Umat islam percaya kalau kitab suci agama Yahudi dan Kristen sudah tidak asli lagi alias palsu. Dasar keyakinan umat islam ini ada dalam Al-Qur’an, yang diyakini sebagai wahyu yang langsung dari Allah. Apa yang tertulis di dalamnya adalah kata-kata Allah. Dan Allah telah menyatakan hal itu (QS 2: 146). Allah adalah mahabenar. Karena itu, apa yang dikatakan-Nya adalah juga benar. Mustahil Allah berbohong. Video berikut ini mencoba membahas salah satu dasar keyakinan umat islam tersebut. (Jika tak bisa dibuka, silahkan klik di sini). Ulasan ini menggunakan metode akal sehat.
Jumat, 27 Mei 2022
Rabu, 25 Mei 2022
RENUNGAN HR KENAIKAN YESUS, THN C
Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, Thn C
Bac I Kis 1: 1 - 11 ;
Bac II Ef 1: 17 – 23;
Injil Luk 24: 46 – 53;
Setelah bangkit dari
kematian, Yesus tidak langsung pergi ke surga. Ada alasan yang wajar kenapa hal
itu terjadi. Peristiwa kematian-Nya di kayu salib tidak hanya meninggalkan duka
yang begitu mendalam di hati para murid, teristimewa para rasul, melainkan juga
membuat mereka kehilangan harapan. Dibutuhkan waktu 40 hari untuk membangkitkan
harapan para rasul dengan membuka pikiran mereka akan makna Kitab Suci tentang
peristiwa yang terjadi. Setelah yakin, akhirnya Tuhan Yesus berpisah. Yesus
naik ke surga. Hari ini Gereja universal merayakan peristiwa tersebut. Yohanes
dalam Injilnya menyatakan bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke surga merupakan
suatu kebenaran (Yoh 16: 10). Bacaan-bacaan liturgi hari ini menegaskan
peristiwa itu.
Yang sangat menarik
adalah bacaan pertama dan Injil, yang diyakini oleh Gereja ditulis oleh penulis
yang sama, yakni Santo Lukas. Ada pesan yang sama dari peristiwa kenaikan Yesus
ke surga. Sebelum berangkat, Tuhan Yesus menyampaikan beberapa pesan kepada
para rasul-Nya. Salah satunya adalah agar para murid menjadi saksi-Nya. Mereka
akan menjadi saksi Yesus mulai dari Yerusalem “sampai ke ujung bumi” (Kis 1: 8)
atau “kepada segala bangsa” (Luk 24: 47). Namun sebelum mereka melaksanakan
tugas perutusan itu, Tuhan Yesus menjanjikan juga Roh Kudus. Oleh karena itu,
Tuhan Yesus meminta mereka untuk tidak meninggalkan Yerusalem sebelum Roh Kudus
diturunkan.
Sabda Tuhan hari ini mau
mengajak kita untuk bergembira merayakan hari raya kenaikan Tuhan Yesus ke
surga. Melalui perayaan ini kita tidak hanya sekedar merayakan kebenaran iman
kita, melainkan juga diingatkan akan tugas panggilan kita sebagai murid-murid
Yesus. Pesan Yesus agar para murid menjadi saksi-Nya tidak hanya berlaku bagi
para murid Yesus 2000 tahun lalu saja, tetapi berlaku juga bagi kita saat ini. Tugas
perutusan yang Tuhan Yesus berikan kepada para murid ketika Dia naik, secara
tidak langsung menjadi tugas perutusan kita juga. Karenanya, perayaan ini
menyadarkan kita bahwa kita saksi-saksi Yesus.
SIKAP BERSYUKUR DARI PERSPEKTIF PSIKOLOGI
Umumnya semua agama mengajak umatnya untuk selalu bersyukur atas apa yang
terjadi dalam hidupnya. Namun apa kata psikologi tentang bersyukur? Dalam
kajian psikologi, terutama psikologi positif, perasaan bersyukur selama ini
telah banyak dijelaskan dalam berbagai konsep seperti sebuah emosi, sikap,
watak, kebiasaan, nilai moral dan juga sebagai sebuah respon untuk mengurangi
stress.
McCullough, seorang peneliti yang telah banyak
meneliti mengenai fenomena bersyukur mendefinisikannya sebagai detektor yang
mengingatkan seseorang secara emosi, bahwa mereka telah mendapatkan keuntungan
dari pertolongan orang lain, Tuhan, hewan, dll.
Perasaan bersyukur berbeda dari perasaan memiliki kewajiban (obligation).
Singkatnya, kalimat “Saya harus membalas kebaikanmu” berbeda dengan kalimat
“Saya bersyukur atas bantuanmu”, walaupun di masa depan orang yang mendapat
bantuan akan membalas kebaikan yang didapat. Perasaan memiliki kewajiban untuk
“mengganti” pertolongan orang lain lebih dekat perasaan negatif dan tidak
nyaman. Sementara perasaan bersyukur biasanya dihubungkan dengan kesejahteraan
dan perasaan bahwa hidup terasa utuh.
“Kewajiban” ini mirip dengan perasaan berhutang budi (indebtedness)
yang biasanya keluar saat si pemberi menunjukkan ekspektasi atau keinginan
adanya sebuah balasan. Biasanya reaksi yang terjadi adalah stress dan keinginan
untuk menghindar si pemberi. Sedangkan saat orang bersyukur, ia akan lebih
cenderung untuk menolong, memuji dan berdekatan dengan si pemberi.
Apa yang bisa dipelajari dari hal di atas? Bahwa pemberian kita dapat
diartikan berbeda-beda oleh orang yang menerimanya. Jadi, ikhlaslah dalam
memberi. Bagi seseorang yang mendapatkan pemberian, berprasangkalah baik saat
menemukan pertolongan yang ikhlas dan bersyukurlah.
Ada banyak manfaat dari sikap bersyukur ini. Pertama, dari
penelitian McCullough dan Emmons didapat bahwa orang yang bersyukur lebih
merasa bahwa mereka lebih memiliki kehidupan yang baik dan pandangan yang
optimis mengenai minggu depan. Selain itu, mereka jarang sekali mengeluh soal
keluhan fisik dan cenderung untuk menghabiskan banyak waktu berolaraga.
Kedua, dari penelitian Masingale didapat
bahwa orang yang dapat bersyukur merasakan trauma yang lebih ringan saat
sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Ini sejalan dengan penelitian
McCullough dan Emmons, yang melihat orang bersyukur jarang menderita depresi.
Hal ini dikarenakan mereka memiliki cara yang tepat untuk berhadapan dengan
keadaan hidup yang menyulitkan dan lebih mampu mengingat hal-hal positif.
Ketiga, kehidupan sosial sehari-hari dapat dipengaruhi secara positif oleh kebiasaan bersyukur. Perasaan bersyukur dapat memotivasi seseorang untuk membantu orang lain dan mengurangi motivasi untuk berperilaku merusak.