Kamis, 17 September 2020

INILAH DAMPAK PSIKOLOGIS ANAK DIBESARKAN TANPA IBU

Sebagai sosok yang melahirkan, seorang ibu tentu mempunyai peran yang sangat penting untuk anak-anaknya. (Baca juga: Ibu dan Pertumbuhan Moralitas Anak) Bahkan ikatan di antara anak dan ibu sudah terbangun sejak masih dalam kandungan. Asuhan dari ibu juga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan emosional anak. Namun, bagaimana jadinya jika anak dibesarkan tanpa kehadiran seorang ibu?
Ketidak-hadiran seorang ibu dalam kehidupan anak akan memberi dampak yang berbeda-beda bergantung pada beberapa faktor. Salah satu faktor terbesar adalah peristiwa yang menyebabkan seorang anak kehilangan ibunya. Ada yang ditinggalkan karena kematian, ada yang pergi akibat perceraian atau pekerjaan (TKW), ada juga yang ditelantarkan meski masih tinggal dalam satu rumah atau berdekatan.
Selain itu, faktor lainnya seperti usia anak saat ditinggal ibu juga berpengaruh pada cara anak bereaksi terhadap rasa kehilangan. Meski demikian, hidup tanpa ibu tentu akan memberi dampak yang besar pada keadaan emosional anak. Pada awalnya mereka cenderung berkutat pada pikiran sendiri dan mempertanyakan alasan kepergian sang ibu.
Anak mungkin akan merasa kesepian, terlebih ketika mengingat bahwa mereka tidak mendapat perawatan dan kasih sayang yang dibutuhkan dari seorang ibu. Katika tak mendapatkan jawabannya, tumbuhlah perasaan marah dan frustrasi pada diri anak. Hal ini membuat anak sering mengalami perubahan emosi yang mendadak. Perubahan inilah yang membuatnya akan sulit berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Selasa, 15 September 2020

PENYALIBAN YESUS DALAM SUMBER-SUMBER SEJARAH KUNO NON KRISTEN


Membaca Kitab-kitab Injil sambil berharap atau bahkan berupaya memperlihatkan bahwa Yesus tidak disalibkan atau disalibkan tetapi tidak mati karena penyaliban itu, sudah sangat pasti merupakan suatu kesalahan pembacaan yang sangat serius. Keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) sepakat bahwa Yesus menderita dan disalibkan pada masa pemerintahan Pontius Pilatus. Bahkan tidak sedikit sarjana yang percaya bahwa penekanan utama dalam penulisan Kitab-kitab Injil adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir kehidupan Yesus di bumi sebagai kulminasi (puncak) pelayanan-Nya.
Menariknya, historitas penyaliban Yesus bukan hanya tercantum dalam sumber-sumber dari lingkungan Kristen abad pertama. Beberapa tulisan sejarah kuno dari para penulis non kristen pun mengonfirmasi fakta penyaliban Yesus. Tulisan ini dimaksudkan untuk mencantumkan kutipan dari sumber-sumber sejarah non kristen tersebut dan memperlihatkan tanggapan para sarjana – bahkan para sarjana yang tidak simpatik terhadap kekristenan ortodoks sekalipun – mengenai sumber-sumber tersebut.

Sebuah “Ramalan” dalam Tulisan Thallos
Sebelum menyimak sejumlah catatan historis kuno mengenai pernyaliban Yesus, adalah menarik kalau kita memperhatikan sebuah tulisan kuno (ditulis ± 55 sM) dari seorang sejarahwan Yunani bernama Thallos. Kita memang sudah tidak lagi memiliki salinan dari tulisan Thallos. Namun, dalam tulisan dari seorang sejarahwan bernama Sextus Julius Africanus (± 160 M – 240 M), terdapat kutipan dari tulisan Thallos yang relevan untuk diperhatikan. Africanus menulis sebuah buku sejarah berjudul History of the World (ditulis ± 220 M) yang juga sudah tidak kita miliki lagi salinannya saat ini. Namun salah satu kutipan dari Thallos dalam buku Africanus yang dikutip oleh sejarahwan Byzantine, Gregorius Syncellus dalam tulisannya yang berjudul Chronicles (ditulis ± 800). Syncellus mencatat bahwa ketika Africanus menulis mengenai “kegelapan” yang terjadi pada peristiwa penyaliban Yesus, Africanus mengomentari tulisan Thallos, demikian:

Senin, 14 September 2020

KECANDUAN NONTON BOKEP PICU IMPOTENSI


Impotensi merupakan satu ganguan dalam fungsi seksual yang selalu dikaitkan dengan kaum pria. Umumnya orang memahami impotensi sebagai kondisi ketika penis tidak mampu ereksi (tegang) atau mempertahankan ereksi walaupun sudah mendapatkan rangsangan seksual. Ada banyak faktor penyebab impotensi, yang biasanya dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu faktor fisik dan psikis. Dari faktor fisik, penyebab impotensi adalah seperti penyakit diabetes, hipertensi dan kolestrol tinggi. Sedangkan faktor psikis seperti stres, cemas, tertekan atau ketakutan.
Selain faktor di atas, ternyata impotensi bisa disebabkan juga oleh kecanduan menonton video porno. Kecanduan ini sangat berpengaruh terhadap vitalitas, karena menonton video porno dapat mengubah cara otak bereaksi terhadap rangsangan. Akibat sering menonton video porno, yang bisa dipastikan membuat orang terangsang bahkan ereksi, otak kita hanya mau bereaksi dengan rangsangan tersebut. Hal ini membuat kita kecil kemungkinan mudah terangsang oleh pasangan dalam kehidupan nyata.
Penelitian yang mengkaji kaitan langsung antara impotensi dan nonton video porno mengatakan bahwa video porno dapat menurunkan sensitivitas respons seksual. Artinya orang akan mengalami kesulitan mengalami rangsangan seksual dalam dunia nyata. Sekalipun sudah disentuh, dibelai bahkan dikulum oleh pasangan, penis akan lambat bereaksi untuk ereksi atau malah sama sekali tidak bisa ereksi.
Karena keseringan menonton video porno, penis baru bisa ereksi bila menyaksikan adegan video porno. Hanya sayangnya, ketika hendak melakukan hubungan seksual, penis akan kembali loyo. Hal inilah yang dinamakan gangguan disfungsi seksual. Dan ini hanya terjadi pada kaum laki-laki, karena umumnya hanya pria yang doyan menonton video porno dan ereksi hanya dibutuhkan kaum pria.