Minggu, 24 Januari 2021

AL-QUR’AN SEBAGAI WAHYU ALLAH


Apabila mendengar istilah Al-Qur’an, tentulah pikiran orang terarah kepada sebuah kitab yang terdiri dari 114 surah dan 6.236 ayat. Sebagai sumber iman umat islam, kitab ini menjadi penuntun, pedoman dan petunjuk bagi hidup kaum muslim. Kitab ini aslinya ditulis dalam bahasa Arab, karena memang Allah sendiri menghendaki demikian.

Umat islam percaya bahwa Al-Qur’an itu merupakan wahyu Allah SWT secara langsung kepada nabi Muhammad SAW. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an diyakini sebagai kata-kata Allah SWT sendiri. Karena ini, umat islam menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada kitab ini. Pelecehan terhadapnya sama saja berarti menghina Allah SWT. Setiap umat islam dipanggil untuk membela Allahnya dari setiap upaya penghinaan terhadap diri-Nya dan juga agama-Nya. Allah sendiri telah memberi petunjuk bagaimana seharusnya umat islam memperlakukan mereka yang telah menghina dirinya (QS al-Maidah: 33).

Akan tetapi, ketika umat islam ditanya soal makna “langsung” dari wahyu Allah yang menjadi kitab ini, terdapat perbedaan pendapat. Setidaknya ada dua penafsiran atas kata “langsung” ini.

1.    Ada yang menafsirkan kata “langsung” ini secara harafiah. Artinya, Al-Qur’an sebagai kitab turun langsung sebagai kitab utuh kepada nabi Muhammad SAW. Ada dua pendasaran akan penafsiran ini. Pertama, kisah tentang turunnya wahyu pertama kepada Muhammad, dimana Allah yang berbicara kepada Muhammad berkata, “Iqra!”. Perkataan Allah ini lebih merupakan sebuah perintah dimana Muhammad disuruh untuk membaca. Kata iqra sendiri biasa dimaknai dengan bacalah. Berangkat dari makna ini, tentulah saat itu sudah ada KITAB sehingga Muhammad diminta untuk membacanya. Atau dengan kata lain, saat itu Allah sudah menyerahkan sebuah KITAB, yang kemudian dikenal dengan nama Al-Qur’an, dan menyuruh Muhammad untuk membacanya.

Kisah seperti ini tak jauh berbeda dengan kisah pertobatan Santo Agustinus, yang kebetulan lebih dahulu ada darpada kehadiran islam. Agustinus hidup dalam abad IV, sedangkan islam baru hadir pada akhir abad VI. Dalam kisah pertobatan Agustinus, dikisahkan bahwa seorang anak kecil, yang kemudian diyakini sebagai jelmaan malaikat Tuhan, berkata kepada Agustinus, “Tole lege!” Perkataan anak kecil ini tak jauh beda maknanya dengan iqra. Perkataan tersebut dimaknai dengan ambil dan bacalah. Diceritakan bahwa setelah itu, Agustinus mengambil Alkitab dan membukanya. Kitab itu terbuka pada halaman Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, dan akhirnya Agustinus membacanya.

Jumat, 22 Januari 2021

AYAT-AYAT NERAKA DALAM AL-QUR'AN


Al-Qur’an diyakini sungguh oleh umat islam sebagai kitab yang berasal langsung dari Allah SWT. Apa yang tertulis dalam kitab itu dipercaya sebagai kata-kata atau wahyu Allah SWT. Dasar keyakinan ini adalah Al-Qur’an sendiri. Beberapa ayat Al-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an ini (sekedar menyebut beberapa, QS al-Baqarah: 4; QS Ali Imran: 3; QS; an-Nisa: 105; QS al-Maidah: 48; QS ar-Rad: 1; QS an-Nahl: 89; QS al-Kahf: 1). Umat islam juga sungguh yakin dan percaya bahwa Allah SWT itu maha benar dan maha tahu. Karena itulah, umat islam percaya apa yang dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51).

Umat islam melihat bahwa Al-Qur’an itu merupakan pedoman, petunjuk, keterangan, tuntunan dan pelajaran bagi manusia. Semuanya sudah dibuat jelas sehingga mudah dipahami. Hal ini bertujuan untuk mendatangkan rahmat bagi umat islam sendiri. Semua ini telah dinyatakan Allah dalam kitab tersebut.

Sebagai pedoman, Al-Qur’an memberikan arahan kepada umat muslim untuk terarah ke surga dan menghindari neraka. Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memberikan keterangan yang jelas tentang surga saja, tetapi juga neraka. Keterangan seperti apa yang diberikan Al-Qur’an terkait dengan neraka? Pelajaran apa yang diberikan Allah lewat kitab-Nya soal neraka? Seperti apa gambaran neraka yang ada dalam Al-Qur’an?

Berikut ini akan dipaparkan ayat-ayat yang berbicara tentang neraka. Artinya, dalam ayat tersebut terdapat kata “neraka”. Kutipan ayat Al-Qur’an ini didasarkan pada “Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006”. Kutipan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah ini menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, ada beberapa petunjuk yang patut diperhatikan.

Kamis, 21 Januari 2021

GUNAKAN JUGA CARA PIKIR ORANG LAIN

 


Suatu hari, pesawat yang membawa seorang ahli arkeologi jatuh di rimba Kalimantan. Hanya sang ahli ini saja yang hidup. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia coba mencari-cari dan mengumpulkan sisa-sisa makanan yang ada untuk bertahan hidup hingga tim penyelamat datang. Menjelang sore, ia duduk santai beristirahat. Seekor moyet datang menghampirinya. Monyet itu duduk di hadapannya. Mereka saling bertatapan.

Sang ahli arkeologi ini menatap serius sang monyet. Dalam hati ia berkata, inilah dulu nenek moyang kami, manusia, seperti yang dikatakan engkong Darwin.

Si monyet menggaruk-garukkan kepalanya sambil berkata, ini kayaknya dulu nenek moyang kami.

Ini hanya sebuah cerita. Satu hal yang hendak disampaikan cerita ini adalah bahwa manusia selalu menggunakan sudut pandangnya saja dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Jarang sekali manusia mau menggunakan cara pikir orang lain juga.

Sama seperti sang ahli arkeologi tadi. Dia hanya memakai cara pandang dia saja, bahwa manusia berasal dari monyet. Ini didasari pada teori evolusi Darwin. Dari cara pandang ini, lahirlah sebuah kebenaran yang berlaku universal; tapi sayang hanya berlaku bagi manusia saja. Coba gunakan cara pikir monyet juga? Siapa tahu monyet juga berpikir bahwa dirinya berasal dari manusia. Artinya, manusia berevolusi menjadi monyet. Apa dasarnya?

Kalau manusia dari monyet, dasarnya adalah teori Darwin. Bagaimana dengan monyet berasal dari manusia? Janganlah karena tidak ada dasarnya, lantas tidak diakui. Bisa saja ada monyet yang mengeluarkan teori evolusi tersebut, tapi hingga kini belum diketahui atau ditemui oleh manusia. Karena keterbatasan manusia sajalah yang membuat kita tidak menemukan teori monyet itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menemukan perbedaan pendapat. Beda pendapat ini kerap ditimbulkan karena perbedaan sudut pandang atau cara berpikir saja. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan memaksakan pendapat kita yang paling benar dan memvonis pendapat orang lain itu salah. Cobalah sesekali kita memakai cara pikir orang lain sama seperti kita menggunakan cara pikir kita sendiri.

Namun di atas semuanya itu dibutuhkan kejujuran hati nurani yang besar. Karena ada banyak orang yang ngotot dengan pendapatnya hanya karena ingin membela kepentingan tersembunyi.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu