Jumat, 14 Januari 2022

INI JAWABAN LENGKAP KENAPA UMAT NASRANI TAK AKUI MUHAMMAD SEBAGAI NABI

 


Dalam media sosial Youtube, ada satu video berisi penjelasan Dr. Bambang Noorsena tentang alasan umat kristiani menolakkenabian Muhammad. Penjelasan Dr. Bambang ini terbilang singkat. Dia mengatakan bahwa dasar penolakan itu karena orang Kristen percaya wahyu sudah berakhir pada Yesus. Hal ini mirip seperti konsep umat islam terhadap Muhammad. Umat islam percaya bahwa Muhammad adalah nabi penutup. Dasar keyakinan ini adalah wahyu Allah (QS al-Ahzab: 40). Memang penjelasan Dr. Bambang itu benar, namun apakah penjelasan itu akan begitu mudah diterima umat islam. Pemahaman bahwa wahyu sudah berakhir pada Yesus telah menjadi ajaran resmi Gereja. Akan tetapi, apakah pemahaman tersebut sudah ada pada orang Kristen yang hidup di Mekkah dan Madinah pada abad VI dan VII, serta orang Kristen dewasa ini sehingga mereka menolak kenabian Muhammad?

Patutlah diduga dasar pertanyaan umat islam atas penolakan terhadap nabi agungnya ada pada sikap iri hati. Di satu pihak orang islam menerima dan menghormati Yesus sebagai nabi, di pihak lain orang kristiani justru menolak kenabian Muhammad. Tulisan ini mencoba memberikan jawaban komprehensip atas pertanyaan kenapa orang Kristen tidak percaya Muhammad sebagai nabi. Dengan kata lain, orang Kristen menolak kenabian Muhammad. Di sini akan dipaparkan alasan yang ada pada orang Kristen pada zaman dulu dan juga zaman sekarang.

Ada mekanisme khusus untuk menyatakan seseorang sebagai nabi. Gelar nabi tidak bisa diterima begitu saja berdasarkan pengakuan pribadi. Artinya, pengakuan diri sendiri tidak masuk dalam kriteria nabi. Misalnya, nabi-nabi yang ada dalam sejarah kekristenan dan juga Yahudi, tidak pernah mengklaim atau mengaku dirinya sebagai nabi. Selain itu, ada kriteria lain untuk sosok nabi, misalnya hidup rohani, kepribadian dan juga warta yang dibawanya.

Kamis, 13 Januari 2022

KETIKA PARA PETUGAS PASTORAL BERTIKAI

Dalam ensikliknya Evagelii Gaudium, Paus Fransiskus, menyajikan godaan-godaan yang dihadapi para petugas pastoral. Topik ini sangat menarik mengingat posisi saya dan rekan-rekan lainnya sebagai petugas pastoral. Romo Vikep sendiri menyatakan bahwa topik ini memang menarik. Yang menjadi daya tariknya adalah kata “godaan”. Bukankah godaan itu selalu menarik? Hawa jatuh ke dalam dosa karena ia melihat buah pohon itu menarik hati karena memberi pengertian (Kej 3: 6). Ia tergoda.

Lantas apa saja yang menjadi godaan-godaan kami pada imam, yang adalah petugas pastoral? Perlu disadari bahwa godaan itu sekaligus juga tantangan dalam mewartakan kabar sukacita.

Ada beberapa poin godaan dan sekaligus tantangan. Semua poin itu menarik bagi saya, dan sangat mengena pada kehidupan saya. Akan tetapi saya lebih terkesan dan tertarik dengan poin keenam. Kata kuncinya adalah pertikaian dan perselisihan di antara petugas pastoral. Tema ini menjadi menarik karena ia begitu aktual. Ada banyak imam hidup dalam pertikaian dan perselisihan. Saya sendiri pun pernah mengalaminya.

Namun, ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Bukan berarti saya mau membantah topik atau bahan refleksi itu; dan bukan pula saya mau membela diri. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak semua perselisihan dan pertikaian itu negatif. Kebanyakan orang menilai, sebagaimana juga dikatakan dalam bahan refleksi itu, bahwa perselisihan dan pertikaian itu disebabkan karena cemburu dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Padahal tidaklah selalu demikian. Tak sedikit orang berselisih demi kebaikan dan kebenaran.

Tuhan Yesus, selama hidup-Nya, selalu berselisih dengan kaum Farisi, Saduki, para imam dan ahli-ahli Taurat. Yesus sering mengecam mereka. Apa lantas bisa dikatakan Yesus cemburu dan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri? Sama sekali tidak. Justru beberapa kali terlihat merekalah yang iri hati terhadap Yesus. Dan lewat perselisihan itu Tuhan Yesus mau menunjukkan kebenaran dan kebaikan, bukan untuk diri-Nya, melainkan untuk mereka dan umat manusia.

Rabu, 12 Januari 2022

MELIHAT ISI BUKU "MUSLIM PERTAMA: MELIHAT MUHAMMAD LEBIH DEKAT"

Buku dengan judul “Muslim Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat” merupakan salah satu karya Lesley Hazleton. Tak ada reaksi protes dari kalangan umat islam atas buku ini, sebagaimana yang dialami dengan buku “Lima Kota” yang akhirnya dibakar oleh Gramedia. Hal ini dapat disimpulkan bahwa isi buku ini sesuai dengan kebenaran islam. Sebab jika tidak, pastilah muncul demo, protes yang berakhir pada pemusnahan buku, sebagaimana buku “Lima Kota”.

Dengan membaca buku ini tentulah orang mengetahui sesuatu kebenaran yang sesuai dengan apa yang diakui oleh umat islam. Selain itu, judul buku juga menjadi alasan saya membelinya. Judul besar buku ini: “MUSLIM PERTAMA”, menjadi daya tarik orang untuk mengetahui siapa yang dimaksud dengan muslim pertama. Memang awalnya orang sudah menyangka bahwa buku ini akan membahas riwayat hidup Muhammad (terlihat dari sub judulnya), namun bukan berarti muslim pertama itu adalah Muhammad. Jika Muhammad adalah muslim pertama, lantas para nabi sebelum Muhammad itu sebagai muslim keberapa? Adam, bagi orang islam, adalah manusia pertama dan diakui sebagai nabi dalam dunia islam (Yahudi dan Kristen tidak). Kenapa bukan Adam sebagai muslim pertama?

Terus terang frasa “muslim pertama” pada judul buku ini sedikit membingungkan. Dan sayangnya Hazelton sama sekali tidak menjelaskan maksud frasa itu. Walau bagaimana pun, fokus tulisan ini adalah mengulas isi buku ini yang berbicara tentang Muhammad. Kebetulan, kisah Muhammad yang diungkap Hazleton dalam bukunya ini, sama sekali tidak ada tanggapan negatif dari umat islam. Hal ini berarti riwayat tentang Muhammad dalam buku ini sudah benar, sudah sesuai dengan selera umat islam.

Mengkritisi Tulisan Hazleton, Memahami Muhammad

Riwayat Muhammad yang disajikan Hazleton dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Bocah Yatim (hlm 3 – 101), yang mengisahkan latar belakang keluarga Muhammad hingga pernikahannya dengan Khadijah; Masa Pengasingan (hlm 105 – 302), yang mengisahkan kehidupan Muhammad dan pengikutnya di Madinah; dan Sang Pemimpin (hlm 305 – 350), yang bercerita kehidupan Muhammad setelah kembali ke Mekkah dan menjadi pemimpin islam.

Salah satu hal yang membuat buku ini kurang menarik adalah ketiadaan judul bab. Hazleton hanya membagi tiga bagian tadi ke dalam bab-bab yang tak berjudul. Hal ini membuat judul bagian buku terkesan lucu. Misalnya, bagian pertama dikatakan “bocah”, padahal uraiannya hingga Muhammad menikah. Saat menikah, Muhammad sudah bukan bocah lagi. Selain itu, tidak ada keterangan waktu dan lokasinya, yang membuat pembaca bingung. Misalnya, bagian pertama itu dari tahun berapa hingga berapa, demikian pula bagian dua dan tiga; lokasinya di mana.

Akan tetapi, setelah membaca buku ini saya akhirnya bisa memahami siapa Muhammad itu. Dan inilah yang menjadi tujuan telaah buku ini. Saya mengurai telaah saya tidak berdasarkan pembagian Hazleton, melainkan pembagian saya sendiri. Sebenarnya pembagian ini tidak jauh berbeda dengan pembagian yang dibuat Hazleton.