Kamis, 07 Juli 2022

BAHAYA GADGET BAGI ANAK

 

Gadget adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi sebelumnya. Dewasa ini kita dapat melihat aneka bentuk gadget seperti HP, laptop, smartphone, iPhone, blackberry, iPad dan tablet.

Hampir semua manusia tak dapat dipisahkan dengan seperangkat alat teknologi, yang bernama gadget ini. Kapan dan dimana saja manusia selalu berhadapan dengan gadgetnya. Bahkan anak kecil pun sudah terbiasa dengan mainan teknologi ini. Kebanyakan orang tua ingin agar anaknya, sekalipun masih balita, tidak ketinggalan jaman. Orang tua mau membahagiakan anaknya dengan mainan gadget ini, tanpa pernah sadar bahaya yang mengancam di balik benda itu.

Ancaman Gadget bagi Anak

Tanpa kita sadari ternyata gadget mempunyai begitu banyak ancaman terhadap anak-anak kita. Lebih parahnya lagi orang tua sama sekali tidak terlalu cemas dengan ancaman ini sehingga tetap saja membiarkan anaknya bermain dengan gadget atau memberinya gadget sebagai mainan.

Berikut ini adalah beberapa ancaman gadget terhadap anak-anak.

1.   Gangguan Kesehatan Fisik

Keseringan menggunakan gadget dapat menyebabkan sakit leher dan punggung. Ini didasari hasil riset Abertawe Bro Morgannwg University (ABMU) Health Board dan riset British Chiropractic Association. Dua riset, yang dilakukan di dua tempat yang berbeda dan waktu yang berlainnya, menemukan adanya gejala sakit leher dan punggung pada anak-anak pengguna gadget.

Menurut fisioterapis, Lorna Taylor, keadaan ini merupakan dampak buruk peningkatan penggunaan teknologi dan perubahan gaya hidup. “Gadget, bagaimanapun telah merugikan perkembangan kesehatan otot dan tulang anak. Bila tidak diubah sedini mungkin, baik di rumah atau sekolah, akan sangat sulit mengatasi dampak ini bagi anak yang masih memiliki masa depan yang panjang,” ujar Taylor.

Rabu, 06 Juli 2022

HARUS LIHAT DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG

 

Seorang guru mengeluh di hadapan para muridnya. Dia menceritakan pengalaman buruk yang belum lama menimpa dirinya. Dia katakan bahwa dirinya menerima kiriman sms dari seseorang lengkap dengan gambar porno. Dia sangat marah. Dia berpikir orang akan mengira dirinya suka gambar porno. Karena peristiwa itu, dia tak mau lagi menggunakan HP.

Seorang rekan menghampirinya. Dia sangat prihatin atas apa yang dialami sang guru. Awalnya pun dia marah mendengar kisah temannya itu. Dia tahu sobatnya itu alergi dengan hal-hal yang berbau pornografi.

“Sobat, saya turut sedih atas apa yang kau alami. Tapi kita harus melihat peristiwa itu dari dua sudut yang berbeda.”

“Maksudmu?”

“Apakah orang mengirim gambar porno itu tanpa konteks atau dengan konteks? Tanpa konteks berarti orang hanya sekedar iseng saja, sedangkan dengan konteks berarti orang punya maksud.”

“Punya maksud gimana? Itu kan gambar porno. Saya ini guru. Punya jabatan mulia. Orang itu pasti sengaja untuk menghancurkan martabat mulia saya.”

“Maaf, sobat. Bukankah beberapa bulan lalu ada skandal seks muridmu? Kamu membelanya dengan cara minta bukti. Untuk skandal seks, buktinya tak jauh dari hal-hal yang berbau pornografi. Mungkin saja pengirim gambar porno itu mau menunjukkan bukti. Jika pengirim punya maksud tertentu, sementara kamu menganggapnya sebagai perbuatan iseng, berarti kamu tidak menghargai niatnya. Kamu malah menganggapnya sebagai orang iseng yang kurang ajar.”

Sang guru hanya terdiam saja.

“Kalau memang itu merupakan bagian dari bukti, mau tidak mau kamu harus menanggapinya. Bukan dengan cara menghindar, melainkan menindak-lanjutinya. Kamu harus bijak. Karena kalau tidak, orang akan menilai kamu hanya bisa menuntut, tapi ketika orang memenuhinya kamu malah lari tak menanggapinya. Kemuliaan jabatan kita terletak pada bagaimana kita menyikapi suatu persoalan.”

Sang guru masih tetap terdiam. Dalam diamnya dia mencerna kata-kata sahabatnya itu. Namun ia sudah terlanjur basah. Dia selalu mendengarkan kata-kata penasehatnya, bukan kata hatinya.

Selasa, 05 Juli 2022

MANAGEMEN KEUANGAN PAROKI BERBASIS TRANSPARANSI

 

Paroki secara sederhana dapat dimengerti sebagai lembaga yang menangani kegiatan atau pelayanan pastoral. Dalam penanganan karya-karya pastoral yang ada di paroki, uang memegang peranan penting, meski uang bukanlah segala-galanya. Dengan kata lain, uang sebagai sarana penunjang kegiatan pastoral di paroki.

Uang, yang ada di paroki, dipergunakan untuk kepentingan pastoral. Jika uang itu dipakai sebagaimana mestinya, maka pelayanan pastoral bisa berjalan optimal. Akan tetapi, jika uang itu disalah-gunakan, maka pelayanan pastoral menjadi terbengkelai. Dan korban utamanya adalah umat. Oleh karena itu, uang paroki harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Salah satu cara pengelolaan keuangan paroki adalah penerapan sistem transparansi.

Tulisan berikut akan mencoba memaparkan pengelolaan keuangan paroki berbasis transparansi. Zaman sekarang transparansi keuangan paroki sudah harus menjadi kewajiban. Paus Fransiskus, pada tahun 2010 membuat gebrakan di Vatikan dengan “memaksa” lembaga keuangan Vatikan untuk transparan dalam keuangannya.

Sebelum melihat soal manajemen keuangan paroki, terlebih dahulu akan dipaparkan sumber uang dan personal keuangan paroki.

Sumber Uang Paroki