“Pak Felix, tolong bantu saya menghadapi anak
bungsu saya,” kata ibu Vinta (55 tahun) di telepon. Ibu yang bekerja sebagai
manajer di sebuah perusahaan di jalan protokol Jenderal Sudirman ini bercerita
panjang lebar tentang Fanta (16 tahun) .
Tinggal di
Amerika
Anak bungsu dari tiga
bersaudara (semuanya perempuan) itu baru saja pulang dari Amerika Serikat.
Tinggal di sana selama setahun bersama kakak sulung (30 tahun), Fanta tidak
betah. Sehari-hari ia bertengkar dengan kakak dan suaminya yang orang Amerika.
Kendati sangat suka tinggal
di Amerika, Fanta terpaksa kembali ke Jakarta dan tinggal berdua ibunya.
Ayahnya sendiri tinggal dan bekerja di Amerika Serikat. Kakaknya yang kedua (25
tahun) tinggal dan bekerja di luar Jawa.
Kelakuan Fanta semakin
menjadi-jadi. Tiada kata dari ibunya tanpa bantahan Fanta. Di sekolah pun ia
sering didamprat guru-guru karena -- menurut mereka -- Fanta tidak dapat
diatur. Ibu Vinta kehabisan akal.
"Saya ingin ia
berkonsultasi, tapi jangan sampai dia tahu bahwa bapak itu psikolog,"
pinta ibu Vinta. "Kebetulan dia pernah bertanya kepada saya, 'Kenapa sih
kita harus beragama?'" kata ibu Vinta seakan mendapatkan jalan keluar.
Berbekal pertanyaan kritis itu, ibu Vinta mengajak anaknya untuk berkonsultasi
dengan ahlinya.
Kelainan Emosi


