Jumat, 28 Mei 2021

MELIHAT SOAL PENGHARAMAN BABI


 

Dalam agama islam babi itu adalah binatang yang haram. Itu sudah keputusan final. Umat islam biasanya menerima begitu saja, tanpa pernah ada niat untuk mencoba memahami fatwa haram tersebut. Di sisi lain tak sedikit juga umat islam yang mengkonsumsi daging babi, sekalipun tahu bahwa itu haram.

Hal inilah yang sedikit membuat kebingungan di kalangan umat non muslim. Meski tahu haram, kenapa tetap dimakan? Ada banyak bentuk rasionalisasi yang ditampilkan. Ada yang mengatakan, “asal tidak muntah, maka tidak haram; alias tak berdosa”. Ada juga yang bilang, “asal dimasak pake ajinomoto, pasti halal; karena ajinomoto 100% halal”. Macam-macam argumentasi dilontarkan hanya untuk membenarkan tindakannya menikmati daging babi.

Bagaimana sebenarnya pendalilan atas pengharaman babi dalam agama islam itu?

DALIL HARAM BABI

Satu pertanyaan mendasar adalah mengapa babi diharamkan dalam ajaran islam. Kalau pertanyaan ini diajukan kepada umat islam, tentulah mereka akan menjawab bahwa Al-Qur’an sudah melarangnya. Sebagaimana yang diketahui, Al-Qur’an adalah Kitab Suci orang islam, yang di dalamnya berisi perintah-perintah Allah. Karena itu, pelarangan atau pengharaman babi merupakan perintah langsung dari Allah.

Kami mencoba mencari surah-surah apa saja yang memuat perintah Allah yang mengharamkan babi itu. Dan kami akhirnya menemukan ada empat surah. Keempat surah itu adalah:

a)   QS Al-Baqarah 173 : “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu daging babi.”

b)   QS Al-Ma’idah 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) daging babi.”

c)   QS Al-An’am 145 : “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor (najis)”

d)   QS An-Nahl 115 : “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan)daging babi.”

Kamis, 27 Mei 2021

INSPIRASI TENTANG RASA HORMAT


 

Ini bukan kisah nyata, melainkan hanyalah sebuah cerita rekayasa. Akan tetapi, cerita ini jamak ditemui dalam kehidupan nyata. Karena itu, jika ada kesamaan ide ataupun cerita dalam kehidupan nyata, itu hanyalah kebetulan semata. Begini kisahnya.

Suatu hari ada seorang pastor dari luar keuskupan datang ke sebuah paroki. Dia hendak berlibur ke rumah saudaranya. Sesuai kode etik, dia harus memberitahu keberadaannya kepada pastor paroki setempat.

Pagi hari dia datang ke pastoran. Tujuannya, menghadap pastor paroki dan melaporkan bahwa dia berada dalam teritorial paroki tersebut. Di ruang sekretariat ia disambut biasa-biasa saja oleh petugas sekretaris.

Pastor         : Selamat pagi!

Sekretaris    : Selamat pagi! Ada yang bisa kami bantu?

Sekretaris itu bertanya sambil mata tetap di layar komputer, sementara jemarinya menari-nari di antara tuts-tuts keyboard. Terlihat kalau sekretaris itu sedang sibuk.

Pastor         : Saya mau ketemu pastor paroki. Pastor parokinya ada?

Sekretaris    : Sudah buat janji? (mata masih menatap layar komputer)

Pastor         : Belum. Saya tak punya nomornya.

Rabu, 26 Mei 2021

PROBLEMATIKA TELEVISI


 

Membaca tulisan-tulisan tentang seruan untuk mematikan televisi, kita dapat menyimpulkan bahwa televisi itu tidak baik bagi kehidupan kita. Televisi yang seharusnya menjadi media informasi dan edukasi, selain hiburan, justru menjadi “candu” yang merusak moral kepribadian kita. Tulisan-tulisan tersebut benar-benar mau menyatakan bahwa televisi itu berbahaya. Oleh karena itulah mereka berseru: ”Matikan televisimu sekarang juga!!!”

Benarkah televisi itu jahat dan tidak baik? Berbahayakah ia untuk kehidupan kita? Bila kita menyimak tulisan-tulisan itu, kita akan berani mengambil satu kesimpulan tegas bahwa televisi memang berbahaya. Data dan fakta sudah ada dan terbukti serta teruji. Jadi, kita mau apa lagi? Di beberapa daerah malah ada yang berani memasang spanduk larangan menonton sinetron dan juga tv.

Mau mematikan tv? Beranikah kita?

Buah Simalangkama

Mematikan televisi bukanlah pekerjaan mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bila televisi itu benar-benar sudah merasuk ke dalam kehidupan kita dan menjadi kebutuhan primer bagi kita. Sungguh, jaman sekarang ini televisi tak bisa dilepaskan dari kehidupan kebanyakan manusia. Karena itu, wajar saja bila tugas itu sangat berat. Kita ibarat memakan buah simalangkama

Akan tetapi, ada satu pertanyaan masih mengusik pikiran saya: apakah televisi benar-benar jahat dan buruk?