Minggu, 27 Januari 2013

(Sharing Iman) Pencarian Iman Katolik


DARI KATOLIK KE ISLAM KEMUDIAN KEMBALI MENJADI KATOLIK
Hampir setahun lalu, malam Sabtu, saya balik Katolik dari selama 1 tahun dari menjadi seorang muslim juru dakwah kontra Kristiani. Karena malam saya tiba-tiba memutuskan kembali ke Katolik sangat tidak pernah saya duga atau rencanakan sebelumnya. Saat pulang dari warung langganan saya, posisi sedang naik motor, tiba-tiba saya merasakan luka batin yang mendalam seperti mau mati karena putus harapan, yang tidak hilang-hilang. Tak lama ada bisikan dalam nurani saya bahwa Yesus menyatakan bahwa setiap manusia membutuhkan cinta-Nya, termasuk saya. Yesus meminta tempat dalam batin saya. Luka batin itu tidak hilang sampai akhirnya saya bilang dalam hati: "Baiklah, saya menyerah, dengan luka batin tiba-tiba ini, kalo memang engkau benar-benar Tuhan, sembuhkanlah saya."
Tidak lama kemudian luka batin itu berangsur-angsur hilang. Saya langsung lari curhat ke teman saya yang Katolik yang selama ini sering saya dakwahi Islam. Besok Sabtu malam saya minta pengakuan dan diberi penitensi satu bulan. Minggunya saya ikut Misa di Gereja Cor Jesu Malang sambil menemani mama saya besuk sepupu saya di Asrama; dan kebetulan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Setiap mendengar ordinarium, saya menangis, saya merasakan begitu indah Liturgi Gereja Katolik, dan betapa Yesus mencintai saya. Saat homili imam menjelaskan mukjizat Lanciano yang meneguhkan saya. Saya sadar betapa saya selama ini betul-betul tidak memahami iman Katolik.
Beberapa hari setelahnya, saya ditemukan dengan Ketua Wilayah, dan oleh beliau saya diajak adorasi, dan beliau menjelaskan panjang lebar adorasi itu. Saat adorasi saya meminta kepada Yesus, "Saya masih bingung apa benar engkau yang memanggil saya, yakinkan saya kalau engkau memang Tuhan. Bimbinglah saya." Saya mendengar dalam nurani saya ada bisikan, "Sering-seringlah ke sini. Aku rindu saat-saat pribadi bersamamu. Dan belajarlah banyak."
Sejak saat itu saya mulai sering adorasi, dan membeli buku-buku Katolik untuk saya pelajari. Buku pertama yang saya beli adalah buku Romo Piedyarto, karena tidak terlalu tebal, dan saya pernah dipinjami edisi yang lama oleh mama teman saya. Namun dulu saya gunakan refensi kanon Kitab Suci di dalamnya untuk menyusun kurikulum dakwah ke umat kristiani. Dan saya tidak berhenti di situ, saya cari website Katolik tempat saya bisa diskusi. Dan saya menemukan www.ekaristi.org sebagai website yang sangat baik. Iman saya tumbuh oleh penjelasan member-member dan moderator-moderator di sana. Saya juga diinfokan seorang member di sana untuk ikut retret Opus Dei. Dari situ saya mengenal banyak anggota Opus Dei, mengenal Santo Josemaria Escriva melalui film dokumenternya dan bukunya Camino dan akhirnya sering ikut Kursus Katekismus. Dan sampai sekarang saya masih meminta bimbingan rohani di sana.
Saya tidak menyangka punya kesempatan bertemu Romo Pied bulan September lalu. Pada bulan Kitab Suci beliau menjadi pembicara seminar Kitab Suci. Saya datang ke acara itu dan saya bawa kelima jilid buku saya yang merupakan hasil karyanya, saya mintakan tanda tangan.
Mantan Guru TK saya yang enam bulan sebelum saya kembali Katolik pernah saya kunjungi untuk saya sewa tempatnya untuk acara PAUD ormas Islam saya, pernah mengatakan bahwa saya seperti St. Agustinus yang dalam masa mencari Tuhan. Dulu sih saya tertawakan saja, saya anggap omongan sampah; tapi ternyata apa yang dikatakannya terjadi betulan.
Sampai sekarang, Gereja Cor Jesu, buku Romo Pied, www.ekaristi.org, serta Wisma Opus Dei Surabaya menjadi tempat kenangan paling indah buat saya. Santo Josemaria Escriva dan Santo Agustinus mendapat tempat khusus di hati saya. Dan tidak lama sejak saya kembali menjadi Katolik, mungkin sekitar 3-4 bulan kemudian, saya merasa terpanggil menjadi imam. Saya hanya terus berdoa, belajar, dan berkarya, semoga saya bisa memberikan sedikit yang tidak ada artinya kepada Kristus.

Demikian saya hanya sedikit berbagi. Pax Christi.
kisah Fransiskus Wijayanto, Umat Paroki Salib Suci Tropodo (Jawa Timur), dikutip dari http://www.indonesianpapist.com/2011/06/kesaksian-dari-katolik-ke-islam-kembali.html#axzz2HFro2LRB
Baca juga sharing lainnya:

Dokumen Konsili Vatikan II: Lumen Gentium (4)

Sambungan sebelumnya....
KONSTITUSI DOGMATIS TENTANG GEREJA

12. (Perasaan iman dan karisma-karisma umat kristiani)
Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan cinta kasih, pun pula dengan mempersembahkan kepada Allah korban pujian, buah hasil bibir yang mengakui nama-Nya (lih. Ibr 13:15). Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh Yang Kudus (lih 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil.[22] Mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan. Sebab di bawah bimbingan wewenang mengajar yang suci, yang dipatuhi dengan setia, Umat Allah sudah tidak menerima perkataan manusia lagi, melainkan sesungguhnya menerima sabda Allah (lih 1Tes 2:13). Dengan perasaan iman yang dibangkitkan dan dipelihara oleh Roh Kebenaran, umat tanpa menyimpang berpegang teguh pada iman, yang sekali telah diserahkan kepada para kudus (Yud 3); dengan pengertian yang tepat semakin mendalam menyelaminya, dan semakin penuh menerapkannya dalam hidup mereka.

Selain itu Roh Kudus juga tidak hanya menyucikan dan membimbing Umat Allah melalui sakramen-sakramen sarta pelayanan-pelayanan, dan menghiasnya dengan keutamaan-keutamaan saja. Melainkan Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya.” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut: “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama.” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).

13. (Sifat umum dan katolik Umat Allah yang satu)
Semua orang dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan tunggal, harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melalui segala abad supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu kodrat manusia dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi anak-anak-Nya yang tersebar (lih. Yoh 11:52). Sebab demi tujuan itulah Allah mengutus Putera-Nya, yang dijadikan-Nya ahli waris alam semesta (lih. Ibr 1:2), agar Ia menjadi Guru, Raja dan Imam bagi semua orang, Kepala umat anak-anak Allah yang baru dan universal. Demi tujuan itu pulalah Allah mengutus Roh Putera-Nya, Tuhan yang menghidupkan, yang bagi seluruh Gereja dan masing-masing serta segenap orang beriman menjadi azas penghimpun dan pemersatu dalam ajaran para rasul dan persekutuan, dalam pemecahan roti, dan doa-doa (lih. Kis 1:42 yun.).

Jadi satu Umat Allah itu hidup di tengah segala bangsa dunia, warga Kerajaan yang tidak bersifat duniawi melainkan sorgawi. Sebab semua orang beriman, yang tersebar di seluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan anggota-anggota lain. Demikianlah “dia yang tinggal di Roma mengakui orang-orang India sebagai saudaranya.”[23] Namun karena Kerajaan Kristus bukan dari dunia ini (lih. Yoh 18:36), maka Gereja dan Umat Allah, dengan membawa masuk Kerajaan itu, tidak mengurangi sedikitpun kesejahteraan materiil bangsa manapun juga. Malahan sebaliknya, Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya. Sebab Gereja tetap ingat, bahwa harus ikut mengumpulkan bersama dengan Sang Raja, yang diserahi segala bangsa sebagai warisan (lih. Mzm 2:8), untuk mengantarkan persembahan dan upeti ke dalam kota-Nya (lih. Mzm 71/72:10; Yes 60:4-7; Why 21:24). Sifat universal, yang menyemarakkan Umat Allah itu, merupakan kurnia Tuhan sendiri. Karenanya Gereja yang Katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia beserta segala harta kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya.[24]

Berkat ciri Katolik itu setiap bagian Gereja menyumbangkan kepunyaannya sendiri kepada bagian-bagian lainnya dan kepada seluruh Gereja. Dengan demikian Gereja semesta dan masing-masing bagiannya berkembang, karena semuanya saling berbagi dan serentak menuju kepenuhannya dalam kesatuan. Maka dari itu umat Allah bukan hanya dihimpun dari pelbagai bangsa, melainkan dalam dirinya sendiri pun tersusun dari aneka golongan. Sebab di antara para anggotanya terdapat kemacam-ragaman, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak dan tata-tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti (religius) menuju kesucian melalui jalan yang lebih sempit, yang mendorong saudara-saudara dengan teladan mereka. Maka dalam persekutuan Gereja selayaknya pula terdapat Gereja-Gereja khusus, yang memiliki tradisi mereka sendiri, sedangkan tetap utuhlah primat takhta Petrus, yang mengetuai segenap persekutuan cinta kasih,[25] melindungi keanekaragam yang wajar, dan sekaligus menjaga, agar hal-hal yang khusus jangan merugikan kesatuan, melainkan justru menguntungkannya. Maka antara pelbagai bagian Gereja perlu ada ikatan persekutuan yang mesra mengenai kekayaan rohani, para pekerja dalam kerasulan dan bantuan materiil. Sebab para anggota umat Allah dipanggil untuk saling berbagi harta-benda dan bagi masing-masing Gereja pun berlaku amanat Rasul: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan kurnia yang telah diperoleh setiap orang, sebagai pengurus aneka rahmat Allah yang baik.” (1Ptr 4:10).

Jadi kepada kesatuan Katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarahkan kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman Katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan.

14. (Umat beriman katolik)
Maka terutama kepada umat beriman Katoliklah Konsili suci mengarahkan perhatiannya. Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.

Dimasukkan sepenuhnya ke dalam sertifikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejawi serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya.”[26] Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.[27]

Para calon baptis, yang karena dorongan Roh Kudus dengan jelas meminta supaya dimasukkan ke dalam Gereja, karena kemauan itu sendiri sudah tergabung padanya. Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih dan perhatiannya.


[22] S. AGUSTINUS, Tentang predestinasi para kudus, 14,27:PL 44, 980.
[23] S. YOH. KRISOSTOMUS, Tentang Yoh., Homili 65,1:PG 59,361.
[24] Lih. S. IRENEUS, Melawan bidaah-bidaah, III, 16,6; III, 22,-3: PG 7,925C-926A dan 955C-958A; HARVEY 2,87 dsl. Dan 120-123; SAGNARD, terb. Sources Chrtiennes, hlm. 290-292 dan 372 dsl.
[25] Lih. S. IGNASIUS martir, Surat kepada umat di Roma, Pendahuluan: terb. FUNK, 1,252.
[26] Lih. S. AGUSTINUS, Tentang babtis melawan Donatus, V,28,39: PL 43,197: “Pasti sudah jelas, bahwa bila
dikatakan: di dalam dan di luar Gereja, itu harus diartikan : dengan hatinya, dan bukan dengan badannya.” Lihat
dalam karya tulis yang sama, III, 19, 26: kolom 152; V, 18,24: kolom 189; Tentang Yoh, uraian 61,2:PL 35, 1800; pun sering dilain tempat.
[27] Luk 12:48: “Barang siapa menerima banyak, dari padanya akan dituntut banyak pula.” Lih. Mat 5:19-20; 7:2-22; 25:4-46; Yak 2:14.




Orang Kudus 27 Januari: St. Angela Merici

SANTA ANGELA MERICI, PERAWAN
Angela Merici lahir di Desenzano del Garda, Lombardia, Italia Utara, pada tanggal 21 Maret 1474. Sepeninggal ibunya, Angela Merici bersama kakaknya dipelihara oleh pamannya. Ketika itu Angela berumur 10 tahun. Bimbingan pamannya berhasil membentuk Angela  dan kakaknya menjadi orang-orang yang patuh dan taat agama.

Sepeninggal kakaknya, Angela masuk Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Kemudian ia kembali ke Desnzano setelah pamannya meninggal dunia pada tahun 1495. Di Desenzano ia mengalami suatu penglihatan di mana ia sedang mengajar agama kepada pemudi-pemudi. Penglihatan ini memberi semangat baginya untuk mendirikan sebuah perkumpulan untuk para pemudi. Untuk maksud itu, ia mengumpulkan beberapa kawannya untuk mengajar anak-anak gadis. Pada tahun 1516, Angela Merici pindah ke Brescia dan mendirikan sebuah sekolah. Karya pendidikannya berkembang pesat dan disenangi banyak orang.

Banyak kaum wanita diajaknya untuk membantu dia dalam karya pendidikan itu. Bersama wanita-wanita ini Angela Merici mendirikan sebuah perkumpulan di bawah perlindungan Santa Ursula. Wanita-wanita yang menjadi anggota perkumpulannya dibiarkan tetap tinggal dengan keluarganya agar supaya mereka tetap berhubungan dengan dunia luar. Hal yang dituntut dari mereka ialah kesediaan melaksanakan tugas-tugas dengan penuh semangat.

Pengesahan dari Takhta Suci atas perkumpulan yang didirikan Angela Merici tidak cepat diberi. Sambil menanti pengesahan paus, Angela Merici berziarah ke tanah suci Yerusalem. Dalam perjalanan itu ia mengalami kejadian pahit ini: kedua matanya tiba-tiba menjadi buta. Namun peristiwa itu tidak mengendurkan semangatnya untuk mengunjungi tanah suci. Ia melanjutkan perjalanannya sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi. Imannya dibalas Tuhan dengan suatu mujizat. Penglihatannya pulih kembali ketika kembali dari ziarah itu, tepat di tempat di mana dia mengalami kebutaan.

Kira-kira pada tahun 1533 datang lagi 12 orang wanita untuk membantu Angela  dalam usaha pendidikan anak-anak miskin dan buta huruf. Mereka berpindah ke sebuah rumah dekat Gereja Santa Afra di Brescia. Di sini ia mulai membentuk sebuah Ordo bau yang disebutnya Ordo Ursulin.

Paus Paulus III (1534 – 1549) mengesahkan ordo ini pada tanggal 25 November 1535. Angela  sendiri diangkat menjadi pemimpin ordo hingga hari kematiannya pada tanggal 27 Januari 1540 di Brescia, dekat Desenzano. Pada tanggal 30 April 1768 Paus Klemens XIII (1758 – 1769) mengelari dia ‘beata’ (=Yang Bahagia) dan kemudian digelari ‘santa’ pada tanggal 31 Mei 1807 oleh Paus Pius VII (1800 – 1823).

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun