Kamis, 15 Juli 2021

PEMBENARAN TIDAK SAMA DENGAN KEBENARAN

 


Seorang karyawan sebuah “perusahaan” datang mengungkapkan isi hatinya. Dia bilang bahwa teman-teman di kantor menuduhnya mencuri uang kantor. Malah ada rekan kerja yang berusaha melacak keuangannya. Padahal dia sudah bekerja keras dan hidup jujur, demikian curahan isi hatinya.

Satu hal lain lagi yang membuat dia kesal adalah tudingan orang bahwa seringnya dia keluar kota mendampingi boss, dikatakan bahwa dia gunakan uang kantor untuk keperluan pribadi. Padahal semua biaya perjalanan itu ditanggung oleh boss. Sungguh menyakitkan hati dituduh begitu. Pastilah mereka-mereka itu iri hati dan tidak suka melihat orang senang.

Sepintas saya merasa prihatin dan bersimpati dengan nasib karyawan ini. Saya merasa jengkel dan marah dengan orang-orang yang menuduhnya telah mencuri uang kantor, alias korupsi. Kenapa orang sukanya menuduh. Tanpa disadari saya melihat bahwa kebenaran ada pada pihak karyawan itu. Apa yang diutarakannya adalah kebenaran. Dengan kata lain, kebenarannya adalah: karyawan itu tidak korupsi dan orang lain memfitnah dirinya.

Benarkah demikian? Setelah saya renungkan, ternyata saya keliru. Apa yang diungkapkan oleh karyawan itu bukanlah kebenaran, melainkan pembenaran. Dia ingin mendapatkan kebenaran dengan cara pembenaran. Pembenaran bukanlah kebenaran yang sebenarnya. Pembenaran bisa menjadi sarana untuk menyembunyikan kebenaran.

Rabu, 14 Juli 2021

INSPIRASI KISAH PERTOBATAN ORANG NINIWE

 


Tobat merupakan salah satu aktivitas keagamaan yang ada pada setiap agama mana pun. Aktivitas ini biasanya dimaknai dengan menyesali dosa dan kesalahan, lalu berusaha untuk meninggalkannya serta tidak lagi melakukannya. Ada 2 jenis pertobatan, yakni pertobatan individual dan pertobatan sosial. Pertobatan sosial mesti dimulai dari pucuk pimpinan.

Salah satu kisah pertobatan sosial yang cukup populer dalam kitab suci adalah pertobatan warga kota Niniwe. Nabi Yunus datang ke kota Niniwe dan terjadilah pertobatan yang dimulai dari pucuk pimpinan, yaitu raja.

Jika sekarang ini Yunus hadir di sebuah provinsi, maka pertobatan dimulai dari gubernur; atau di sebuah kabupaten, maka pertobatan dimulai dari bupati.

Atau,

Kalau saat ini Yunus muncul di sebuah keuskupan, maka pertobatan dimulai dari USKUP; atau bila hadir di paroki, maka pertobatan dimulai dari Pastor Kepala Paroki.

Apabila kini Yunus datang di sebuah komunitas, maka pertobatan dimulai dari Ketua Komunitas; atau jika muncul di keluarga, maka pertobatan dimulai dari Kepala Keluarga.

Pertobatan sosial harus dimulai dari pucuk pimpinan. Karena, seperti ikan, pembusukan selalu dimulai dari kepala.

diolah dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 13 Juli 2021

KETIKA MAKNA KATA MEMBINGUNGKAN

 


Kata adalah kumpulan huruf yang memiliki makna. Misalnya kata “kursi” mengacu pada sebuah tempat duduk yang memiliki empat tiang penyanggah. Ada banyak jenis kata dalam sebuah tata bahasa. Ada kata benda, kata kerja, kata sifat dan kata sandang dan masih banyak jenis kata lainnya.

Dalam tulisan ini kita akan melihat kata moral. Memang istilah ini tidak terdapat dalam tata bahasa. Yang dimaksud dengan kata moral adalah kata yang mempunyai nilai-nilai moral. Penilaian moral itu menyangkut baik dan buruk; baik dan jahat. Karena itu, dalam kata-kata moral itu ada penilaian baik atau jahat. Beberapa kata-kata moral adalah seperti: sederhana, dermawan, menolong, membunuh, korupsi, fitnah, dengki, dendam, murah hati, mengampuni, kasih, benci, iri hati, dll.

Selain terletak pada kata itu, nilai moral juga terletak pada sesuatu yang kepadanya diarahkan kata-kata itu. Misalnya, kata “pencuri”. Di dalam kata itu terkandung nilai jahat. Namun, jika kata itu ditujukan kepada seseorang, misalnya “Umar pencuri”, maka nilai jahat itu melekat juga pada diri si Umar. Contoh lain misalnya, kata “murah hati”, yang secara moral memiliki nilai baik, jika dikenakan pada “Si Amir”, maka itu berarti si Amir itu orang baik, atau memiliki nilai kebaikan.

Akan tetapi, ada beberapa kata moral yang sedikit bermasalah karena membingungkan. Kebingungan itu bukan terletak pada penilaiannya, karena soal nilainya sudah jelas. Kebingungan itu timbul dari efek penggunaannya, dan itu terfokus pada orang yang menyandang atau kepadanya kata itu dilekatkan. Ada dua kata moral yang dimaksud, yaitu iri hati dan menghina. Dua kata ini mempunyai nilai buruk atau jahat. Dan orang yang menyandangnya, atau kepadanya dikenakan kata ini, berarti yang bersangkutan itu buruk secara moral.

Agama mengajarkan agar umatnya tidak iri hati dan menghina sesama. Namun, kenapa dua kata ini membingungkan? Mari kita lihat satu per satu. Agar jelasnya, saya akan menunjukkannya langsung dalam contoh.