Rabu, 13 Oktober 2021

MENGENAL TAHAP PUBERTAS

 

Perkembangan hidup setiap manusia selalu dilalui secara bertahap, dimulai dari masa bayi, kanak-kanak hingga masa tua. Tiap tahap ada ciri khasnya sendiri, yang berbeda berdasarkan jenis kelamin. Salah satu tahapan perkembangan hidup manusia adalah tahap pubertas. Sebagaimana dilansir dari PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), Elizabeth B. Hurlock menyatakan bahwa tahap pubertas terbagi lagi dalam 3 tahap [hlm. 185].

Tahap Prapuber

Tahap ini bertumpang tindih dengan satu atau dua tahun terakhir masa kanak-kanak pada saat anak dianggap sebagai “prapuber”, yaitu bukan lagi seorang anak tetapi belum juga seorang remaja. Dalam tahap prapuber (atau tahap “pematangan”), ciri-ciri seks sekunder mulai tampak tetapi organ-organ reproduksi belum sepenuhnya berkembang.

Tahap Puber

Tahap ini terjadi pada garis pembagi antara masa kanak-kanak dan masa remaja, saat dimana kriteria kematangan seksual muncul – haid pada anak perempuan dan pengalaman akan basah pertama kali di malam hari pada anak laki-laki. Selama tahap remaja (atau tahap “matang”), ciri-ciri seks sekunder terus berkembang dan sel-sel diproduksi dalam organ-organ seks.

Tahap Pascapuber

Tahap ini bertumpang tindih dengan tahun pertama atau kedua masa remaja. Selama tahap ini, ciri-ciri seks sekunder telah berkembang baik dan organ-organ seks mulai berfungsi secara matang.

diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 12 Oktober 2021

ROSARIO MEMBEBASKAN DARI JERAT NARKOBA

 

Berikut ini adalah wawancara yang dilakukan dengan Frans Lodewijk Schouwd, salah satu mantan pemakai narkoba yang kini aktif di BK Pena (Badan Kerjasama Peduli Napza & HIV/Aids), yaitu badan kerja sama yang membawahi beberapa bidang, seperti HIV Aids dan Narkoba.

Kapan pertama kali kamu jadi pemakai?

Tahun 1991. Karena aku kerja di salah satu perusahaan swasta terkenal di Indonesia, di Trakindo. Aku di bagian purchasing. Di situ kita selalu berhubungan dengan orang luar, mereka adalah supplier-supplier. Kalo kita bisa kerja sama dengan mereka, mereka akan kasih entertaint buat kita. Nah, dari entertaint yang mereka kasih itulah aku jadi lebih parah. Jadi tahun ‘91 itu kehidupanku parah. Parah maksudnya adalah aku kena yang lebih bahaya lagi, karena di sana aku mainnya sama yang lebih mahal, udah pake inex, sabu-sabu, dan lain-lain. Kalo tahun-tahun sebelumnya aku cuma pake crack, sejenis kokain gitu deh…

Lho berarti ‘91 bukan awalnya donk?

Iya, tapi itu awal dari yang lebih parah.

Kenapa? Karena mau coba-coba aja atau karena ada masalah lain?

Senin, 11 Oktober 2021

PERMENUNGAN TENTANG PERJALANAN KAUL KEMISKINAN

 

Kaul kemiskinan merupakan satu dari tiga kaul yang diucapkan oleh mereka yang ditahbiskan menjadi imam serta mereka yang mengikatkan dirinya pada suatu Lembaga Hidup Bakti. Istilah kaul lebih sering digunakan untuk biarawan dan biarawati, yang masuk dalam Lembaga Hidup Bakti, sedangkan istilah janji dipakai untuk imam non Lembaga Hidup Bakti atau imam diosesan. Dalam tulisan permenungan ini istilah yang dipakai cuma “kaul” saja. Dengan penyebutan atau penulisan kata “kaul” berarti termaksud juga istilah “janji”.

Di atas sudah dikatakan bahwa kaul kemiskinan ini merupakan salah satu dari tiga kaul. Ketiga kaul itu adalah kemiskinan, kemurnian (selibat) dan ketaatan. Ketiga kaul ini termasuk tiga nasehat Injil, dengan catatan dilakukan demi kerajaan Allah. Tiga nasehat Injil ini didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan dan dianjurkan oleh para Rasul, para Bapa-bapa Gereja. Maka nasehat-nasehat itu merupakan kurnia ilahi, yang oleh Gereja diterima dari Tuhan dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya demi tercapainya cinta kasih sempurna. (Lumen Gentium no 43, Perfectae Caritatis no 1).

Memang dewasa ini tiga nasehat Injil ini identik dengan kaum religius dan para imam (klerikus). Namun bukan berarti bahwa ketiga nasehat Injil ini hanya khusus untuk mereka. Umat beriman kristiani juga wajib menghayatinya (bdk. LG, no 44). Malah bisa dikatakan bahwa penghayatan nasehat-nasehat Injil sebagai wujud mengikuti Kristus muncul pertama kali dalam diri kaum awam (bdk. PC no 1). Namun, baik awam maupun bukan, Lumen Gentium menasehati agar “setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasehat-nasehat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya ia bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi makin suburnya kesudian Gereja, supaya makin dimuliakanlah Tritunggal yang satu tak terbagi, yang dalam Kristus dan dengan perantaraan Kristus menjadi sumber dan asal segala kesucian.” (no. 47).