Jumat, 26 Agustus 2022

MEMBEDAH ISI AL-QUR’AN

 


Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam, yang diyakini langsung berasal dari Allah SWT. Apa yang tertulis di dalamnya dipercaya merupakan kata-kata Allah sendiri. Karena Allah itu maha benar, maka benar-lah juga Al-Qur’an. Dalam surah al-Haqqah ayat 59 dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran yang meyakinkan. Oleh karena itu, umat islam menerima begitu saja apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an tanpa ada upaya penelaahan, apalagi secara kritis. Belum ada usaha dari umat islam sendiri untuk mengkritisi Al-Qur’an. Hal ini bisa dimaklumi karena upaya pengkritisan itu bisa dilihat sebagai usaha meragukan kebenaran Al-Qur’an; dan ini secara tidak langsung melecehkan Al-Qur’an itu sendiri. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya dengan pelecehan terhadap Allah; dan orang yang melakukan hal itu wajib dibunuh berdasarkan perintah Allah (QS al-Maidah: 33).

Jika dilakukan penalaran sederhana terhadap Al-Qur’an, dapat dipastikan orang akan meragukan Al-Qur’an itu wahyu Allah. Sebagai contoh, jika memakai cara pikir umat islam dalam menilai Alkitab, dimana dikatakan Alkitab sudah tak asli lagi, maka kesimpulan yang sama juga akan terjadi pada Al-Qur’an. Dasar penilaian umat islam tentang ketidak-aslian Alkitab adalah adanya ayat yang berubah-ubah. Nah, dengan cara yang sama harus juga dikatakan Al-Qur’an sudah tak asli lagi karena ada ayat yang berubah-ubah. Jadi, dengan cara berpikir umat islam dalam menilai Alkitab, orang bisa mengatakan Al-Qur’an sudah dipalsukan.

Contoh keraguan lain bisa dilihat dengan menggunakan perbandingan. Tentulah umat islam yakin Allah itu maha sempurna. Jika Allah itu sungguh maha sempurna, maka apa yang dihasilkan-Nya pun adalah sempurna. Pertanyaannya, sungguhkah Al-Qur’an kitab yang sempurna? Secara kasat mata saja langsung ditemukan tambahan-tambahan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang berada dalam tanda kurung. Tambahan ini bukan dari Allah, melainkan dari manusia, yang berfungsi untuk penjelasan (membuat menjadi jelas). Tanpa tambahan itu, dapat dipastikan Al-Qur’an menjadi tidak jelas. Karena itu, Ali Sina mengatakan bahwa Al-Qur’an “adalah buku yang membingungkan, tulisannya kacau balau, penuh khayalan dan pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal.” Dan J.K Sheildlin, berkata bahwa Al-Qur’an merupakan “pikiran orang bingung yang dituliskan di atas kertas.” Dengan demikian Al-Qur’an bukanlah kitab yang sempurna. Dan karena tidak sempurna, haruslah dikatakan dia bukan wahyu Allah.

Kamis, 25 Agustus 2022

CINTA ITU MENGHIDUPKAN

 

Sigmund Freud, bapak pendiri psikoanalitik, menggolongkan insting manusia ke dalam dua kelompok besar, yaitu insting hidup dan insting mati. Insting mati, yang terkadang disebut juga dengan istilah insting merusak (destructive) merupakan hasrat setiap manusia untuk mati. Kematian mendapat perhatian lebih bagi Freud. Ia pernah berkata bahwa tujuan semua kehidupan adalah kematian.

Hasrat kematian itu bisa ditujukan keluar dari diri sendiri (external object) seperti orang lain atau lingkungan (vandalism), bisa juga terarah kepada diri sendiri (internal object). Salah satu derivatif insting mati ini adalah benci. Kebencian selalu membawa dampak pada kehancuran atau kerusakan. Misalnya, jika kita benci kepada seseorang, maka kita dapat merusak orang itu, baik secara fisik (mencederainya atau bahkan membunuh) maupun secara psikis (fitnah, menghina, dll).

Kebencian atau rasa benci kepada orang, entah itu diri sendiri maupun orang lain, dan kepada lingkungan, bukanlah merupakan akar dari insting mati. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya rasa benci ini. Salah satunya adalah iri hati. Contohnya dalam kasus perseteruan antara Tuhan Yesus di satu sisi dengan kaum Farisi, ahli Taurat dan para imam Yahudi di sisi lain. Mereka sangat iri akan popularitas Yesus sehingga muncul hasrat untuk menyingkirkan Yesus dari pengaruh sosial. Puncak perseteruan adalah penyaliban Tuhan Yesus di Bukit Golgota.

Seperti insting mati, insting hidup juga dapat ditujukan keluar dari diri sendiri (external object) seperti orang lain atau lingkungan, dan bisa juga terarah kepada diri sendiri (internal object). Salah satu derivatif insting hidup ini adalah cinta. Jika rasa benci selalu membawa dampak pada kehancuran atau kerusakan, maka cinta membawa kehidupan. Ungkapan cinta dapat terlihat dari sikap-sikap seperti menghormati, menghargai, memelihara, merawat, perhatian, dll. Semua sikap ini akan menimbulkan efek harmoni, damai, hidup nyaman dan bahagia.

Rabu, 24 Agustus 2022

ESENSI DISIPLIN BAGI ANAK-ANAK

 

Anak dikenal sebagai orang yang suka bermain. Dalam bermain tersebut anak belumlah memahami konsep hukum. Karena itulah, anak akan bermain sesuai dengan apa yang disukai dan disenanginya. Akan tetapi, hal ini jangan dibiarkan begitu saja. Pelan tapi pasti anak perlu ditanamkan soal disiplin. Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), menguraikan tentang esensi disiplin pada masa kanak-kanak (hlm. 166).

Bantuan dalam Mendasarkan Kode Moral

Dalam kasus anak yang lebih besar, pengajaran mengenai benar dan salah seyogianya menekankan alasan mengapa pola perilaku tertentu diterima dan mengapa pola lain tidak diterima, dan seyogianya diarahkan untuk menolong anak memperluas konsep tertentu menjadi konsep yang lebih luas, lebih abstrak.

Ganjaran

Ganjaran, seperti pujian atau perlakuan secara khusus karena berhasil mengatasi situasi sulit dengan baik, mempunyai nilai pendidikan yang kuat jika pujian dan perlakuan khusus menunjukkan pada anak bahwa ia bertindak benar dan juga jika mendorong anak untuk mengulang perilaku yang baik. Bagaimana pun juga, jikalau pujian dan perlakuan khusus harus menjadi efektif, ganjaran harus sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak.

Hukuman

Seperti ganjaran, hukuman harus sesuai dengan perkembangan dan harus dilakukan secara adil, kalau tidak dapat menimbulkan kebencian anak. Hukuman juga harus mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan harapan sosial di masa berikutnya.

Konsistensi