Selasa, 27 September 2022

DIMANA PERISTIWA TRANSFIGURASI TERJADI

 

Orang Kristen tentu sudah tahu peristiwa Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya atau dimuliakan di atas gunung. Peristiwa itu dikenal juga dengan istilah transfigurasi. Gereja katolik memasukkan peristiwa tersebut ke dalam kalender liturginya sebagai hari pesta (jatuh pada 6 Agustus). Sebagai sebuah pesta liturgi, Gereja Timur telah jauh lebih dahulu melakukannya. Gereja Barat baru dimulai pada tahun 1457, sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Pasukan Kristen atas tentara Turki di Belgrado.

Gambaran kejadian peristiwa tersebut hanya dapat dibaca dalam Injil Sinoptik, yaitu Matius 17: 1 – 8Markus 9: 2 – 8 dan Lukas 9: 28 – 36. Dalam peristiwa itu Tuhan Yesus, yang pakaian-Nya berkilau-kilau, tampil berdiskusi dengan Nabi Musa dan Nabi Elia. Petrus yang merasa bahagia, ingin mendirikan tiga tenda di tempat itu.

Sangat menarik kalau peristiwa ini dikaitkan dengan peristiwa sebelumnya, yaitu pengakuan Petrus (Mat 16: 13 – 20Mrk 8: 27 – 30 dan Luk 9: 18 – 21). Peristiwa transfigurasi ditempatkan setelah pengakuan Petrus bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Peristiwa transfigurasi seakan mau menegaskan kembali jawaban Petrus tersebut, karena selain menampakkan kemuliaan dan berbicara dengan dua Nabi Besar bangsa Israel, muncul juga penyataan “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”

Akan tetapi menjadi persoalan ketika orang bertanya dimana lokasi persis peristiwa itu terjadi, di gunung Tabor atau Gunung Hermon. Kitab Suci sendiri tidak menyebutkan secara persis tempat kejadian itu. Ketiga Injil Sinoptik hanya menyebutkan bahwa Tuhan Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung (Markus dan Matius memberi tekanan pada yang tinggi). Jadi, hanya berhenti sampai di gunung saja, tanpa menyebut nama gunungnya.

Dalam pengertian biblis, ‘gunung’ sebenarnya merujuk pada apa yang kita pahami sebagai bukit. Ada terdapat beberapa bukit di Israel. Namun yang cukup penting adalah Tabor dan Hermon. Menjadi pertanyaannya, apakah peristiwa Tuhan Yesus menampakkan kemuliaan-Nya itu terjadi di Tabor atau Hermon? Dapat dipastikan bahwa hal ini masih menjadi sebuah misteri.

Namun, sejak abad IV, orang Kristen berpendapat bahwa kejadian itu terjadi di Gunung Tabor. Ada beberapa alasan yang mendukungnya. Pertama, bentuk Gunung Tabor yang rapi memberikan suatu aura alami yang khas, yang menjadikannya suatu tempat yang dengan mudah dianggap sebagai gunung suci. Berbeda dengan banyak gunung lainnya, gunung ini dapat dengan mudah dicapai sehingga memudahkan orang untuk membayangkan peristiwa transfigurasi.

Kedua, sejak perziarahan Kristen berkembang pesat pada abad IV, para pengunjung terus menuntut kepastian letak terjadinya peristiwa tersebut. Dengan mempertimbangkan bahwa para pengunjung terutama akan tertarik mengunjungi Nazaret atau Danau Galilea, dapat dipahami jika orang memilih lokasi yang berdekatan dengan lokasi-lokasi lainnya. Gunung Hermon dirasakan cukup jauh dengan obyek wisata lainnya, sehingga dapat dipastikan pengunjung tidak akan mengunjungi tempat yang jauh itu.

Pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa Tuhan Yesus berubah rupa di Gunung Tabor didukung kuat oleh Uskup Yerusalem, Santo Sirilus (315 - 386). Pada tahun 348, dalam bukunya “Cathechetical Lectures 12: 16” Uskup Sirilus menulis, “Ia berubah rupa di Gunung Tabor.”

Senin, 26 September 2022

ROMO JUGA MANUSIA; BENARKAH???

 

Tentulah kita sering mendengar pernyataan ini: “Romo juga manusia!” Pernyataan ini biasanya diucapkan oleh romonya sendiri atau orang lain, yang ingin “membela” romonya. Umumnya pernyataan ini diungkapkan di saat romo melakukan kesalahan, entah itu kecil ataupun besar. Tujuannya supaya orang lain dapat memaklumi kesalahan itu.

Sebagai contoh, seorang romo datang terlambat saat misa pagi. Ia bangun telat, sebab semalam ia asyik nonton sepakbola hingga jam 03.15. Menyikapi keterlambatannya itu, dengan santai romo itu berujar, “Maaf. Romo juga manusia.” Atau ketika ada imam “jatuh” karena skandal, ada umat, yang karena ingin membela imamnya itu, berkata, “Romo kan manusia juga.”

Logika dari pernyataan ini berangkat dari premis tidak ada manusia yang sempurna. No body is perfect. Setiap manusia itu punya kelemahan dan kekurangan. Ia mudah jatuh ke dalam kesalahan. Seorang imam atau romo adalah juga manusia. Karena itu, wajar kalau ia mempunyai kesalahan.

Tentulah tidak akan ada orang yang menyangkal pernyataan tersebut. Karena seorang imam adalah manusia, maka ia punya kelemahan. Kelemahan manusiawi itulah yang membuat dia kerap jatuh ke dalam kesalahan.

Benarkah imam atau romo itu manusia? Kalau berangkat dari pernyataan ini, dapat dikatakan bahwa ada romo yang memang sadar bahwa dirinya benar manusia, namun ada juga yang bukan. Ada dua tipe romo yang sadar dirinya manusia. Pertama, tipe romo yang mau membenarkan diri atas kelemahannya. Ia menggunakan pernyataan “Romo juga manusia” untuk pembenaran diri, agar umat memakluminya. Tipe kedua adalah romo yang siap menerima kritik dan saran dari siapa saja. Frase “dari siapa saja” harus benar-benar mendapat tekanan, karena umumnya imam hanya mau menerima kritik dan saran dari uskup atau rekan imam yang dia sukai. Lebih dari itu ia akan berkomentar singkat, “Sirik!”

Akan tetapi ada juga imam yang tidak sadar dirinya manusia, sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.” Romo seperti ini tampak jelas dalam diri mereka yang sulit menerima kritik, nasehat, teguran dan saran dari orang lain. Perlu disadari bahwa terkadang orang lain dapat melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Salah satunya kelemahan dan kekurangan kita.

Ada banyak imam selalu merasa diri benar dalam segala hal. Ia hanya melihat kesalahan dan kekurangan pada orang lain, sehingga merasa terpanggil untuk membenahi orang lain. Nasehat, kritik atau teguran yang ditujukan kepada dirinya dilihat sebagai bentuk pelecehan harkat dan martabatnya sebagai imam, sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.”

Seandainya romo sadar bahwa dirinya adalah manusia, tentulah ia akan tahu adanya kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Kerap kelemahan dan kekurangan itu tidak disadari. Ibarat, kita tidak bisa melihat noda di wajah kita sendiri tanpa bantuan cermin. Orang lain adalah cermin bagi kita untuk menyadari kelemahan dan kekurangan. Cermin itu dapat berupa kritik, saran, teguran atau nasehat. Atas semua itu, seorang imam yang sadar dirinya manusia, akan dengan mudah menerimanya sebagai bahan perbaikan diri.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Minggu, 25 September 2022

STUDI ALQURAN: THE MOTHER OF QURAN

Umat islam sangat memuji surah pertama Alquran. Mereka menyebutnya sebagai the mother of quran. Istilah ini bisa dimaknai dengan mengambil salah satu peran ibu, yaitu melahirkan. Karena itu, dapatlah dikatakan kalau dari Surah al-Fatihah lahirlah surah-surah lainnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa surah-surah lainnya mengacu dan menginduk pada surah al-Fatihah ini. Jika memang demikian, maka haruslah dikatakan bahwa surah al-Fatihah merupakan wahyu Allah yang pertama kali turun. Bisakah dikatakan demikian?