Senin, 20 Desember 2021

POLA PERUBAHAN MINAT RELIGIUS ANAK REMAJA

 

Manusia adalah makhluk religius. Tingkat kematangan religiusitas seseorang biasanya seiring dengan kematangan kepribadiannya. Semakin matang kepribadian orang, makin mantap juga sikap religiusnya. Bagaimana dengan religiusitas pada anak remaja? Menurut Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), religiusitas masa remaja terbagi dalam 3 periode (hlm. 222). Berikut ini ketiga periode tersebut:

Periode Kesadaran Religius

Pada saat remaja mempersiapkan diri untuk menjadi anggota gereja yang dianut orang tua, minat religiusnya meninggi. Sebagai akibat dari meningkatnya minat ini, ia mungkin menjadi bersemangat mengenal agama – sampai-sampai ia mempunyai keinginan untuk menyerahkan kehidupan untuk agama – malah meragukan keyakinan yang diterima mentah-mentah selama masa kanak-kanak. Seringkali remaja membandingkan keyakinannya dengan keyakinan teman-teman, atau menganalisis keyakinannya secara kritis sesuai dengan meningkatnya pengetahuan remaja.

Periode Keraguan Religius

Berdasarkan penelitian secara kritis terhadap keyakinan masa kanak-kanak, remaja sering bersikap skeptik pada pelbagai bentuk religius, seperti berdoa dan upacara-upacara gereja yang formal, dan kemudian mulai meragukan isi religius, seperti ajaran mengenai sifat Tuhan dan kehidupan setelah mati. Bagi beberapa remaja keraguan ini dapat membuat mereka kurang taat pada agama, sedangkan remaja yang lain berusaha untuk mencari kepercayaan lain yang dapat lebih memenuhi kebutuhan daripada kepercayaan yang dianut oleh keluarganya.

Periode Rekonstruksi Agama

Lambat atau cepat remaja membutuhkan keyakinan agama meskipun ternyata keyakinan pada masa kanak-kanak tidak lagi memuaskan. Bila hal ini terjadi, ia mencari kepercayaan baru – kepercayaan pada sahabat karib sesama jenis atau lawan jenis, atau kepercayaan pada salah satu kultus agama baru. Kultus ini selalu muncul di berbagai Negara dan mempunyai daya tarik yang kuat bagi remaja dan pemuda yang kurang mempunyai ikatan religius. Pemuda biasanya merupakan mangsa bagi setiap kultus religius yang berbeda atau baru.

diolah dari tulisan 7 tahun lalu

Sabtu, 18 Desember 2021

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN IV - C

 Renungan Hari Minggu Adven IV, Thn C

Bac I  Mi. 5: 1 – 4a; Bac II        Ibr 10: 5 – 10;

Injil    Luk1: 39 – 45;

Hari raya natal semakin mendekat. Bacaan liturgi hari ini, khususnya bacaan pertama dan Injil, secara langsung mengarahkan kita kepada persiapan menyongsong natal, misteri Allah menjadi manusia. Dalam bacaan pertama, nabi Mikha menyampaikan ramalan akan kedatangan Juru Selamat. Setidaknya ada 2 poin penting dalam nubuat Mikha tersebut. Pertama, tentang Betlehem yang akan menjadi kota tempat Yesus dilahirkan. Kedua, tentang perempuan yang akan melahirkan. Dialah Bunda Maria.

Poin kedua inilah yang menjadi warta Injil hari ini. Kisah Maria mengunjungi Elisabet. Jika hanya fokus pada kunjungan, maka kisah ini hanya menjadi kisah biasa saja. Ada satu hal penting yang memberi makna akan kisah ini, yaitu pernyataan Elisabet tentang Maria. “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Elisabet menyebut Maria sebagai ibu Tuhan. Ini bisa dipahami karena Maria mengandung dari Roh Kudus; Maria-lah yang kemudian melahirkan Allah yang menjadi manusia, yang kita kenal dengan nama Yesus Kristus. Peristiwa kelahiran tersebut terjadi di kota Betlehem.

Sabda Tuhan ini tidak hanya sekedar memberi informasi tentang peristiwa awal kelahiran Tuhan Yesus. Sabda Tuhan ini mengandung juga pesan penting untuk dihayati. Satu pesan penting dari sabda Tuhan ini adalah bahwa Allah tidak memandang sebelah mata orang yang kecil. Atau dengan kata lain, Allah punya perhatian kepada kaum kecil. Ini terlihat dalam nubuat Mikha. Sekalipun Betlehem merupakan kota yang kecil, bahkan “yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda”, namun Allah mengunjunginya lewat peristiwa kelahiran Yesus. Demikian pula, Elisabet. Dia bukanlah siapa-siapa. Namun ibu Tuhan mengunjunginya. Ini bukti bahwa Allah punya perhatian juga kepada kaum kecil.

Pesan Tuhan ini mengandung 2 implikasi buat kita. Pertama, jangan pernah merasa rendah karena kita ini kecil, entah itu dari segi ekonomi, sosial, religius, atau aspek lainnya. Ingat, Tuhan tidak akan melupakan kita. Tuhan tetap menyertai dan membantu kita. Yesus, yang akan kita rayakan pesta kelahirannya, pernah berkata, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu" (Luk 12: 32). Kedua, hendaklah kita meneladani Allah yang begitu peduli kepada kaum lemah, kaum kecil. Allah saja mau peduli kepada yang kecil, kenapa kita tidak?

by: adrian

Jumat, 17 Desember 2021

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-HAJJ AYAT 17

 


Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Sabiin, orang Nasrani, orang Majusi dan orang Musyrik, Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu. (QS 22: 17)

Tak bisa dipungkiri bahwa umat islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad, yang kemudian ditulis di atas kertas. Sekalipun ada di kertas, tapi umat islam yakin bahwa itu adalah kata-kata Allah sendiri; apa yang tertulis di kertas itu merupakan perkataan Allah. Karena Allah itu suci, maka kertas yang ditulisi perkataan Allah adalah suci juga. Maka tak heran ketika ditemukan lembaran-lembaran Al-Qur’an di tempat sampah, yang sebagiannya sudah terbakar, umat islam merasa marah. Hal itu dilihat sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah. Allah sendiri sudah meminta umat islam untuk membunuh mereka yang menghina-Nya.

Dasar keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad adalah perkataan Allah sendiri. Allah sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu berasal dari diri-Nya. Berhubung Allah itu mahabenar, maka apa yang dikatakannya juga adalah benar. Mana mungkin Allah yang mahabenar itu berbohong? Tak mungkin Al-Qur’an itu ciptaan manusia, karena manusia bisa berbohong. Logika pikir orang islam kira-kira begini: bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah karena Allah sendiri yang mengatakannya adalah benar, sebab Allah itu mahabenar yang tak bisa berbohong.

Berangkat dari premis ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan berasal dari Allah dan merupakan satu kebenaran. Apa yang tertulis di atas, semuanya diyakini merupakan kata-kata Allah, yang kemudian ditulis oleh manusia. Seperti itulah kata-kata Allah ketika diucapkan. Kutipan wahyu Allah di atas terdiri dari 2 kalimat. Sebenarnya isi dari kedua kalimat tersebut sama saja, yaitu bahwa Allah akan menjadi saksi bagi orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Sabiin, orang Nasrani, orang Majusi dan orang Musyrik.