Kamis, 27 Agustus 2020

INILAH ANGGAPAN KELIRU TENTANG COWOK


Tak semua anggapan orang, terlebih cewek, tentang cowok itu benar. Bahwa cowok itu egois, emosi tinggi, atau takut berkomitmen, bisa jadi itu hanya tuduhan tanpa bukti. Cowok memang punya sifat yang beda bila dibandingkan dengan para cewek. Sebab kata orang, cowok itu berasal dari Mars dan cewek dari Venus. Mari deh lurusin dulu pemahaman soal cowok!
Cowok Takut Berkomiten
Suka mbulet kalau diajak menjalin hubungan ke arah yang lebih serius. Padahal, masa pacaran udah bertahun-tahun. Kedua keluarga juga udah saling kenal. Jika didesak, mereka malah nggak segan untuk pilih putus ketimbang melamar kita.
Sebenarnya...
Tanpa dipaksa pun, akan ada saatnya cowok butuh untuk diikat. Kalau emang udah niat serius sejak awal, dia nggak bakal ragu mengungkapkan keinginannya. Hanya, momen indah itu butuh waktu yang tepat. Dia nggak bakal sembarangan melamar, kalau segalanya dirasa belum siap. Termasuk persoalan keuangan untuk masa depan.
Cowok Suka Ngeres
Hobi berpikiran kotor alias semua hal yang berbau seks, tubuh perempuan, dan film porno.
Sebenarnya...
Cowok emang senang dikelilingi cewek seksi. Tapi, bukan berarti pikiran mereka selalu dipenuhi hal-hal berbau seks. Apalagi kalau sedang sibuk atau banyak masalah, mereka bakal malas mikirin seks. So, nggak perlu jealous sama poster-poster cewek di kamar doi. Mending dia masang poster seleb cewek, ketimbang foto mantannya!

Selasa, 25 Agustus 2020

INILAH SANKSI HUKUM DALAM GEREJA KATOLIK


HUKUM merupakan salah satu indikasi masyarakat beradab. Tanpa hukum maka manusia hidup dalam masyarakat barbar. Tidak ada keteraturan dalam tatanan sosial. Karena itu, pada setiap jenis masyarakat yang beradab selalu mempunyai hukumnya sendiri. Termasuk juga Gereja Katolik. Hukum dalam Gereja Katolik dikenal dengan istilah Hukum Kanonik. Sama seperti produk-produk hukum dalam masyarakat lainnya, siapa saja yang melanggar hukum akan mendapat sanksi hukum.
Sanksi berupa suspensi dalam KHK 1983
Tentang sanksi dalam Gereja, dapat ditemukan di Bab VI (kan. 1311-1399 KHK 1983), seperti dicantumkan dalam kan. 1311: Gereja mempunyai hak asli dan sendiri untuk mengendalikan umat beriman kristiani yang melakukan tindak kejahatan dengan sanksi hukuman. Sanksi sanksi hukuman itu terdiri dari: (1) Hukuman-hukuman medisinal atau censura; (2) hukuman-hukuman silih; (3) hukuman silih lain; (4) dan hukuman remedia poenale untuk mencegah tindak pidana (bdk Kan.1312).
Ada dua jenis hukuman dalam KHK
Dua jenis hukuman: Hukuman biasa atau disebut ferendae sententiae (masih harus diputuskan dalam hukum proses-acara) dan hukuman luar biasa latae sententiae (tanpa harus melalui hukum proses melainkan langsung kena hukuman; bdk. kan 1314). Prinsip hukum gereja dalam mengenakan sanksi terhadap imam atau umat beriman kristiani adalah hanya sejauh sungguh-sungguh perlu untuk memelihara disiplin gereja secara lebih baik (bdk. kan 1317). Maka hanya karena perbuatan imam atau umat beriman melakukan tindak pidana beberapa kali dan amat berat, hukuman latae setentiae dapat diterapkan oleh legislator (Uskup).

Senin, 24 Agustus 2020

INI KIAT ATASI RASA TAKUT PADA ANAK


Sering kita jumpai ada anak yang begitu mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan orang yang baru dikenal. Ada kesan kedewasaan dalam dirinya. Namun tak sedikit pula dijumpai anak yang takut atau terkesan malu-malu berhadapan dengan orang baru. Atau bahkan terhadap banyak hal anak cenderung menjadi penakut. Anak penakut bisa berdampak pada hilangnya rasa percaya diri anak (baca juga: Kiat Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak).
Memang hal tersebut masih masuk dalam kategori wajar. Namun bukan lantas berarti orangtua dapat tenang-tenang saja dan membiarkan si anak terus dihantui oleh rasa takutnya. Jika tidak ditangani dengan baik dan benar, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang penakut, pemalu dan tidak mandiri. Untuk itu, berikut ini beberapa tips yang dapat dicoba untuk mengatasi rasa takut pada anak.
1.     Tidak menganggap remeh rasa takut anak
Orang dewasa saja tidak suka diremehkan. Karena itu, jangan sekalipun menganggap remeh rasa takut yang dialami anak. Tunjukkan bahwa sebagai orangtua kita bisa memahaminya sepenuhnya, termasuk hal-hal yang ditakuti. Tempatkan diri pada posisi anak, peluk dan tenangkan ia sambil membisikkan di telinganya: “Semuanya akan baik-baik saja.” Jika berhadapan dengan orang baru yang kita kenal, namun belum dikenal anak, perlahan-lahan kita beri pengertian siapa orang baru itu. Dalam hal ini, sangat baik jika orangtua menggunakan bahasa yang dipahami anak.
2.     Dekati dan bicarakan