Sabtu, 16 Mei 2015

Renungan Hari Sabtu Paskah VI - B

Renungan Hari Sabtu Paskah VI, Thn B/I
Bac I  Kis 18: 23 – 28; Injil       Yoh 16: 23b – 28;
Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus seakan memberi sinyal akan perpisahan-Nya dengan para murid. “Aku akan meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (ay. 28). Akan tetapi, di balik pernyataan-Nya itu, Tuhan Yesus sebenarnya hendak menegaskan jati diri-Nya. Dia adalah Mesias, yang kudus dari Allah. Atau dengan kata lain, pernyataan itu bukan hanya menyatakan asal Tuhan Yesus, melainkan juga kemesiasan-Nya.
Kemesiasan Tuhan Yesus kembali ketegaskan dalam bacaan pertama hari ini. Kisah Para Rasul, yang menjadi bacaan pertama, mengungkapkan kisah tentang Apolos. Diceritakan bahwa Apolos adalah seorang Yahudi yang fasih berbicara dan mahir dalam soal-soal Kitab Suci (ay. 24). Dengan keahliannya itulah, Apolos menegaskan kepada orang-orang Yahudi bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias.
Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias. Dalam tradisi orang Yahudi, Mesias diyakini akan datang membawa keselamatan. Dan itulah yang sudah terjadi. Tuhan Yesus datang membawa keselamatan lewat salib. Melalui sabda-Nya hari ini Tuhan menghendaki supaya kita senantiasa bersyukur atas karya keselamatan yang Tuhan berikan, serta selalu mengimani-Nya.
by: adrian

Jumat, 15 Mei 2015

Pelajaran Mengarang

Pak Yakob adalah guru Bahasa Indonsia di Seminari Menengah untuk tingkat SMP. Karena sudah dua pertemuan ia memberikan dasar-dasar membuat tulisan, kali ini ia meminta para seminaris untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat. Kebetulan anak seminari suka sekali olahraga sepakbola.
Pak Yakob    : Baik anak-anak, hari ini kalian saya beri kesempatan untuk membuat karangan. Temanya tentang pertandingan sepak bola. Saya beri kalian waktu 30 menit.
Segera setelah instruksi itu, suasana kelas jadi senyap. Anak-anak langsung masuk dalam dunia imajinasinya untuk membuat tulisan. Tiba-tiba, belum sampai dua menit, seorang siswa maju ke depan dengan selembar kertas tugas.
Albertus       : Pak, ini karangan saya.
Pak Yakob    : Albert, belum sampai dua menit kamu sudah menyelesaikan karanganmu. Sungguh luar biasa. Coba kita semua mendengarkan hasil karya Albert.
Sambil menghadap teman-temannya, Albertus membacakan karangannya.
“PERTANDINGAN SEPAKBOLA
Pertandingan sepakbola antara kesebelasan Persipura melawan Barcelona dibatalkan karena hujan lebat.”
Seminaris    : hahahaha…….

Orang Kudus 15 Mei: St. Dymphna

SANTA DYMPHNA, MARTIR & PENGAKU IMAN
Riwayat hidup orang kudus ini tidak diketahui secara pasti. Melalui cerita-cerita yang beredar tentang hidupnya, diketahui bahwa Dymphna lahir pada abad VII. Ayahnya yang berkebangsaan Irlandia itu adalah seorang bangsawan kaya raya yang menjabat sebagai Kepala Daerah. Namun ia masih kafir. Sang ibu yang sudah katolik mengajari Dymphna ajaran-ajaran iman katolik dan tata cara hidup Kristen berdasarkan ajaran-ajaran iman itu. Ketika Dymphna berusia 14 tahun, ibunya meninggal dunia. Ayahnya mengalami gangguan jiwa yang cukup parah karena peristiwa duka itu. Ia menyuruh pergi pegawai-pegawainya ke seluruh pelosok wilayah kekuasaan maupun daerah-daerah lainnya untuk mencari wanita-wanita berdarah bangsawan, yang mirip dengan isterinya untuk dinikainya sebagai isteri. Karena tak seorang pun ditemukan, maka dia dinasehati untuk mengawini Dymphna, anaknya.
Mendengar desas-desus ini, Dymphna ketakutan sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri ke Antwerpen ditemani oleh Bapa Pengakuannya, Gerebernus, dan dua orang lainnya. Di Antwerpen, mereka mendirikan sebuah rumah doa di Gheel, dekat Amsterdam, dan menjalani hidup sebagai petapa. Mendengar bahwa anaknya berada di Belgia, Damon, ayah Dymphna menyusul ke sana untuk menemui anaknya. Tetapi ketika bertemu Dymphna, bukannya ia mengajaknya pulang secara baik-baik melainkan menyuruh pegawal-pengawalnya menyeret Dymphna. Mereka pun diperintahkan membunuh Gerebernus dan dua orang rekaannya. Mereka memenggal kepala ketiga petapa itu, sedangkan Dymphna dibawa pulang ke Irlandia.
Karena ayahnya memperlakukan dia secara kejam, Dymphna dengan tegas menolak pulang ke Irlandia. Karena itu Dymphna pun dipenggal kepalanya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 620 tatkala Dymphna baru berumur 15 tahun. Pad abad XIII, relikui keempat martir ini ditemukan di Gheel. Diceritakan bahwa banyak terjadi mujizat di Gheel setelah relikui keempat martir itu ditemukan. Mujizat-mujizat yang terjadi di kuburan Dymphna menunjukkan kesucian dan kesalehan hidup Dymphna. Oleh karena itu, Gereja menggelari dia ‘kudus’ dan mengangkatnya sebagai pelindung para penderita epilepsi dan sakit jiwa.
sumber Iman Katolik
Baca juga riwayat orang kudus 15 Mei: