Selasa, 11 Desember 2012

Renungan Hari Selasa Adven II-C

Renungan Hari Selasa Adven II, Thn C/I
Bac I : Yes 40: 1 – 11; Injil       : Mat 18: 12 – 14

Dalam Injil hari ini Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang. Perumpamaan ini mau menggambarkan Allah yang mahabaik. "Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (ay. 14). Jika kita kaitkan dengan cerita perumpamaan itu, kebaikan Allah itu sungguh di luar akal sehat manusia.

Lewat kisah ini kita disadarkan bahwa Allah itu memang mahabaik dan mahakasih. Manusia tidak bisa memakai logika manusianya untuk memahami kasih dan kebaikan Allah itu. Karena bagi manusia itu tidak mungkin, tapi bagi Allah segala sesuatu itu menjadi mungkin.

Kebaikan dan kasih Allah dalam perumpamaan itu dikaitkan dengan pertobatan manusia. Lewat perumpamaan tadi Yesus mau mengajarkan kita bahwa Allah itu mahabaik dalam mengampuni umat-Nya yang bertobat. Dengan ini diharapkan agar manusia tidak perlu merasa takut dan cemas akan situasi keberdosaannya. Dosa tidak mendatangkan hukuman dari Allah, melainkan pengampunan. Yang penting manusia menyesalinya dan sungguh bertobat.

Saat ini kita sedang dalam masa adven untuk mempersiapkan diri menyambut kelahiran Tuhan Yesus. Ajakan Yesus dalam Injil hari ini bisa dijadikan persiapan diri menyongsong natal. Kita diajak untuk bertobat.

by: adrian

Orang Kudus 11 Desember: St. Damasus

SANTO DAMASUS, PAUS & PENGAKU IMAN
Sebelum Yesus kembali kepada Bapa-Nya, Ia bersabda, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28: 20). Betullah, janji Yesus ini dialami Paus Damasus ketika ia dipilih menjadi paus pada tanggal 1 Oktober 366, menggantikan Paus Liberius (352 – 366). Pada masa ini bidaah Arianisme dan bidaah-bidaah lainnya berkembang pesat di mana-mana dan berhasil mempengaruhi sejumlah besar uskup, imam dan umat kristen. Terpilihnya Damasus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Kristus sungguh tepat dengan situasi dan gejolak zaman saat itu. Damasus terkenal cakap dan suci. Ia adalah anak seorang imam Spanyol di Roma. Kemungkinan besar pada waktu itu Damasus berkarya sebagai diakon di wilayah gereja ayahnya sebelum ia diangkat menjadi paus. Ia menyuruh Santo Hieronimus, sekretarisnya, untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin. Ia dengan gigih membela primat paus dalam masalah-masalah gerejawi. Selama pontifikatnya, katakombe-katakombe dibuka kembali dan para peziarah di sana dibesarkan hatinya.

Damasus menentang habis-habisan tuntutan-tuntutan Ursinus, pendukung ulung Arianisme. Situasi pertikaian semakin menjadi runyam oleh kenyataan bahwa Damasus didukung oleh Feliks II – paus tandingan pada masa kepemimpinan Paus Liberius – dan Kaisar Valentianus mengasingkan Ursinus dan para pengikutnya. Usaha-usaha dari Ursinus dan pengikut-pengikutinya untuk menjelek-jelekkan ketenaran dan nama baik Damasus dibantah habis-habisan ketika suatu sinode yang diselenggarakan di Aquileia pada tahun 381 menemukan bahwa tuduhan-tuduhan kebejatan moral terhadap Paus Damasus sama sekali tidak beralasan.

Damasus menghukum doktrin-doktrin berikut: Arianisme yang menyangkal keilahian Kristus; Apollinarianisme yang menyangkal tidak hanya keilahian Kristus tetapi juga kemanusiaan-Nya; dan Macedonianisme yang menyatakan bahwa Roh Kudus lebih rendah derajad-Nya daripada Putera. Dalam menghukum ajaran-ajaran ini, Paus Damasus bertindak dengan bijaksana sesuai dengan keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh Konsili Konstantinopel I pada tahun 381. Priscilian, seorang heretik asal Spanyol yang menganut paham Manicheisme juga dihukum oleh Paus Damasus.

Dalam semua pertikaian ini, Damasus menunut suatu pengakuan akan primat Uskup Roma dalam masalah-masalah Gerejawi. Sebagai salah satu hasilnya, beberapa sejarawan menjuluki Damasus sebagai pengasal klaim/tuntutan paus akan supremasi di dalam Gereja. Ia secara konsekuen bertindak sebagai pemimpin Gereja sesuai apa yang dikatakannya. Kesaksian hidup itu sungguh memperkokoh posisi paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Kristus di dunia.

Damasus tidak tanggung-tanggung di dalam usahanya untuk mempertinggi wibawa dan memperluas pengaruh Gereja. Ia tidak ingin kalau pelayan-pelayan umat bertindak tidak sesuai dengan martabatnya. Ia tidak ingin kalau mereka idak memperhatikan kaum miskin. Oleh karena itu, ia bekerja sama secara erat dengan Kaisar Valentinianus untuk melarang rohaniwan-rohaniwan mengorbankan para janda dan anak yatim piatu.

Damasus dianggap sebagai paus pertama yang mempekerjakan seorang delegatus apostolik di suatu wilayah yang berada di dalam kancah pertkaian. Ia menunjuk Aschollius, Uskup Tesalonika, untuk tetap memangku yurisdiksi religius Roma di Ilyricum ketika wilayah itu berada di bawah pengaruh politik konstantinopel. Kaisar Valentinianus menerbitkan satu edikta yang menyetujui yurisdiksi Uskup Roma atas semua kasus menyangkut Gereja.

Paus Damasus adalah seorang ahli Ilmu Ketuhanan dan Kitab suci, serta mahir ula dalam kesusastraan Latin dan kebudayaan. Dalam amsa pontifikalnya ada juga bapa-bapa Gereja yang terkenal seperti Santo Atanasius, Ambrosius, Gregorius dari Nyssa, Basillius, Hieronimus dan Gregorius dari Nazianz. Damasus bersama Santo Hieronimus, sekretarisnya, mengusahakan suatu kanon Kita Suci yang mendaftarkan buku-buku Kitab Suci. Kanon Kitab Suci itu diterima dalam Konsili Roma pada tahun 382. Kemungkinan kanon Kitab Suci itulah warisannya yang terbesar untuk generasi kemudian.

Sebelum kematiannya pada tahun 384, ia meminta agar jenazahnya tidak dimakamkan bersama paus-paus lain di pekuburan Santo Kallistus, tetapi bersama ibu dan saudarinya di sebuah gereja kecil di Via Ardeatina. Permintaan itu benar-benar dihargai. Sekarang – demikian kata cerita – relikuinya disemayamkan di sebuah gereja kecil yang ia dirikan, yaitu Gereja Santo Lorenzo di Damaso.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Senin, 10 Desember 2012

(Inspirasi Hidup) Kisah Keledai dalam Sumur

Keledai dalam sumur
Suatu ketika ada seekor keledai yang terperosok ke dalam sumur tua. Beberapa masyarakat yang mengetahui menyebarkan berita ini ke penduduk desa lainnya. Sumur tersebut sangat dalam, sehingga penduduk kesulitan untuk mengeluarkannya. Setelah berembuk akhirnya mereka memutuskan untuk mengubur si Keledai ini hidup-hidup.

Tibalah rantaian penduduk ini secara estafet mengalirkan ember berisi pasir ke dalam sumur tua tersebut. Di bagian ujung sumur ada petugas untuk memastikan apakah si keledai sudah terkubur seluruhnya atau belum. Namun, karena tampak tidak begitu jelas, si penjaga tadi hanya melihat kepala keledainya saja, maka diteruskanlah penguburan pasir tersebut. Tak terasa, hampir sebagian sumur telah terisi. Karena heran mendengar jawaban si penjaga tentang si keledai yang masih hidup mereka akhirnya semua mendekat ke bibir sumur. Dan ternyata benar, si keledai masih hidup.

Rupanya si keledai menggoyangkan badannya ketika deburan pasir itu mengenai badannya, terus begitu, hingga pasir yang jatuh dijadikannya sebagai pijakan. Masyarakat yang melihat perilaku keledai ini menjadi terinspirasi dan meneruskan kembali menambahkan pasir ke dalam sumur. Hingga ke dalam batas yang mereka bisa jangkau, akhirnya mereka mengeluarkan keledai tersebut dengan mudah.
***
Sahabat, demikianlah pula dalam hidup, debu pasir yang menjatuhi kita pun sering kali hadir di saat kita dalam keadaan terpuruk. Namun, jika Anda memilih untuk bangkit dan menjadikan masalah tadi sebagai pijakan untuk ke level selanjutnya, justru itu akan menjadi berkah bukan.

Percayalah, jika sebuah masalah berat menimpamu, itu pertanda Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang besar untukmu.

sumber: http://insancoach.wordpress.com/category/kisah-inspiratif/  (21 Juni 2012, jam 22: 45)
Baca juga refleksi lainnya: