Sabtu, 25 April 2015

Renungan Pesta St. Markus, Thn B

Renungan Pesta Santo Markus, Thn B/I
Bac I  1Ptr 5: 5b – 14; Injil                      Mrk 16: 15 – 20;

Hari ini Gereja Universal mengajak umat katolik untuk bergembira merayakan pesta Santo Markus, pengarang Injil. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, Injil hari ini diambil dari tulisannya. Injil hari ini berkisah tentang perpisahan para murid dengan Tuhan Yesus. Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus meminta mereka untuk memberitakan “Injil kepada segala makhluk.” (ay. 15). Dalam menjalankan tugas tersebut para murid tak perlu merasa takut dan cemas karena Tuhan senantiasa menyertai mereka.

Bacaan pertama hari ini diambil dari Surat Petrus yang Pertama. Dalam suratnya itu, Petrus menyinggung nama Markus. Bisa dipastikan bahwa Markus yang disebut Petrus ini adalah juga Markus yang menulis Injil. Akan tetapi, isi surat Petrus, yang menjadi bacaan pertama ini, bukan semata-mata ditujukan kepada Markus saja, melainkan kepada semua pembaca, termasuk kita saat ini. Di sini Petrus meminta pembacanya untuk bersikap rendah hati, baik di hadapan Tuhan maupun sesama, berserah diri kepada Tuhan, teguh dalam iman dan berjuang melawan kuasa iblis.

Sabda Tuhan hari ini pertama-tama menyadarkan kita bahwa kita terpanggil untuk melanjutkan karya perutusan para murid Kristus dahulu. Pewartaan akan Yesus Kristus dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kita dapat mengikuti cara Santo Markus dengan membuat tulisan tentang Tuhan Yesus dan ajaran-Nya. Kita tak perlu sama seperti Markus dengan menghasilkan buku, tetapi lewat tulisan-tulisan kita orang bisa mengenal Tuhan Yesus dan karya-Nya. Kita dapat memakai aneka media, seperti media sosial. Selain itu, Tuhan menghendaki kita untuk membangun sikap rendah hati dan berserah diri kepada Tuhan, agar kita dapat mengalahkan kekuatan iblis.

by: adrian

Jumat, 24 April 2015

Solusi Orang IT

Suatu hari, saat sarapan pagi, Romo Aloy mengutarakan keluhannya berkaitan dengan anak-anak seminari. Hadir dalam sarapan itu, Romo Samuel dan Romo Poldo, yang baru selesai kuliah di bidang IT.

Aloy         : Anak-anak sekarang susah. Diomongin gak mau dengar. Dinasehati juga demikian. Padahal semuanya demi kebaikan mereka. Gimana menurut kalian?

Samuel        : Secara psikologi, mereka berada dalam masa remaja. Gejolak remaja memang seperti itu. Jadi, kita harus mendekati mereka sebagai seorang remaja. Jangan perlakukan mereka seperti anak-anak, atau menganggap mereka sebagai orang dewasa.

Adri           : Salah satu akarnya ada dalam keluarga. Mungkin pendidikan masa kecil di keluarga kurang jalan.

Aloy            : Menurutmu gimana, Do?

Poldo         : Periksa jaringannya, Kae. Mungkin jaringannya kurang bagus, sehingga suka lelet.

Semua         : *&%^$#@&%&$?????
Pangkalpinang, 12 Maret 2015
by: adrian
Baca juga humor lainnya:

Orang Kudus 24 April: St. Rosa Virginia Pellitier

SANTA ROSA VIRGINIA PELLETIER, PERAWAN
Rosa Virginia Pelletier lahir pada 31 Juli 1796 di sebuah daerah pengungsian di pulau Noimoutier. Ayahnya, Julian Pelletier, adalah seorang dokter. Ibunya bernama Anne Moirain. Perkawinan kedua orang tuanya berlangsung ketika sang ayah berumur 29 tahun, dan ibunya berumur 20 tahun. Ketika itu mereka tinggal di Soullans, sebuah daerah dataran rendah yang indah di Perancis.

Sekitar 21 Januari 1793 pecahlah pergolakan hebat di seluruh negeri Perancis. Kehidupan Gereja pun turut terguncang. Banyak imam yang dibunuh oleh orang-orang yang membenci Gereja. Namun sayang bahwa penjahar-penjahat itu tidak ditangkap dan dihukum. Mereka dibiarkan berkeliaran dan melakukan berbagai aksi kejahatan. Mengingat bahaya yang menimpa imam-imam, maka keluarga Pelletier pindah ke pulau Noimoutier, tempat kelahiran Rosa Virginia Pelletier. Rosa dididik secara katolik dalam lingkungan yang sangat baik. Semenjak kecil ia dilatih untuk bekerja keras dan berkelakuan baik terhadap orang lain. Namanya Rosa berarti Bunga Mawar, menunjukkan harapan orang tuanya akan perkembangan diri Rosa menjadi seorang putri yang harum namanya dan berguna bagi banyak orang lain. Sedangkan Virginia yang berarti Perawan, menunjukkan harapan orang tuanya untuk suatu corak hidup yang mengikuti teladan Bunda Perawan Maria.

Setelah hidup lama di Noimoutier, dokter Pelletier meninggal dunia. Ibu Anne mengalami goncangan batin yang hebat karena kematian suaminya. Semenjak itu ia sendirilah yang harus bersusah payah membesarkan Rosa kecil. Kepedihan yang sama menimpa Rosa, yang tak lama kemudian menerima sakramen permandian dan penguatan. Kemudian setelah situasi umum di Soullans aman dan damai, ibu Anne bersama Rosa pindah kembali ke daerah asalnya. Di sini Rosa dimasukkan ke dalam asrama untuk melanjutkan pendidikannya. Di asrama ini Rosa berusaha selalu menampilkan diri sebagai gadis yang menyenangkan banyak orang. Sikap dan tingkah lakunya berbeda sekali dengan teman-temannya. Ia seorang gadis yang tenang, alim, tidak suka memberontak dan rajin membantu orang lain. Dengan senang hati ia membantu suster pemimpin asrama untuk menertibkan rekan-rekannya. Pendidikannya di asrama itu sungguh menyiapkan dia untuk menjadi seorang suster yang saleh di kemudian hari.