Selasa, 14 April 2020

PENJELASAN SINGKAT TENTANG ALLAH TRITUNGGAL

Orang islam menyebut orang Kristen, baik itu katolik maupun protestan, sebagai orang kafir. Dasar penyebutan itu ada dalam Alqur’an. Orang islam menyakini bahwa Alqur’an langsung berasal dari Allah. Karena itu, gelar kafir untuk orang Kristen itu berasal dari Allah SWT. Salah satu alasan kenapa orang Kristen disebut kafir adalah karena iman kepercayaan mereka kepada Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Tak sedikit juga umat kristiani mendapat serangan dari umat islam terkait ajaran iman ini. Mereka mengatakan bahwa Allah orang Kristen itu ada tiga. Bahkan ada juga orang Islam yang mengatakan bahwa Bunda Maria adalah salah satu Allah dalam Tritunggal Mahakudus. Mungkin Roh Kudus itu dikaitkan dengan Bunda Maria.
Benarkah Allah orang Kristen itu ada tiga? Apakah Bunda Maria termasuk salah satu dari ketiga pribadi Allah Tritunggal?
Pertama, perlu diperhatikan bahwa ajaran tentang Tritunggal Mahakudus tidak sama dengan ajaran tentang adanya tiga Allah. Ajaran tentang Tritunggal Mahakudus mengatakan bahwa hanya ada SATU Allah dalam TIGA pribadi. Ketiga Pribadi itu ialah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam arti ini Gereja sangat memegang teguh monoteisme, artinya hanya ada satu Allah. Adanya tiga pribadi ilahi itu tidak sama dengan adanya tiga Allah. Sedangkan ajaran tentang adanya tiga Allah disebut Triteisme, bukan Tritunggal. Baik Kitab Suci Gereja Katolik maupun Alqur’an menentang Triteisme ini. Alqur’an menentang dengan keras ajaran Triteisme, seperti nampak dalam ayat berikut: ”Hai Isa putera Maryam, adakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘jadikanlah aku dan ibuku menjadi dua Tuhan selain Allah?’” (QS 5:116). Ayat ini hendak menegaskan bahwa hanya ada satu Allah.

Senin, 13 April 2020

MUJIZAT CINTA


Seorang teolog melihat dengan cara lain mujizat pergandaan 5 roti dan 2 ekor ikan untuk ribuan orang yang dilakukan Yesus. Baginya sebenarnya tiap-tiap orang membawa bekal makanan untuk dirinya. Karena itu, sebenarnya soal makanan tidak ada masalah. Yesus tahu akan hal itu, namun tidak demikian dengan para murid. Karena itulah, mereka ingin menyuruh orang banyak untuk pergi ke kampung-kampung mencari makan. Akan tetapi, Yesus mencegah mereka dengan menegaskan bahwa mereka harus memberi makan orang banyak itu.
Dari situlah akhirnya diketahui bahwa yang ada hanya 5 potong roti dan 2 ekor ikan. Dengan benda-benda itu, Yesus mengangkatnya sambil mengucap berkat lalu memecah-mecahkannya untuk kemudian dibagikan kepada setiap orang banyak. Ketika melihat adegan tersebut kesadaran diri orang banyak tergugah. Mereka yang sebelumnya hanya memikirkan dirinya sendiri, perlahan-lahan mulai mengeluarkan bekalnya dan saling berbagi.
Karena itulah, mujizat pergandaan roti dan ikan bukan terletak pada 5 roti dan 2 ikan itu saja, tetapi yang terutama adalah perubahan sikap orang banyak dari sebelumnya egois kepada kasih. Peristiwa Yesus memberi makan ribuan orang dengan modal 5 roti dan 2 ekor ikan merupakan bentuk mujizat kasih.

Minggu, 12 April 2020

PAUS FRANSISKUS: JANGAN KERAS KEPALA SEPERTI PETRUS. BELAJARLAH MEMAAFKAN!


Sama seperti di Indonesia dan sejumlah negara lainnya, misa Kamis Putih di Vatikan kali ini tak dihadiri umat. Selain tanpa umat, misa kudus yang dipimpin oleh Paus Fransiskus juga berlangsung tanpa ritus pembasuhan kaki. Ini demi mencegah penyebaran wabah virus korona yang saat ini sedang menyebar ke segala penjuru.
Dalam homili singkatnya, Paus Fransiskus menekankan tentang makna utama dari tindakan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir. Yesus menempatkan diri layaknya seorang pelayan, lalu membasuh kaki para murid. Apa yang dilakukan Yesus tersebut menyematkan dua pesan utama, yakni mencintai dan melayani. Bercermin dari apa yang dilakukan Yesus, Paus Fransiskus ingin agar kita membuka diri untuk dicintai dan dilayani oleh Yesus.
Yesus sendiri berkata, “Jika kita tidak makan dan minum dari Tubuh dan Darah-nya, kita tidak akan memasuki Kerajaan Surga,” jelas Paus Fransiskus pada Kamis, 9 April 2020. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa hanya dengan membiarkan diri kita dicintai oleh Tuhan, maka kita akan diselamatkan.
“Sulit dipahami bahwa kita perlu mengizinkan Tuhan melayani kita.” Paus Fransiskus melanjutkan bahwa kita perlu merenungkan Injil Yohanes yang menggambarkan penolakkan Petrus kepada Yesus yang mengatakan: ‘Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.’ Dan Yesus menjawab, ‘Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.’ (Yohanes 13: 8)