Selasa, 09 Juni 2015

Orang Kudus 9 Juni: St. Anna M Taigi

BEATA ANNA MARIA TAIGI, PENGAKU IMAN
“Keluargaku seperti Firdaus tampaknya, dan hatiku sungguh bahagia.” Demikian kata Dominiko Taigi waktu berlangsungnya proses pernyataan ‘beata’ atas diri Anna Taigi, isterinya. Kegembiraan dan kebahagiaan yang sama meliputi anak-anaknya serta pembantu rumah yang melayaninya. Mereka semua kagum akan kesucian hidup Anna Maria Taigi yang sangat mencintai mereka dengan perhatian dan kebaikannya yang luar biasa.
Anna Maria Taigi lahir di Siena pada tahun 1769. Ketika berumur 6 tahun, ia berada di Roma untuk mengikuti pendidikan di sana. Ia kelihatan saleh dan sederhana. Ia gemar mengenakan pakaian yang indah-indah serta gemar akan kesenangan-kesenangan dunia yang pantas. Perkawinannya dengan Dominiko Taigi berlangsung pada usia 21 tahun. Tuhan menganugerahan kepadanya tujuh orang anak. Hidup mereka sederhana namun bahagia. Untuk menambah pendapatan keluarga, ia menerima pesanan jahitan. Memang banyak sekali pengalaman pahit dialaminya, namun semuanya dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan selalu meneguhkan hatinya dengan menganugerahkan kedamaian batin kepadanya. Baginya, mendidik dan membesarkan ketujuh orang anaknya bukanlah perkara yang mudah. Ibu kandungnya sendiri tinggal bersama mereka. beban tanggungannya semakin bertambah ketika Sophia, anaknya, menjadi janda dan kembali tinggal dengannya bersama enam orang anaknya yang lain.
Untuk mereka semua, Anna benar-benar menjadi seorang malaikat pelindung dan pendamai. Urusan-urusan rumah tanggah dibereskannya dengan senang hati. Bagi tetangga-tetangganya, ia juga menjadi seorang penghibur. Pada suatu hari Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam rupa sebuah bulatan cahaya ilahi. Dalam bulatan cahaya itu, ia dapat melihat segala sesuatu yang terjadi, baik di masa lampau, kini dan yang akan datang. Tuhan pun menganugerahkan kepadanya kemampuan mengenal keadaan batin orang lain dan mengetahui nasib orang lain.
Terdorong oleh pengalaman akan Allah itu, Anna semakin yakin akan perlindungan Tuhan atas dirinya. Ia menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah sebagai korban silih atas dosa-dosa dunia dan bagi keselamatan Gereja yang tengah dilanda banyak masalah. Banyak sekali orang datang kepadanya untuk meminta bimbingan. Banyak waktu dihabiskannya untuk melayani orang-orang itu. kesucian hidupnya ternyata berpengaruh besar terhadap lingkungan sekitarnya. Meski banyak kali disibukkan untuk melayani orang lain, namun apa yang menjadi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga tak pernah dilalaikannya. Suami dan anak cucunya dilayaninya dengan penuh kasih sayang. Ia pun banyak membantu orang-orang yang susah dan menyembuhkan banyak orang sakit tanpa meminta bayaran.
Anna Taigi digelari ‘beata’ bukan karena penglihatan ajaib yang dilihatnya, tetapi karena kebaikan hatinya, kemiskinannya, kerendahan hatinya serta kerelaannya untuk menderita bagi jiwa-jiwa. Ia meninggal dunia pada tahun 1837.
sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Selasa Biasa X - Thn I

Renungan Hari Selasa Biasa X, Thn B/I
Bac I  2Kor 1: 18 – 22; Injil                 Mat 5: 13 – 16;

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus memberikan pengajaran tentang garam dunia. Ia mengajak para pendengar-Nya untuk menjadi garam dunia. Di sini Tuhan Yesus memakai garam sebagai pembanding. Umat adalah garam, dan dunia adalah lingkungan sekitar, entah itu alam maupun sesama. Tuhan Yesus menegaskan bahwa garam itu berfungsi jika ia memberi rasa. Jika tanpa rasa, garam itu sama sekali tidak berguna. Di sini Tuhan Yesus mau mengajak para pendengar-Nya untuk dapat berguna bagi kehidupan, baik kepada sesama maupun kepada alam sekitar. Jadi, jika para pendengar memilih menjadi garam maka hendaklah kehadiran mereka selalu memberi rasa bagi orang lain.
Bacaan pertama diambil dari Surat paulus yang Kedua kepada Jemaat di Korintus. Dalam suratnya itu Paulus menegaskan kepada jemaat soal kesetiaan kepada Kristus yang telah mereka wartakan. Dalam Kristus jemaat dapat memuliakan Allah. Hanya dalam Kristus. Karena bagi Paulus, dalam Kristus hanya ada “ya”. Jadi, oleh Kristus jemaat dapat mengatakan “amin” untuk memuliakan Allah.
Kita adalah murid Tuhan Yesus. Sebagai murid kita harus senantiasa mengikuti Dia. Seperti kata Paulus, dalam Dia hanya ada “ya”. Maka ketika Tuhan Yesus meminta kita untuk menjadi garam dunia, maka jawaban kita pun adalah “ya”. Kita terpanggil untuk menjadi garam dalam kehidupan kita. Kemanusiaan dan kemuridan kita baru berfungsi jika kita memberi warna dan rasa dalam kehidupan kita. Dengan memberi warna dan rasa, atau dengan menjadi garam dunia, secara tidak langsung kita sudah memuliakan Allah dalam Kristus.***
by: adrian

Senin, 08 Juni 2015

Orang Kudus 8 Juni: St. Nikolaus Gesturi

BEATO NIKOLAUS GESTURI, PENGAKU IMAN
Giovanni Angelus Salvator Medda lahir pada 4 Agustus 1882 di Gesturi, Cagliari, Italia. Ia adalah putera dari Giovanni Medda Serra dan Priama Cogoni Zedda. Tidak lama setelah menerima Sakramen Krisma, Giovanni kehilangan kedua orang tuanya. Ia diasuh oleh kakak perempuannya, yang telah berkeluarga. Giovanni menyelesaikan pendidikan dasarnya sambil bekerja dengan kakak perempuan serta keluarganya. Giovanni mulai sering berdoa, sering menerima komuni dan bermati raga. Ia tidak tertarik akan keinginan-keinginan duniawi.
Giovanni berkeinginan menjadi seorang imam, tetapi karena kesulitan keuangan dan pendidikan yang tidak cukup, maka ia mengurungkan niatnya. Pada Maret 1911, setelah sembuh dari sakit reumatiknya, Giovanni mencoba bergabung dengan Ordo Fransiskan Kapusin di Cagliari. Giovanni diterima sebagai anggota ordo ketiga. Pada 30 Oktober 1913, Giovanni diterima sebagai novis. Ia mengganti namanya menjadi Nikolaus.
Nikolaus mengikrarkan kaul pertamanya pada November 1914, dan kaul kekalnya pada 16 Februari 1919. Selama sepuluh tahun Nikolaus ditempatkan berpindah-pindah, mulai dari Sassari, Oristano dan Sanluri. Umumnya di sana ia bertugas sebagai juru masak.
Pada 25 Januari 1924 Nikolaus dipindahkan ke Biara Buoncamino (Cagliari), dan ditugaskan sebagai pengemis. Kesederhanaan dan kesuciannya tampak di mata umat di Cagliari. Nikolaus tidak perlu meminta, tetapi umat langsung memberikan sedekah ketika melihatnya. Dikisahkan juga banyak ibu yang mengirimkan anak-anak mereka untuk memberikan sedekah kepadanya. Nikolaus dikenal banyak orang karena keheningannya.
Karena kesalehannya, Nikolaus sering diminta untuk mendoakan orang sakit, baik di rumah maupun di rumahsakit. Banyak orang sembuh setelah didoakan olehnya. Ketika terjadi Perang Dunia II Nikolaus merawat para pengungsi sambil turut berlindung bersama mereka ketika kota mereka dibom. Di akhir hidupnya Nikolaus banyak menghibur orang-orang dengan meminta mereka untuk berdoa.
Nikolaus meninggal dunia pada 8 Juni 1958 di Cagliari. Pada 3 Oktober 1999 Paus Yohanes Paulus II menganugerahi dia gelar ‘beato’.
Baca juga riwayat orang kudus hari ini: