Sabtu, 19 Januari 2019

DOA MOHON KESATUAN


Orang-orang yang percaya pada Yesus Kristus biasa disebut orang nasrani atau umumnya disebut juga orang Kristen. Kata “Kristen” pertama kali muncul di Antiokhia (bdk. Kis 11: 26). Pusat kepercayaan itu ada pada Yesus yang diyakini sebagai Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan/menebus manusia lewat sengsara – wafat – dan bangkit. Tidak hanya sebatas percaya, orang Kristen adalah juga pengikut Kristus.
Memang awalnya hanya ada satu agama Kristen. Namun dalam perjalanan sejarah muncul aneka nama aliran seperti katolik, protestan, anglikan, ortodoks, dll. Munculnya aneka aliran ini tentulah menjadi suatu keprihatinan, karena Yesus sendiri menghendaki adanya kesatuan. Hal ini sudah pernah diungkapkan Yesus (lih. Yoh 17: 11).
Tulisan “Ekumene, dan Yesus pun Menangis” mencoba merefleksikan harapan Yesus seperti yang terungkap dalam doa-Nya untuk para murid-Nya. Dalam tulisan ini, penulis mencoba membuka mata hati para pembaca, khususnya orang-orang Kristen. Lebih lanjut mengenai tulisan ini dapat dibaca di sini.
Selamat membaca!!!

Rabu, 16 Januari 2019

PENGAKUAN SEORANG IMAM SOAL SAKRAMEN TOBAT

Saya pernah bertugas di sebuah paroki di salah satu keuskupan di Indonesia. Saat itu saya sebagai pastor pembantu.
Sudah menjadi kebiasaan di paroki ini, atau mungkin di keuskupan, bahwa menjelang perayaan Natal atau Pekan Suci, ada upacara penerimaan sakramen tobat. Sakramen tobat dilihat sebagai salah satu persiapan umat untuk menyambut Natal dan/atau Paskah. Pada saat ini, penerimaan sakramen tobat biasanya dilangsungkan di komunitas-komunitas.
Selama melayani pengakuan dosa, saya melihat bahwa animo umat terhadap sakramen tobat amat sangat rendah. Dibandingkan sakramen lainnya, kiranya sakramen tobat menduduki urutan pertama sakramen yang tidak laris (urutan kedua adalah sakramen pengurapan orang sakit). Ternyata hal ini dirasakan juga oleh rekan iman lainnya.
Karena itu, pernah kami membuat program katekese tentang sakramen tobat. Dalam katekese ini, kami tidak hanya menyampaikan ajaran Gereja tentang sakramen tobat atau teologi sakramen ini, melainkan juga manfaat sakramen ini baik bagi kesehatan jiwa maupun raga, rohani dan jasmani. Kami jelaskan juga soal ketakutan dan rasa malu umat terkait sakramen ini, serta tata cara pengakuan dosa. Akan tetapi, tetap saja tidak ada perubahan. Ruang pengakuan tetap dingin.

Senin, 14 Januari 2019

MAKNA TERSINGGUNG

Setiap orang pasti pernah mengalami ketersinggungan, entah karena dihina atau pun dikritik. Tersinggung karena penghinaan adalah lumrah, karena tidak ada orang yang mau dirinya dihina. Penghinaan merupakan sebentuk perendahan terhadap harkat martabat kemanusiaan.
Lain halnya dengan kritik. Jika penghinaan identik dengan perendahan atau bahkan penghancuran martabat seseorang, kritik malah membangun. Lalu, mengapa kritik dapat menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan karena kritik itu tergantung dari bagaimana orang menyikapi kritik tersebut.
Akan tetapi, tersinggung itu ternyata memiliki makna. Positip atau negatifnya makna tersebut tergantung pada cara menyikapinya. Tulisan “Mati Rasa” merupakan refleksi atas persoalan tersinggung ini. Melalui tulisan ini pembaca diajak untuk bercermin, melihat dirinya sendiri, sejauh mana dirinya menyikapi ketersinggungan itu. Lebih lanjut mengenai tulisan ini, silahkan klik di sini.