Rabu, 17 Juli 2013

Orang Kudus 17 Juli: St. Yulia Postel

SANTA YULIA POSTEL, PENGAKU IMAN
Yulia Francoise Catherine lahir pada 28 November 1756 di Barfleur, Perancis. Yulia memperoleh pendidikan dari para biarawati Benediktin di Valognes. Ia kemudian membuka sekolah untuk anak-anak perempuan, tetapi Revolusi Perancis membuat sekolah tersebut ditutup. Pada masa itu Yulia menantang para imam yang bersumpah setia kepada Negara, dan menyembunyikan para imam yang dicari pihak penguasa.
Ketika terjadi kesepakatan antara Perancis dan Vatikan, Yulia dapat membuka kembali sekolahnya. Ia kemudian mendirikan Kongregasi Biarawati Sekolah Kristen, yang saat ini dikenal sebagai Kongregasi St. Maria Madeleine Postel. Nama itu merupakan nama biaranya, karena setelah mendirikan kongregasi itu Yulia mengganti namanya menjadi Maria Madeleine Postel. Yulia kemudian mendirikan biara di St. Sauveur le Vicomte, dan sejak saat itu kongregasinya mulai berkembang pesat.
Yulia Postel meninggal dunia pada 16 Juli 1846 di St. Sauveur le Vicomte, Perancis. Pada tahun 1908 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius X, dan pada 24 Mei 1925 ia dikanonisasi oleh Paus Pius XI.
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Rabu Biasa XV-C

Renungan Hari Rabu Biasa XV, Thn C/I
Bac I   : Kel 3: 1 – 6, 9 – 12; Injil : Mat 11: 25 – 27

Dalam bacaan pertama hari ini dikisahkan tentang perjumpaan pertama Musa dengan Allah. Dalam perjumpaan itu Tuhan meminta kesediaan Musa untuk membebaskan umat pilihan-Nya, yaitu Israel dari penindasan bangsa Mesir. “Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” (ay. 10). Yang menarik di sini adalah keberatan Musa. Ia merasa tidak layak, karena ia hanyalah orang biasa. Namun Tuhan sudah punya rencana. Tuhan tidak melihat status rendah Musa.

Demikian pula yang diajarkan Yesus dalam Injil hari ini. Tuhan tidak melihat status seseorang, malahan Tuhan berpaling kepada orang-orang kecil dan tak terpandang. Dalam Injil Yesus mengatakan bahwa rencana Tuhan disembunyikan “bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang-orang kecil.” (ay. 25). Inilah cara pandang Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita lebih melihat status seseorang. Kita lebih percaya omongan orang yang memiliki status atau label. Umat lebih percaya kalau pastor yang berbicara; dan umat lebih percaya lagi pada pastor kepala paroki daripada pastor biasa-biasa saja. Seakan jika mereka yang berbicara, sudah pasti baik dan benar. Tuhan hari ini, melalu sabda-Nya, mengajak kita untuk mengubah pola pikir ini. Tuhan menghendaki agar kita mau juga mendengarkan suara-suara orang-orang yang selama ini kita tak anggap atau bahkan kita singkirkan, karena bisa saja Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya pada mereka.

by: adrian

Selasa, 16 Juli 2013

(Pencerahan) UANG dan KORUPSI

UANG DAN KORUPSI
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Batania, tempat Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan bersama Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. (Yoh 12: 1 – 6).

Uang itu memang menggoda, karena ia merupakan salah satu bentuk godaan. Uang, sebagai godaan, masuk dalam kelompok harta kekayaan. Oleh karena itu, orang yang selalu atau sering bersentuhan dengan uang (seperti kasir, bendahara, dll) adalah orang pertama yang digoda atau tergoda.

Contoh di atas sudah membuktikan. Yudas Iskariot adalah pemegang kas kelompok para murid. Dia memegang uang. Dan uang itu juga yang menggoda dia. Makanya Injil mengatakan bahwa ia sering mengambil uang dalam kas. Bahkan karena tergoda dengan uang juga dia rela menyerahkan Yesus untuk ditangkap dan lalu dibunuh.

Kita juga tentu masih ingat dengan Muhammad Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat, atau Gayus HP Tambunan, pegawai pajak yang terlibat korupsi. Mereka-mereka ini selalu bersentuhan dengan uang. Nazaruddin bersentuhan dengan uang kas partai, sedangkan Gayus bersentuhan dengan uang wajib pajak. Karenanya, uang itu juga yang menggoda mereka untuk korupsi.

Apakah korupsi terjadi karena iman yang lemah? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun harus diingat bahwa sekuat apapun iman seseorang, jika terus menerus digedor dengan godaan tadi, pastilah benteng imannya lemah juga. Tak tergantung siapa orangnya, dari awam maupun imam, pria ataupun wanita. Bayangkan, setiap hari bersentuhan dengan godaan itu. Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa sekalipun roh itu memang penurut, namun daging lemah, sehingga kita harus waspada supaya tidak terjatuh ke dalam godaan (Mat 26: 41).

Bukan lantas berarti iman itu tidak ada gunanya. Iman tetap dibutuhkan. Akan tetapi iman yang kuat ini harus ditunjang dengan adanya transparansi laporan keuangan. Iman yang dibantu dengan transparansi akan membuat orang tahan terhadap godaan uang. Transparansi merupakan salah satu langkah pencegahan agar orang tidak larut dalam godaan uang dalam tindakan korupsi. Karena korupsi itu tumbuh dalam suasana ketertutupan.