Selasa, 10 Agustus 2021

PARADOKS KEBENARAN

 


Kebenaran adalah sesuatu yang paradoksal, selalu dirindukan bahkan diperjuangkan siapa pun, kapan dan dimana pun. Orang dapat mempertaruhkan segalanya asal menemukan kebenaran. Debat hukum di ruang pengadilan, entah dengan argumentasi yang rasional maupun bukan, semuanya bermuara ke upaya penemuan kebenaran.

Namun, ketika kebenaran tersingkap, apakah semua pihak menyukainya? Di situlah paradoksnya! Kebenaran menyembuhkan, juga melukai. Ia ibarat buah simalakama. Pihak yang yakin kebenaran akan menyembuhkan tak akan pantang mundur berupaya menemukannya.

Pihak yang takut bahwa kebenaran akan melukai akan berjuang dengan segala macam cara untuk mengurung kebenaran dalam ruang gelap, agar tersembunyi dan tidak tersingkap.

Aletheia

Ada hal yang menarik dari analisis semantik yang dilakukan Martin Heidegger tentang kebenaran. Ia menjelaskan, kebenaran dalam bahasa Yunani adalah aletheia – a (tidak) dan theia (tersembunyi). Kebenaran berarti tidak tersembunyi, apa adanya, tanpa embel-embel. Sesuatu dalam dirinya sebagaimana adanya (das Ding an sich).

Sesuatu itu benar kalau tampil apa adanya, tanpa pemalsuan, rekayasa, embel-embel yang malah menutup atau menyembunyikan kesejatian (autensitas) dari sesuatu itu. Sesuatu dalam kesejatiannya menjadi sesuatu yang objektif. Siapa pun akan melihat dan menemukannya sebagaimana dalam keadaannya yang sebenarnya.

Jumat, 06 Agustus 2021

TELAAH ATAS PENGHARAMAN BABI DALAM AL-QUR’AN


 

Selain dikenal sebagai agama yang mengkafir-kafirkan, islam juga biasa diidentikkan dengan agama yang mengharam-haramkan. Karena itu, dalam sebuah organisasi islam, misalnya seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), ada satu komisi yang bertugas mengurus masalah haram. Komisi ini biasa dijadikan rujukan bagi umat islam untuk bersikap, apakah sesuatu itu boleh atau tidak; haram atau tidak. Fatwa dan juga lebel halal dari komisi ini menjadi penentu bagi sebuah produk, mulai dari makanan hingga lokasi wisata. Jika dirinci, ada begitu banyak jenis fatwa atau label haram atau halal yang telah dikeluarkan oleh MUI. Misalnya, pengharaman mengucapkan selamat natal, pengharaman atas rawon setan dan tahu kuntilanak, pengharaman satu jenis permainan online, dan masih banyak lainnya. Pelebelan “wisata halal” pada salah satu destinasi wisata mengindikasikan adanya “wisata haram” bagi yang tak mendapatkan lebel tersebut.

Bagian ini akan membahas satu jenis pengharaman, yang terkadang sedikit menimbulkan “kontroversi” di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. Jenis itu adalah babi. Memang publik sudah tahu kalau babi itu dilarang dalam islam, meski dalam praktek banyak juga umat islam yang mengkonsumsi babi. Pengharaman atau pelarangan atas babi sepertinya sudah final. Umat islam mendasarkan pada wahyu Allah dalam Al-Qur’an. Umat islam memahami larangan itu berasal dari perintah Allah sehingga harus diikuti. Pelanggaran atasnya berarti dosa, dan dosa berarti neraka. Tapi, benarkah Allah sungguh melarangnya?

Dasar Al-Qur’an atas pelarangan babi dapat ditemukan dalam 4 surah, 2 surah dalam kelompok surah Makkiyyah dan 2 lainnya dalam kelompok surah Madaniyyah. Lebih lanjut dapat diperhatikan dalam tebel berikut ini. Pada kutipan ayat-ayat Al-Qur’an ini, pelarangan itu tidak hanya ditujukan kepada babi saja. Ada beberapa jenis makanan lain yang diharamkan Allah, namun di sini pembahasan lebih fokus pada babi.

Kamis, 05 Agustus 2021

CATATAN HUJAN BULAN JULI

 

Saya tiba di Ujung Beting pada tanggal 01 Juli. Sepanjang bulan Juli ini, sesuai jadwal dan ketentuan, saya akan menetap di Ujung Beting. Akan tetapi, tidak sepanjang bulan ini saya terus tinggal di sana. Berhubung tidak ada pastor pembantu, maka saya terpaksa bolak-balik Ujung Beting – Dabo, saat ke Dabo, saya tidak langsung balik. Ada beberapa hari saya menetap di Dabo. Akan tetapi, pemantauan hujan tetap difokuskan pada wilayah Ujung Beting saja.

Dapat dikatakan bahwa situasi curah hujan antara Dabo dan Ujung Beting sedikit berbeda. Pada akhir bulan Juni dan awal Juli, wilayah Dabo cenderung panas dan curah hujan amat sedikit, sementara wilayah Ujung Beting cukup besar. Tercatat mulai tanggal 1 hingga 17 hujan selalu turun dengan intensitas dan durasi waktunya beragam. Umumnya intensitas curah hujan sedang, sementara durasinya agak lama. Mulai tanggal 18 hujan tak lagi turun. Sempat beberapa hari cuaca mendung, namun hujan tak kunjung datang.

Sekalipun hujan sering turun, saat reda cuaca terasa sangat panas. Baik hujan maupun tidak, udara terasa sangat panas. Angin hanya bertiup agak kencang pada siang hari, sementara malam sama sekali tidak berangin. Demikianlah catatan hujan di bulan Juli dari wilayah Ujung Beting. Apakah tanda-tanda kemarau sungguh terjadi di bulan Agustus ini? Kita akan pantau dari wilayah Dabo.