Rabu, 18 Desember 2019

PENCARIAN IMAN KATOLIK OLEH GARY HOGE


Ketika saya masih kecil, ayah saya mengajarkan saya tentang Allah dengan membacakan Alkitab versi anak-anak. Saya sangat suka mendengarnya dan melihat gambar-gambarnya yang indah, tetapi saya tidak pernah sungguh-sungguh membangun iman kepada Allah. Mungkin karena waktu itu saya pikir pergi ke gereja itu sangat membosankan atau mungkin karena pengaruh ibu saya yang agnostik (tidak peduli akan Allah). Meskipun dia tidak pernah menghalangi saya untuk beriman pada Allah akan tetapi dari dialah saya tahu bahwa ada orang-orang yang tidak percaya eksistensi Allah.
Saya tidak ingat pada umur berapa akhirnya saya kehilangan sedikit iman yang saya miliki tetapi sewaktu saya menginjak sekolah menengah umum, saya telah mengaku sebagai seorang agnostik. Saya merasa agama cuma buat orang-orang yang lemah yang tidak dapat menghadapi kenyataan. Manusia telah menciptakan Allah seperti gambaran dirinya berabad-abad lalu demi untuk menjelaskan alam semesta. Tetapi ilmu pengetahuan berkembang dan kita mulai mengerti proses alam yang mengatur alam semesta. Saya dapat melihat saat di mana kita akhirnya mengerti sepenuhnya mekanika dunia materi ini sehingga Allah sama sekali tidak diperlukan lagi. Saya merindukan saat itu karena saya percaya dunia akan menjadi jauh lebih baik tanpa adanya agama. Lebih enak buat saya karena saya dapat melakukan apa saja yang saya sukai tanpa perlu diingatkan bahwa saya adalah seorang berdosa dan bahwa tindakan-tindakan tertentu adalah salah. Apa hak orang-orang ini untuk menghakimi saya?
Tetapi sikap saya mulai berubah sewaktu musim dingin tahun 1985. Untuk pertama kalinya, saya mulai menyadari sisi gelap dari falsafah ateisme. Saya tadinya berpikir ateisme telah melepaskan dari belenggu agama supaya saya dapat hidup semau saya tetapi saya mulai merasakan bahwa hidup sekehendak hati sebetulnya tidak sungguh-sungguh menyenangkan. Bahkan tampak hampa yang tidak memiliki arah. Meskipun saya tidak tahu apa alasannya, saya mulai merasa tidak tenang dan tidak puas. Saya menginginkan sesuatu yang lebih, tetapi saya tidak tahu apakah itu. Saya rasa saya menginginkan supaya hidup ini bermakna. Tampak ada semacam hukum alam yang tidak dapat dipungkiri. Saya menemukan bahwa semakin memiliki semakin saya mengingini dan semakin saya mendapatkan semakin kurang kepuasan yang didapat. Saya semakin tenggelam ke dalam keputus-asaan. Secara eksternal, saya memiliki segala hal, secara internal saya tidak memiliki apa-apa. Saya mulai ragu apakah saya akan pernah merasa bahagia lagi.

Senin, 16 Desember 2019

BIDA’AH PADA MASA PAUS DAMASUS


Dewasa ini sering terdengar beberapa tokoh agama tertentu berusaha untuk “menggugat” beberapa ajaran iman Gereja Katolik. Dalam berbagai kesempatan, entah itu di ceramah-ceramah keagamaan maupun di media sosial, mereka ini seakan menampilkan ketidak-benaran iman katolik. Tentulah dapat dipastikan tujuannya, yaitu agar umat katolik akhirnya meninggalkan imannya.
Ternyata sudah sejak awal Gereja Katolik selalu mendapat perlawanan dan gugatan. Sepanjang zaman perlawanan itu tidak pernah berhenti. Salah satu perlawanan itu adalah perihal ajaran iman. Setiap zaman selalu saja ada orang yang berusaha memutar-balikkan kebenaran iman dengan tujuan agar umat yang lemah dalam pemahaman imannya meninggalkan Gereja Katolik. Dalam Gereja Katolik, orang-orang seperti ini dikenal dengan sebutan bida’ah, orang yang membawa aliran sesat. Pada masa kepemimpinan Paus Damasus (366 – 384), ada beberapa aliran sesat.
Berikut ini uraian singkat para bida’ah aliran sesat pada masa Paus Damasus. Jasmerah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian pernyataan, yang selama ini diyakini berasal dari Bung Karno, namun ternyata tidak. Dengan memaparkan para bida’ah pada masa Paus Damasus, umat katolik tidak hanya melupakan sejarah tetapi lebih dari itu dapat mengetahui dan semakin kuat dalam iman. Karena banyak argumen gugatan yang dilontarkan orang dewasa ini ternyata sudah pernah dilontarkan sejak jaman dulu.
APOLINARISME merupakan aliran yang digagas oleh Uskup Apoliniarius dari Laodikhea (310 – 390). Apolinarius sebenarnya mau membela keilahian Yesus melawan gagasan Arius (Arianisme), namun usahanya justru berlebihan. Ia meniadakan kemanusiaan Yesus demi membela keilahian-Nya. Apolinarius akhirnya dituduh sebagai bida’ah dalam Konsili Konstantinopel tahun 381.
Apolinarisme mengajarkan bahwa Yesus tidak memiliki roh atau jiwa rasional, kecuali Logos ilahi. Apolinarius tidak bisa menerima kalau Yesus itu manusia, karena kemanusiaan itu memiliki sifat rapuh, sementara, dapat binasa dan lain sebagainya. Dan tak mungkin yang manusiawi ini berada dalam tubuh yang ilahi. Karena itulah, Apolinarius berpendapat bahwa Yesus itu ilahi.

PAUS FRANSISKUS: MANFAATKAN MASA ADVEN UNTUK BANTU SESAMA


Dalam momen masa adven, biasanya Paus Fransiskus memberikan pesan-pesan singkat yang menarik untuk ditelusuri. Belum lama ini, Paus Fransiskus memberikan refleksi singkat tentang makna adven dan tak lupa untuk mengajak seluruh umat katolik supaya ikut merefleksikannya. Beberapa pesan singkat Paus Fransiskus itu adalah sebagai berikut:
1.    Umat Harus Punya Harapan
Dalam katekese singkatnya, Paus Fransiskus menghimbau kepada seluruh umat katolik bahwa masa adven mengingatkan kita akan kehadiran Yesus di dunia. Yesus selalu hadir dan akan selalu menyertai perjalanan hidup umat-Nya. Selain itu, Paus Fransiskus mengingatkan akan kedatangan Yesus pada akhir zaman. Untuk itu, hendaklah umat fokus pada masa depan dengan penuh keyakinan dan harapan.
2.    Umat Perlu Mempersiapkan Diri
Adven selalu dimaknai dengan penantian, dan dalam penantian itu ada persiapan. Karena itu, selain harapan, dalam masa adven umat katolik harus memiliki persiapan. Kesiapan hati dengan sungguh-sungguh adalah yang utama untuk menyambut Yesus Kristus, karena kedatangan-Nya untuk menyelamatkan kita. “Adven adalah waktu untuk menyambut kedatangan Yesus, karena Ia datang sebagai utusan perdamaian untuk menunjukkan kepada kita jalan-jalan Allah,” pesan Paus Fransiskus.
3.    Umat Harus Berjaga-jaga
Sebagai manusia, kadang umat disibukkan dengan urusan duniawi, sehingga lupa bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Paus Fransiskus tidak ingin umat katolik terlena seperti itu. Maka Paus Fransiskus mau supaya umat selalu berjaga-jaga sepanjang zaman hidup di dunia ini. Seruan tentang berjaga-jaga ini pun sudah ditulis dalam kitab suci. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Matius 24: 42 – 44).