Senin, 26 September 2022

ROMO JUGA MANUSIA; BENARKAH???

 

Tentulah kita sering mendengar pernyataan ini: “Romo juga manusia!” Pernyataan ini biasanya diucapkan oleh romonya sendiri atau orang lain, yang ingin “membela” romonya. Umumnya pernyataan ini diungkapkan di saat romo melakukan kesalahan, entah itu kecil ataupun besar. Tujuannya supaya orang lain dapat memaklumi kesalahan itu.

Sebagai contoh, seorang romo datang terlambat saat misa pagi. Ia bangun telat, sebab semalam ia asyik nonton sepakbola hingga jam 03.15. Menyikapi keterlambatannya itu, dengan santai romo itu berujar, “Maaf. Romo juga manusia.” Atau ketika ada imam “jatuh” karena skandal, ada umat, yang karena ingin membela imamnya itu, berkata, “Romo kan manusia juga.”

Logika dari pernyataan ini berangkat dari premis tidak ada manusia yang sempurna. No body is perfect. Setiap manusia itu punya kelemahan dan kekurangan. Ia mudah jatuh ke dalam kesalahan. Seorang imam atau romo adalah juga manusia. Karena itu, wajar kalau ia mempunyai kesalahan.

Tentulah tidak akan ada orang yang menyangkal pernyataan tersebut. Karena seorang imam adalah manusia, maka ia punya kelemahan. Kelemahan manusiawi itulah yang membuat dia kerap jatuh ke dalam kesalahan.

Benarkah imam atau romo itu manusia? Kalau berangkat dari pernyataan ini, dapat dikatakan bahwa ada romo yang memang sadar bahwa dirinya benar manusia, namun ada juga yang bukan. Ada dua tipe romo yang sadar dirinya manusia. Pertama, tipe romo yang mau membenarkan diri atas kelemahannya. Ia menggunakan pernyataan “Romo juga manusia” untuk pembenaran diri, agar umat memakluminya. Tipe kedua adalah romo yang siap menerima kritik dan saran dari siapa saja. Frase “dari siapa saja” harus benar-benar mendapat tekanan, karena umumnya imam hanya mau menerima kritik dan saran dari uskup atau rekan imam yang dia sukai. Lebih dari itu ia akan berkomentar singkat, “Sirik!”

Akan tetapi ada juga imam yang tidak sadar dirinya manusia, sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.” Romo seperti ini tampak jelas dalam diri mereka yang sulit menerima kritik, nasehat, teguran dan saran dari orang lain. Perlu disadari bahwa terkadang orang lain dapat melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Salah satunya kelemahan dan kekurangan kita.

Ada banyak imam selalu merasa diri benar dalam segala hal. Ia hanya melihat kesalahan dan kekurangan pada orang lain, sehingga merasa terpanggil untuk membenahi orang lain. Nasehat, kritik atau teguran yang ditujukan kepada dirinya dilihat sebagai bentuk pelecehan harkat dan martabatnya sebagai imam, sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.”

Seandainya romo sadar bahwa dirinya adalah manusia, tentulah ia akan tahu adanya kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Kerap kelemahan dan kekurangan itu tidak disadari. Ibarat, kita tidak bisa melihat noda di wajah kita sendiri tanpa bantuan cermin. Orang lain adalah cermin bagi kita untuk menyadari kelemahan dan kekurangan. Cermin itu dapat berupa kritik, saran, teguran atau nasehat. Atas semua itu, seorang imam yang sadar dirinya manusia, akan dengan mudah menerimanya sebagai bahan perbaikan diri.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Minggu, 25 September 2022

STUDI ALQURAN: THE MOTHER OF QURAN

Umat islam sangat memuji surah pertama Alquran. Mereka menyebutnya sebagai the mother of quran. Istilah ini bisa dimaknai dengan mengambil salah satu peran ibu, yaitu melahirkan. Karena itu, dapatlah dikatakan kalau dari Surah al-Fatihah lahirlah surah-surah lainnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa surah-surah lainnya mengacu dan menginduk pada surah al-Fatihah ini. Jika memang demikian, maka haruslah dikatakan bahwa surah al-Fatihah merupakan wahyu Allah yang pertama kali turun. Bisakah dikatakan demikian?



Jumat, 23 September 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ANBIYA AYAT 111

 


Dan aku tidak tahu, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan. (QS 21: 111)

Umat islam yakin bahwa Al-Qur’an merupakan firman yang berasal dari Allah sendiri. Firman itu disampaikan secara langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 – 632 M). Berhubung Muhammad adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, maka setelah mendapatkan firman Allah itu dia langsung mendiktekan kepada pengikutnya untuk ditulis. Semua tulisan-tulisan itu kemudian dikumpulkan, dan jadilah kita yang sekarang dikenal dengan nama Al-Qur’an. Karena itu, apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah sendiri. Tak heran bila umat islam menganggap kitab tersebut sebagai sesuatu yang suci, karena Allah sendiri adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qr’an adalah juga penghinaan terhadap Allah, dan orang yang melakukan hal tersebut wajib dibunuh. Ini merupakan kehendak Allah sendiri, yang tertuang dalam Al-Qur’an (QS al-Maidah: 33).

Keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah didasarkan pada firman Allah sendiri. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an, yang merupakan perkataan Allah, yang mengatakan hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan agar menjadi petunjuk bagi umat islam. Setiap umat islam wajib mengikuti apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an. Untuk kemudahan ini maka sengaja Allah mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan (QS al-Qamar: 17). Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah kitab yang sudah jelas dan mudah dipahami.

Berangkat dari keyakinan umat islam ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan merupakan perkataan Allah. Apa yang tertulis di atas merupakan kata-kata Allah sendiri yang disampaikan kepada Muhammad. Kutipan di atas hanya terdiri dari 1 kalimat majemuk. Jadi, sesuai konteksnya, waktu itu Allah berbicara kepada Muhammad, “Dan aku tidak tahu, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” Kalimat Allah inilah yang kemudian diminta Muhammad ke pengikutnya untuk ditulis.

Bagi yang punya akal sehat, ketika membaca ayat ini, yang diyakini kata-kata Allah kepada Muhammad, langsung menemukan keanehan dan ketidak-jelasan. Pertama-tama orang langsung bingung makna dari kalimat Allah ini. Orang kesulitan menemukan maknanya, sekalipun sudah mengaitkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.