Kamis, 27 Januari 2022

BAHAYA UMUM DARI KETIDAK-MAMPUAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA

Banyak pakar psikologi memaknai masa remaja sebagai masa peralihan. Orang yang berada pada masa ini sering mengalami kebingungan. Dibilang anak-anak, bukan; tapi dibilang dewasa juga belum. Sekalipun bingung, tetap saja seseorang harus menjalani masa remajanya, dengan segala ciri yang ada. Seseorang tidak bisa tetap berada dalam masa kanak-kanak hingga menjelang masa dewasa; tidak bisa juga langsung memasuki masa dewasa. Ketidak-mampuan menyesuaikan diri ini dapat menimbulkan bahaya pada diri remaja. Elizabeth B. Hurlock, dalam PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5) memaparkan tanda bahaya yang umum dari ketidak-mampuan penyesuaian diri remaja (hlm. 239).

Ø  Tidak bertanggung jawab, tampak dalam perilaku mengabaikan pelajaran, misalnya, untuk bersenang-senang dan mendapatkan dukungan sosial.

Ø  Sikap yang sangat agresif dan sangat yakin pada diri sendiri.

Ø  Perasaan tidak aman, yang menyebabkan remaja patuh mengikuti standar-standar kelompok.

Ø  Merasa ingin pulang bila berada jauh dari lingkungan yang dikenal.

Ø  Perasaan menyerah.

Ø  Terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Ø  Mundur ke tingkat perilaku yang sebelumnya agar supaya disenangi dan diperhatikan.

Ø  Menggunakan mekanisme pertahanan seperti rasionalisasi, proyeksi, berkhayal dan memindahkan.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu 

Rabu, 26 Januari 2022

INILAH ANCAMAN BUAT KELUARGA

Tahun 20215 lalu, Paus Fransiskus mengadakan kunjungan apostoliknya ke Filipina. Pada hari kedua kunjungannya, Paus Fransiskus memperingatkan keluarga-keluarga terkait “ancaman keluarga”. Paus memaparkan beberapa ancaman tersebut.

Pertama, adalah masalah keuangan (ekonomi keluarga). Gambaran situasi ekonomi dengan permasalahan keuangan ini terangkum dari pernyataan seorang ibu bernama Ediza Pumarada, yang suaminya bekerja di luar negeri. Kepada Bapa Paus, Pumarada mengungkapkan beban psikologis dan emosional yang dihadapinya.

Pumarada mengatakan bahwa ia terpaksa mengambil peran ganda dalam membesarkan anak dan keluarga. Ia juga harus menjaga hubungan cinta dengan suami yang jauh di sana serta membangun sikap saling percaya. Tentu masih ada kesulitan-kesulitan lain yang tak bisa diungkapkan satu per satu.

Apa yang disampaikan Pumarada merupakan gambaran umum kehidupan keluarga di Filipina. Menurut data dari kelompok migran, ada sekitar 15 juta pekerja Filipina bekerja di lebih dari 230 negara. Di antara 230 negara itu ada juga negara-negara Timur Tengah, yang notabene dikenal sebagai negara muslim, dimana tingkat intoleransinya sangat tinggi. Keberadaan di negara islam ini menjadi tantangan tersendiri.

Kedua, materialisme dan gaya hidup. Masalah pertama tadi mengungkapkan realitas kemiskinan yang masih ada di Filipina. Namun Paus mengungkapkan sebuah ironisme. Sementara banyak orang hidup dalam kemiskinan parah, “keluarga lain terjebak dalam materialisme dan gaya hidup yang merusak kehidupan keluarga.”

Selasa, 25 Januari 2022

INI RESIKO JARAK KEHAMILAN YANG RAPAT

Jarak kehamilan yang terlalu rapat memang mengundang risiko bagi para wanita. Penelitian terbaru menyatakan, ibu yang hamil lagi dalam waktu setahun setelah melahirkan berisiko menyebabkan autisme pada calon anak mereka kelak.

Kehamilan berturut-turut membuat ibu bisa kepayahan. Para ilmuwan dari New York AS menyebutkan, wanita butuh waktu untuk pulih dari kehamilan. Selain itu, kehamilan yang terjadi dalam jangka waktu pendek akan menyebabkan anak-anak yang dilahirkan rentan mengalami kekurangan gizi.

Kesimpuan itu didasarkan atas riset terhadap 600.000 keluarga di California. Para ilmuwan mencatat kasus autis di antara 663.000 anak kedua yang lahir di California antara tahun 1992 sampai 2002.

Setelah mendapatkan data lengkap, para ilmuwan memeriksa interval kehamilan anak pertama dan kedua, memperhitungkan usia orangtua, latar belakang, etnis, pendidikan ibu, dan apakah orangtua memiliki asuransi kesehatan.

"Hasilnya, kami menemukan bahwa anak-anak yang lahir setelah interval kehamilan yang lebih pendek mempunyai peningkatan risiko autisme" jelas salah satu peneliti, Dr Keely Cheslack Postava, dari Columbia University, New York

Risiko tertinggi ada pada anak yang dikandung setelah sang ibu melahirkan anak sebelumnya kurang dari setahun.

"Anak yang dikandung dalam tahun kelahiran yang sama dengan kakaknya memiliki 3,4 kali lebih tinggi menyandang autisme, sedangkan anak yang dikandung 12 hingga 13 bulan setelah kelahiran kakaknya memiliki 1,9 kali lebih tinggi risiko menyandang autis," ujar Postava.

Menanggapi hasil penelitian ini, pihak National Autistic Society, Inggris, menjelaskan agar orangtua harus waspada, tetapi tak perlu terlalu khawatir.

"Walaupun penelitian ini sangat berguna, tetapi kami sebelumnya telah melihat ribuan kasus baik anak pertama maupun anak berikutnya lahir dengan interval lebih dari 12 bulan kemudian memiliki diagnosis autis. Jadi kita tak perlu terlalu khawatir," ujar juru bicara National Autistic Society.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu