bahwa kebangkitan Yesus adalah juga kebangkitan kita. Tuhan menghendaki agar kita bangkit dari keberdosaan kita. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita supaya dengan paskah Yesus ini kita tidak lagi hanya memikirkan perkara duniawi. Selain itu juga Tuhan menghendaki agar lewat paskah Yesus ini kita bersikap terbuka terhadap sesama; menerima orang lain tanpa melihat suku, ras, golongan ataupun kepentingan. Kebangkitan Kristus telah menyatukan kita dalam satu keluarga.

by: adrian

Sabtu, 04 April 2015

Islam dan Radikalisme

RADIKALISME KELANJUTAN ISU INTOLERANSI
Kasus beredarnya buku pendidikan agama Islam yang berisi ajaran radikal bukan fenomena baru, melainkan kelanjutan dari isu besar persoalan intoleransi di Indonesia. Setiap tahun, kondisi intoleransi di sekolah-sekolah mengalami eskalasi peningkatan.
“Kita sangat prihatin melihat kondisi sekolah yang intoleransinya terus meningkat. Studi ini beberapa kali sudah dilakukan. Kejadian akhir-akhir ini hanyalah konfirmasi bahwa betul ada masalah di dunia pendidikan kita,” kata Cendekiawan Muslim, Budhy Munawar Rachman, Rabu (1/4), di Jakarta.
Seperti diberitakan sejumlah media massa, di Bandung (Jawa Barat) dan Jombang (Jawa Timur) beredar buku Kumpulan Lembar Kerja Peserta Didik Pendidikan Agama Islam Kelas XI SMA dengan kutipan, diperbolehkan membunuh orang musyrik.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam membenarkan adanya peredaran buku yang mencantumkan aspek historis ajaran kekerasan di dalam agama. Ajaran itu menimbulkan radikalisme yang tak sesuai aspek antropologis dan sosiologis Indonesia sehingga buku harus ditarik (Kompas cetak, 1/4).
Menurut Budhy, pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama, harus memberi perhatian serius pada masalah ini. Jika ini dibiarkan, intoleransi yang terus menguat akan berkembang menjadi radikalisme, yang selangkah lagi akan bertumbuh menjadi terorisme.
Selain menghentikan peredaran buku-buku yang berisi ajaran radikal, menurut Budhy, guru-guru agama serta PPKN perlu dibantu untuk bisa mengembangkan paham-paham toleransi kebangsaan. Mereka juga perlu dilatih mengembangkan sikap inklusif.
“Jika guru-guru agama dan PPKN kita eksklusif, mereka justru akan menguatkan arus radikalisme di sekolah,” ujar Budhy.
Bisa Ditelusuri
Tokoh agama yang juga Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Franz Magnis-Suseno SJ menyatakan, semestinya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak menerbitkan buku-buku yang menganjurkan perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan Undang-Undang Dasar di Indonesia. Hal ini merupakan pegangan pokok.
“Apakah buku seperti itu baru beredar sekarang atau sudah lama bisa ditelusuri. Kalau baru pertama kali muncul, bisa dicek siapa yang menyusun dan mengapa bisa demikian?” katanya.
Menurut Romo Magnis, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu bertanya dan meminta pendapat kepada pemuka agama yang bersangkutan, dalam hal ini agama Islam, tentang isi buku pendidikan agama yang benar-benar sesuai dengan kaidah Islam dan tidak melanggar hukum serta UUD.
Secara terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan, buku-buku yang tak layak akan ditarik dan diperbaiki. “Kita akan mereformasi tata kelola perbukuan,” kata Anies, Selasa (31/3).
Keresahan akan penyebaran radikalisme membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, memblokir 19 situs web yang diduga menyebarkan radikalisme. Namun, kebijakan itu diprotes tujuh perwakilan pengelola situs, yakni aqlislamiccenter.com, hidayatullah.com, kiblat.net, salam-online.com, panjimas.com, arrahmah.com, dan gemaislam.com
Baca juga tulisan lainnya:

Orang Kudus 4 April: St. Benediktus Moor

SANTO BENEDIKTUS MOOR, BIARAWAN
Benediktus Moor lahir di sebuah desa kecil dekat Messina, Sisilia, pada tahun 1526. Ia adalah orang negro pertama yang digelari “kudus” oleh Gereja. Ia disebut juga “Benediktus Hitam”, karena warna kulitnya yang hitam. Orang tuanya adalah budak belian asal Ethiopia yang bekerja pada seorang orang kaya di Sisilia. Karena kesalehan hidup mereka, sang majikan memberikan status merdeka pada Benediktus.
Oleh orang tuanya yang saleh itu, Benediktus mendapat pendidikan yang baik terutama dalam hal-hal yang menyangkut penghayatan iman kristen. Ia berkembang menjadi orang Kristen yang saleh. Seorang imam Fransiskan yang menyaksikan cara hidup Benediktus segera mengajaknya untuk masuk Ordo Fransiskuan. Benediktus menyambut baik ajakan ini. Ia menjadi seorang bruder dan bekerja sebagai juru masak di biara Santa Maria di Palermo. Kesalehan hidupnya membawanya ke jenjang pimpinan biara, kendatipun ia tidak tahu menulis dan membaca. Dalam kepemimpinannya, ia berhasil menciptakan suatu suasana baru dalam biaranya.
Banak orang yang datang meminta nasehat dan bimbingan rohani padanya. Ia dianugerahi kemampuan untuk menerangkan masalah-masalah doktrinal dan rohani. Ia meninggal pada tahun 1589
sumber: Iman Katolik
Baca juga riwayat orang kudus 4 April: