Senin, 30 Maret 2020

PAUS FRANSISKUS: KITA JADI SAKSI KRISTUS BUKAN KARENA KEMAMPUAN KITA

Meskipun kita belum melihat “dengan mata kepala sendiri wajah Yesus yang bersinar seperti matahari,” kita tetap harus siap memberikan kesaksian tentang Kristus. Terlepas dari beban dan kekhawatiran kehidupan sehari-hari, “kita tidak boleh lupa bahwa pembaptisan dan penguatan yang telah kita terima menjadikan kita saksi, bukan karena kemampuan kita, tetapi sebagai akibat dari karunia Roh.” Demikian ungkap Paus Fransiskus dalam sambutan Angelus pada Minggu, 8 Maret 2020.
Pesan Paus Fransiskus kali ini tidak disampaikan di tempat biasanya, melainkan dari Perpustakaan di Istana Apostolik. Hal ini menanggapi keprihatinan yang sedang berlangsung tentang virus corona. Pesan Paus Fransiskus ini berangkat dari Injil yang menampilkan kisah transfigurasi, yang merupakan bacaan hari Minggu pra-paskah kedua.
Dijelaskan bahwa Yesus membawa ketiga murid “dan naik ke gunung yang tinggi, simbol kedekatan dengan Allah, agar mereka lebih terbuka pada pemahaman lebih penuh tentang misteri pribadi-Nya, yang harus menderita, mati dan kemudian bangkit kembali.” Melalui peristiwa transfigurasi tersebut “ketiga murid itu dipanggil untuk mengenal Putera Allah yang bersinar dengan kemuliaan dalam Yesus,” jelas Paus Fransiskus.

Minggu, 29 Maret 2020

SHARING PENGALAMAN MARIA NATALIA BUDIMAN

Saya, Maria Natalia Budiman, lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Sejak kecil, saya sudah aktif di gereja Katolik: ikut koor, menjadi pengantar, dan aktif di Mudika. Hanya saya jarang ikut kegiatan yang bersifat pendalaman iman. Saya tak pernah diajar membaca dan mengerti alkitab, mengerti akan pentingnya doa dan devosi terhadap Bunda Maria dan santo/santa. Perayaan Misa bagi saya adalah ritualitas biasa (tanpa mengerti akan artinya). Semua itu membuat saya pergi ke gereja hanya karena 'memang begitulah seharusnya', bukan karena didasarkan atas motivasi hati dan keinginan saya untuk lebih dekat dengan Tuhan.
Setamat SMA saya memutuskan bersekolah di luar negeri. Saya mengambil bidang Tehnik Kimia di Oregon State University, Amerika. Satu tahun kemudian, saya pindah ke University of Wisconsin, Madison, Wisconsin. Ada banyak anak Indonesia bersekolah di sini. Saya mencoba untuk lebih ikut aktif di kegiatan mahasiswa. Alasan utamanya adalah karena ingin mendalami iman saya lebih lanjut. Jauh dari keluarga membuat saya lebih terpanggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Saya mengusulkan untuk belajar Alkitab, tapi teman-teman pada protes. Mereka bilang sudah capai belajar selama seminggu dan mereka hanya mau berkumpul untuk bersosialisasi saja. Belajar Alkitab sifatnya terlalu serius. Meski tidak setuju, saya diam saja dan tidak memaksakan kehendak saya.
Dalam perjalanan waktu saya berkenalan dengan kelompok anak Indonesia yang lain: ICF atau Persekutuan Kristen Indonesia. Waktu datang pertama kali, saya disambut dengan hangat. Pertemuannya dibuka dengan menyanyi pujian, kesaksian iman dan presentasi dari speaker mengenai Alkitab. Saya sangat menikmati pertemuan ini. Saya merasakan persahabatan dalam iman yang begitu kuat dan murni. Walau orang baru, saya sudah merasa seperti bagian dari keluarga besar ICF. Saya tidak pernah merasa bersalah mengikuti kegiatan ICF, karena yang penting saya menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Selain itu, saya merasa mempunyai Tuhan dan iman Kristiani yang sama.

Jumat, 27 Maret 2020

UMAT ISLAM WAJIB MELAKSANAKAN PERINTAH ALLAH SWT


Setiap umat beriman, apapun agamanya, tentulah terpanggil untuk berusaha menyenangkan hati Tuhannya. Bagaimana cara untuk menyenangkan hati Tuhan? Satu hal yang paling penting untuk membuat hati Tuhan senang adalah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dalam agama manapun, perintah dan larangan Tuhan itu dapat ditemui dalam Kitab Suci. Setiap agama pasti mempunyai Kitab Suci. Pada umumnya orang tahu bahwa Kitab Suci merupakan wahyu Allah.
Kitab Suci umat islam adalah Al Qur’an. Umat islam meyakini bahwa Al Qur’an merupakan wahyu yang langsung berasal dari Allah SWT. Dengan kata lain, kata-kata yang tertulis dalam Al Qur’an merupakan kata-kata dari Allah sendiri. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Al Qur’an itu sendiri (QS As-Sajdah: 2 dan Az-Zumar: 1 – 2, 41). Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa Al Qur’an merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51), karena Allah yang berbicara adalah mahabenar. Umat islam wajib mentaatinya.
Perlu disadari bahwa manusia di dunia ini tidak hanya umat islam. Dalam satu wilayah bisa saja terdapat berbagai jenis umat beragama. Di Indonesia, misalnya, selain islam, masih ada umat beragama lainnya. Bagaimana sikap umat islam terhadap umat non islam?
Salah satu perintah Allah SWT terhadap umat islam yang wajib dilakukan adalah sikap mereka terhadap umat non islam. Ini adalah perintah Allah yang tertulis dalam Al Qur’an. Melaksanakan perintah ini berarti telah menyenangkan hati Allah SWT. Apa dan bagaimana perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan umat islam agar Allah merasa senang? Berikut ini kutipan-kutipan Al Qur’an yang berisi perintah-perintah tersebut.