Kamis, 20 Februari 2014

Orang Kudus 20 Februari: St. Eleuterius

SANTO ELEUTERIUS, USKUP & MARTIR
Eleuterius lahir di Dornik, Belgia pada tahun 456. Putra bangsawan Dornik ini mempunyai bakat luar biasa dalam banyak hal sehingga pendidikannya dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Pendidikan iman dari orang tuanya menjadikan dia seorang beriman yang taat agama.
 
Pada umur 30 tahun, ia dipilih menjadi Uskup Dornik. Ia menghadapi banyak kesulitan dalam tugasnya karena keretakan hubungan antara gereja dan negara. Kecuali itu situasi dalam tubuh Gereja sendiri serba tak menentu, lebih-lebih karena umat tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran iman. Menghadapi masalah-masalah itu, Uskup Eleuterius menggalakkan berbagai kegiatan kerasulan dan pewartaan untuk mengembalikan umat kepada penghayatan iman yang sesuai dengan ajaran iman. Ia percaya bahwa Tuhan membantu dia dalam karyanya. Dalam seluruh karyanya sebagai Uskup, ia tidak mengenal kata "mustahil".

Pengajaran Agama, perayaan Liturgi, menciptakan hubungan baik dengan para pemimpin bangsa Frank yang menguasai daerahnya, pendidikan imam-imam, semuanya menjadi pokok perhatian dan kerasulannya. Usaha-usaha ini diperkuat dengan kehidupan tapa dan doa yang mendalam tanpa mengenal putus asa.

Ketika Eleuterius meninggal karena dibunuh oleh segerombolan penyebar agama sesat pada tahun 531, para pemimpin bangsa Frank bersama sebagian rakyatnya sudah dikristenkan oleh Eleuterius. Ajaran-ajaran sesat yang dahulu dianutnya dulu tidak lagi menarik perhatian mereka. Melihat segala usahanya untuk menegakkan ajaran iman yang benar, kegigihannya mempertobatkan bangsa Frank yang kafir, terpenuhilah kata-kata St. Paulus ini: "Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."

Renungan Hari Kamis Biasa VI - Thn II

Renungan Hari Kamis Biasa VI, Thn A/II
Bac I   : Yak 2: 1 – 9; Injil  : Mrk 8: 27 – 33

Bacaan pertama hari ini diambil dari Surat Rasul Yakobus. Dalam suratnya ini Yakobus menyampaikan beberapa pengajaran. Salah satunya adalah apa yang dikehendaki Allah soal sikap kita terhadap orang miskin. Dikatakan bahwa Allah membela orang-orang miskin. Bagi Yakobus, orang-orang miskin ini akan “menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris kerajaan yang telah dijanjikan-Nya.” (ay. 5). Tentulah apa yang dikatakan Yakobus ini merupakan ajaran Yesus yang pernah disampaikan-Nya di atas bukit (Mat. 5: 3). Karena itu, dalam bersikap dengan sesama, khususnya yang miskin, kita hendaknya bersikap sesuai dengan kehendak Allah.

Mengikuti kehendak Allah juga menjadi tema dalam Injil hari ini. Dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus adalah Mesias. Itulah yang disampaikan oleh Petrus. Kemudian Yesus menjelaskan bagaimana kehidupan Mesias itu kelak: “Menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh.” (ay. 31). Petrus memprotes penjelasan Yesus itu. Protes Petrus itu terjadi karena gambaran Mesias oleh Yesus itu bertentangan dengan keinginannya. Karena itulah, Yesus menegor dia dan menasehati dia agar hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Salah satu ciri agama katolik, dan kristen pada umumnya, adalah mendahulukan kehendak Allah. Inilah yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya. Hal ini tampak dalam kehidupan Yesus, mulai dari lahir hingga mati-Nya. Orang kristen menerima-Nya sebagai kehendak Allah. Namun, masih ada banyak orang menolak hal itu. Misalnya, soal kematian Yesus. Mereka berpikir, mana mungkin Yesus yang hebat mati konyol. Masak Tuhan tewas di kayu salib. Karena tidak bisa menerima kehendak Allah, mereka lalu membuat solusi sendiri. Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Memang hal ini sudah menjadi bagian hidup para pengikut Kristus. Tuhan hanya mengingatkan kita kembali.

by: adrian

Rabu, 19 Februari 2014

Tahun Politik, Kunjungan Politik

TAHUN POLITIK: POLITIK PENCITRAAN DI BALIK KUNJUNGAN PENGUNGSI?
Tahun 2014 kita kenal sebagai tahun politik. Pada tahun ini akan ada dua peristiwa politik besar di negeri ini, yaitu PEMILU, baik untuk pemilihan anggota legislatif (Bulan April) maupun pemilihan presiden (Bulan September). Pada tahun ini partai-partai mulai sibuk “berkampanye” memperkenalkan kebaikan dan keungulan partainya atau calonnya. Semuanya baik. Seperti pepatah, tak ada kecap nomor 2.

Tahun 2014 ini dikenal juga sebagai tahun bencana. Berbagai macam bencana melanda negeri ini. Ada banjir di Jakarta, Menado dan beberapa daerah di Jawa. Ada juga bencana gunung meletus (Sinabung dan Kelud). Tulisan ini hanya menyoroti bencana Sinabung dan Kelud karena dikaitkan dengan kunjungan presiden. Dan semuanya ini masih dalam kaitan tahun politik.

Pada bencana Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, pengungsi membutuhkan waktu sekitar 4 bulan untuk kedatangan Presiden SBY. Malah ada yang menilai bahwa kunjungan itu bukanlah yang utama, alias sampingan saja, karena yang utama adalah temu kader di Medan. Maklum, ini kan tahun politik. Konsolidasi partai itu perlu.

Perlakuan berbeda dirasakan oleh pengungsi Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur. Tidak dalam hitungan bulan atau minggu, melainkan hari. Yah, dalam beberapa hari setelah meletusnya Gunung Kelud, 13 Februari lalu, Presiden SBY mengunjungi para pengungsi. Tanggal 18 Februari siang dijadwalkan SBY dan rombongan akan tiba di lokasi pengungsian.

Banyak orang bertanya kenapa begitu cepat? Beberapa pengungsi di Tanah Karo yang diwawancarai stasiun televisi mengungkapkan kekecewaannya. Mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh SBY. Mereka merasa sebagai anak tiri di negeri ini. Seakan SBY hanya sebagai presiden bagi Tanah Jawa.

Sampai saat ini saya belum pernah mendengar atau membaca penjelasan dari istana soal perbedaan perlakuan ini. Saya hanya menganalisa, semoga analisa saya keliru, kalau semuanya ini dikaitkan dengan tahun politik: PEMILU. Dalam pemilu ini partai dan calon presiden dari partai membutuhkan dukungan suara. Semakin besar suara, semakin baik. Apa hubungan dengan kunjungan?

Kita lihat perbedaan jumlah pengungsi. Di Tanah Karo, pengungsi Gunung Sinabung terdata sekitar 32.346 jiwa (lih. di sini). Sementara jumlah pengungsi Gunung Kelud terdata lebih dari dua kali dari jumlah pengungsi Sinabung, yaitu sekitar 87.629 jiwa (lih. Kompas). Tentulah, SBY akan membutuhkan dukungan suara yang lebih banyak. Suara dari Tanah Karo jelas tidak menggiurkan dari aspek jumlah. Selain itu, citra Bupati Karo sudah merusak citra partai, sehingga dukungan suara dari Tanah Karo dirasakan tidak mungkin. Karena itulah, SBY terkesan tidak bergitu berselera berkunjung ke sana.

Berbeda dengan pengungsi Kelud. Jumlahnya besar. Jauh lebih banyak dari pengungsi Sinabung. Ini sangat berguna bagi mendongkrak popularitas partai dan calon presiden yang diusung Demokrat. Karena itu, saatnya memainkan politik pencitraan. Maka, segera SBY mengumumkan akan segera mengunjungi pengungsi. Selain itu, nanti SBY akan makan bersama dengan pengungsi dengan menu yang sama dengan mereka. SBY menunjukkan solidaritasnya kepada pengungsi. Solidaritas berselubung pencitraan.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa data 87.629 jiwa itu merupakan data tanggal 17 Februari, sementara Presiden SBY sudah mengumumkan rencana kunjungan sehari atau dua hari setelah Gunung meletus. Kalau kita melihat jumlah pengungsi saat gunung meletus, kita akan lebih tercengang lagi. Jumlahnya lebih dari 100.000 jiwa (lih. di sini). Bisa jadi, jumlah inilah yang membuat SBY segera mengumumkan rencananya itu.

Inilah sekedar analisa mengapa Presiden SBY begitu cepat mengunjungi pengungsi Gunung Kelud. Semuanya hanya pencitraan di tahun politik. Tapi, mudah-mudahan analisa ini keliru. Ada kemungkinan, cepatnya kunjungan Presiden SBY ke pengungsi Gunung Kelud merupakan perbaikan atas kesalahan pada kunjungan pengungsi Gunung Sinabung. Semoga!
Jakarta, 18 Februari 2014
by: adrian