Senin, 12 November 2018

MENGENAL DISPENSASI DALAM PERKAWINAN


Dispensasi dapat dipahami sebagai pelonggaran dari daya ikat undang-undang yang semata-mata bersifat gerejawi dalam kasus tertentu. Dengan dispensasi umat dapat melangsungkan pernikahan sesuai dengan harapannya. Dispensasi dapat diberikan oleh mereka yang memiliki kuasa eksekutif dalam batas-batas kompetensinya, dan juga orang mereka yang secara eksplisit atau implisit memiliki kuasa memberikan dispensasi, baik atas dasar hukum maupun atas dasar delegasi yang legitim (bdk. Kan. 85).
Secara sederhana, wewenang dispensasi dalam perkawinan ada pada Ordinaris Wilayah. Yang termasuk Ordinaris Wilayah adalah Paus, Uskup, Vikjen, Vikep (bdk. Kan. 134). Pastor Paroki memiliki kewenangan tersebut atas dasar delegasi yang diberikan Uskup. Namun, ada dispensasi yang hanya dikhususkan bagi Takhta Apostolik, seperti halangan yang timbul dari tahbisan atau kaul kekal publik kemurnian dalam tarekat religius bertingkat kepausan, serta halangan kejahatan yang disebut kan. 1090 (bdk. Kan. 1078 §2).
Beberapa dispensasi dalam perkawinan adalah sebagai berikut:
1.   Dispensasi dari Halangan Nikah Beda Agama (kan. 1086). Dispensasi diberikan setelah dipenuhi syarat yang disebut dalam kan. 1125 dan 1126.
2.   Dispensasi dari Forma Kanonik (kan. 1127). Dengan dispensasi ini orang katolik dapat menikah di gereja protestan tanpa kena sanksi Gereja.
3.   Dispensasi dari tata peneguhan dan halangan nikah gerejawi (kan. 1079). Dipensasi ini diberikan bila calon mempelai dalam bahaya mati mendesak.
4.   Dispensasi dari Pengumuman Publik (kan. 1067). Dengan dispensasi ini, orang tidak perlu harus menunggu hingga 3 kali pengumuman hari Minggu.
5.   Dispensasi Menikah di luar Gereja (kan. 1118). Dengan dispensasi ini orang bisa menikah di tempat yang diinginkan asalkan pantas.
by: adrian

Sabtu, 10 November 2018

RENUNGAN UNTUK HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS


Sabda Allah mau mengatakan bahwa Gereja itu merupakan kumpulan umat beriman yang sedang berziarah menuju keselamatan. Sejarah keselamatan adalah medan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan; antara kerajaan Allah dan kerajaan setan. Setiap orang diberi kesempatan untuk membuktikan diri bahwa ia memihak Allah.
Memihak kepada Allah merupakan harapan Allah yang diungkapkan Yohanes dalam suratnya yang pertama. Dalam suratnya itu, Yohanes menyatakan bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. Akan tetapi kita diharapkan hidup dengan memihak kepada Allah sehingga kelak, saat Kristus menyatakan diri, kita akan menjadi serupa dengan Dia.
Dalam Injil Yesus memberikan contoh hidup memihak Allah; atau dengan perkataan lain, hidup sesuai dengan kehendak Allah. Sabda Bahagia merupakan wujud hidup memihak Allah. Di saat manusia dewasa ini sering dan suka membangun hidupnya atas uang, relasi dan kemewahan, Yesus menghimbau untuk memandang dunia dan kebahagiaan dari sudut yang lain sama sekali. Berbahagialah mereka yang miskin, sedih dan menderita demi Tuhan.
Setiap tanggal 1 November Gereja Katolik merayakan pesta semua orang kudus. Orang kudus adalah mereka yang berbahagia, yang berhasil memenangkan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan dengan memihak Tuhan. Mereka inilah yang berbahagia. Mereka memihak kepada Tuhan atau hidup menurut kehendak Allah dengan melaksanakan Sabda Bahagia Yesus.
Pesta semua orang kudus mengajak kita untuk mengikuti teladan para kudus dalam pertempuran kerajaan Allah melawan kerajaan setan. Kita juga diajak untuk memihak pada para kaum miskin, sedih, pengungsi, orang kecil, penderita dan memenuhi harapan mereka yang lapar. Semuanya itu mengarahkan kita kelak bersekutu bersama para kudus dalam kemuliaan Tuhan dan dalam kerajaan Kristus.
by: adrian

Jumat, 09 November 2018

MEMBACA BUKU “REKAM JEJAK RADIKALISME SALAFI WAHABI”

Umat islam sering mengagung-agungkan agama islam sebagai agama damai, rahmatan lil alamin. Dengan konsep ini mereka selalu mengatakan bahwa terorisme bukanlah bagian dari islam. Dengan kata lain, tidak ada tempat bagi teorisme dalam islam, karena bertentangan dengan ajaran islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW. Pernyataan ini memang masuk akal dan dapat dibenarkan. Dasar dari pernyataan islam agama damai ada pada surah-surah yang turun di Mekah, atau biasa dikenal surah Makkiyah. Surah-surah ini benar-benar menampilkan wajah islam yang damai dan toleran.
Akan tetapi, harus juga diakui adanya radikalisme dalam islam. Radikalisme inilah yang membuat islam itu sebagai agama intoleran dan juga teroris yang menakutkan. Dengan kata lain, ada wajah terror dan intoleran pada islam. Hal ini memang masuk akal dan dapat dibenarkan, karena didasarkan pada surah Madaniyah (surah-surah yang turun di Madinah). Perbandingan surah Mekkah dan surah Madinah dapat dibaca di "Perbandingan Wahyu Mekkah dan Madinah".
Jadi, islam itu mempunyai dua wajah: wajah damai dan wajah terror. Umat islam yang mengatakan islam sebagai agama damai dan cinta kasih berarti mereka melupakan wajah mereka yang lain. Malah patut diakui bahwa wajah terror itu jauh lebih dominan.
Buku “Rekan Jejak Radikalisme Salafi Wahabi: Sejarah, Doktrin dan Akidah” mencoba memaparkan wajah islam yang penuh terror dan intoleran. Penulisnya, Achmad Imron R, memfokuskan akar kekerasan dalam islam itu pada satu kelompok islam, yaitu Wahabi. Karena penulisnya adalah orang Indonesia, maka buku ini benar-benar menarik, bukan hanya soal bahasanya melainkan juga uraiannya. Dengan sumber-sumber yang cukup luas, Imron membuka wawasan pembaca akan keberadaan Wahabi ini. Karena itu, buku ini dapat menjadi pelengkap sejarah islam.
Seluruh rangkaian dan ulasan tentang jejak radikalisme ini dipapar ke dalam 5 bab. Untuk dapat membaca (atau juga men-download) buku ini, silahkan klik di sini. Selamat membaca!
by: adrian